
"Saya bilang pergi!" teriak Hani, gadis itu beranjak dari ranjang, lalu berjalan cepat ke arah Ayan. Menarik lengan kekar suaminya gadis itu mendorong Ayan agar keluar dari kamarnya.
"Falia saya tau saya salah, maaf...saya terlalu merin-"
"Aku benci Ayan! Benci!" teriak Hani dari dalam kamar. Membuat Ayan ketakutan pria itu mengedor-gedor pintu kamarnya yang terkunci.
"Falia maafkan saya, tolong jangan benci saya... saya janji gak akan melakukannya lagi tanpa seizin dari kamu. Tapi tolong jangan benci saya, saya gak sanggup jika kamu membenci saya," kata Ayan dari luar pintu. Menyandarkan kepalanya ke sandaran pintu pria itu menyesal telah melakukan ciuman itu.
"Falia tolong buka pintunya..." ujar Ayan melemah. Hening, tidak ada suara dari dalam kamar. Membuat Ayan khawatir dan berniat ingin mendobrak pintu kamarnya dari luar.
"Falia! Kamu di dalam? Tolong berbicara lah denganku, jangan hanya diam. Atau saya dobrak pintunya dari luar?"
Mendengar itu Hani langsung membukakan pintu untuk Ayan masuk ke dalam.
Menunduk gadis itu menutup mulutnya dengan tangannya.
"Falia ma-"
"Kamu jahat!" ucap Hani memekik gadis itu mendorong tubuh Ayan pelan.
"Kamu tau itu ciuman pertama saya, kenapa kamu, ka- kamu mencium saya?"
Hani merengek, gadis itu kembali mendorong Ayan.
"Hua... tadi saya baru makan sate. Belum sempat gosok gigi," Hani menutup wajahnya yang memerah.
"Dan parahnya wajah saya berminyak..."
Ayan mengembungkan mulutnya, kini pria itu menahan tawanya. Gemas pria itu menarik kedua tangan gadis di depannya. Mengulas senyuman manis pria itu berkata.
"Karena itu? Kamu mengusir suamimu yang baru saja kembali ke rumah untuk ke sekian lamanya?"
Hani menunduk dalam, gadis itu enggan menatap mata suaminya. Yang saat ini memandangnya dengan penuh kasih sayang.
Menaikan dagu istrinya, Ayan kembali tersenyum.
"Hei... apa kamu tidak merindukan saya?" tanya Ayan.
"Falia... padahal saya berusaha keras untuk menyelesaikan tugas itu dengan cepat. Biar bisa bersama dengan kamu lagi, tapi tampaknya kamu tidak senang saya kembali,"
Ayan melepaskan tangannya yang semula berada di rahang Hani. Pria itu memutar tubuhnya hendak pergi.
Namun dari belakang Hani memeluknya sangat erat.
"Jangan pergi lagi!" cegah Hani, menahan Ayan agar tidak pergi.
Mengangangkat kedua sudut bibirnya, pria itu berbalik. Kemudian membalas pelukan Hani.
"Kamu marah saat saya mencium kamu karena kamu belum gosok gigi? hemm berarti kalau sudah saya boleh dong," kata Ayan di sela pelukan mersanya.
"Mesum ih!" teriak Hani, tangannya bergerak aktif mendorong tubuh pria di depannya.
__ADS_1
"Mesum sama istri sendiri emang gak boleh?"
"Gak boleh!" tegas Hani. Gadis itu bergegas pergi menuju kamar mandi. Untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah seperti tomat.
"Falia!" panggil Ayan.
Menghentikan langkahnya, Hani berbalik dengan kedua tangan yang menutupi wajanya, gadis itu mengintip pria di depannya dari sela-sela jari.
"Aku mencintaimu..." teriak Ayan. Blush membuat kedua pipi Hani semakin memerah. Gadis itu kembali memutar tubuhnya berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah kepergian Hani, pria itu kini duduk di lantai sambil menutup wajahnya,"Masya Allah," gumamnya. Sambil tertawa pelan, takut jika suaranya terdengar dari dalam kamar mandi.
Dret...dret..
Ponselnya berdering, terlihat Putri saat ini sedang menghubunginya. Pria itu lupa mengucapkan terima kasih kepada wanita itu.
Menggeser tombol hijau, Ayan langsung menerima panggilan dari Putri.
"Ayan dimana rasa terima kasihmu?!" teriak Putri cukup keras hingga membuat Ayan harus menjauhkan ponselnya dari telinga.
