
Seringaian terbit dari bibir pemuda itu, saat melihat Hani berdiri di depan gerbang sambil menenteng tasnya ke pundak. Gadis itu menoleh kanan dan kiri mencari keberadaan suaminya yang tak kunjung datang untuk menjemputnya.
Padahal setiap harinya dia selalu di antar jemput oleh Ayan. Jika ada hal penting pasti Ayan akan memberikannya pesan. Tapi lihat lah sekarang, jangan kan memberi pesan. Menelponnya saja pria itu tidak ingat.
Menendang batu kerikil kecil di depannya. Hani dengan kesal mengerucutkan bibirnya ke depan.
Menatap pemuda yang tidak lain adalah Keno kini tengah tersenyum di dalam mobil sambil menyapanya.
"Hai," sapanya.
Membuang muka gadis itu tidak memperdulikan pemuda di depannya. Hani memilih berjalan duluan dari pada bertegur sapa dengan pemuda yang dirinya sama sekali tidak suka.
Anggap saja dirinya membenci Keno karena setiap harinya Keno selalu mengganggu dirinya.
Di iringi dengan mobil. Gadis itu memutar tubuhnya untuk menatap Keno kasar. Menajamkan netranya gadis itu mulai berkata kasar."Kalau gue gak mau ngomong sama lo itu tandanya gue benci! BENCI!" ucapnya sambil menekan kata benci.
"Tuh buktinya lo ngomong sama gue. Dan artinya lo gak benci dong sama gue?" balas Keno dengan santainya.
Hani memejamkan netra serta mengeraskan rahangnya. Kini kedua tangannya mengepal kuat.
Membuka netranya kembali, Hani kini tersenyum terpaksa. Gadis itu menekan kaca mobil yang turun hanya setengah, menekannya kuat Hani kemudian berkata,"Terserah lo. Gue gak mood buat balas semua omongan lo. Oke?!"
Keno tersenyum lebar, mengedipkan sebelah matanya. Pemuda itu kini memegang tangan Hani yang sedari tadi ada di kaca mobilnya. Menariknya hingga membuat tubuh Hani juga ikut tertarik. Meletakannya ke dadanya, pria itu menatap Hani.
"Baru kali ini gue ketemu sama cewek yang luar biasa hebatnya bisa buat jantung gue berdetak sangat cepat. Sekian lama ku cari ternyata itu adalah kau si cewek di depan," ucap Keno puitis.
Reflek Hani langsung melepaskan tangannya dari genggaman Keno. Kemudian mengelapkannya ke rok sekolahnya.
"Apaan sih lo? jijik, sumpah gue dengernya!"
"Ngalay!" sambung Hani sambil menatap jijik ke arah Keno.
"Makasih pujiannya. Dan gue juga tau kalau gue ini ganteng," balas Keno berlebihan. Menyisir rambutnya dengan jari tangan.
Melihat itu Hani langsung bergedik jijik. Meninggalkan Keno yang asik memuji dirinya sendiri.
__ADS_1
Menyadari dirinya hanya berbicara seorang sendiri. Keno langsung memukul stir mobil sportnya. Sikap cuek Hani membuat dirinya semakin tertantang untuk menaklukan Hani.
"Cewek di depan tunggu!" teriaknya.
Tak henti-hentinya mengganggu Hani. Keno terus mengiringi jalan Hani dengan mobilnya. Sudah menawarkan kepada Hani untuk naik ke dalam mobilnya. Tapi gadis itu keras kepala. Walau sudah jalan begitu jauh gadis itu tetap menolak ajakan Keno.
Mengelap peluhnya yang sedari tadi bercucuran. Matanya menyipit saat menatap jalan raya di depannya.
Tiba-tiba kepalanya pusing. Di tambah netranya yang mulai mengabur membuat Hani berkali-kali menggelengkan kepalanya.
Ada apa ini? Batin Hani. Walau begitu gadis itu tetap berjalan walau mungkin betisnya kini terasa sakit.
Biarlah yang penting. Harga dirinya tidak hilang di depan pemuda yang dia benci.
Melihat itu Keno menjadi cemas, melihat langkah Hani yang kian melambat. Serta wajah pucat Hani yang menunjukan saat ini dirinya tidak baik-baik saja.
"Cewek di depan. Lo yakin gak mau ikut gue? Gak capek lo jalan terus. Gak kasihan sama diri lo sendiri? Setidaknya demi gue, tolong lo naik di mobil gue, atau lo mau gue carikan taksi?" ujar Keno.
Di abaikan membuat Keno geram. Lantas menghentikan mobilnya mendadak. Membuka pintu mobilnya pemuda itu berlari untuk mengejar Hani.
"Turuni gue!" teriak Hani sambil memukul-mukul dada bidang Keno.
"Gue bilang turuni!"
Tidak perduli, Keno terus berjalan ke arah mobilnya kemudian melempar tubuh Hani di tempat duduk paling depan, di sebelahnya.
"Auw," ringis Hani. Betisnya menekuk terasa sensasi nyeri baginya.
Brak!
Menutup dengan kasar pintu mobilnya. Keno kini menatap Hani yang saat ini menatap lurus sambil memasang wajah marah.
Menghela napas, pemuda itu mendekat ke arah Hani. Membuat Hani reflek langsung mendorong tubuh Keno.
"Gue pringati! Gue bukan cewek biasa! Berani sentuh gue sekali lagi. Lo mati!" ancamnya.
__ADS_1
Keno mengembungkan pipinya. Pemuda itu menahan tawa, saat Hani mengirahnya ingin menyentuh Hani.
"Ngapa lo?!" sembur Hani menatap Keno sambil kedua tangan terkepal lalu ia angkat ke udara.
"Sans beb. Awalnya tadi mau cium. Gak jadi soal-"
"Gila. Turuni gue sekarang!" sela Hani dengan nada tinggi.
"Janji bakal gue turuni nanti di depan kantor KUA tapi," ujar Keno menggoda.
Dalam hati Hani berkata.
Gue udah nikah goblok!
"Sekali lagi lo ngomong awas lo gu-"
"Nikahi, ya kan?" potong Keno.
"Kuy sekarang. Otw ni!" serunya.
Merapatkan bibirnya. Kini Hani mendesah cukup panjang. Dirinya merasa lelah yang amat dalam, hanya karena membalas perkataan pemuda tidak waras di sampingnya.
Walaupun tampan, tetap saja nyebelin plus narsis. Membuat Hani merasa jijik bila berada di dekat Keno.
"Diam. Artinya setuju," kata Keno antusias.
"Lo mau?" tanya Hani. Dengan cepat Keno mengangguk.
"Gue cekik! Biar mati!" ucap Hani. Membuat Keno langsung menjauhkan diri darinya.
"Jangan dong beb. Kasihani lah saya yang belum pernah merasakan indahnya pernikahan. Malam setelahnya bersenang-senang dengan anda calon istri saya, dan juga-"
"Diem!" potong Hani cepat,"Atau gue bener-bener bunuh lo!" sambungnya.
Tiba-tiba terjadi lah hening. Keno yang langsung fokus menyetir sementara Hani kini tengah memijat-mijat betisnya yang terasa nyeri.
__ADS_1