Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 12


__ADS_3

Gadis itu menutup wajahnya dengan selimut. Detik setelahnya kembali membukanya, begitu seterusnya hingga membuat Ayan yang berada di sampingnya pun menjadi tidak bisa tidur.


"Ada apa? Tidak bisa tidur?" tanya Ayan sembari menatap Hani yang terbungkus dengan selimut.


Mendesah lumayan kuat, Hani menyibakkan selimutnya ke ranjang. Bersilah di atas ranjang lalu membalas tatapan Ayan.


"Gerah om," balasnya. Ayan menautkan kedua alisnya kemudian dia melirik Ac yang ada di sudut kamarnya.


"Ini sudah dingin loh, Bagaimana bisa kamu gerah? Sedangkan saya saja kedinginan," tutur Ayan merasa aneh.


"Bukan masalah itu. Emang om tidur bareng sama saya gak gerah?"


Ayan menelan salivanya dengan susah payah. kenapa Hani harus bertanya tentang masalah itu? Sudah beberapa minggu dirinya selalu menahan agar tidak menyentuh Hani. Lalu kenapa sekarang istrinya itu mengungkit masalah ini.


Ayan menerjapkan netranya dua kali. Wajah yang tadinya menunduk kini kembali pria itu angkat.


"Bukan kah besok kamu sekolah? Tidak baik jika tidur larut malam. Jika ingin menambah suhu Ac tambahkan saja," ujar Ayan kemudian menutup tubuhnya kembali dengan selimut. tiga detik setelahnya ia menutup matanya.


Hani mendengus sebal. Menunjang pantat Ayan pelan. Akhirnya dia kembali menidurkan tubuhnya ke ranjang cukup keras. Hingga membuat ranjangnya bergoyang.


"Cih, nyebelin!" grutu Hani.


Setelah tidak ada suara lagi, Ayan kembali membuka matanya. Memiringkan tubuhnya untuk menatap wajah istrinya yang saat ini tengah tertidur pulas.


Mengulas senyuman manis pria itu mulai menyentuh pipi Hani. Mengelusnya lembut kemudian berkata,"Seandainya kamu mencintaiku juga, mungkin aku tidak akan berpuasa selama ini." ucapnya dengan suara membisik.


...****...


"Om! Om! Ayo kemari bentar!" teriak Hani dari dalam kamar.


"Ya sebentar!" balas Ayan sembari meletakan piring dan roti di atas meja.


Mengelap tangannya dengan kain bersih, pria itu bergegas menaiki tangga untuk menghampiri istrinya, yang berada didalam kamar sedang bersiap.


"Om buruan. Lama amat sih!" teriak Hani lagi.


Clek...


"Jeng ... jeng!" pekik Hani sembari berputar, saat melihatnya sudah datang.


Ayan menutup mulut yang tadinya terbuka lebar. Memandangi penampilan istrinya dari atas sampai bawah.


"Gimana?" tanya Hani sembari tersenyum lebar.


Ayan menggelengkan kepalanya, pria itu melepaskan jaket tentaranya. Kemudian menutupi paha mulus istrinya dengan jaketnya itu.


"Om apaan sih?!" teriak Hani tidak suka. Tangannya sibuk memberontak saat Ayan memasangkan jaket tetara itu ke pinggangnnya.

__ADS_1


"Apa kamu tidak mempunyai rok yang panjang? Kenapa rok itu terlalu kecil dan sempit?" tanya Ayan, tidak suka melihat Hani yang memamerkan auratnya.


"Tidak ada!" balas Hani dengan nada jengkel.


"Kalau begitu nanti kita beli sebelum pergi ke sekolah. Sebelum itu kamu harus menutupi paha kamu dengan jaket saya,"


"Paan si om? Saya ini bukan anak kecil. Jadi suka-suka saya dong mau pakai apa aja," cetus Hani sambil bersedekap. Menatap Ayan dengan tatapan tidak suka.


"Bukan begitu, maksud saya. Tidak baik untuk kamu pergi ke sekolah dengan rok seperti itu. Bagaimana jika laki-laki lain melirik sesuatu yang sudah menjadi milik saya?"


Hani terdiam seribu bahasa. Menatap wajah tampan pria di depannya. Hatinya tiba-tiba berdetak sangat cepat.


"Kamu mengerti?" sambung Ayan.


Hani meremas jaket Ayan. Matanya berbinar saat menatap pria di depannya.


"Ada apa?" tanya Ayan. Melihat Hani hanya melamun sambil menatap wajahnya.


"Falia?" tegur Ayan sembari menyentuh kedua pundak Hani, mengguncangnya pelan. Membuat gadis itu kembali tersadar.


