Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 33


__ADS_3

...Lebih baik kehilanganmu karena allah dari pada kehilanganmu karena dia. Jika karena allah maka aku akan ikhlas, namun jika ceritanya aku kehilanganmu karena dia maka aku tak akan pernah ikhlas....


^^^Ayan Faiz❤^^^


"Bunda pamit dulu ya Ayan," ujar Rosita sembari mengamati sekeliling apartement putranya, entah mengapa sedari tadi Ayan tampak gelisah bila dirinya memandang ke arah kamar. Seolah ada sesuatu yang aneh disana.


"Titip salam sama Hani ya," sambungnya.


Membuat Ayan yang tadinya lagi melamun itu langsung tersentak. Kemudian menjawab dengan gelagapan.


"I-iya bunda nanti Ayan sampaikan,"


Tersenyum, Rosita mengelus pipi kanan Ayan.


"Jaga hubungan rumah tangga kamu, jangan kayak tetangga sebelah." ujar Rosita dengan sedikit contoh sindiran. Ayan tersenyum tipis meraih tangan Rosita kemudian menciumnya.


"Isyallah amanah ini akan Ayan jaga baik-baik," tutur Ayan lembut.


Setelah mendengar itu Rosita keluar dari apartement putranya. Wanita itu pergi dengan rasa penasaran yang masih mengganjal di hatinya. Mengambaikan rasa itu Rosita segera bergegas menuju lift.


Selepas kepergian Rosita, Ayan menghembuskan napas lega. Memanggil Hani yang sedari tadi bersembunyi di kamar. Pakaiannya sekarang sudah ganti menjadi baju tudur lengan pendek. Tak lupa bando kelinci yang terpasang di kepalanya bergerak saat gadis itu berlari menuruni tangga.


Menatap Ayan dengan wajah murung.


"Maaf," bisiknya lirih.


Ayan terdiam. Pria itu memberikan semangkok sup ayam yang 15 menit yang lalu di masak oleh bundanya kepada Hani.


"Makan," kata Ayan. Kemudian pria itu berjalan menuju ruang kerja. Meninggalkan Hani dengan ekspresi datarnya.


Melihat itu Hani mengerucutkan bibirnya, meletakan dengan kasar mangkok kaca di tangannya ke meja. Netranya memperhatikan gerak-gerik Ayan yang sedang pokus mengerjakan tugas entah apa itu Hani tidak tahu.


Yang jelas saat ini Ayan mengabaikannya lagi. Untuk yang kedua kalinya. Dan juga karena masalah yang sama.


Mendudukan dengan kasar bokongnya ke kursi. Hani memakan sup ayam itu dengan lahap. Melampiaskan kekesalannya terhadap makanan.

__ADS_1


1 jam setelah berkutik dengan leptopnya, kini akhirnya selesai juga mengerjakan proposal yang kemarin Putri antar untuknya.


Melirik jam di ponselnya, pria itu mengerutkan keningnya.


Beranjak dari kursi kerjanya, Ayan memutar-mutar lengannya. Sambil berjalan ke arah dapur untuk membuat kopi untuk dirinya sendiri. Kebetulan melihat Hani yang sedang menonton tv membuat Ayan tidak enak jika meminum kopi hanya seorang diri,"Mau kopi?" tawar Ayan.


Mendengar suara berat Ayan yang sedari tadi ingin gadis itu dengar, dengan senyuman lebar gadis itu mengangguk pertanda jika ia mau. Walau sebenarnya Hani sangat tidak suka dengan kopi.


"Tunggu," ujar Ayan, pria itu mulai membuat kopi biasa untuknya tapi kali ini beda. Karena Ayan meminumnya dengan Hani. Tidak seperti dulu seorang diri.


5 menit setelah Ayan selesai membuat kopi untuk dirinya dan Hani. Pria itu mendudukan dirinya di samping Hani. Kemudian memberikan kopi di tangan kirinya untuk istrinya.


Tersenyum kecil, gadis itu meraih kopi di tangan Ayan kemudian menyeruputnya. Detik setelahnya gadis itu berteriak sambil menjulurkan lidahnya.


