Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Bab 7


__ADS_3

Melemparkan hasil ujiannya itu ke meja gadis itu langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa kemudian menutup matanya dengan lengan.


"Baca!" ujarnya santai.


Mama dan papanya saling tatap detik setelahnya Herman meraih secarcik kertas di depannya.


Membacanya dengan teliti. Tiba-tiba netra pria yang usianya sudah menua itu membulat dengan sempurna. Seketika surat di tangannya itu terhempas dari tangannya.


Menatap Hani yang masih santai duduk di tempatnya.


"Tinggal, jadi Hani gak perluh nikah!" serunya dengan begitu santai.


Ada baiknya juga. Tinggal kelas, kini dengan alasan ini Hani tidak akan pernah menikah dengan Ayan.


"Apa-apaan ini Hani?!" tanya Rusman membentak. Pria itu terlihat seperti menahan amarahnya dengan cara mengepalkan kedua tangannya.


Hani mendesah pelan, gadis itu kembali menegakan tubuhnya. Menatap kedua orangtuanya secara bergantian.


"Hani tinggal kelas Pa, ma. Dan alhamdulillah karena ini Hani gak akan pernah menikah." ucap gadis itu dengan santainya.


Rusman mencoba melayangkan tangannya. Namun, di tahan oleh Sabrina.


"Jangan pa!" lirih Sabrina. Hani melototkan kedua matanya.


Tidak percaya, kali ini papanya marah besar. Sebelum ini sekali pun Rusman tidak akan pernah mengangkat tangannya. Walau Hani sering melakukan kesalahan yang membuatnya marah. Namun, lihat lah sekarang?


Rusman mencoba mengatur napasnya dia lirik Hani sekilas. Detik setelahnya pria itu mencoba kembali bersuara.


"Ini, ni alasan papa menjodohkan kamu dengan pria yang usianya lebih tua darimu. Biar apa? Biar kamu jadi lebih dewasa, gak kayak anak-anak seperti sekarang!" sarkas Herman marah.


"Biarkan masalah ini menjadi urusan Papa. Pernikahan ini?"


Rusman menggeleng-gelengkan kepalanya. Matanya menajam saat menatap putrinya,"Akan tetap terjadi dalam dua hari lagi! Kamu pikir dengan cara seperti ini keputusan Papa untuk menikahkan kamu itu akan berubah?" Jeda Herman menatap intens ke arah Hani,"Gak akan pernah!" tegasnya.


Hani mengepalkan kedua tangannya. Bangkit, gadis itu langsung pergi meninggalkan kedua orangtuannya dalam keadaan marah.


...****...


Dua hari sejak kejadian itu. Kini Hani dengan gaun pengatinnya itu tengah duduk di samping Ayan.


Mengerucutkan bibirnya. Mata gadis itu memerah. Menatap Bella dan Boby di sampingnya.


Seketika air mata yang sedari tadi Hani tahan akhirnya pecah. Membasahi wajah yang sudah di lapisi oleh make up.

__ADS_1


Pernikahan yang di lakukan atas dasar perjodohan, sampai kapan pun Hani tidak akan mengakuinya.


Walau setelah dia menikah dengan Ayan nantinya.


Bella menghela napas berat, menepuk pundak Hani lembut sambil mengedipkan kedua matanya. Mencoba membuat Hani lebih tenang melalui matanya itu.


Meremas gaunnya. Hani kembali menatap pak penghulu bersamaan dengan Rusman di samping pak penghulu.


Kenapa papa sekejam ini?


"Saya nikah kan engkau dengan putri kami bernama Falia Hani binti Rusman dengan mas kawin berupa emas seberat 20 Gram di bayar tunai!"


Ayan menarik napas dalam-dalam. Pandangannya lurus menatap papa mertuanya yang saat ini tengah menjabat tangannya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Falia Hani binti Rusman dengan mas kawin berupa emas seberat 20 gram tunai!"


Pak penghulu melirik kanan dan kiri kemudian bertanya,"Bagimana para saksi, Sah?"


"Sah!" teriak semua orang yang menjadi saksi pernikahan Hani dan Ayan.


Semua orang bernapas lega. Semuanya tampak bahagia kecuali Hani yang saat ini menunduk sambil meneteskan air matanya.


Ayan melirik Hani. Hatinya berdenyut sakit melihat Hani tidak bahagia dengan pernikahan mereka.


