
"Gimana penampilanku sekarang?" tanya Putri sambil menaikan dagunya ke atas. Wanita itu berkacak pinggang memperlihatkan kecantikannya kepada Ayan yang saat ini tengah mengelap pistolnya.
Melirik Putri, Ayan tersenyum miring. Kemudian menodongkan pistolnya ke arah Putri.
"Seperti biasa cantik," kata Ayan. Membuat pipi Putri seketika langsung merona.
"Oh ya? Aku dengar 1 bulan lagi kamu mau di tugaskan ke Riau? Berapa lama?" sentak Putri bertanya.
Ayan memasangkan 3 butir peluru ke dalam pistolnya. Tersenyum pria itu menjawab,"3 bulan lebih." ujar Ayan.
"Mayan lama, bakal kangen kamu pasti!" tutur Putri. Wanita itu mengerucutkan bibirnya.
"Istri kamu gimana, udah tau?" tanyanya lagi.
Ayan meyandarkan tubuhnya ke kursi. Matanya terpejam,"Belum," ujarnya.
Ayan kembali membuka matanya, menatap Putri dengan pikiran memikirkan Hani.
"Kapan mau bilang?" tanya Putri.
"Akhir bulan sebelum pergi." kata Ayan dengan nada melemah.
Putri terdiam sesaat, hatinya sakit melihat Ayan memikirkan wanita lain. Namun apa daya, jika terus menjadi sabahatnya ia akan selalu bersama dengan Ayan, walau bukan sebagai kekasih, itu akan lebih baik. Dari pada mejauh sebagai musuh.
Dret ... dret ...
Ponsel Putri bergetar pertanda ada seseorang yang mengirimkannya pesan. Membacanya sekilas. Wanita itu menghela napas, melirik Ayan yang sedang menutup setengah wajahnya. Wanita itu tersenyum.
"Ayan, aku pergi dulu ya? Ada pesan dari kantor," ujar Putri.
Ayan menegakan tubuhnya, bangkit pria itu meraih kunci mobilnya.
"Ayo aku antar," kata Ayan.
"Tidak perluh, sebaiknya kamu istirahat saja dulu," tolak Putri sambil mendorong tubuh Ayan untuk kembali duduk.
"Terima kasih," lirih Ayan, Putri tersenyum lantas mengerlingkan matanya.
"Assalamuallaikum,"
"Waalaikumsallam," balas Ayan.
Meremas rambutnya, pria itu kini melirik ponselnya yang bergetar. Pertanda ada pesan masuk di sana.
Istriku
Om Ayan. Hari ini saya ada mapel tambahan jadi om Ayan tidak perluh menjemput saya.
Membaca itu Ayan menghela napas, kemudian menidurkan kepalanya ke atas meja.
...****...
__ADS_1
Om Ayan
Baiklah ... semangat belajarnya Falia❤
Senyum lebar terbit dari bibir Hani, gadis itu membaca berulang-ulang pesan yang baru saja di kirim oleh Ayan untuknya.
sampai Keno datang sambil memberikannya aqua.
"Nih," kilah Keno sambil menggoyang-goyangkan sebotol aqua ke dekat wajah Hani.
Hani tersentak kemudian menyembunyikan ponselnya.
"Makasih," ujar Hani seraya meraih botol aqua di depannya.
Tersenyum Keno memandangi wajah Hani yang berkeringat karena mereka baru saja selesai berolahraga.
Hani menenggak minumannya, kemudian kembali memberikannya kepada Keno.
Mendesah pelan Hani meluruskan kakinya. Kemudian menekuk tubuhnya dengan kedua tangan ia luruskan.
Kemudian datang segerombol cewek tanpa di undang, dengan dandanan kayak ondel-ondel mau tampil pentas menurut Hani, datang menghampirinya. Kemudian Melemparkan seember lumpur ke baju Hani dengan sengaja.
"Maaf gue gak sengaja!" teriak cewek berambut panjang itu sambil membantu Hani mengelap lumpur itu dengan sapu tangannya.
"Gak punya otak lo ya?!" maki Keno marah. Dengan kuat pemuda itu mendorong gadis berambut panjang itu agar manjauh dari Hani.
