
Hani memutar bola matanya malas. sedari tadi dirinya terus saja di ganggu oleh pemuda di belakangnya. Meminjam alat tulisnya, menggoyang-goyangkan kursinya. Bahkan pemuda itu memanggil-manggil dirinya.
Dengan sebutan 'perempuan di depan' bukan tidak tahu nama Hani. Hanya saja pemuda itu senang memanggil Hani dengan sebutan 'perempuan di depan' tak tau apa arti nama tersebut.
"Perempuan di depan!" panggil Keno yang ke sekian kalinya. Kedua sudutnya terangkat lalu membuat seringaian penuh kejahilan.
"Semakin lo diem. Semakin lo nantangi gue buat terus ganggu lo!"
Cukup!
Hani tidak tahan lagi. Untuk membiarkan Keno terus mengganggunya.
"Eno atau ken ken! Lo bisa gak jangan ganggu gue? Baru dua hari lo di kelas ini. Udah berani ganggu gue!" sembur Hani kesal.
Keno menatap Hani sambil tertawa. Matanya menyipit saat kedua pipinya terangkat sangat lebar.
Sebutan Ken Ken membuatnya ingin tertawa terus dan terus.
"Gak ada yang lucu!" sarkas Hani. Gadis itu mentap kesal ke arah Keno yang terus menertawai dirinya.
"Dasar orang gila!" maki Hani. Lantas pergi meninggalkan kelasnya.
Tak perduli. Dengan makian yang di lontarkan Hani terhadapnya. Pemuda itu terus tertawa sambil menatap kepergian Hani yang semakin jauh dari pandangannya.
Setelah kepergian Hani, Keno kembali menidurkan kepalanya ke atas meja. Hari-harinya selama 2 tahun lebih selalu seperti ini tidur di dalam kelas. Dan tak mempunyai niat untuk belajar.
Teman? Bukannya tidak ada hanya saja semua temannya berada jauh darinya.
Yang pemuda itu pertahankan dari sekolah ini hanya menunggu untuk tamat. Setelah itu pergi jauh untuk selamanya.
Sebenarnya pemuda itu tidak ada niat untuk bersekolah di sekolah milik papanya. dia juga ingin merasakan kebebasan tanpa orang lain memandangnya sebagai anak pemilik sekolah.
Seperti murid lainnya dia juga ingin di marahi. Di bentak atau di keluarkan dari sekolah.
Namun, liat lah penghuni di sekolah ini semuanya selalu menurut apa katanya. Memperlakukannya dengan cara yang berbeda. Guru-guru maupun temannya takut untuk menegurnya. Takut membuat Keno tersinggung dan akhirnya mengaduh ke orangtuanya. Dan nantinya mereka akan di keluarkan dari sekolah.
"K-Keno," panggil Fikri wali kelas ipa 3 dengan dengan hati-hati.
"Eh bapak?" sentak Keno. Pemuda itu tersenyum miring saat netranya melihat peluh gurunya yang bercucuran di sekitar alisnya.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" ujar Keno.
__ADS_1
Fikri meringis. Mengelap peluhnya dengan mata tertutup, menarik napasnya dalam-dalam pria itu kembali membuka matanya.
"Keno!" panggilnya dengan suara tinggi.
Detik setelahnya pria itu memeluk anak muridnya sambil menangis.
"Keno bapak mohon. Kembali lah ke kelas ipa 3. Jika tidak maka saya akan mati," ujar pria itu semakin memeluk erat tubuh Keno. Membuat orang yang di peluk merasa sesak.
"Pak ... pak ...." ucap Keno sambil mencoba melepaskan tangan Fikri yang berada di pundaknya.
"Jika bapak terus seperti ini. Maka saya yang akan mati," kilah Keno melemah. Pelukan Fikri terlalu kuat.
Fikri tersentak kemudian melepaskan pelukannya. Pria itu mengatupkan kedua tangannya.
"Maaf ... maaf jangan aduhin ini ke Papa kamu. Atau saya nanti akan di pecat," mohon Fikri.
Keno menyatuhkan kedua alisnya. Lalu rahangnya mengeras, pemuda itu menepis tubuh Fikri dengan raut wajah yang terlihat kesal.
Membuat Fikri semakin ketakutan berpikir jika ini adalah akhir dari hidupnya.
Mendorong pintu ruangan Darman Kini Keno menatap geram ke arah pria yang saat ini tengah duduk di kursi kemegahannya.
Brak!
