Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 36


__ADS_3

Kangen. Hanya kata itu yang saat ini Hani pikirkan. Wajahnya terlihat pucat, beberapa minggu ini gadis itu jarang makan, tidak ada lagi yang memasak untuknya. Yang Hani makan hanya masakan super praktis contohnya indomie. Sarden dan masakan praktis lainnya.


Meraung penuh kebosanan, gadis itu meraih ponsel yang semula berada di atas nakas. Matanya membulat ketika mendapatkan notip 5 kali panggilan vidio call tidak terjawab. Dari Ayan.


Setelah melihat itu Hani buru-buru. melompat dari ranjangnya, gadis itu bercermin untuk melihat kondisi wajah yang selama beberapa hari ini tidak terurus.


Lagi. Ujiannya kali ini tidak berjalan mulus, karena terlalu memikirkan Ayan yang berada jauh darinya. Rasa rindu ini memang mempengaruhi hidupnya. Hani tidak menyangka jika dampaknya akan sehebat ini.


Dret..dret...


Ponselnya bergetar, membuatnya nyaris ingin melompat. Mengintip siapa yang menelponnya, matanya membulat seketika. Teryata Ayan lah yang menelponya. Dengan panggilan vidio Call.


Melihat itu Hani buru-buru mengambil masker di lacinya, gadis itu berlari, kemudian melompat menaiki ranjang. Memakai masker barulah mengangkat panggilan Ayan.


"Halo.." sapanya, kedua sudut bibirnya terangkat sangat lebar hingga membuat kedua pipinya juga ikut melebar. Ia melambai-lambaikan satu tangannya.


Sedangkan di balik layar, pria yang sedang mengenakan seragam tetara, dengan wajah masam yang pria itu tunjukan. Pria itu membalas sapaan Hani.


"Assalamuallaikum,"


Menggigit lidahnya pelan, gadis itu menggulum bibir bawahnya. Kebiasaannya tidak mengucapkan salam ketika berbicara di dalam telepon membuat Ayan sepertinya jengah jika setiap harinya harus selalu menegurnya.


"Maaf..." ucapnya lirih.


"Tidak apa." balas pria itu singkat. Wajahnya masih terlihat sama. Muram. Sepertinya Ayan saat ini lagi marah.


"Ayan.. maaf, hem!" Mata Hani berbinar, gadis itu terlihat kesusahan saat berbicara. Karena masker olevera melekat di wajahnya.


"Tidak apa Falia," Ayan mengamati wajah Hani lama. Senyum lembut terukir dari bibir pria itu.


"Gimana hasil ujian kamu?" tanya Ayan.


Hani tampak berpikir sejenak, mengingat jika hasil ujiannya tak terlalu begitu lancar akibat setiap harinya selalu memikirkan Ayan.


"Falia," tegur Ayan dari layar ponsel.


Hani terperanjat, sontak kembali menatap Ayan, gadis itu memasang wajah kebingungan.


"Ujian aku baik.." kata Hani berbohong, berniat tak ingin membuat Ayan kecewa padanya.


Senyum penuh bangga terbit dari bibir Ayan, matanya mulai berkaca-kaca. Tak di sangka akhirnya setelah beberapa minggu lagi ia akan pulang. Menemani Hani seperti biasa.


"Kapan pulang? Saya kangen," tanya Hani, wajahnya terlihat lesu. Bibirnya mengerucut, matanya menunduk. Dari tingkah laku Hani sepertinya gadis itu benar-benar merindukan suaminya.

__ADS_1


"Cie rindu sama saya..." goda Ayan,"Saya tau kok kalau saya ini ngangenin orangnya.." kata Ayan dengan percaya diri. Pria itu membusungkan dadanya. Matanya berkedip satu. Meyeringai penuh kejahilan saat melihat Hani tampak memalingkan wajahnya.


Hani memutar bola matanya jengah, tersenyum miring gadis itu membantah keras perkataan Ayan barusan.


"Udah lah saya gak jadi kangen sama kamu!" kata Hani merajuk.


Walau sebenarnya saat ini gadis itu tertawa di dalam hati. Menertawai tingkah sok imut suaminya yang beberapa minggu ini sangat ia rindukan.


"Jangan dong... berjuang sendiri aja rasanya sakit. Gimana kalau rindu sendiri? Itu juga sakit," Ayan menepuk dadanya sekali,"Sakitnya disini," katanya.


"Huek mau muntah saya!" aduh Hani, gadis itu merasa geli sendiri ketika Ayan mengatakan hal-hal seperti tadi, misalnya.


"Belajar dari mana kamu? Kata-kata norak begitu?" tanya Hani.


"Dari-"


"Ayan! Jangan teleponan muluh! Gantian kamu ini berjaga!" teriak seorang pria yang juga tentara dari sebrang sana.


