Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 51


__ADS_3

Author pov.


Hani gugup. Wanita itu sedari tadi sibuk untuk mempersiapkan diri tampil di depan klien pentingnya. Bahkan untuk bermake up saja wanita itu tidak sempat. Makan apalagi?


Demi perusahaan Garyan Company, Hani rela melakukan itu. Kesana- kemari memerintah para staf, seluruh tim untuk melakukan yang terbaik. karena klien kali ini adalah sumber kejayaan bagi perusahaan Garyan Company, jika mereka gagal untuk mendapatkan proyek ini. Dengan kata lain otomatis perusahaan milik Gilang akan di tutup untuk selamanya.


Maka dari itu Hani kali ini harus berhati-hati dalam berkerja, ia tak ingin mengecewakan harapan yang dulu ia janjikan.


"Haikal, Malik... tolong bantu saya menghias depan pintu utama," ujar Hani memanggil.


Dua bawahannya yang sedari tadi juga sibuk merapikan hiasan untuk kantor itu pun menyaut.


"Ya buk..." sahut keduanya sambil berlarian kecil ke arah Hani yang sedang bediri di atas tangga. Dengan kedua tangannya yang sibuk memasangkan bunga di atas pintu.


"Ayo kemari, bantu saya," jelas Hani. Sambil memberikan keranjang bunga ke arah Haikal dan Malik.


Tersenyum, dengan senang hati mereka membantu. Selagi Haikal dan Malik menggantikan posisinya Hani berkeliling memastikan kinerja para stafnya.


"Wati masih ada debu disini," tunjuk Hani pada kaca besar berada di sampingnya.


Terasa di panggil, sang pemilik nama, akhirnya pergi menghampiri Hani. Dengan kecakatan gadis itu langsung membersihkan kaca yang katanya masih ada debu dengan teliti. Agar nantinya tidak ada debu lagi yang menempel.


Setelah melihat itu Hani kembali berkeliling. Pandangannya menyapuh seluruh kantor dengan matanya yang mulai berkaca-kaca. Melihat semangat para stafnya yang tak kenal rasa lelah seperti dirinya yang begitu antusias dalam membantu. Hani berharap semoga kerja keras mereka terbalaskan.


Kembali sibuk, Hani berjalan ke sana-kemari. Wanita itu kembali sibuk mengamati kinerja bawahannya.


Sampai suara kaca terjatuh membuatnya terkejut.


"Ah.." teriak seorang wanita, kakinya terpeselet sementara tangannya mendorong lampu-lampu hias di sampingnya.


Trank!


Lampu-lampu yang terpasang dengan indah di sudut-sudut kantor itu pun terjatuh bersamaan dengan wanita bernama Mina di sampingnya.

__ADS_1


Semuanya tampak panik, setelah melihat itu. Tadinya semuanya sudah merasa lega karena pekerjaan mereka akan terselesaikan, akan tetapi karena ulah Mina, semuanya menjadi sangat kacau. Pecahan kaca berhamburan di lantai.


Hani terperanga, wanita itu berlari menghampiri Mina yang sedang jongkok sambil memunguti kaca-kaca yang berserakan di lantai.


"Kamu tidak apa-apa? Apa kamu terluka?" tanya Hani khawatir. wanita itu bukannya marah, setelah melihat kejadian yang nantinya bisa saja memperngaruhi pekerjaannya.


"S-saya minta maaf," ujar Mina ketakutan,"S-saya bukan bermaksud mengacaukan semuanya. S-"


"Mina, saya tanya kamu terluka?" pungkas Hani memotong perkataan stafnya. Mina menggeleng dengan wajahnya yang terus menunduk.


"Syukurlah," kilah Hani merasa lega.


"Kenapa ibu baik sekali," kata Mina.


"Karena saya semuanya jadi kacau-" lanjut Mina sambil menangis.


"Maka dari itu sebaiknya kariyawan seperti kamu itu, pantas untuk di pecat, bukan?" suara bariton pria yang baru datang membuat jantung Hani berdebar begitu cepat.


"Apa ini sambutan yang pantas untuk pria terhormat seperti saya?" tanya pria itu dengan tatapannya menuju ke arah Hani.


"Siapa penanggung jawab atas kejadian ini? Bukankah dia seharusnya meminta maaf? Atas pelayananannya yang tidak sempurna?"


Tubuh Hani seperti membeku. Matanya terbuka sangat lebar, memandangi pria yang berdiri di ambang pintu dengan mulutnya yang terus terbuka.


Lalu tanpa sadar air bening itu mengalir dari sudut matanya.


Sementara yang lain mencoba membuat Hani kembali tersadar. Semuanya juga ikut terkejut sama seperti Hani. Setelah melihat kedatangan pria yang bukan asing lagi bagi mereka, pria itu akhirnya datang setelah menghilang selama bertahun-tahun lamanya.


"Bu Hani!" panggil Malik. Menggoncang pundak Hani pelan.


"Apa dia penanggung jawab atas kejadian tidak menyenangkan ini?" tunjuk pria itu melalui matanya. Menatap Hani dengan pandangan merendahkan.


Tersadar, perlahan kedua sudut bibirnya mulai terangkat lalu melengkung dan menjadikannya sebuah senyuman. Kedua maniknya berkaca-kaca satu tangannya mencoba menggapai pria di depannya.

__ADS_1


"A-Ayan?" ucapnya tidak percaya.


"B-Benarkah kamu A-Ayan?" tanyanya ragu.


"Pak Ayan," ralatnya.


"Mulai sekarang panggil saya dengan sopan." Kening Hani berkerut,"Sekarang bisa jelaskan atas kejadian tidak mengenakan ini?"


Mengabaikan semua perkataan Ayan, Hani berlari menghampiri pria yang saat ini masih berdiri di ambang pintu. Kedua tangan Hani bergerak otomatis memeluk tubuh pria di depannya.


"Kenapa kamu baru kembali sekarang Ayan?"


"Setelah dua tahun aku menunggumu seperti orang bodoh...


"... kamu tahu jika aku sangat merindukanmu..."


"Lalu ken-"


"Tolong hentikan..." potong Ayan. Hani membulatkan matanya, tubuhnya terhuyung ke belakang. Saat tangan kekar itu mendorong tubuhnya pelan.


"Kedatangan saya bukan karena kamu,"


"Jadi tolong, asingkan masalah pribadi dengan pekerjaan!" tegas Ayan.


Lalu menepis tubuh wanita di depannya.


"Satu hal lagi, saya tidak ingin jika kejadian seperti ini terulang kembali," melirik Mina yang masih jongkok sambil memunguti beling-beling di lantai, Ayan berkata,"Dan kamu saya pecat! Saya tidak ingin memiliki kariyawan yang pekerjaannya tidak becus seperti itu!"


Setelah mengatakan hal kejam seperti itu, Ayan kembali melangkah menuju ruangannya. Mengabaikan tatapan kecewa Hani serta para kariyawannya.


Kepergian Ayan membuat dada Hani terasa sesak. Hingga akhirnya ia pukul dengan kuat. Wanita itu tertawa tidak percaya, matanya masih memandangi punggung Ayan yang semakin menjauh darinya.


"Ini tidak mungkin?" Hani menggeleng."A-Ayan tidak mungkin, ini semua tidak benar! Dia sekarang pasti sedang bercandakan?"

__ADS_1


__ADS_2