Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 40


__ADS_3

Hani tersenyum lebar, ketika paginya di sambut dengan berbagai macam makanan di atas meja. Di tambah wajah tampan sang suami yang mampu menggoyakan imannya.


dengan penuh bangga gadis itu berjalan perlahan, mengamati punggung Ayan yang kini  membelakanginya. Pria itu nampak serius ketika menyusun makanan yang baru saja selesai ia masak ke atas meja makan.


"Pagi suamiku," bisik Hani seraya melingkarkan tangannya ke pinggang Ayan. Gadis itu tersenyum ceria.


Tersentak, Ayan langsung menghetikan aktivitasnya. Memutar secara perlahan tubuhnya menjadi menghadap ke arah gadis yang saat ini memeluk tubuhnya dari belakang. Ikut tersenyum pria itu menyentuh kepala istrinya lembut di ikuti bibirnya yang mengecup pelepis alis istrinya, lalu pria itu berkata.


"Pagi juga istriku..." balas Ayan ceria.


"Ayo duduk," ujar Ayan yang di angguki Hani.


Ikut duduk di samping Hani, pria itu menopang dagunya, mengamati wajah cantik istrinya yang saat ini tengah melahap masakannya. Dahinya berkerut saat ia menyadari perubahan berat badan dari istrinya. Dan anehnya kenapa ia baru menyadarinya sekarang?


"Kamu tampak kurus," kata Ayan yang sedari tadi mengamati tubuh istrinya yang bertambah kurus.


Hani menghentikan aktivitas makannya, lalu gadis itu mengedipkan matanya sekali. Menelan salivanya kemudian menjawab.


"Aku Lagi diet," bohong Hani. Sebenarnya beberapa bulan ini gadis itu tidak benar-benar merawat kondisinya, sehingga ia lupa mengatur pola makannya sendiri. Karena terlalu sibuk merindukan Ayan.


"Saat aku sudah berada disini. Aku mohon, Falia kamu  jangan diet lagi. Biar saja kamu gendut, aku tidak masalah dengan itu, yang terpenting kamu tetap sehat, hem..." tutur Ayan lembut, pria itu menyentuh pipi Hani kemudian mengelusnya pelan.


"Kamu cantik," katanya. Membuat Hani gugup dan langsung menepis tangan Ayan.


Gadis itu kembali melanjutkan aktivitas makannya, yang sempat tertunda. Lagi, Ayan tertawa geli melihat ekspresi gugup istrinya yang sangat menggemaskan baginya.


"Pelan-pelan makannya," tegur Ayan. Hani terbatuk seketika.


"Nah kan baru juga di omongi," kata Ayan sambil membantu Hani meminum air.


...****...


"Lo boleh balas dendam... tapi jangan berani lo sentuh Ayan, kalau mau lo bisa bunuh istrinya."


"Dendam gue ke Ayan bukan ke istrinya," balas pria berhoodie hitam, wajahnya di tutupi masker yang sepadu dengan warna jaketnya.


"Lo Inget, gue gak akan tinggal diam kalau lo berani sentuh Ayan. Kekayaan lo masih di tangan gue!" ancamnya, menatap pria berhoodie hitam itu dengan sorot mata menajam."Jadi lo jangan berani macem-macem sama gue!"


"Sial!" pekik pria itu. Sorot matanya juga ikut menajam, melempar kekesalannya terhadap wanita di depannya.


"Lo harus bantu gue... pisahi Ayan sama istrinya, seenggaknya lo ikut seneng liat Ayan menderita." jeda tiga detik.

__ADS_1


Wanita itu meyeringai, melintasi pria berhoodie itu sambil menepuk pundak pria itu sekali.


"Nurut sama gue, kalau lo masih mau hidup dalam kekayaan." ucapnya berbisik.


Tersenyum sinis, wanita itu dengan anggunnya berjalan ke arah pria berjas biru tua yang saat ini tengah menunggunya.


"Ayan!" sapanya, sambil menepuk pundak Ayan sekali lalu mengelusnya.


"Maaf... aku lama," ujarnya kemudian ikut duduk di depan Ayan.


"Tidak apa Put," balas Ayan, tersenyum tipis kemudian memberikan proposal yang nantinya akan ia bahas bersama dengan Putri.


"Santuy dulu atuh Yan, makan-makan dulu. Ngobrol-ngbrol dulu, setelah itu baru kita bahas proyek tanah di makasar," ujar Putri dengan suara lembut.