"Ada apa ini? Bahkan saya tidak boleh menentukan kelas yang saya suka. Dimana layanan kalian yang nantinya akan membantu saya belajar? Sampai detik ini juga tidak ada perubahan. Walau kalian letakan saya ke para murid-murid pintar sekaligus. Keno tetap lah Keno. Dia gak akan pernah berubah menjadi Veno! Papa saya." Kata Keno kesal. Memarahi Darman sang kepala sekolah.
"Keno dengarkan Bapak, tolong jangan gegabah. Ini semua juga demi kebaikan kamu juga. Kamu di kirim ke kelas ipa 3 itu adalah keputusan dimana tuan Veno telah menyetujuhinya dan saya sebagai bawahan tidak ada hak untuk itu. Jadi saya memohon kepada kamu. Tolong, pikirkan ini baik-baik. Lalu kembali lah ke kelas ipa 3." ujar Darman penuh pengertian. Menasehati agar Keno mau mengerti dengan posisinya sekarang.
"Jangan berharap!" balas Keno. Tidak perduli. Pemuda itu memutar tubuhnya untuk pergi dari ruangan Darman.
...****...
"Sudah buat keputusan?"
Ayan menghela napas. Menatap Gilang dengan tatapan malasnya.
"Sudah." balasnya.
"Papa harap ini keputusan yang tepat. Ayan, Papa percaya kamu tidak akan membuat papa kecewa." Kata Gilang senang dan berharap semoga Ayan mau meneruskan perusahaanya.
Ayan menghembuskan napas berat, sebelum akhirnya pria itu menjabawab pertayaan papanya,"Ayan pikir. Tentara dan ceo." jeda.
__ADS_1
Ayan menatap Gilang," Ayan akan melakukan pekerjaan itu bersama-sama." jelas Ayan.
Awalnya ini sangat sulit untuknya. Tapi setelah di pikir-pikir kedua-keduanya juga adalah orang yang sangat penting untuknya. Menjadi tentara adalah impian wanitanya. Sedang kan melihatnya sebagai seorang Ceo juga impian papanya. Jadi Ayan memutuskan ini semua dengan baik-baik. Tanpa harus membuat keduanya kecewa.
"Ayan ini bukan hal sepele, bagaimana kamu bisa mengerjakan keduanya. Apakah kamu yakin jika kamu tidak akan pernah pergi selama berbulan-bulan lamanya, pergi bertugas untuk melaksanakan tugas kamu sebagai seoarang tentara? Lalu bagaimana dengan perusahaan ini jika kamu pergi selama itu?!"
"Pikir kan ini baik-baik Ayan. Papa selalu menuruti apa kata kamu. Kamu ingin menikah dengan gadis itu? Papa setuju. Kamu ingin menjadi seorang tentara walau papa tidak suka. Papa tetap membiarkan mu Lantas setelah pengorbanan yang Papa beri untuk kamu! Apakah tidak ada di hati kecil kamu ingin membalas kebaikan Papamu ini?"
Ayan menunduk dalam. Kata-kata Gilang menyentuh hatinya.
Pria itu kembali bingung untuk membuat keputusan antara menjadi seorang tentara atau seorang Ceo.
Meremas rambutnya frustasi. Pria berjas hitam itu lantas bangkit. Menatap Gilang yang mendongak untuk menatapnya.
"Biarkan Ayan berpikir lagi Pa. Berikan Ayan waktu seminggu lagi," ujarnya.
Gilang menarik napasnya dalam-dalam. Menatap Ayan dengan satu tangan ia kibaskan ke udara. Seolah memberi isyarat untuk Ayan segera pergi dari ruangannya.
"Ayan pamit Pa. Assalamuallaikum," ucapnya yang diangguki Gilang.
"Waalaikumsallam," balas Gilang. Sambil memijat-mijat pelepis alisnya.
Clek...
Bruk!
"Aw ..." ringis Hani saat Ayan membuka pintu secara tiba-tiba, membuat gadis itu yang tadinya tengah menguping langsung terjatuh. Ngelesot duduk di lantai.
"Falia?" sentak Ayan terkejut saat melihat Hani ada di depannya.
"Eh suami om," ucapnya sambil nyengir kuda. Menahan rasa nyeri di kakinya. Gadis itu mengulurkan ponsel Ayan di tangannya.
"Tadi ponsel om ketinggalan jadi saya antar ke sini," jelas Hani yang masih setia duduk di lantai.
"Bisa berdiri?" tanya Ayan.
Hani mengangguk, gadis itu mencoba untuk berdiri. Tapi nyatanya kakinya masih sakit. Membuat tubuhnya yang mungil itu kembali terjatuh ke lantai.
Melihat itu Ayan dengan sigap langsung menggendong tubuh istrinya dan membiarkan semua orang menatapnya.
"Om Ayan?" sentak Hani.
__ADS_1
"Diam!" titah Ayan.