Bagaimana pun, Ayan mengerti seperti apa perasaan Hani saat ini. Menerima pernikahan atas dasar perjodohan, jarang sekali orang-orang akan menerimahnya. Tak terkecuali dengan gadis yang dia nikahi saat ini.


Hani yang menyadari itu pun. Dengan sangat kasar ia menepis sapu tangan di depannya.


"Gak perluh!" ucapnya dengan suara serak.


Ayan menjadi sangat bersalah, Melihat keadaan Hani saat ini.


"Maaf," lirih Ayan.


Pria itu kembali memasukan sapu tangannya ke kantung celana.


Tidak ada pesta. pernikahan, Hani dan Ayan di lakukan di rumah dengan tamu tidak terlalu banyak. Hanya dari pihak keluarga mereka.


Itu dilakukan karena kondisi Hani yang tidak memungkinkannya untuk membuat pesta. Karena Hani sebelumnya tinggal kelas dan harus mengulang pelajarannya. Oleh karena itu mereka mencoba merahasiakan pernikahan putri mereka. Pihak keluarga Ayan pun setuju.


Selesai acara ijab kabul, Ayan dan Hani kini sama-sama berdiam diri di kamar Hani. Karena acara pernikahan di lakukan di rumah Hani. Jadi sekarang Ayan harus menginap satu hari di rumah istrinya. Besok baru dia akan membawa Hani ke rumahnya.


Sejak 20 menit yang lalu. Sejak Ayan dan Hani berada di dalam satu kamar yang sama. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani membuka suaranya.

__ADS_1


Hani dengan raut wajah kesal. Gadis itu menuruni ranjangnya. Berjalan ke arah kamar mandi untuk melepaskan gaun serta makeupnya.


Ayan yang melihat itu akhirnya bisa mengatur napasnya dengan normal.


Peluh yang sedari tadi membanjiri seluruh keningnya, langsung pria itu hapus menggunakan punggung tangannya.


Detakan jantungnya tidak beraturan, mendadak entah kenapa hawa di sekitarnya berubah menjadi panas.


Mengibas-ibaskan tangannya ke dekat wajah, pria itu mencoba berpikir keras bagimana caranya dia nanti akan membuka topik pembicaraan bersama Hani.


Tidak mungkin kan? Jika selamanya dia akan berdiam diri terhadap Hani.


Clek!


Mendengar pintu terbuka. Ayan kembali terdiam, pria itu menidurkan tubuhnya ke rajang. Memejamkan kedua matanya erat-erat.


Tidak biasanya Ayan bersikap tidak gantleman seperti ini. Padahal hari-hari biasa di saat sedang bertugas untuk mengamankan negara dia lah yang paling pemberani di antara para prajurit lainnya.


Namun, kini dihadapan Hani yang telah berstatus sebagai istrinya. pria itu hanya bisa mematung. Walau di lubuk hatinya yang paling dalam pria itu ingin sekali mengajak Hani berbicara.


Hani menghela napas panjang, mendapati Ayan tengah tidur di ranjangnya.


Tersenyum penuh kejailan. Gadis itu dengan keras menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Membuat ranjangnya bergoyang sesaat.


"Om!" panggil Hani sambil menatap Ayan yang tengah memunggunginya.


"Om!" panggil Hani lagi. Menusuk-nusuk pundak Ayan dengan jarinya.


Ayan yang tadinya hanya berpura-pura tidur itu langsung membalik tubuhnya. Mendongak secara perlahan pria itu mulai menatap Hani.


"Ada apa?" tanya Ayan ragu.


"Cuma mau mempertegas! Jangan sentuh Hani. Ok!"


"Berbagi ranjang saya masih bisa. Tapi jika berbagi tubuh dengan om, saya gak akan bisa. Mengerti?" tegas Hani.


"Ini sudah ke sepuluh kalinya kamu memperingati saya," balas Ayan. Walau di hatinya merasakan kekecewaan yang amat mendalam.


Sebagai seorang suami dia tidak mendapatkan haknya.


"Bagus lah kalau masih ingat!" tandas Hani, menidurkan tubuhnya ke ranjang. Gadis itu langsung menutup setengah tubuhnya dengan selimut.


"Selamat malam," ucap Ayan lirih. Yang dibalas dengan deheman Hani.

__ADS_1


"Hem ..." balas Hani sambil memejamkan matanya.


Dengan napas berat. Wajah murung dan hati terluka, pria itu memejamkan matanya. Berdoa agar kedepannya dia berhasil membuat Hani jatuh cinta dengannya.


__ADS_2