"Udah Ken!" sela Hani,"Banti gue bersiin ini semua." ujar Hani.
Menatap ketiga wanita yang tersenyum miring saat melihat keadaan Hani sekarang.
"Awas lo bertiga!" ancam Keno.
Hani menggeleng, menarik ujung seragam olahraga Keno untuk tidak meladeni ketiga gadis itu.
Saat Keno menuntun Hani menuju ke kamar mandi. Kini beberapa pasang mata melirik mereka. Awalnya para siswa masih ragu dengan hubungan Keno dan Hani, tapi setelah menyaksikan kejadian ini. Kini mereka yakin jika Keno dan Hani memiliki suatu hubungan lebih dari sahabat.
"Maaf seharusnya tadi gue ngehalangi mereka," sesal Keno menyandarkan tubuhnya ke sandaran pintu toilet.
"Ini bukan salah lo, ya mau gimana lagi? Gue kan cukup terkenal disini. Wajar jika musuh gue banyak," balas Hani dari dalam kamar mandi.
Keno mengepalkan kedua tangannya, pemuda itu berjanji akan membalas perbuatan ketiga gadis itu terhadap Hani.
Clek ....
Hani tersenyum, menatap Keno kemudian melirik jaket yang ia kenakan. Walau terlihat kebesaraan saat ia memakainya.
"Btw makasih jaketnya, tanpa ini gue gak tau harus pakai apa," Hani terkekeh pelan,"Teryata mereka sudah merencanakan semua ini, bahkan baju sekolah gue juga di potong-potong,"
"Ayo gue anter pulang!" seru Keno seraya menarik pergelangan tangan Hani.
Hani menahan tubuhnya, perlahan gadis itu melepaskan tangan Keno,"Kalau gue pulang, gimana sama praktek kimia?" tanyanya.
__ADS_1
Keno mendaratkan tangannya ke puncak kepala Hani kemudian mengacak rambut gadis di depannya.
"Masalah itu biar gue yang urus. Sekarang lo harus pulang!" seru Keno pemuda itu kembali menarik tangan Hani.
...****...
Keno menatap gedung bertingkat di depannya. Senyum lebar terbit di balik helmnya.
"Makasih banyak Ken, jaket lo besok gue balikin," ujar Hani merasa tidak enak, sedari tadi ia merepotkan Keno.
"Oke," balas Keno sambil menatap Hani lama.
Hani merapatkan bibirnya, kemudian menunjuk gedung di bekalangnya,"Gue masuk duluan ya?"
"Gak mau ngajak gue ni?" canda Keno.
Hani membulatkan netranya, menatap Keno dengan kedua alis menyatuh.
"Tenang gue bercanda kok," ucap Keno membuat Hani langsung menghembuskan napas lega.
Hani menghela napas, berputar gadis itu berjalan sambil memejamkan matanya sejenak.
"Tunggu!" sentak Keno.
Hani menghentikan langkahnya lantas berbalik.
"Helm gue," ujar Keno sambil menunjuk helm yang masih terpasang di kepala Hani.
Meringis gadis itu kembali berjalan ke arah Keno. Kemudian membuka helmnya lalu ia berikan kepada Keno.
"Maaf," ucap Hani merasa malu.
Keno mengulas senyuman lebar, pemuda itu menekan pelan hidung Hani,"Lain kali pemilik helmnya aja yang di bawa!" tandas Keno yang mendapatkan satu pukulan kuat di bahunya.
"Atit!" aduh Keno sambil memasang wajah sedih.
Membuat Hani tertawa.
Di tempat lain, seorang pria dengan air mata yang mengalir membasahi kedua pipinya itu tengah tersenyum miris. Memandangi Hani dan Keno yang sedang tertawa.
Kecewa. Tentu saja, melihat pasangan yang kita cintai tertawa dengan orang lain.
ini kah mapel yang di maksud oleh Hani? Agar tidak menjemputnya?
Menutup matanya dengan satu tangan pria itu menangis.
detik setelahnya pria itu memutar kembali mobilnya. Meninggalkan Hani dengan perasaan kecewa.
Selesai...
Sejauh ini gimana😂
__ADS_1