Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 61


__ADS_3

"Hani, kapan mampir ke rumah? Bunda kangen banget sama kamu. Oh ya, gimana dengan calon pilihan bunda? Argam."


Mengapit ponselnya dengan telinga dan pundak, kedua tangan Hani sibuk menyusun beberapa tumpuk proposal yang ada di tangannya ke atas meja Ayan.


"Bun, Hani usahakan. Minggu ini datang ke rumah, soal Argam-" Hani menggantungkan ucapannya. Sesaat setelah melihat Ayan datang dari arah samping.


Cup.


Tersenyum setelah mencium pipi Hani. Ayan beralih untuk memeluk tubuh wanitanya.


"Datangnya sama Argam juga,"


Terdiam, Hani di buat kaget sehingga maniknya membesar, prilaku Ayan yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Membuat ponselnya itu jatuh ke lantai.


"Kamu?!" pekik Hani, seraya mendorong tubuh Ayan kemudian menjauh.


"Ngapain kamu main peluk-peluk?" tanya Hani sinis. Lalu menunduk menatap ponselnya yang sudah mati.


Meraih ponselnya. Hani mendengus sebal.


"Lihat! Ponselku rusak gara-gara kamu." sergah Hani sambil berusaha menyalahkan ponselnya yang sepertinya memang sudah rusak.


Tersenyum mengembang, Ayan berjalan mendekati Hani. Kemudian dia mengulurkan tangan kanannya.


"Akan aku perbaiki, sini!" pinta Ayan. Yang dengan cepat di tolak oleh Hani.


"Gak! Aku mau beli yang baru aja. Barang usang yang udah rusak, walau sudah di perbaiki," Hani menggelengkan kepalanya sekali."Dan hasilnya terlihat bagus di luar. Tapi siapa sangka? Isinya tidak sama seperti luarnya." kata Hani sengaja menyindir pria di hadapannya ini.


Ayan terkekeh geli, saat Hani menyamakan dirinya dengan benda."Falia, benda dan manusia itu dua hal yang berbeda. Kamu sangat pintar sehingga menyamakan benda dan manusia. Jangan lupakan kalau benda itu ciptaan manusia, dan manusia adalah ciptaan tuhan. Dan kamu pastinya tau, siapa yang lebih tau si-"


"Syut!" Hani memotong ucapan Ayan.


"Udah ya! Diem. Tugasku udah selesai, dan aku mau pulang!" lanjut Hani ketus.


"Gak. Jangan pulang sebelum kamu memberikan ponsel kamu itu buat aku perbaiki." kata Ayan. Kesannya terlihat seperti memaksa.


"Pak Ayan, ini ponsel saya. Hak milik saya, dan bapak jangan maksa gitu dong gak malu sama diri sendiri?" sinis Hani.


Detik setelahnya, Hani beranjak pergi. Namun, sebelum dia pergi tiba-tiba Ayan mencekal tangannya.


Menarik lalu mendorong tubuh Hani hingga tertabrak dinding.


"Ayan!" pekik Hani marah.


tangan dan tubuhnya berusaha bergerak melawan Ayan yang terus menahannya.


"Falia, seperti ponsel itu. Aku juga  sangat ingin memperbaiki hubungan kita. Bisakah kita kembali seperti dulu?"


Kata-kata Ayan berhasil membungkan Hani. Untuk sesaat Hani ingin sekali menganggukan kepalanya dan menerima Ayan kembali. Tapi pikirannya mencegah itu.


"Bisakah?" tanya Ayan memelas. Keduanya saling tukar pandang dalam diam.


"Pak Ayan, tuan Gupta sedang men-" Loli membalik tubuhnya dengan kasar. Setelah melihat Ayan dan Hani posisi mereka bisa menimbulkan kesalahpahaman jika di lihat dari belakang.


"M-maaf. Saya akan keluar!" panik Loli sampai wanita itu menabrak pintu di depannya.


"Tunggu!" sela Hani seraya mendorong Ayan.

__ADS_1


"Kamu boleh masuk dan berbicara dengan pak Ayan." ujar Hani lalu melirik Ayan yang sedang kesal.


"Permisi pak," pamit Hani. Lalu segera keluar dari ruangan Ayan.


***


Menepuk-nepuk jidatnya, Hani berusaha sekuat tenaga menepis kata-kata Ayan. Semenit yang lalu.


"Nggak! Hani, jangan gampang percaya dengan ucapan pria banjingan seperti Ayan! Ingat pria itu meninggalkanmu karena tidak mau berjuang. Ingat di-di-dia p-pria itu-ahk!" pekik Hani sambil mengacak rambutnya.


"Hani ada apa denganmu sekarang?!" tanya Hani pada dirinya sendiri.


