Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 5


__ADS_3

Setelah acara pemasangan cincin itu berlangsung, Ayan mengajak Hani untuk mengobrol di bangku dekat kolam renang. Katanya supaya lebih dekat dan saling mengenal.


Sedangkan keluarga mereka kini tengah sibuk menyambut tamu acara pertunangannya.


Suasana malam yang sejuk ditambah semilir angin dan bulan yang sangat terang. Menambah kesan keindahan antara dua insan yang saling berdiaman.


Suasana hening mendominasi keduanya, antara ragu, gugup, dan canggung menyatu menjadi satu.


"Kenapa?" tanya Hani tiba-tiba.


Ayan menoleh menatap ke arah Hani lalu mengulang ucapan gadis  disampingnya.


"Kenapa?"


Hani menghela napas jengah, menatap ke arah Ayan dengan tatapan tajam,"Kenapa lo tetep mau nikahin gue?"


"Padahal lo bisa dapet wanita yang lebih baik dari pada gue,"


"Lebih cantik, lebih dewasa, lebih seksi bahkan lebih-lebih dari gue,"


"Tapi kenapa lo? setuju-setuju aja saat bokap, nyokap lo, jodohin lo sama gue?"


"Gue ini masih muda, Perjalanan hidup gue juga masih panjang dan ....''


Hani menghentikan ucapannya, terbesit bayangan aneh tentang Ayan yang mendadak ingin di jodohkan dengannya.


Menyerong tubuhnya menjauh, gadis itu menyipitkan kedua matanya.


"Oh gue ngerti sekarang, jangan-jangan lo psikopat ..." Hani menghentikan ucapannya. Percuma semua sudah terjadi dirinya dan Ayan sudah terikat.


Hani meremas jemarinya kuat, rasa jengah dalam dirinya mulai membuatnya merasakan sakit yang sulit diartikan.


Perlahan gadis itu mendongak menatap Ayan dengan lekat. Tapi Ayan seperti terlihat sedang membuang muka ke arah lain. Apakah tadi Ayan mendengarkan ucapannya?


"Om!" panggilnya.


Panggilan Hani tak membuat Ayan menoleh, pria itu tetap menatap lurus ke depan.


"Om, gue tanya ... lo jawab napa?!"


Perlahan tapi pasti Ayan memutar kepalanya lalu menatap ke arah Hani dengan wajah datar. Netranya yang berwarna hitam itu menatap lekat wajah gadis di sampingnya. Selang beberapa detik saling tatap Ayan kembali menatap lurus pemandangan di depannya.


"Saya akan bicara, tapi bisakah kamu mendengarkannya dengan baik?" kata Ayan sembari menerjapkan matanya.


Hani mengangguk pelan, pertanda mengiyakan perkataan Ayan.


"Dulu waktu saya duduk di bangku SMP. Saya sempat bertemu dengan anak kecil, dia perempuan. Wajahnya sangat cantik, mungkin usianya masih sekitar 4 tahunan?" Ayan mulai bercerita dan Hani mendengarkannya dengan seksama.


"Waktu itu dia sedang bermain dengan teman-temannya,"


Ayan menaikan dagunya, mengerutkan keningnya pria itu mencoba untuk mengingat pristiwa yang terjadi dengan anak kecil itu,"Mungkin main petak umpat?"


"Tapi waktu dia mau bersembunyi saya lihat saat itu anak kecil itu terjatuh, karena berlari terlalu cepat untuk mencari tempat bersembunyi ...."


"Saya menghampiri gadis kecil itu dan mencoba untuk menolongnya."


Ayan menceritakannya sambil tertawa, mengingat pertemuannya dengan anak kecil yang tidak lain adalah Hani.


"Siapa sangkah? Gadis sekecil itu menolak bantuan saya. Padahal saya memaksa untuk menolongnya, kamu tau balasan dia saat menolak bantuan saya?"

__ADS_1


Hani menjawab dengan gelengan kepala.


"Dia bilang 'Hani gak mau ditolongin sama kakak, karna calon anggota tentara itu harus kuat gak boleh nangis. Karna tugasnya sangat berat! lebih baik kakak pergi sana!' Lalu gadis itu mulai berdiri dan berlari kembali, walau pun lututnya saat itu berdarah."


Hani mengerjapkan matanya beberapa kali, kisah yang di ceritakan oleh Ayan sama persis dengan yang ia alami sekitar 12 tahun yang lalu. Saat itu usianya masih 4 tahun.


Flash back on


Anak-anak berusia 4 tahunan itu sedang bermain petak umpat di taman.


Petak umpat adalah permainan yang sangat menyenangkan. Dimana salah satu orang harus bersedia menjadi penjaga artinya dia harus siap menghitung dari satu sampai dua puluh lima.


Dan yang lainnya bersembunyi, lalu ketika penghitungannya selesai, si penjaga harus mencari yang orang yang sedang bersembunyi.


Kali ini gadis kecil bernama Hani itu bertugas sebagai pemain. Dia berlari menuju ujung taman agar tak  terlihat oleh si penjaga.


Namun, ketika berlari kakinya tersandung sampai akhirnya gadis itu terjatuh tersungkur ke tanah. Lututnya berdarah membuat gadis kecil itu mengaduh kesakitan.


