Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 55


__ADS_3

Flash back on.


"Katakan, jika Ayan dan aku sudah bercerai."


Hani berdiri di hadapan orangtuannya. Kedua manik wanita itu sudah di penuhi oleh cairan bening yang siap mengalir.


Rusman dan Sabrina saling tatap. Ada apa kenapa tiba-tiba putri mereka itu bertanya tentang percerai antara dirinya dengan Ayan.


"Katakan pa, ma!" tekan Hani yang sudah menangis.


Melihat itu Rusman dan Sabrina ikut merasa sedih. Tangisan Hani membuat uluh hati mereka seperti tertusuk belati yang sangat tajam.


"Hani, ada apa kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Sabrina seraya mendekati putrinya.


"Ma, cukup sudah. Hentikan kebohongan ini, jangan sembunyikan apapun lagi dari Hani. Katakan yang sebenarnya," desak Hani.


Sabrina meringis sedih sambil melirik suaminya yang tampak panik.


Alasan mereka menyembunyikan perceraian antara Hani dan Ayan. Semata-mata. Agar Hani tidak merasakan sakit yang mendalam.


Apapun itu semuanya demi kebaikan Hani.


"Hari ini, aku bertemu dengan Ayan." lirih Hani melemah.


"Lalu Ayan sendiri yang mengatakan kalau aku dan dia sudah berpisah. Tapi? Kenapa hanya aku yang tidak tau?" kata Hani. Wanita itu menangis sambil terisak-isak.


Mendengar Ayan sudah kembali. Membuat mata Sabrina dan Rusman langsung melotot. Sejak kapan? Dan kenapa? Setelah sekian lama Ayan kembali lagi menemui putri mereka.


"Apa?" sentak Sabrina kaget.


"Katakan yang sebenarnya ma, pa! Kenapa Ayan harus menceraikan aku?"


"Hani, dengarkan papa." Rusman menarik napasnya berat.


Menepuk sofa di sampingnya Rusman menatap Hani putrinya.


"Duduk di samping papa, nanti akan papa ceritakan tentang kejadian 2 setengah tahun yang lalu. Sesudah setelah kejadian itu," ujar Rusman.

__ADS_1


Hani terdiam sesaat. Lalu beberapa detik setelahnya, Hani duduk di samping Rusman.


"Saat itu, setelah kami menemukan kamu. Kondisi kamu sedang kritis, kamu ingat. Peluru yang ada di dada kamu dulu?" Hani mengangguk pelan.


"Peluru itu hampir saja membunuh kamu nak," Hani terperanjat kaget.


"Tapi setelah saat Ayan. Masuk ke dalam ruangan UGD, tiba-tiba dokter bilang nyawa kamu berhasil di selamatkan. Kami tidak tau lebih jelasnya, lalu ketika kami bertanya dengan Ayan. Tentang apa yang terjadi di sana. Tiba-tiba Ayan berkata ingin berpisah denganmu. Papa dan mama sangat marah mendengar Ayan berkata seperti itu. Bahkan Rosita bundanya Ayan sampai memutuskan ikatan diantara mereka. Tapi tetap saja Ayan bersikeras ingin berpisah dengan kamu. Padahal saat itu kamu masih koma dan belum sadarkan diri."


Hani mengepalkan kedua tangannya. Wanita itu sangat kecewa dengan apa yang di lakukan oleh Ayan.


"Setelah menceraikan kamu. Ayan berpamitan pergi untuk selama-lamanya. Ayan tidak mengatakan dia akan pergi kemana," Rusman melirik istrinya yang sedang berkeringat dingin.


"Tapi. Setelah melihat gerak-gerik mama kamu selam 2 tahun ini, sekarang papa berpikir jika mama kamu tau lebih jelasnya. Alasan kenapa menantu kesayangannya itu pergi."


Deg.


Tubuh Rosita menegang untuk sesaat ketika putri dan suaminya kini menatapnya dengan tatapan penuh kecurigaan.


"K-kalian kenapa tatap mama seperti itu?" tanya Sabrina gugup.


"Mama tidak tau apa maksud dari yang papa kamu katakan." bohong Sabrina.


Sabrina memasang wajah bingung. Satu sisi dia sudah berjanji kepada Ayan untuk merahasiakan alasan kenapa Ayan pergi meninggalkan putrinya. Di sisi yang lain, Sabrina tidak ingin melihat Hani menderita lebih dari ini.


