Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
S2 Part 8


__ADS_3

memarkirkan motornya dipinggir jalan raya, Dimas menatap ke arah rumah besar yang ada didepannya.


Sekarang Dimas sedang bimbang antara memberitahu kepada Liyuna tentang Bara yang sudah memiliki istri atau Bara diam saja, nanti juga Liyuna akan tau sendiri.


Dimas tidak mengerti dengan peikiran Liyuna. Kenapa bisa gadis itu begitu yakin dengan perasaannya kalau Bara itu ditakdirkan hanya untuk Liyuna.


Dimas sudah menebak pasti pria itu sudah menikah atau paling tidak memiliki seorang kekasih.


tapi Liyuna saat diberi tau, pasti gadis itu selalu percaya diri kalau Bara akan setia kepadanya.


Terkadang Dimas tidak habis pikir.


dan rasanya akan sia-sia menasehati Liyuna diwaktu seperti ini.


lain kali Dimas akan menyadarkan Liyuna.


agar berhenti berharap kepada pria yang sudah memiliki istri.


itu yang Dimas yakini.


Alhasil cowok itu pun berputar arah dan pergi ke suatu tempat.


dan sesampainya disana.


seperti biasa tempat yang ia datangi saat ini selalu saja ramai.


banyak pemuda dengan membawa gadis tentunya memakai pakaian seksi.


datang hanya untuk menghamburkan uang dan tentu saja bersenang senang.


Dan disana Dimas tidak percaya jika dirinya akan dipertemukan kembali dengan cowok jadi-jadian yang seharian mengganggu dirinya.


Dia jadi pelayan.


Dimas yang duduk seorang diri di sudut ruangan sambil ditemani segelas minuman fanta, menggeleng pelan.


saat Dimas duduk seorang diri tak hanya satu, dua orang gadis cantik yang datang menawarkan diri. Bukan sombong atau bagaimana, Dimas sama sekali tidak tertarik dengan para gadis yang ada di bar milik keluarganya ini.


Dimas datang hanya untuk memantau kinerja para pelayan dan juga manager di bar milik keluarganya.


kalau sudah memastikan semuanya aman. Dimas pun akan pulang untuk belajar seperti biasa.


Dimas tidak punya waktu untuk menghambur-hamburkan uang orangtuanya.


Dan besenang-senang seolah lupa dunia yang keras.


Menghela napas, Dimas melirik cowok jadi-jadian itu yang melayani para tamu yang baru datang.


"Pelayan itu tampan sekali ya,"


"Benar, tapi pria yang sedang duduk dipojok itu juga sangat tampan."


Dimas mengerutkan keningnya, saat dirinya disandingkan dengan cowok jadi-jadian yang katanya tampan.


"Pelayan!" panggil wanita yang duduk tidak jauh dari Dimas.


Quenta mendengar dan langsung menghampiri wanita yang memanggilnya.


"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Quenta lembut.


"Bantu saya isi hati saya yang kosong, mau gak?"


Jujur Quenta merasa jijik mendengar ini, tapi karena posisinya ia sedang bekerja dan lagi pula Quenta udah sering ngedengar itu dari mulut wanita. Jadi ia sudah biasa.


"Saya sudah punya kekasih," kata Quenta jurus andalannya untuk menolak dengan halus para wanita yang kerab kali menggodanya.


mendengar jika Quenta memiliki kekasih, membuat wanita itu merasa sedih. Quenta langsung izin pergi, dan sebelum pergi ia melihat ada Dimas yang sedang duduk dengan santai sambil menatapnya dingin.


"Lo?!" pekik Quenta lalu mendekati Dimas.


sambil membungkukkan tubuhnya Quenta berbisik.


"Jangan bilang lo datang kesini mau aduhi ke bos gue kalau gue ini cewek kan?" Dimas memiringkan kepalanya, saat napas gadis itu menerpa wajahnya.

__ADS_1


Dimas dengan pelan mendorong kening Quenta dengan jari telunjuknya.


kemudian menatap Quenta lagi.


"lo punya kelainan?"


Mendengar itu manik Quenta membulat.


disini terlalu ramai untuk berbincang-bincang dengan Dimas shingga ia menarik dan mengajak Dimas ke toilet kemudian mengunci pintunya dari dalam.


"Lo ngapain ngajak gue kesini?" tanya Dimas dingin.


Quenta menelan salivanya dengan susah payah.


"Sebelumnya gue udah nawarin diri biar loh gak ngerasa rugi karena nyimpen rahasia gue. Tapi lo nolak dan bilang gak perduli, tapi sekarang lo ngikutin gue dan nantinya lo bakal aduhin gue ke bos tempat kerja gue kan? Kalau gue ini cewek?"


