
"Falia apa kamu sudah tidur?" tanya Ayan saat menaiki ranjang. Menatap Hani yang saat ini tidur sambil memunggunginya.
Tidak ada jawaban, Ayan mengira Hani saat ini sudah tertidur pulas hingga tidak mendengar jika namanya di panggil. Mengangkat kedua sudut bibirnya lalu membuat senyuman manis, pria itu mengelus puncak kepala Hani dua kali.
"Semoga mimpi indah," lirih Ayan. Detik setelahnya menyelimuti tubuh Hani.
"Selamat malam," ucap Ayan kemudian menyusul Hani untuk tidur.
Setelah tidak ada suara, kini Hani perlahan membuka matanya. Memutar tubuhnya menjadi menghadap Ayan.
"Malam," ucap Hani dengan suara membisik.
Menghela napas, gadis itu menatap wajah tampan Ayan yang sedang tertidur. Tersenyum kecil gadis itu mencoba menyentuh hidung Ayan, lalu berpindah ke mata Ayan, hingga kini pindah ke bibir Ayan.
Terdiam gadis itu langsung memejamkan matanya, kemudian membukanya kembali. Mejauhkan tangannya dari bibir Ayan, gadis itu tersenyum lalu berkata,"Apa seperti ini rasanya takut kehilangan?" tanyannya kepada dirinya sendiri.
"Om apa sekarang saya mulai menyukai om?"
Ayan menggeliatkan tubuhnya, tangan kekar itu bergerak tanpa di perintah dengan sendirinya memeluk tubuh Hani. Membuat Hani langsung terdiam lalu segera memejamkan matanya.
Ke esokan paginya, Ayan terbangun untuk melaksanakan sholat subuh. Saat matanya terbuka ia melihat Hani tidak ada di sampingnya.
Melirik jam baker di atas nakas pria itu langsung mengerutkan keningnya.
Masih subuh, tapi kenapa Hani tumben sudah bangun sebelum dirinya.
Bangkit pria itu berjalan ke arah kamar mandi. Untuk mencari Hani di sana.
Teryata tidak ada. Setelah mencari Hani tidak ada dimana-mana. Ayan pun akhirnya memilih untuk melaksanakan sholat lebih dulu kemudian setelah itu ia akan kembali mencari Hani.
Sesampainya ke ruangan biasa tempat ia beribadah khususnya sholat. Pria itu di kagetkan dengan adanya Hani yang sudah terbalut dengan kain mukenah berwarna putih.
"Om Ayan kok lama sih? Padahal saya udah lama nunggu om!" tukas Hani membuat pria itu tak henti-hentinya melongo sangking terkejutnya.
"T-tadi s-saya men-"
"Yaudah ayo sholat. Jadi imam saya," potong Hani sambil tersenyum melihat ekspresi Ayan sekarang.
Mengangguk. Pria itu berjalan menuju sajadah di depannya. Pria itu mulai berkumandang adzan. Suaranya sangat merdu membuat bulu kuduk Hani langsung merinding.
...****...
__ADS_1
"Mau kemana lo?" tanya Hani saat melihat Keno berjalan menuju ruangan kepala sekolah.
Hani mendesis cukup panjang, netranya menyipit saat melihat Keno di depannya.
"Buat ulah lagi lo ya?" terka Hani.
Yang mendapatkan satu sentilan dari Keno,"Tebakan lo selalu salah," kilahnya.
Hani meringis sambil memijat-mijat keningnya yang terasa sakit.
"Sakit bego!" umpat Hani seraya memukul pundak Keno tak sekuat saat Keno menyentil keningnya.
Keno terkekeh, kemudian menarik lengan Hani untuk mendekat, meniup kening gadis di depannya. Pemuda itu tersenyum lebar,"Masih gue tiup belum cium," kata Keno.
Membuat Hani yang mendengarnya itu langsung mendorong tubuh Keno menjauh darinya. Dengan kuat gadis itu menginjak kaki Keno kemudian melenggang pergi meninggalkan Keno yang saat ini berteriak kesakitan sambil melompat-lompat dengan satu kakinya.
setelah kepergian Hani. Pemuda itu tertawa sambil mengacak-acak rambutnya. Berlari pemuda itu masuk ke dalam ruangan Darman.