"Phahanas..." pekik Hani sambil mengipas-ngipaskan tangannya ke dekat lidah.


Melihat itu Ayan bergegas membantu Hani, berlari menuju dapur untuk mengambil es batu disana. Detik setelahnya memberikannya kepada Hani. Mengompres lidah Hani dengan es batu.


"Lain kali hati-hati. Biarkan dulu kopi itu dingin, sudah tau jika kopi itu baru saya buat, bagaimana bisa kamu ceroboh begini? jika kamu terluka? Terus siapa yang nantinya akan merasa bersalah? Untuk saat ini masih ada saya yang akan menolong kamu. Nanti-nanti kalau saya sudah pergi bertugas, siapa yang akan memperhatikan kamu disini!" tutur Ayan sedikit kesal dengan kecerobohan Hani barusan.


Tanpa sadar kata-katanya barusan membuat Hani meneteskan air matanya. Kata pergi seolah pedang untuk Hani. Gadis itu belum siap jika Ayan pergi meninggalkannya.


"Jangan pergi!" cegah Hani seraya memeluk tubuh Ayan erat.


"Tetaplah disini!" sambung Hani.


"Tidak bisa," balas Ayan seraya mempererat pelukan mereka.


"Ini sudah kewajiban ku sebagai tentara..."


"Ini juga berat untuk ku Falia,"


"Meninggalkanmu sendirian..."


"Karena itu sebelum aku pergi bertugas, aku harap kamu akan baik-baik saja... tunggu lah aku,"

__ADS_1


Mendengar kata-kata Ayan barusan membuat gadis itu semakin menguatkan suara tangisannya.


"Jangan menangis, tangisanmu membuat hatiku ikut menangis... karena menahan sakit." bisik Ayan.


Ayan tersenyum miris, pria itu mendorong pelan tubuh Hani, menatap Hani yang sedang menunduk sambil menangis sesegukan.


Mengelus rahang gadis di depannya, dengan lembut Ayan menaikannya. Kemudian berkata,"Tatap aku Falia," ujar Ayan. Hani menggeleng.


"Aku mohon," ujar Ayan. Membuat Hani tak ada pilihan lain.


Perlahan Hani menatap manik hitam lekat di depannya. Matanya kembali berair, hidungnya memerah.


"Maaf Falia, jika akhir-akhir ini mungkin sikap saya ke kamu itu membuat perasaan kamu terluka,"


"Bukan karena aku membencimu... bukan, tapi karena aku membenci diriku sendiri. Karena terlalu mengharapkanmu... menginginkanmu sampai aku lupa kalau kamu punya kehidupanmu sendiri. Kau tau? Aku membenci diriku yang egois ini yang selalu ingin memiliki seutuhnya dirimu... egois mengharapkan balasan cinta darimu,"


Ayan tertawa hampa, pria itu mengusap wajahnya kasar,"Aku tidak pernah menyangka jika setelah sudah memilikimu pun aku masih serakah..." kata Ayan.


"Maaf... karena ke egoisan ku ini masa depanmu tak secerah dulu... andai aku bisa bersabar sedikit saja menunggumu setelah usai tamat kuliah... mungkin saat ini hidupmu tidak seburuk saat kau menikah denganku.."


"Aku egois bukan?" Ayan tersenyum sambil meneteskan airmatanya.


"Aku membencimu.. karena kamu masa depanku hancur! Kau tau? demi mengagalkan pernikahan itu aku sampai berbuat nekat, apapun ku lakukan agar pernikahan itu gagal,"


"Aku sedih! aku marah! Gara-gara pria asing hidupku hancur dalam sehari... usahaku untuk menggalkan rencana pernikahan itu selalu gagal aku tidak mengerti alasannya,"


Hani tersenyum kemudian menangkup kedua pipi Ayan yang tadinya menunduk merasa bersalah,"Dan sekarang aku mengerti alasannya,"


"Karena kamu masa depanku yang dulunya sudah hancur, kini masa depan itu kembali terlihat karena masa depanku itu ada di depanku,"


"Yaitu kamu, kamu masa depanku!"


"Aku mencintaimu... sangat!"


TbC

__ADS_1


😜


Gak usah baper masih awal ini😂


__ADS_2