Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 34


__ADS_3

...Pisah bukan akhir dari segalahnya. Jika tidak bisa lagi di pertahankan , maka lepaskan lah....


^^^Falia Hani❤^^^


Ayan tersenyum mengembang saat ia membuka matanya, wajah Hani lah yang pertama kali ia lihat. Wajah cantik yang selalu berhasil membuatnya jatuh cinta.


Subhanallah, kata itu selalu ia ucapkan saat memandang wajah istrinya.


Menggulum bibir atas dan bawahnya, Ayan mulai mengulurkan tangannya, menyentuh kening Hani hingga turun ke bibir.


Menerjapkan matanya dua kali, pria itu menelan salivanya susah payah. Melihat bibir berwarna pink itu terbuka.


Menggeleng pria itu memejamkan matanya sejenak, pria itu tidak ingin menyentuh Hani sebelum mendapatkan izin dari gadis itu. Walau memang sudah menjadi haknya sebagai seorang suami tapi ia juga harus mendapatkan izin sebelum itu.


Membuka kembali matanya, pria itu merasakan Hani semakin memeluk tubuhnya semakin erat, rambut berwarna coklat Hani berhasil menutup wajahnya.


Merasakan hembusan napas Hani di dadanya membuat Ayan susah untuk bernapas, posisi Hani kali ini melawati batas pertahanannya.


Jakun pria itu naik turun, tangannya bergerak untuk menyilakan rambut Hani di wajahnya.


Pria itu mulai mendorong kepala Hani secara hati-hati menjauh darinya.


"Ehmm ...." menggeliatkan tubuhnya Hani berguling menjauh dari Ayan.


Memeluk guling di sampingnya, membuat pria itu bernapas lega. Dengan cepat pria itu berlari ke arah kamar mandi.


15 menit setelah kepergian Ayan, gadis itu terbangun sambil menguap. Menggaruk perutnya yang tiba-tiba terasa gatal. Menatap kanan dan kiri gadis itu mengerutkan keningnya.


"Pagi," sapa Ayan, pria itu menyusun semua pakaiannya ke dalam koper berwarna hitam. Melihat itu Hani langsung melompat dari tempat tidurnya, menghampiri Ayan dengan muka bantal.


"Kamu mau kemana? Jangan bilang kamu mau nyumbangi baju kamu lagi?" tanya Hani. Ayan tersenyum tipis, pria itu menekan hidung bengir istrinya pelan.


"Bukan," katanya.


"Terus?" tanya Hani lagi.


Ayan menghentikan aktivitasnya yang tadinya tengah menyusun baju ke dalam koper, kini pria itu memutar tubuhnya menjadi menghadap ke arah Hani, tersenyum manis pria itu menyentuh kedua pundak istrinya,"Aku mau pergi bertugas ke Riau," jelas Ayan.


Hani mengerlingkan matanya, gadis itu kini memasang wajah murung. Menunduk kemudian menangis.


"Jangan pergi!" cegah Hani, Ayan menghela napas berat, pria itu tersenyum samar. Terlihat matanya memerah seperti menahan tangis disana. Menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya pria itu berkata.


"Jika di perbolehkan saya akan membawa kamu-"


"Kalau gitu bawa saya," sela Hani. Ayan terdiam sesaat telapak tangannya mengusap punggung istrinya dengan kasih sayang.


"Jika itu di perbolehkan, toh kamu juga masih sekolah." kata Ayan.


Hani mengembungkan kedua pipinya, kemudian memukul dada bidang suaminya pelan.


"Suami jahat!" pekik Hani.

__ADS_1


"Maaf," kilah Ayan melemah, pria itu mempererat pelukannya. Sesekali mengecup kening istrinya.


...****...


Ayan meneteskan air matanya, sembari menyusun masakan yang baru saja ia masak itu ke atas meja. Moment ini akan selalu ia kenang selama ia jauh dari Hani.


"Ayan," panggil Hani.


Mendengar namanya di panggil, Ayan langsung berpaling pria itu menghapus jejak air matanya dengan punggung tangan.


Menghela napas, Ayan kembali memutar tubuhnya jadi menghadap ke arah Hani, tersenyum pria itu berjalan ke arah Hani, kemudian mengulurkan tangannya.


"Ayo," sambut Ayan.


"Setelah ini kamu harus pergi sekolah,"


"Tapi sebelum itu kamu harus sarapan dulu, kemudian-"


Cup...


Hani berjinjit untuk mencium pipi pria di depannya.


"Apa setelah ini kamu tidak akan pergi?" tanya Hani.


Kecupan singkat itu membuat Ayan terdiam, matanya membulat menatap gadis di depannya yang saat ini sedang menatapnya.