Menerjapkan netranya beberapa kali. Hani langsung mendorong tubuh Ayan pelan.


"Mau kemana?" tanya Ayan. Melihat Hani pergi meninggalkannya tanpa sepata kata pun.


...****...


Hani turun dari mobil Ayan dengan raut wajah tidak bersemangat. Menghela napas berat sambil menatap Ayan yang tengah melambaikan tangannya sambil tersenyum.


Hani mengangguk lemas. Kemudian mengusir Ayan untuk segera pergi.


Setelah kepergian Ayan. Gadis itu langsung menghentak-hentakan kakinya ke lantai. Memandangi rok panjang yang sudah terpasang menutupi paha dan betisnya.


"Demi apa gue pakai beginian?" tanyanya kepada dirinya sendiri.


"Ehem!" Darman selaku kepala sekolah SMA Garlan High Schol berdehem. Memandangi penampilan Hani dari atas sampai bawa.


Pria itu tersedak oleh salivannya sendiri. Hingga membuatnya terbatuk-batuk.


"Hani?" tanya Darman. Yang di balas dengan pukulan cukup keras pada pundaknya.


"Eh pak kepsek. Gimana kabarnya?" tanya Hani sambil menaik turunkan alisnya.


Pria yang usianya tidak muda lagi itu langsung tertohok, kemudian mendorong tubuh Hani menjauh darinya.


"Jaga jarak 10 meter dari saya!" tegas pria itu.


Hani tersenyum lebar. Bukannya mendengarkan apa kata gurunya itu dia malah berlari kemudian merangkul pundak Darman dengan tangannya.

__ADS_1


"Paman guru. Setelah tidak berjumpa dengan saya beberapa bulan ini. Apakah paman guru tidak merindukan keponakanmu ini?" tanya Hani dengan alisnya bergerak naik turun.


"Halo pak kepsek!" panggil para murid saat melihat Darman. Spontan pria itu kembali mendorong Hani.


"Pergi sana!" usir Darman. Pria itu menunjuk pintu gerbang sekolah dengan dagunya.


Hani membungkukan tubuhnya, tersenyum miring. Detik setelahnya gadis itu kembali menegakkan tubuhnya,"Dengan senang hati," balasnya.


Kemudian memutar tubuhnya ke arah gerbang. Gadis itu bersenandung ria memutar-mutarkan tasnya ke udara.


Sesampainya di kelas, semua murid yang dulunya adalah adik kelasnya itu kini langsung menatap Hani dengan heran.


Sementara yang di tatap malah santai dengan aktivitasnya bermain ponsel di dalam kelas. Menghidupkan musik dj dengan keras, lalu mulai bergoyang-goyang sambil memejamkan matanya.


"P-permisi," cicit seorang pemuda berkacamata dengan hati-hati.


Yang di panggil tidak mendengarkannya. Gadis itu tetap pada posisinya bergoyang-goyang seperti orang kerasukan.


"P-permisi!" ucap pemuda itu dengan nada yang lumayan tinggi.


Semua murid kelas XII ipa 2 itu memberikan semangat kepada pria cupu benama Beni, menyuruhnya untuk menghentikan Hani agar tidak menghidupkan musik yang sedari tadi mengganggu aktivitas belajar mereka.


Di abaikan lagi. Membuat Beni langsung memukul meja Hani dengan keras, mendengar itu Hani langsung tersentak kemudian menatap Beni di depannya.


"Kenapa? Ada masalah?" tanya Hani.


Beni menjadi gugup. Pemuda itu menunduk takut tidak berani menatap gadis di depannya.


"Ada apa? Kenapa kalian natap gue kayak gitu?! Hah?"


"M-maaf, silahkan kamu lanjutkan," tutur Beni gugup. Kemudian pemuda itu kembali ke tempat duduknya.


Hani menyatuhkan kedua alisnya. Bergedik acuh gadis itu kembali bergoyang-goyang.


Dret ... dret ...


Notip sms masuk dari ponselnya. Membuat gadis itu langsung mematikan musiknya.


Memabaca pesan yang di kirim oleh Ayan untuknya.


Om ayan


[Assalamuallaikum, bagaimana pelajaran hari ini? Apakah menyenangkan?]


Hani memutar bola matanya malas, kenapa pria itu selalu mengganggu dirinya di setiap Hani merasakan kebebasan.


Dengan malas Hani melempar pelan ponselnya itu ke atas meja.

__ADS_1


Mengambil buku berserta alat tulisnya di dalam tas. Gadis itu mulai mencatat pelajaran yang di tulis oleh sekretaris kelasnya.


Melihat itu semua murid yang berada di kelas langsung menghembuskan napas lega.


__ADS_2