Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 8


__ADS_3

Ayan bangkit sambil melipat sajadahnya. Melirik Hani yang masih tertidur pulas dengan posisi tubuh yang tidak pantas untuk di lihat.


Menggeleng pelan pria itu melampirkan sajadahnya itu ke lemari.


Tersenyum kecil, dia mengamati wajah  pulas Hani yang tengah tertidur. Berjalan pelan ke arah Hani pria itu langsung duduk di pinggiran ranjang.


Mengelus puncak kepala istrinya lembut."Falia," lirih Ayan memanggil nama istrinya itu agar segera bangun.


Yang panggil namanya, tidak bergerak sedikit pun. Ayan menghela napas, pria itu harus bersabar untuk menghadapi istrinya yang umurnya masih terbilang sangat muda.


"Falia, ayo bangun. Sholat terus sarapan." ucapnya, tangan Ayan yang semula berada di kepala sang istri kini tangan itu pindah ke pipi Hani, mengelusnya lembut membuat sang pemilik pipi itu reflek menggeliatkan tubuhnya.


Membuka matanya perlahan, samar-samar Hani menatap Ayan yang tengah tersenyum ke arahnya.


Hani tersenyum, menggeleng gadis itu melanjutkan aksi tidurnya.


"Pasti gue cuma mimpi, ini gak mungkin." gumam Hani yang terdengar oleh Ayan.


"Falia, apa yang kamu katakan?"


Awalnya gadis itu pikir bahwa Ayan ada di dalam kamarnya itu adalah mimpi. Namun, setelah mendengar suara Ayan kali ini gadis itu langsung bangkit. Dengan rambut acak-acakan gadis itu menatap ke arah Ayan dengan kedua mata yang berubah tajam. Kedua tangannya gadis itu angkat untuk menyentuh kedua pipi Ayan. Mengapitnya kuat gadis itu langsung menjerit. Berteriak memanggil kedua orangtuanya.


"Ah!" teriaknya, kemudian melompat dari ranjang. Berlari menuju ruang tamu.


"Mama! Papa! Ada om-om dikamar Hani!" teriaknya histeris, spontan membuat aktivitas kedua orangtuanya langsung terhenti untuk menghampiri Hani yang berteriak seperti orang kesetanan.


"Ada apa sayang?" tanya Sabrina dengan posisi tangannya yang masih memegang alat penggorengan.


Wanita itu menatap cewas ke arah putrinya, Hani langsung berlari mendekat ke arah Sabrina memeluk mamanya, gadis itu langsung mengaduh."Ma, di kamar Hani ada om-om," aduhnya sambil mempererat pelukannya.


"Om?" Hani mengangguk, Sabrina tampak berpikir keras, siapakah om yang dimaksud oleh putrinya ini?


"Maksud kamu nak Ayan?" tanya Sabrina dengan suara meninggi.


Hani terdiam sejenak. Dahinya berkerut, gadis itu tampak berpikir keras dengan nama yang baru saja di sebutkan oleh ibunya itu.


Ayan?


"Ayan siapa ma?" tanya Hani sambil melepaskan pelukannya.


Sabrina membuka mulutnya lebar-lebar. Tidak percaya dengan ingatan putrinya ini, bahkan nama suaminya sendiri Hani tidak ingat. Apalagi jika tidak keterlaluan namanya.


"Falia!" panggil Ayan yang di panggil langsung bersembunyi di balik punggung Sabrina.


Menunjuk cepat ke arah Ayan, yang saat ini tengah mengatur napasnya.


"Lihat itu dia om-omnya ma!" teriak Hani sambil menunjuk Ayan.

__ADS_1


Sabrina menutup mulutnya kembali, wanita itu langsung menyeret tubuh putrinya yang saat ini sedang bersembunyi di belakang punggungnya.


Melemparkannya ke arah Ayan.


Detik setelahnya wanita itu menunjuk Ayan dengan alat penggorengan yang sedari tadi ada di tangan wanita itu.


"Om-om yang kamu bilang itu adalah suami kamu Hani! Bagaimana bisa kamu memanggil nama suami kamu dengan sebutan om? Bahkan nama om tidak cocok dengan wajah tampan seperti menantu ku ini!" semprot Sabrina, raut wajahnya terlihat kesal. Masih pagi tapi putrinya itu sudah membuat dirinya marah.


Herman yang sedari tadi ada di kamarnya untuk mengerjakan tugas dari kantor. Setelah mendengar ada suara keributan yang sedang terjadi di rumahnya, pria itu pun langsung keluar untuk mengechek sendiri kejadian apa sehingga masih pagi-pagi seperti ini istrinya itu sudah mengamuk?