"Kenapa kamu tidak pakai seragam sekolah kamu?" tanya Ayan balik, pria itu mencoba mengganti topik pertanyaan Hani barusan.


"Kenapa? Kamu tidak jawab pertanyaan saya?"


"Apa kamu mau bolos sekolah lagi? Kamu tau saya sangat tidak suka," kata Ayan.


Hani menahan tubuhnya, berbalik gadis itu menatap Ayan dengan cairan hangat menggenang pinggiran kelopak matanya.


"Bisakah sebelum kamu pergi, kita habiskan waktu berdua, Hanya ada kamu dan saya?"


Lagi, Ayan terdiam, menunduk sambil berpikir. Hatinya menginginkannya tapi pikirannya? berbeda dari kata hatinya.


"Saya mohon," mohon Hani.


Ayan mendongakan kepalanya, mengusap wajahnya kasar pria itu mengangguk pelan pertanda kalau ia setuju.


Melihat itu Hani reflek memeluk Ayan, senyumnya mengembang kemudian gadis itu berkata,"Terima kasih," ucapnya.


Melepaskan pelukannya kini Hani mendongak untuk menatap pria yang jauh lebih tinggi darinya,"Kalau gitu saya ingin bersiap-siap dulu," ujar Hani yang di angguki Ayan.


...****...


Setengah jam kemudian, Hani menuruni tangga dengan senyum cerah terpapar di wajahnya.


Menggunakan pakaian yang tidak terlalu mencolok sesuai dengan kulitnya, gadis itu berjalan menghampiri Ayan yang sedari tadi menunggunya.

__ADS_1


Meletakan tangan kanannya ke samping pinggang Ayan menyambut kedatangan Hani yang kini memeluk lengannya.


"Ayo!" seru Hani. Ayan tersenyum kemudian menekan hidung Hani gemas.


"Ayo," balas Ayan semangat.


Panti Asuhan Nurul Hidaya...


Hani tersenyum saat membaca papan nama di depannya, melirik Ayan sambil menyipitkan kedua matanya.


"Lagi?" tanyanya. Ayan mengangguk.


"Bukannya kemarin kamu yang minta datang kemari lagi?" Ayan berujar. Hani menganggukan kepalanya.


Saat Ayan dan Hani berdiri di depan gerbang panti Asuhan kedatangan mereka di sambut dengan hangat oleh penghuninya. Termasuk Laura, anak kecil yang sangat merindukan kedatangan Hani dan Ayan.


gadis kecil itu menghampiri Hani dan Ayan dengan kedua tongkatnya.


Tersenyum lebar kemudian menyapa keduanya.


"Assalamuallaikum, Kak bidadari," Laura melirik Ayan,"Assalamuaikum juga Kak tentara," sapa Laura.


Hani dan Ayan berjongkok bersamaan, mereka tersenyum sambil menatap gadis kecil di depan mereka.


"Waalaikumsallam, Laura ...." balas keduanya bersamaan.


"Eh, kalian berdua? Silahkan masuk!" ujar Maya ketika melihat Ayan dan Hani hanya berdiri di depan gerbang.


Mengangguk pelan, mereka masuk ke dalam. Menemani anak-anak panti hingga tak terasa malam akhirnya tiba. Membuat keduanya memutuskan untuk pulang.


Sesampainya di apartement, Hani menghentikan langkahnya di depan pintu apartement. Membiarkan Ayan untuk masuk lebih dulu.


Gadis itu menunduk dengan wajah sedih, tas kecil di tangannya itu ia genggam erat-erat. Kini matanya terpejam kemudian ia mulai meneteskan air mata.


"Falia, kamu mau minum?" tanya Ayan. Tanpa menoleh ke belakang.


Tidak mendengar ada jawaban Ayan pun mengernyitkan dahinya, memandangi tubuh mungil itu masih berdiri di depan pintu dengan wajah menunduk.


Berjalan menghampirinya, Ayan menaikan dagu Hani. Maniknya membulat saat dirinya melihat sekarang istrinya itu sedang menangis.


"Falia kamu kenapa?" tanya Ayan khawatir.


Hani menangis sesenggukan, matanya penuh dengan cairan hangat yang ingin bersiap membanjiri kedua pipinya.


"Falia," Ayan menangkup kedua pipi gadis di depannya.


"Ada apa?" tanyanya lagi.


Hani terisak-isak kemudian gadis itu berkata,"Jangan pergi ...." ucapnya. Ayan mendongak ke atas kemudian pria itu menarik tengkuk leher Hani lalu memeluknya.


"Jangan menangis ... secepatnya aku akan kembali," kata Ayan sembari mengelus-elus rambut Hani, sesekali mencium kepala gadis di pelukannya.

__ADS_1


TbC..


Udah baper belom😆


__ADS_2