Tapi yang namanya janji, tetaplah janji. Jadi sebisa mungkin Sabrina ingin menyimpan rahasia ini, sampai Ayan sendiri yang menjelaskan alasan yang sebenarnya.


"Pa, jangan berkata seperti itu. Mama juga ikut bersedih ketika melihat Hani menderita seperti itu, tapi. Mama tidak tahu apapun alasan Ayan pergi meninggalkan Hani. Jangan tanamkan kecurigaan dalam diri Hani terhadap mama," jelas Sabrina. Maniknya melirik Hani yang tengah menundukan kepalanya.


"Papa hanya berbicara seadanya. Maaf kalau kecurigaan papa buat mama bersedih," kata Rusman sambil menatap istrinya.


"Dan Hani, setelah kamu mengetahui status kamu bukan lagi istrinya Ayan. Papa harap kamu akan menjauh dari dia. Jika benar pria itu sangat mencintai kamu. Tidak mungkin dia akan pergi meninggalkanmu," tutur Rusman. Dan secara tidak langsung Rusman melarang Hani untuk kembali berdekatan dengan Ayan.


Flash back of


Hani menghela napasnya panjang. Wanita itu menekuk wajahnya saat tangannya bersiap-siap ingin membuka pintu ruangan kerja milik Ayan.


"Ada yang bisa saya coba bantu pak?" tanya Hani mencoba menahan rasa kesalnya.

__ADS_1


Ayan tersenyum miring, lalu kursi yang di duduki oleh Ayan, di putar dengan pelan ke kanan dan ke kiri.


"loli kamari sebentar!" panggil Ayan.


Merasa terpanggil Loli yang tadinya sedang berdiri di belakang Hani. Dengan cepat wanita itu berjalan ke arah Ayan.


"Ya ada apa pak?" tanya Loli dengan nada sopan. Bibir wanita itu melengkung ke atas. Saat bertanya kepala wanita itu menunduk ke bawah.


"Tolong ajarkan sopan santun dulu kepada wanita yang ada di hadapan saya ini. Tentang bagaimana cara berbicara yang baik dengan atasannya." cetus Ayan memerintah.


Mendengar itu. Hani mengembungkan kedua pipinya kesal. Kedua tangan Hani terkepal kuat. Sudut pupilnya menyipit menatap Ayan dengan tatapannya yang tidak suka.


"Ajarkan juga kepada wanita itu. Kalau masuk ke dalam ruang atasannya itu harus lah mengetuk pintu dulu. Jangan kayak orang yang gak pernah sekolah, ketuk pintu saja harus di ajarkan terlebih dahulu,"


Loli mengerutkan dahinya bingung. Benar memang Ayan saat ini sedang berbicara dengannya, tapi tatapannya tertuju ke arah Hani.


"Tidak perluh di ajarkan." kata Hani.


"Setelah ini saya tidak akan pernah mengulanginya kembali. Kesalahan untuk yang kedua kalinya, maaf karena kecerobohan saya."


Hani mendongakkan kepalanya. lalu menatap dengan dingin pria di depannya.


"Tapi pak, jangan lupakan kalau peran saya disini sama seperti bapak." cetus Hani.


Ayan memutar bola matanya malas. Kemudian pria itu terkekeh pelan.


"Peran? Apa kamu lupa? kalau perusahaan ini adalah milik saya. Dan kamu? Setelah sang penerus perusahaan yang sebenarnya sudah kembali. posisi yang kamu miliki sekarang tidak lain hanya lah seorang pegawai." Ayan menggelengkan kepalanya sekali.


"Kata-kata saya ini. Jangan pernah sekali pun kamu lupakan." tegas Ayan.


Sontak Hani langsung tertawa cukup keras.


"Oh ya? kalau begitu. Tugas saya di perusahaan ini sudah tidak ada lagi dong. Kalau begitu dengan penuh rasa hormat saya ingin mengundurkan diri dari perusaan bapak." ucap Hani.


Ayan memiringkan kepalanya sekali. Bolpen yang sedari tadi ia pegang di pukulkan sekali ke keningnya.


Menatap Hani yang sedang tersenyum mengejek ke arahnya.

__ADS_1


"Tidak ada lagi? Kata siapa? Tugas kamu baru saja di mulai." Kata Ayan dengan entengnya. Kini gantian pria itu yang tersenyum mengejek. Sementara Hani? Wanita itu langsung memasang wajah bingung.


TbC.


__ADS_2