"Awww ... kenapa pake berdarah si?!" cibir Hani sambil meniup lututnya yang berdarah, matanya mulai memanas menandakan akan ada hujan dibalik matanya.


"Ngga! Hani ga boleh cengeng," 


Dia menghapus air matanya kasar.


"Hani harus kuat. Hani itu calon tentara! Tentara itu kuat karena tugasnya akan lebih berat. Hani harus kuat!" Dia tertatih mencoba untuk berdiri. Tapi tubuh mungilnya itu terhuyung kembali kebawah rasa nyeri di lutut kanannya menghambatnya untuk bisa berjalan cepat.


Tiba-tiba ada sebuah tangan kekar terulur di hadapan gadis kecil itu. "Kamu nggak papa kan dek? Ayo saya bantu," ujar pemuda itu lembut.


Tapi gadis itu malah menepis tangannya kuat."Ngga! Hani bisa sendiri!"


"Tapi lutut kamu berdarah lho, kalo nggak di obat-ti nanti infeksi. Emang kamu mau kaki kamu infeksi?"


Pemuda itu berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Hani."Kamu takut sama kakak?"


"Hani gak takut!"


"Terus Kenapa kamu gak mau sama kakak?"


Pemuda itu kembali mengulurkan tangannya,"Kakak bukan penculik kok," ujarnya lembut.


Dengan kasar Hani mendorongnya. "Ngga mau! Hani itu calon tentara. Jadi harus kuat!" katanya kemudian memaksakan untuk berdiri.


"Tapi kan--"


Pemuda itu hendak berbicara tapi dipotong kembali oleh gadis kecil itu.


"Hani gak mau ditolongin sama kakak, karena calon anggota tentara itu harus kuat gak boleh nangis. Karna tugasnya sangat berat, lebih baik kakak pergi sana!'' usir Hani sambil menunjuk ke arah lain.


Pemuda itu melongo, kemudian dibalik itu terlihat lengkungan senyum dari garis bibirnya. Dan gadis itu meninggalkannya dengan kaki yang diseret-seret.


Flash back of.


"Ingat?"


Perkataan Ayan membuyarkan semua lamunan Hani.


Gadis itu merasakan pipinya memanas dan terlihat senyuman tipis dari bibirnya.


"Jadi ..." Hani menjeda ucapannya, menahan kepalanya agar tak melirik  ke arah Ayan.

__ADS_1


"Iya," jawab Ayan singkat.


Hani mengernyitkan keningnya, "Iya apanya?"


"Apanya coba?" tanya Ayan balik.


Mendengar itu Hani langsung memutar bola matanya malas. Mendengus gadis itu kembali menatap Ayan.


Kenapa coba Ayan jadi menyebalkan seperti ini. Hani menangkup kedua pipinya malu.


"Kamu sudah tahu bukan?"


Hening. Hani tak bisa mengungkapkan apa-apa lagi.


Jadi ternyata Ayan adalah pria yang dulu sempat menolong dirinya. Namun dirinya menolak keras dengan alasan ingin menjadi tentara.


Allah betapa uniknya takdir ini? bahkan semuanya sudah diatur dengan rapi olehnya. Haruskah Hani bahagia sekarang? Atau menolaknya lagi? Dan lagi? Walaupun tidak mungkin.


"Falia?" cicit Ayan kembali.


"Hani!" ketus Hani kesal.


"Jadi kamu tau kan alasan kenapa saya menjadi seorang tentara?"


Dalam hatinya Hani merutuki dirinya sendiri, ia terjebak dalam situasi yang sangat sulit. Sulit untuk diartikan bahwa sesungguhnya dia sedang bahagia.


"Kamu emang budeg apa pura-pura budeg?" sela Ayan.


"Hah?"


Ayan terkekeh. Melihat ekspresi Hani yang kaget. Lucu dan menggemaskan.


"Falia,"


"Iya?"


"Kamu tahu kan alasannya?"


"Iya. Gue tahu tapi sejujurnya itu hanya cita-cita gue waktu kecil, sekarang sudah berubah!"


"Saya gak perduli, Tapi alasan mu kurang tepat,"


Kening hani membentuk lapisan.


"Maksudnya?"


"Alasan saya menerima perjodohan ini karena ..."


Ayan menjeda kata-katanya, menghadap Hani kemudian memberanikan diri untuk menatap netranya. Terlihat sekali bahwa pria itu gugup. Hani juga begitu sebenarnya gugup dan mungkin sangat bahagia.


Beberapa menit mereka berbicara melalui kontak mata. Sampai Ayan melanjutkan perkataannya yang membuat jatung Hani berpacu dengan cepat, seperti pacuan kuda yang siap melesat.


Desiran darahnya terasa begitu halus. Hani menahan napasnya begitu pun dengan Ayan. Sampai tiba Ayan melanjutkan ucapannya yang membuat dunia Hani benar-benar berhenti sesaat.


"Karena alasan saya yang sebenarnya,  Kenapa saya menerima kamu menjadi belahan jiwa saya adalah karena saya mencintai kamu sejak pertama kali bertemu."


Bam!


Seperti terhantam benda keras. Hani tidak mempercayai ini.

__ADS_1


__ADS_2