"Ada apa ini?" tanyanya sambil membenahi kaca matanya yang sedikit merosot.


Menyapu pandangannya ke sekitar rumahnya. Menatap secara bergantian istrinya, putrinya serta Ayan menantunya.


"Anak kamu itu! Kerjaannya bikin emosi terus, heran mama liatnya!" aduh Sabrina.


"Hani kenapa kamu buat mama marah?" tanya Herman, menatap wajah putrinya yang seperti sedang menahan sesuatu disana.


Melirik Ayan di sampingnya.


"Maaf Ma, Pa. Saya yang akan urus Falia," Ayan membalas lirikan Hani. Tersenyum kecil pria itu merangkul pundak istrinya lembut."Dan menasehatinya, agar untuk kedepannya nanti, masalah ini tidak akan pernah terjadi lagi," ujar Ayan.


"Yaudah kamu ajak Hani masuk ke dalam kamar sana," balas Herman sambil menenangkan istrinya.


Ayan mengangguk seraya mengajak Hani untuk pergi dengannya.


Sesampainya di kamar. Gadis itu langsung menaiki ranjang. Bersilah sambil memeluk boneka sapi, gadis itu memandangi Ayan yang masih berdiri di depannya.


"Om, jadi kita udah nikah? Ini seriusan?"


Ayan mengangguk.


"Cih, kok bisa?"


Seolah lupa dengan kejadian kemarin, gadis itu mencoba mengintrogasi Ayan.


"Om gak guna-guna saya kan?" tanyanya ngawur.


"Demi allah, saya gak ada guna-gunain kamu!" sela Ayan yang tidak terima di katain telah guna-gunain Hani.


"Sans om, saya kan nanya!"


Ayan menghela napas berat.


Hani menepuk sisi ranjang di sampingnya, menyuruh Ayan dengan menggunakan isyrat agar duduk di sampingnya.


"Duduk om, nanti pendarahan!" candanya.

__ADS_1


Ayan menggeleng pelan. Entah mengapa pria itu sangat sabar menghadapi tingkah konyol istrinya.


Sedangkan orangtua Hani saja tidak tahan untuk menghadapi tingkah Hani yang sekarang.


Hani menyatuhkan alisnya, kedua sudut bibirnya terangkat lalu membentuk sebuah seringaian.


"Duduk om, saya ini gak tipe orang kanibal kok. Jadi sini duduk di samping saya." ujar Hani.


Ayan termenung sesaat. Dengan ragu-ragu pria itu menjatuhkan bokongnya di samping Hani.


"Nah gitu kan enak," cetus Hani.


Hani menopang satu pipinya, mengamati wajah Ayan yang tengah menunduk.


"Ganteng sih, cuma ngebosenin!" tandas Hani. Membuat Ayan langsung tersedak oleh salivanya sendiri.


"Maaf huk ... huk," ucapnya sambil terbatuk-batuk.


"Eh om kenapa?" tanya Hani. Melihat Ayan yang masih terbatuk-batuk setelah mendengar ucapannya tadi.


"Huk ... huk ... Saya gak kenapa-kenapa?" jelas Ayan sambil terus terbatuk-batuk.


Bingung. Hani langsung mengambil gelas di atas nakas yang sudah terisi dengan air itu dan memberikannya kepada Ayan.


"Ni om min--"


Byur ....


Hani menutup mulutnya yang terbuka lebar, menatap tubuh kekar Ayan di balik kemeja putih yang pria itu kenakan.


Tubuhnya sangat kekar, membuat Hani salah fokus saat melihatnya.


"Astaghfirullah!" setak Ayan terkejut melihat bajunya basah kuyub, yang tidak sengaja tersiram oleh Hani.


"Maaf ... maaf ...." ucap Hani sembari mengelap-elap dada bidang Ayan dengan tangannya.


Sentuhan Hani membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Napasnya terhenti sesaat. Ayan kini sedang menahan napasnya.


"Maaf om Ha ...,"


Hani terdiam, melihat wajah Ayan yang memerah. Apa ini kenapa jantungnya juga ikut berdetak.


Spontan Hani langsung menjauh. Gadis itu langsung turun dari rajang, menuju lemari mengambil handuk berwarna putih.


Kemudian melemparkannya ke arah Ayan.


"Terima kasih," ucap Ayan yang di angguki Hani.

__ADS_1


__ADS_2