"Gimana perjalanan kamu ke Riau? Sama gak saat aku tugas kemarin ke padang?" tanya Putri, sambil memasukan cake ke dalam mulutnya.


"Sama aja sih, tapi kali ini beda," curhat Ayan.


"Kebanyakan kangen pasti ya sama istri kamu, sampai komandan Restu bilang gini sama aku. Curhat dia, tanya tentang kamu, sikap kamu beda, yang dulunya gak sering main ponsel sekarang lebih sering. Yang dulunya tegas dan selalu tepat waktu sekarang kebalikannya," Putri terkekeh.


"Memang ya orang bisa beda karena cinta,"


Ayan tersenyum malu-malu. Dirinya juga tidak pernah menyangka jika efek dari jatuh cinta akan seperti  itu hebatnya.


"Maaf Put," lirih Ayan. Ingatan tentang Putri yang telah menyukainya dari dulu, membuatnya merasa segan jika membicarakan tentang Hani di depan Putri.


"Ayan, bukannya kamu bilang. Aku ini udah kamu anggap kayak adik kamu sendiri," kata Putri wanita itu menyentuh tangan Ayan kemudian kembali berkata,"Walau kenyataannya aku masih suka sama kamu. Tapi aku tetap berusaha menjadi teman sekaligus adik yang baik untuk kamu,"


"Saran aku sih jaga istri kamu baik-baik,"


"Karena aku gak akan jamin nyawanya akan bertahan lama," lanjut Putri dalam hati.


"Terima kasih put, aku bisa kembali ke jakarta dengan cepat itu karena kamu, aku bisa bersama Hani seperti saat ini itu semua karena kamu,"


"Jangan sia-siakan pengorbanan aku ini, dan juga terus bahagiakan istri kamu," ucap Putri. Dalam hatinya dia mengumpat kesal, karena menyuruh pria yang sangat ia cintai bahagia dengan wanita lain.


"Kamu yang terbaik, semoga Allah mengirimkan pria yang terbaik untuk kamu,"


"Dan itu kamu orangnya Yan,"


"Amin aku akan menantikannya," balas Putri, menyelipkan sejumput rambutnya ke daun telinganya.

__ADS_1


...****...


"Gue yakin lo pasti tinggal lagi!" terang Keno, kakinya ikut berjalan seirama dengan langkah kaki gadis di sampingnya.


"Kalau gue naik kelas gimana?" tanya Hani, kedua alisnya naik turun. Senyum jahil terbit dari bibirnya.


"Gue traktir dah,"


"Sate ya!" seru Hani yang di angguki Keno.


"Iya mbak sate..." canda Keno.


Membuat Hani bersemangat berjalan menuju ke arah mading sekolah. Mendesis cukup panjang, tangannya bergerak otomatis mendorong-dorong dengan kasar tubuh para siswa dan siswi di depannya. Yang di anggap Hani sebagai penghalang langkahnya.


"Minggir gue mau lewat!" teriaknya.


Membuat Keno yang menyaksikan itu menggeleng kemudian terkekeh.


"Dasar mbak sate!" gumamnya, tiga detik setelahnya pemuda itu ikut membantu Hani mendorong-dorong para murid di depannya.


Brak!


Hani memukul dinding mading di depannya kuat, gadis itu meyeringai sambil menaik turunkan alisnya.


"Gimana?" tanya Hani bangga.


"Gak nyangka gue," Keno mengacak rambut Hani."Otak lo encer juga," lanjutnya.


"Selepe lo sama gue!" sergah Hani,"Kuy yang tadinya janji mau traktir sate,"


"Iye mbak sate candu amat!" balas Keno. Geleng kepala. Tangannya bergerak otomatis menarik Hani untuk meninggalkan mading yang penuh di kerumuni oleh para murid khususnya kelas 3.


"Lo mau bawa gue kemana?" tanya Hani, tangannya bergerak untuk melepaskan gengaman Keno di tangannya.


Keno berhenti sejenak, menghela napas baru lah pria itu menjawab.


"Makan sate!" balasnya.


Mendengar itu mata Hani langsung melebar, begitu juga senyumnya. Semenjak makan sate di pinggir jalan kemarin malam bersama Keno. entah kenapa gadis itu sekarang doyan makan sate.


"Cepetan jalannya!" ujar Hani bersemangat kini gantian Hani yang menarik tangan Keno.

__ADS_1


"Sabaran atuh beb, kalau mau cepat terbang aja biar cepat sampenya!" sela Keno di sela-sela langkah  kakinya yang saat ini  melangkah dengan sangat cepat.


__ADS_2