"Iya sebentar lagi,Yon!" balas Ayan ikut berteriak, sambil menutup speaker ponselnya.


Detik setelahnya Ayan kembali menatap Hani yang saat ini memasang wajah murung.


"Saya ada urusan dulu. Nanti malam kita teleponan lagi. Oh ya semangat sekolahnya, berjuang untuk masa depan kita." Ayan menempelkan ujung tangannya ke bibir, tiga detik setelahnya Ayan melemparkannya ke arah kamera."Assalamuallaikum,"


Hani bungkam, gadis itu memandangi wajah Ayan yang sangat tampan. Ketika menggunakan seragam kebanggaannya.


Setelah mengatakan itu panggilan vidio call pun terputus. Hani kini menenggelamkan wajahnya ke bantal. Gadis itu kembali menangis.


...****...


"Cie yang kangen suami cie..." Keno menepuk bahunya sekali,"Sini bersandar di pundak Aa ganteng," Jeda tiga detik.


"Anggap aja kalau gue itu suami lo," sambungnya.


Memutar bola mata jengah, Hani menghembuskan napas lelah. Melirik tidak tertarik tangannya bergerak otomatis mendorong kepala Keno yang nyaris seperti ingin menciumnya.


"Gak asik si lo! Baru beberapa minggu di tinggal udah loyo aja?!" celetuk Keno. Pemuda itu mendesis panjang, menggeser kursinya memangkas jarak dengan gadis di sampingnya.


Memutar kepalanya malas, Hani mengulas senyuman miring. Suasana hatinya saat ini tidak baik. Menatap pemuda di sampingnya dengan tatapan tidak bersahabat.


Gadis itu mengibaskan tangannya sekali ke udara, berniat mengusir Keno agar menjauh darinya.


Tapi bukannya pergi, pemuda dengan seragam yang tak lagi rapi itu kini berdiri. Berjalan mendekati Hani, tangannya bergerak kemudian menumpuhkannya ke sandaran kursi. Keno berkedip dua kali, pemuda itu menelan salivanya, saat kini matanya bertemu dengan manik hitam pekat milik gadis di depannya.

__ADS_1


"Gue cuma mau liat lo senyum. Cuma itu! Lo tau gue juga gak setegar itu liat lo sedih kayak gini. Batin gue tersiksa... karena gue tau rasanya rindu sama seseorang yang jauh... mungkin posisinya beda. Lo masih bisa ketemu lagi. Tapi gue?" Keno menarik kedua tangannya. Pemuda itu tertawa hampa. Satu tangannya mengacak rambutnya hingga menjuntai ke bawah.


Hani bungkam. Gadis itu terdiam seribu bahasa, menatap Keno dengan raut wajah sedih.


"Maaf Ken," lirih Hani sambil menundukan kepalanya.


Keno menghela napas penuh beban, rambut yang tadinya menjuntai kini pemuda itu sisir kebelakang dengan tangannya.


"Lo udah makan?"


"Ud-"


Ucapannya terhenti, ketika perutnya tiba-tiba berbunyi. Mendengar itu Keno langsung tertawa terbahak-bahak. Yang di ketawai menutup mukanya karena malu.


Dalam hati Hani memaki cacing-cacing di perutnya. Andai cancing itu bisa ia lihat, Hani bersumpah akan membunuhnya sekarang juga.


"Udah usah sok jual mahal, ayok ikut gue makan. Gue traktir ni!" ujar Keno. Pemuda itu meraih tangan Hani, menariknya paksa tapi dengan tarikan lembut.


Dan dengan amat terpaksa, dan juga dalam kondisi malas. Hani akhinya mengikuti dimana Keno mengajaknya.


Kantin.


"Makan yang banyak, biar agak gendutan... dan biar nantinya kalau suami lo pulang dia bakal kaget. Terus ninggali lo dan nantinya gue yang pungut lo, kan Mayan ke gu-"


"Makan tuh yang banyak! Mulut kok mintak di tambal!" sergah Hani memasukan bakso besar ke dalam mulut Keno. Lagian siapa yang salah membuatnya kesal.


Membual membuatnya pengen nabok tuh mulut.


"Ehlhyo khok jhehat..." ucapnya dengan mulut penuh bakso di dalamnya.


Membuat Hani tanpa sadar tertawa saat melihatnya, gadis itu kembali memasukan bakso ke dalam mulut Keno.


Kali ini Hani tertawa sampai memegang perutnya.


Walau terlihat susah untuk tersenyum saat bakso memenuhi mulutnya, Keno berusaha keras untuk tersenyum. Dalam hati pria itu berkata.


Setidaknya lo ketawa... Dan gue seneng liatnya.


Setidaknya selain dia gue juga bisa buat lo ketawa.


TbC.


Aku come back

__ADS_1


Zeyeng😙


Comentnya dong biar makin semangat ngetiknya😍


__ADS_2