Tok ... tok ... tok ...
Mendengar suara pintu di ketuk membuat Darman yang tadinya tengah menyeruput kopinya itu langsung tersentak, kemudian melihat orang yang mengetuk pintu ruangannya itu adalah Keno.
Meletakan kembali cangkir yang berisi kopi itu ke meja. Pria itu langsung berdiri lalu berjalan ke arah Keno. Mempersilahkan Keno untuk masuk ke dalam.
"Langsung ke inti!" tandas Keno tidak suka basa-basi.
"Baik lah, ini tentang masalah-"
"Jika berhubungan dengan tuanmu itu lebih baik saya pergi!" potong Keno. Lagi membuat Darman terdiam.
Masalah ini memang ada sangkut pautnya dengan Veno.
"Gak ada lagi kan? Kalau gitu saya pergi dulu," ujar Keno. Kemudian membalik tubuhnya untuk pergi.
"Tunggu!" sentak Darman.
Keno memutar bola matanya dengan malas, melirik Darman kemudian berkata,"Apa lagi pak?"
"Keno sebagai seorang guru sekaligus pemimpin di sini, saya ingin bertanya kepada kamu."
"Tentang apa?" Sela Keno bertanya.
__ADS_1
"Tentang, tempat tinggal kamu sekarang. Saya dengar kamu di usir oleh tuan Veno, apakah benar?" Darman menghela napas berat,"Jika benar maka sekarang kamu tinggal dimana?" sambungnya.
Keno berkacak pinggang, menggigit bibir bawahnya. Pemuda itu berdecak sebal,"Bukan urusan anda, yang jelas saya masih hidup sekarang." ujar Keno.
"Tapi saya guru kamu, jika muridnya mengalami kesusahan saya berhak membantu. Jika kamu mau, kamu bisa tinggal bersama dengan saya," tutur Darman.
Keno mendongak menatap langit-langit atap, mendorong pipinya dengan lidahnya. Kemudian pemuda itu tertawa.
"Maaf pak, apa semua ini atas perintah tuan besar Veno?" kilahnya menebak jika akar dari permasalahan ini adalah papanya.
Sudah 2 minggu yang lalu ia selalu di awasi oleh orang-orang berjas hitam. Dengan kepintaranya Keno berhasil menghindar. Tapi sekarang Veno juga melibatkan kepala sekolahnya untuk ikut terlibat.
Bahkan sejauh ini semua siswa tidak ada yang mengetahui jika dirinya kabur dari rumahnya. Jika Darman tahu siapa lagi yang akan memberitahunya kalau bukan Veno orangnya.
Darman tak cukup pintar untuk mengelabui Keno. Yang kepintarannya sudah teruji dari kecil. Hanya karena malasnya orang-orang menganggap keno adalah orang yang bodoh.
"Nak Keno, i-ini t-tidak ada hubungannya dengan pak V-Veno," bohong Darman dengan terbata-bata.
"Hentikan semua ini pak, selagi saya baik. Mohon kerja samanya," sela Keno.
Meyeringai sambil menatap Darman pemuda itu mengepalkan tangannya.
"Sebelum saya main kasar!" ancamnya.
...****...
"Mau nebeng bareng gue?" tawar Keno.
Hani tersenyum kemudian menggeleng,"Dengan senang hati," Keno melebarkan senyumannya, meraih helm yang ada di belakang motornya lalu ia berikan kepada Hani,"Gue menolaknya." sambung Hani seraya mendorong helm di depannya.
"Kecewa lagi," gumam Keno yang terdengar oleh Hani.
"Itu takdir lo!" sarkas Hani.
Tin ... tin ... tin ...
Mendengar suara telekson mobil. Hani maupun Keno sama-sama melirik ke sumber suara. Senyum ceria terbit dari bibir Hani.
"Eh gue duluan ya!" sela Hani sambil menepuk pundak Keno.
Berlari Hani terus tersenyum menuju ke arah mobil sedan milik Ayan.
__ADS_1
Meremas hemlnya kuat, pemuda itu menggerutu,"Siapa sih orang di dalam mobil itu?"
Selesai...