"Gue emang gak perduli lo cewek atau cow-"


Ucapan Dimas terpotong saat Quenta tiba-tiba melepaskan wig rambut pendeknya.


kemudian menunjukan dirinya sebagai wanita didepan Dimas.


Untuk sesaat Dimas terpesona dengan kecantikan Quenta.


"Gue cewek, dan gue nyamar jadi cowok itu karena gue punya alasan sendiri yang gak bisa gue ceritain ke lo."


Dimas menerjabkan maniknya berulang kali.


lalu mundur dua langkah ke belakang.


"Gue gak perduli," kata Dimas sambil menatap Quenta datar.


"Gak keperdulian lo itu yang buat gue takut, kalau suatu saat lo bakal aduhin gue ke orang-orang kal-"


"Apa gak cukup sekali gue bilang kalau gue gak perduli sama masalah lo?" sela Dimas memotong ucapan Quenta.


"Maaf," lirih Quenta.


"Lo gak usah takut, gue gak akan ikut campur tentang hidup lo!" tegas Dimas.


"Kalau gitu boleh gue keluar?" tanya Dimas dingin.


"O-oh, maaf ...." sentak Quenta lalu mempersilahkan Dimas keluar.


Sambil menggelengkan kepalanya, Dimas keluar dari toilet.


Quenta menatap dirinya lewat pantulan cermin yang ada didepannya.


Untuk pertama kalinya, ada sesesorang yang melihatnya dalam bentuk Quenta.


karena selama ini orang-orang mengenalkan sebagai Noval dan bukannya Quenta.


antara senang dan takut.


Kalau Dimas benar-benar akan melaporkan dirinya ke kepala sekolah kalau dirinya adalah seorang wanita.


kembali memakai wignya. Quenta menarik napasnya dalam-dalam.


detik berikutnya gadis itu keluar dan melihat manager ditempat kerjanya sedang memberi hormat saat Dimas melintasinya.


melihat itu, Quenta segera bertanya kepada managernya.


"Dia siapa ya pak?"


"Kamu jangan berani membantah ucapannya, dia anak pemilik bar ini." ujar maneger tempat Quenta berkerja. Sebut saja namanya Fandi.


mendengar itu seketika mulut dan mata Quenta terbuka lebar.


ia sudah salah paham dan menuduh Dimas menguntitnya.


bagaimana sekarang?


"Kamu dengar?"

__ADS_1


"D-dengar pak." sahut Liyuna gugup lalu menatap ke arah Dimas yang sudah menghilang dari balik pintu.


...****...


Keesokan paginya ....


Liyuna turun menuruni tangga dengan perlahan.


kemudian menatap mama dan papanya yang sedang menunggunya diruang makan.


Liyuna yang masih marah tidak mood hanya untuk sarapan. Sehingga gadis itu melintasi papa dan mamanya begitu saja.


Ayan ingin menegur tapi Hani melarangnya.


Cepat atau lambat Liyuna akan sadar kalau sikapnya sekarang itu sangat salah.


Gadis itu dengan menggunakan taksi datang ke rumah Keno pagi-pagi sekali.


tentu saja untuk mengajak Dimas pergi ke sekolah bersama.


dan disana ia bertemu dengan Bara.


walau ia tidak menyadarinya saat Liyuna dan Bara saling bertatap mata.


hingga beberapa detik Liyuna berhenti ditempatnya begitu juga dengan Bara.


"Apa kita pernah ketemu sebelumnya om?" tanya Liyuna sambil mengerutkan dahinya.


Bara jadi salah tingkah.


ini pertemuan pertamanya setelah sekian lama.


"Kak Bar, ponsel lo ke-"


ucapan Keno menggantung sesaat setelah melihat keponakannya datang sambil menatap Bara.


mereka sudah bertemu.


"Bar?" cicit Liyuna.


jantung Bara langsung berdebar tidak karuan.


"Maksud om Keno, Barga! Iya Barga!"


Liyuna menatap Bara dengan intens.


"Barga?" Liyuna mendekatkan wajahnya.


"Dia suami lu Yu, gimana?" kata Dimas menyelah.


Manik Liyuna langsung membulat mendengar itu.


Bara menerjabkan matanya dua kali.


"Om Bara?"


"Halo Liyu," sapa Bara canggung.


"Dia udah punya istri," timpal Dimas membuat Liyuna syok.


"Bukan lo istrinya tapi orang lain." lanjut Dimas.


Keno yang melihat putranya yang terlalu banyak bicara langsung meminta Dimas untuk masuk ke dalam.


kini Bara dan Liyuna saling bertukar pandang dalam diam.


suasana disekeliling mereka berubah menjadi menyeramkan.


pasti Liyuna akan marah besar.


Dan Bara tidak tau harus berbuat apa.


Semuanya terjadi secara tiba-tiba.

__ADS_1


sampai susah rasanya hanya untuk mengelurkan suara dan memberi penjelasan.


__ADS_2