"3 jam aku nunggu telepon dari kamu, Bayangkan tiga jam!"
Ayan meringis, pria itu menekuk leher ke samping kanan dan kiri. Tiba-tiba lehernya terasa pegal.
"Maafkan aku Putri, sebagai gantinya kamu boleh meminta apapun dari aku,"
"Termasuk hati kamu?"
"Yasudah lah... lagi pula aku bercanda. Oh ya sebagai gantinya besok aku tunggu kamu di kantin perusahaan, kita makan bersama sekaligus membahas masalah proyek perusahaan,"
"Oke,"
"Awas loh jangan lupa!" tegas Putri.
Ayan mngangguk, pria itu tersenyum, saat matanya bertemu dengan manik hitam pekat milik gadis di depannya.
"Iya, nanti aku hubungi lagi."
"Hah? Kam-"
Tut..tut..tut..
Panggilan telepon di putuskan oleh Ayan membuat wanita bergaun merah itu langsung membanting ponselnya.
Menghembuskan napas jengkel, gadis itu meremas proposal yang berada di gengamannya.
"Ayan... hari ini aku biarkan kamu bersenang-senang dengan istri kecilmu itu, tapi untuk kedepannya, aku yang ada di sana bukan dia..."
"Aku bukan orang bodoh yang akan melepaskan cinta selama 21 tahun dengan begitu saja..."
Wanita itu tertawa, kemudian menyisir rambut panjangnya itu kebelakang.
__ADS_1
"Kali ini aku pasti bisa, mendapatkanmu kembali."
"Ayan..."
****
"Falia kamu sudah tidur?" tanya Ayan pandangannya lurus menatap langit atap rumahnya.
"Belum kamu?" Hani bertanya balik, memutar tubuhnya gadis itu melirik suaminya dari samping. Terlihat tampan dan menggoda. Khususnya bibir itu. Bibir yang beberapa menit yang lalu ia rasakan.
"Falia saya tidak bisa tidur," Ayan juga ikut memutar tubuhnya. Kini keduanya saling berhadapan.
"Boleh kah aku memelukmu?" tanya Ayan ragu.
Hani terdiam, gadis itu takut untuk mengiyakannya. Tapi saat melihat wajah polos Ayan yang ingin sekali di peluk, membuatnya tidak tega. Hingga gadis itu merentangkan kedua tangannya. Membiarkan Ayan untuk memeluknya.
Mendapatkan sambutan hangat dari istrinya, senyum kebahagian terbit dari bibir Ayan. pria itu mendekat, kemudian melingkarkan kedua tangannya di perut Hani. Pria itu menenggelamkan wajahnya di dada istrinya.
"Terima kasih," ucapnya lirih.
Hani meringis, sambil menggit bibir bawahnya kuat. Saat merasakan jantungnya berdebar sangat kuat membuatnya ikut merasakan debaran itu. Mungkin ralat bukan mungkin tapi benar jika sekarang Ayan jiga ikut merasakannya.
"A-apa sekarang sudah cukup?" tanya Hani ragu.
Ayan menggeleng, dalam hati pria itu tertawa geli. Menertawai tingkah konyol istri kecilnya.
"Falia, apa boleh sekarang jangan ada kata saya di antara kita? Bukannya hubungan kita sekarang ini sudah tidak terlihat asing lagi?"
"Kamu mau gimana?" tanya Hani.
Ayan mendongak lalu menatap manik gadis di depannya, tersenyum pria itu mengecup bibir Hani sekilas.
"Aku, kamu. Setidaknya kata itu terlihat lebih formal, bagaimana menurut kamu?"
Hani terdiam, ia cukup terharu saat mendengar kata-kata Ayan. Di tambah kecupan singkat itu membuat tubuhnya menengang.
"Bagaimana? Hem!" tanya Ayan kembali.
"Terserah kamu saja," balas Hani gugup.
Menelan salivanya susah payah. perlahan tangannya bergerak mendorong tubuh pria di sampingnya.
"Falia, kamu tidak suka jika aku menyentuhmu?"
Aksinya terhenti, kini gadis itu bingung harus menjelaskannya seperti apa.
"Aku belum terbiasa jadi-"
"Mulai detik ini kamu harus terbiasa, karena setiap harinya aku akan memelukmu seperti ini," Ayan menarik pinggang Hani mendekat.
"Apa kamu paham?" tanya Ayan yang di angguki Hani.
__ADS_1
"Tidur lah..." ujar Ayan lagi-lagi Hani hanya mengangguk.