Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
part 52


__ADS_3

Berlari seharian membuat Keno tampak kewalahan. Tercetak jelas dari wajah pucat Keno yang membuat beberapa temannya kini melirik ke arahnya.


"Kenapa lo? Sakit?" tanya Malvin sambil menepuk punggung pria itu sekali.


"Gue gak papa," balas Keno terus berlari.


"Wajah lo Ken," Dita ikut berbicara, melihat wajah Keno yang memucat membuat wanita itu khawatir.


"Lo sakit?" jerit Dita saat memeriksa suhu tubuh Keno yang panas.


"Gue gak sakit Ta," kata Keno.


"Gue baik," ujarnya.


Melihat Dita dan Keno berbicara membuat Malvin menjadi cemburu, lalu meninggalkan keduanya sambil berlari kencang.


Dita mengerutkan keningnya, lalu tangannya menahan tangan Keno agar berhenti berlari.


"Keno! Please istirahat sekarang, lo butuh itu untuk saat ini." ujar Dita mencegah.


"Gak Ta, gue gak boleh berhenti di tengah jalan. Gue harus lolos dalam ujian ini, dan gue gak bisa melepaskan kesempatan ini gue harus jadi tentara!" putus Keno. Wajahnya terus memucat dan tubuhnya mulai terasa dingin, hingga kedua tangannya reflek memeluk tubuhnya sendiri.


"Keno, lo bisa jadi tentara. Gue jamin itu, tapi untuk sekarang lo harus mentingi kondisi lo yang gak memungkinkan lo bakal lolos di tahap selanjutnya." jelas Dita.


"Gue harus lolos," putus Keno, sambil melepaskan tangan Dita. Lalu pria itu kembali berlari.


"Keras kepala!" grutu Dita lantas ikut berlari mengejar Keno yang mendahuluinya.


...****...


Hening. Semuanya terdiam sambil melirik Ayan yang sedang fokus membaca laporan hasil produk yang mereka kerjakan.


Semuanya tampak panik saat melihat kening Ayan berkerut. Takut jika ada kesalahan dalam laporan itu.


Beberapa menit setelah Ayan membaca laporannya, pria itu kembali mendongak lalu mengamati satu per satu wajah cemas bawahannya.


"Sudah di teliti dengan benar? Jika masker telur itu tidak berbahaya, dan menyebabkan wajah menjadi iritasi? Gatal-gatal atau sebagainya. Saya tidak ingin jika kali ini produk masker telur akan gagal dan menyebabkan kerugian bagi perusahaan saya." cetus Ayan sambil meneliti dengan seksama laporan map yang di ada di tangannya.


"Kami sudah menelitinya, dari hasil lab. Masker telur itu Aman." kata Malik menjelaskan. Ada perasaan gugup saat Malik menjelaskannya.


Ayan mengelus dagunya,"Atas dasar apa kalian mengatakan kalau masker telur ini aman? Apa sudah kalian mencobanya?" tanya Ayan. Dan semuanya tampak diam dan panik


"Haha... jika kalian tidak ingin mengalami kerugian, telitilah jadi orang, dan sebelum berkata sebaiknya kalian mencoba masker telur ini dan memastikan jika masker ini aman!" sembur Ayan sambil melempar map hasil laporan di tangannya ke atas meja. Ia merasa tidak puas dengan hasil kerja bawahannya.

__ADS_1


Ayan bangkit, lalu kakinya mulai berjalan ke arah sekelilingnya kemudian sudut matanya terlihat menyipit. "Periksa lagi lebih teliti! Pastikan jika masker telur ini aman. Sebelum rapat besok!"


"Semuanya boleh bubar," Ayan melirik Hani yang sedari tadi hanya diam. Tanpa banyak bicara, sesekali ia melihat Hani hanya bengong dan tidak berkonsentrasi.


"Kecuali ketua tim yang bertanggung atas produk masker telur ini," lanjut Ayan. Membuat langkah Hani terhenti.


"Ketua tim. Saya memanggil ketuanya bukan kalian anggotanya!" kata Ayan. Melihat semua orang kini menatapnya.


Hani menunduk dalam, menerjapkan matanya sekali wanita itu menghembuskan napasnya panjang. Mendongak lalu tersenyum lebar. Kemudian mengusir anggotanya dan mengatakan agar tidak cemas.


"Pergi lah, saya akan baik-baik saja." usir Hani.


"Kalian tidak dengar? Ketua kalian bilang pergi!" timpal Ayan ikut mengusir.


Membuat mereka pun akhirnya mau tak mau harus pergi. Dan meninggalkan Hani di ruangan rapat.


