Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 47


__ADS_3

Hani Pov


Aku berlarian seperti orang gila. Mencari sebuah pabrik roti yang berada dekat dengan hotel yang ku kunjungi sekarang. Mencarinya kesana-kemari, namun tidak ada satu orang pun yang tau. Di situ aku merasa duniaku telah hancur. Ketika orang itu berkata akan membunuh Ayanku.


Diriku merasa sangat marah, begitu juga dengan jiwaku. Namun yang sangatku sesali sekarang adalah aku tidak bisa berbuat apapun kecuali mengeluarkan airmata yang membuat diriku merasa lemah.


"Permisi ada yang tau pabrik roti yang berada dekat hotel Hans?" tanyaku kepada orang yang berlalu lalang berjalan ke dekatku.


Hampir semua orang yang ku tanyai tidak tau. Hal itu membuatku semangkin frustasi. Ku remas wajahku yang penuh dengan cairan hangat, melihat kodisiku sekarang membuat orang-orang di sekelilingku merasa ibah. Sunggu aku tidak butuh rasa ibah mereka.


"Ada yang tau dimana pabrik roti?" tanyaku dengan suara meninggi.


Kemudian aku mulai berlari ke sana kemari.


Hingga sebuah tangan yang sudah tampak keriput menyentuh pundakku. Lalu suara lembutnya mulai menyapaku.


"Permisi nak," ucapnya. Sontak membuatku langsung berputar lalu ku tatap wajahnya yang sudah keriput dengan tatapan sayu.


"Pabrik Roti?" Aku mengangguk mantap menatap penuh harap ke arah wanita seusia ibuku saat ini sedang berpikir.


"Saya tau tempatnya," kata wanita itu membuatku tersenyum bahagia. Hingga ku genggam kedua tangannya kemudian aku berkata.


"Bisakah nyonya mengantarkan saya ke sana?" kataku memohon. Kedua netraku mulai berkaca-kaca.


Mengulas senyuman kecil, wanita itu mengelus puncak kepalaku dengan lembut.


"Saya tidak tau tujuan kamu datang ke sana, tapi tempat itu sangat berbahaya untuk gadis sepertimu. Pabrik itu sudah lama tidak terpakai, usianya juga sudah sangat tua. Melihat pabrik itu saja mungkin. kapan saja bangunan tua itu akan runtuh,"


"Nyonya saya tidak perduli dengan diri saya sekarang. Karena ada satu orang yang harus saya lindungi sekarang." kataku membuat wanita itu yakin.


"Baiklah," ucapnya.


"T-terima kasih banyak, terima kasih banyak," kataku bersyukur. Teryata ada juga orang baik di sekitarku.


1 jam menuju tempat itu. Di sepanjang jalan aku selalu berdoa, berharap semoga tidak terjadi apa-apa dengan Ayanku.


"Itu tempatnya nak, apa kamu yakin ingin tetap ke sana?" tanya wanita itu khawatir. Begitu jelas terlihat dari tatapannya.


Namun, tekadku membuatku berani dan tidak takut pergi ke sana. Ya walau setelah melihat bangunan yang hampir seperti rumah hantu, bagitu mengerikan sampai menbuat langkahku sempat terhenti.


Ku tatap wanita tua yang sudah membantuku sampai ke tempat ini. Perlahan sedut bibirku mulai terangkat lalu aku mulai mengulas senyuman lebar. Entahlah apa ini akan menjadi senyuman terakhirku?


"Terima kasih nyonya, aku akan selalu mengingat jasamu ini," ucapku sambil membungkukan badan. Tiga detik setelahnya aku mulai berlari menuju pabrik usang tepat di depanku.


"Ya Allah, apapun yang terjadi tolong lindungi Ayanku," ucapku dengan suara melemah.


Ku tatap pintu masuk yang penuh dengan sarang laba-laba. Saat aku mulai masuk ke dalam tiba-tiba kayu besar jatuh hampir mengenaiku untung saja saat itu aku buru-buru melompat. Atau tidak mungkin nyawaku, ah bukan itu tujuanku sekarang. Ayan itu lah alasan kenapa aku datang ke tempat kumuh berbahaya ini.

__ADS_1


Plok...plok..plok..


Suara tepuk tangan mengalihkan atensiku. Lalu aku mulai menatap seorang wanita dengan pakaian ketat berwarna hitam berjalan ke arahku. Kemudian ku lirik sebuah pistol yang tidak terlalu besar di  tangannya.


"Wah...gadis yang sangat pemberani," katanya dengan seringaian yang membuat nyaliku saat itu langsung menciut.


"S-siapa anda?" tanyaku. Gugup tentu saja, baru kali ini aku menatap mata yang sangat menakutkan seperti mata wanita itu.