Sambil berjalan, menuju pintu keluar. Hani terus menggerutu dengan meyakinkan dirinya jika kata-kata Ayan barusan itu adalah kebohongan yang tidak harus di pikirkan.


sesudah di luar perusahaan. Barulah Hani bisa membuang napas lega kemudian dia menghirup udara malam yang segar.


Tersenyum, kemudian menoleh ke arah samping. Hani mengerutkan keningnya.


"A-Argam?" tanya Hani ragu.


"Hai," sapa Argam, pria itu bersender di samping mobil sedannya.


"Hai," balas Hani merasa canggung.


Berjalan perlahan, Hani menghampiri Argam.


"Ayo, aku akan mengantarmu pulang." ujar Argam sambil membukakan pintu mobilnya. Mempersilahkan Hani untuk naik ke dalam.


"Tidak perluh. Aku akan pulang  sendiri." kata Hani menolak.


"Ini sudah malam. Aku tidak bisa membiarkan calon istriku di ganggu oleh orang nantinya," tutur Argam.


"Hei, aku sudah sabuk hitam Gam. Mau lihat gaya pukulanku?" tawar Hani.


"Boleh, tapi setelah di rumah nanti," jawab Argam sambil tersenyum.


Masuk ke dalam mobil Argam. Hani menghela napas pelan.


"Oh ya?" sela Argam.


"Hemm?" sahut Hani berdehem. Menoleh baru menatap Argam.


"Kamu sudah makan?" tanya Argam.


"Belum," jawab Hani.


"Mau mampir makan di restaurant dulu?" tutur Argam bertanya.


Sambil terus mengemudi, sepasang matanya melirik Hani yang sedang pokus menatap ke arah luar cendela.


"Stop!" pekik Hani. Membuat Argam mengerem secara tiba-tiba.


"Kenapa?" panik Argam bertanya.


"Ayo kita makan disini!" seru Hani antusias.


"Disini?" tanya Argam ragu.

__ADS_1


Mengangguk Hani berkata,"Iya!"


"Kamu yakin?" tanya Argam memastikan.


"100% yakin!" jawab Hani penuh percaya diri.


"Yaudah kalau gitu," kata Argam pasrah.


Lalu keduanya turun dari mobil menuju tukang nasi goreng yang ada di pinggir jalan raya.


"Bang Nasgor 2, esteh 2! Jangan pakai lama!" teriak Hani memesan.


Detik setelahnya Hani tersenyum ke arah Argam.


"Siap neng," balas bapak penjual nasgor.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Hani melihat Argam terus saja tersenyum.


"Gak papa, ini pengalaman pertama aku kencan di pinggir jalan." kata Argam merasa pengalamannya makan di pinggir jalan adalah hal yang paling lucu.


"Percayalah ini sangat menyenangkan. Sebelumnya aku dan Ayan kami juga sering makan di-"


"Kenapa?" tanya Argam menyela.


"M-maaf, tanpa berpikir aku membicarakannya." gugup Hani.


"Tidak apa-apa, aku dengar kamu sangat mencintainya."  ucap Argam sambil tersenyum mengembang.


"Tidak! Sekarang aku sudah tidak mencintainya." bantah Hani dengan keras.


"Tapi aku melihat mata kamu seperti mengatakan hal yang lain. Katakan pria seperti apa Ayan itu?" kata Argam berlirih.


"Jangan sungkan. Berbicaralah!" lanjut Argam mempersilahkan.


"D-dia, dulu kami menikah. Aku sama sekali tidak mencintainya, malah sebaliknya aku sangat membencinya! Pernikahan kami terjadi karena perjodohan. Karena tekadku saat itu ingin menggagalkan pernikahan, aku rela tinggal kelas. Dan saat menikah dengannya aku masih murid sma."


"Benarkah?" tanya Argam tidak percaya.


"Iya!" balas Hani.


"Nasgornya neng!" sela bapak penjual nasgor. Kemudian meletakan dua piring nasgor dan dua gelas esteh ke atas meja.


"Makasih pak!"


"Sama-sama neng," balas bapak penjual Nasgor ramah. Lalu dia pun bergegas pergi.


"Lalu setelah kalian menikah, apa yang terjadi?"


"Ehmm... dia benar-benar keren. Dia pria yang sabar dan juga penyayang. Tidak seperti yang ku bayangkan sebelumnya. Teryata sejak awal dia sudah mencintaiku, dan kam-"


"Sudah lah. Jika di ingat-ingat kembali semuanya terasa sangat berat."


"Lagi pula aku ingin melupakanya," kata Hani sambil tersenyum lebar.


Terdiam. Argam melihat ada bekas luka yang sangat dalam. Terlihat dari cara Hani tersenyum tadi.


TbC.

__ADS_1


Update ni.


__ADS_2