Ayan kembali duduk di tempatnya, lalu matanya mulai memandangi wajah Hani yang sama sekali tidak berubah. Begitu juga gaya tomboi wanita itu yang terlihat hanya sedikit berkurang.


"Bagaimana kabar kamu Falia?" tanya Ayan. Membuat kedua bola mata Hani rasanya hampir ingin keluar. Dalam hati wanita itu ingin menjerit karena sangking senangnya.


Ayan tidak melupakannya. Ayan masih sama. Ya itu! Yang Hani yakini saat ini.


"Ak-"


"Sepertinya kabar kamu baik, sekarang..." baru saja Hani ingin menjawab tapi sebelum itu Ayan memotongnya.


"Bertanya lah," kata Ayan mempersilahkan.


"Dua tahun ini-"


"Oh, kamu ingin bertanya tentang itu? Kenapa bertanya dengan saya?"


"Saya akan menjawab jika kamu bertanya tentang masalah pekerjaan," lanjut Ayan dingin.


"Kenapa? Kamu tidak berani mejawabnya?" tanya Hani menatap Ayan dengan tatapan menyelidik.


"Lebih tepatnya tidak ingin mengenang masa lalu..." kata Ayan.


Kata-kata Ayan seolah menusuk hatinya. Sangat sakit hingga rasanya ia ingin menangis.


"Masa lalu? Kamu itu suamiku Ayan," kata Hani.


"Teganya kamu meninggalkan aku selama itu. Dan sekarang dengan mudahnya kamu bilang tidak ingin mengingat masa lalu? Dimana ada masa hanya ada kita berdua?"

__ADS_1


Berpikir jika Ayan masih sama. Teryata itu adalah salah. Pria di depannya ini bukan lah Ayan. Wajahnya saja yang sama tetapi sifat mereka berbeda.


Jika benar Ayan yang ada di depannya. Maka Ayan tidak akan pernah mengatakan hal seperti itu walau hanya sekali.


"Falia, belajar lah menerima fakta jika kita ini-" Ayan tidak melanjutkan perkataanya. Lalu alisnya mulai menyatuh.


"Jangan bilang kalau kedua orangtua kamu belum mengatakan jika kita sudah berpisah?" tanya Ayan tidak percaya.


Hani tersentak. Langkahnya mundur sekali ke belakang.


Kata pisah membuat wanita itu syok, ia merasa jika dunianya saat ini berhenti untuk sejenak. Dan tanpa sadar air bening yang sedari tadi wanita itu tahan akhirnya tumpah. Membasahi kedua pipinya.


Ayan menghela napas, tersenyum samar perlahan pria itu berjalan mendekati Hani.


Mendekat, Ayan menyentuh pipi Hani lalu jari tangannya mulai menghapus jejak air mata wanita di depannya.


Merasakan sentuhan itu membuat Hani mendongak lantas menatap Ayan dengan air mata yang sudah siap terjun ke bawah.


Ayan mendekatkan wajahnya, tersenyum pria itu menyentuh dagu Hani. Mengelusnya dua kali kemudian kembali berkata, "Kamu bukan istriku lagi dan aku bukan suamimu lagi,"


Setelah mengatakan itu keduanya kini terdiam. Dengan wajah mereka yang saling berdekatan.


Beberapa detik setelahnya Ayan kembali tersadar. Pria itu membalikkan tubuhnya.


"Sebenarnya saya memanggil kamu hanya ingin mengatakan ini!"


Ayan menghela napasnya lagi.


"Hubungan kita sekarang," jeda. Ayan kembali menatap ke arah Hani dengan membalikkan tubuhnya.


"Tidak lebih dari bawahan dan atasan." lanjut Ayan.


"Kenapa?" tanya Hani sambil terisak-isak.


"Dan bagimana bisa kita bercerai?" sambung Hani bertanya.


Ayan melipat wajahnya."Tanya lah pertanyaan kamu itu nanti saat kamu sudah berada di rumah. Lalu tanya lah, kapan dan kenapa aku menceraikanmu."


"Bagaimana bisa?" Hani menangis sesegukan.


Menarik lengan Ayan. Wanita itu kembali berkata,"Aku bertanya dengan mereka, yang katanya alasan mereka bungkam adalah karena kamu."


Ayan menepis tangan Hani dari lengannya. Wajah pria itu terlihat gusar. Lalu dengan cepat pria itu menjauh dari hari.

__ADS_1


"Kamu boleh pergi sekarang," ujar Ayan mengusir.


TbC.


__ADS_2