"Saya?" Wanita itu berjalan mendekatiku. Ya tuhan tolong selamatkan aku.


"Nama saya Kia, sekaligus juga malaikat kematianmu." katanya membuat tubuhku lemas hingga jatuh ke lantai.


"Astaga gue kira gadis kayak lo itu pemberani?"


Kia mendesah,"Hah. Masih perkenalan lo udah K.O?"


"Dimana nyalimu gadis kecil?"


"C-cukup!"


Napasku tersengal, ku remas dadaku yang mulai merasa sesak.


"Dimana suamiku?!" tanyaku yang berusaha untuk bengkit.


Mendorong tubuhku wanita itu mulai menondongkan pistolnya tapat ke dahiku.


"Pertayaan menyebalkan! Hei gadis kecil gue mau tanya sama lo!"


Dan saat itu juga aku mulai menunjang kakinya. Kemudian aku berusaha ingin melarikan diri. Tapi sialnya karena gaun panjang ini wanita itu berhasil menahanku.


"Mulai berani memberontak? Hah gadis kecil?" teriak wanita itu sambil membalas pukulanku yang tadi.


Sangat sakit hingga aku merasa tulang keringku seperti mau patah.


"Ah!" jeritku kesakitan. Aku merintih sambil menangis.


Seandainya aku tidak memakai gaun sialan ini. Tentu saja aku akan bisa membalas wanita sialan itu.


"Sakit ya?" tanyanya.


Di susul tangannya menyambar rambutku yang sudah di sanggul lalu tangannya mulai bergerak menarik rambutku ke bawah. Sangat sakit!


"Ah!" jeritku lagi.


"Ayan tolong aku,"  teriakku dalam hati.


Dan ku harap dia akan mendengar rintihanku.

__ADS_1


"He di balik lemari! Ikat dia!" titahnya membuatku terkejut bukan main. Teryata selain dia ada lagi orang yang berniat menyelakaiku.


"Hei!" teriak wanita itu mulai kesal. Ketika seseorang yang di panggilnya tidak datang.


"Keluar atau gue bunuh gadis ini sekarang!" ancamnya.


Dan setelah mendengar ancaman itu tak lama aku mendengar derap langkah kaki berjalan ke arahku sekarang.


"lama amat sih lo?!" teriak wanita itu. Sontak membuat ku penasaran dan ingin melihat siapa orang di balik semua ini. Tapi sebelum itu tiba-tiba ada tangan besar memukul tengkuk  leherku sangat kuat. Hingga membuatku berhasil kehilangan kesadaran.


"Maaf Hani," samar-samar aku mendengar suara yang tak asing di telingaku. Dia meminta maaf, siapa sebenarnya orang ini?


"Ayan, aku harap kamu akan baik-baik saja." doaku sebelum akhirnya aku memejamkan mata.


...****...


Keno POV


"Ah!"


Aku meremas dadaku, suara gadis yang saat ini sedang di siksa tepat di depan mataku, membuat uluh hatiku rasanya seperti tersayat-sayat oleh pedang yang sangat tajam.


Sakit. Hingga rasanya tubuhku akan  ambruk ke bawah. Ku tatap wajahnya yang penuh luka-luka, ah sungguh aku tidak ingin melihatnya.


Wajah cantik yang dulunya selalu membuatku tertawa, kini aku hanya diam saat wajah itu di lukai oleh orang.


Bibir yang dulunya selalu tersenyum ketika aku menjahilinya. Kini bibir itu bergemetar dengan darah di sekelilingnya.


Ah! Aku merangung tanpa suara, sekali lagi ku remas dadaku yang semakin sakitnya luar biasa.


Kemudian aku mulai menatap mata itu. Tatapan yang sayu serta teduh dari pandangannya aku lihat gadis itu sangat membutuhkan pertolonganku. Dan Sungguh aku tidak kuat saat menatapnya. Tapi yang bisa aku lakukan saat ini hanya diam.


Menatapnya dari sini, dengan hatiku yang menjerit penuh kesedihan.


Aku ingin menolongnya. Tapi pikiranku tidak sejalan dengan hatiku.


Ini semua harus ku lakukan walau  hukumannya aku harus merelahkan gadis yang ku cintai menderita.


Tenanglah, setelah membalaskan dendamku aku akan menyusulmu dan melindungimu di dunia kita. Nantinya.


Hani aku mencintaimu, walau mungkin sudah terlambat untukku mengatakan kata itu.


Tapi aku ingin kau tau alasan mengapa aku melakukan ini.


Dan percayalah... kenangan kita sampai kapan pun aku tidak akan melupakannya.


Lalu percayalah padaku...

__ADS_1


Akan ku buat kamu bahagia setelah ini.


TbC.


__ADS_2