
Seorang guru bernama Fikri kini sedang mengeraskan rahangnya. Kapur yang ada di tangannya itu dia remas hingga hancur, netranya menajam memandangi murid cowok yang saat ini tengah mendengarkan lagu dengan kaki di taruh di atas meja.
"KENO ALVERO!" panggil Fikri guru bahasa Inggris itu dengan di setiap katanya penuh penekanan.
Yang di panggil tetap santai. Menggoyang-goyangkan kedua kakinya. Membiarkan semua orang menatap ke arahnya.
"Sudah kelas 3 tetap saja berulah!" semprot Fikri geram. Ingin menghajar tidak bisa sialnya karena Keno anak pemilik dari sekolah.
Di abaikan. Pria itu langsung berjalan mendekati Keno. Memukulkan tangannya dengan keras ke meja di depannya.
"Keno!" panggilnya lagi.
"Eh bapak guru. Kenapa?" tanya Keno tanpa dosa. pemuda itu membuka tutup kedua kakinya.
"Turunkan kaki kamu!" titah Fikri.
"Kalau saya gak mau gimana?!" sahutnya dengan nada mengejek.
"Saya pindahankan kamu ke kelas ipa 2!" ujar Fikri. Karena kelas Ipa 2 termasuk kelas yang tidak terlalu pintar di bandingkan kelasnya sekarang.
Walaupun ipa 3 tetapi semua murid di kelas ini terbukti kepintarannya.
"Oke," balas Keno. Pemuda itu berjalan meninggalkan kelas sambil mengakat meja dan kursinya.
Awalnya hanya mengancam. Tetapi setelah melihat Keno sudah pergi meninggalkan kelasnya. Pria itu langsung berubah menjadi panik.
Dalam hati pria itu berkata.
Mati lah aku!
Brak!
Keno menjatuhkan dengan keras meja dan kursinya tepat di belakang Hani. Sementara yang lainnya saat ini menatapnya ragu-ragu.
Semua murid kini mulai bergosip. Melihat seorang murid yang bukan dari kelasnya. Hery sang ketua kelas pun langsung bertanya.
Walau awalnya takut. Pemuda itu mencoba memberanikan diri untuk bertanya lansung kepada Keno.
"M-maaf, k-kenapa kamu pindah ke kelas ipa 2?" tanya Hery terbata-bata. Tanpa menatap Keno di depannya.
"Gue?" tanya Keno. Pria itu menatap Hery dari atas sampai bawah.
Hery mengangguk takut.
__ADS_1
"Di pindahi, jadi mulai hari ini gue resmi jadi murid ipa 2!" seru Keno.
Dan lagi-lagi semuanya saling bisik. Bagaimana Keno ingin pindah ke kelas yang termasuk kurang pintar seperti ipa 2. Jika di bandingkan dengan Ipa 3 yang semua muridnya termasuk golongan pintar.
Hery kembali duduk di kelasnya. Sementara Keno kini sedang memainkan ponselnya.
Menatap punggung Hani yang memunggunginya.
"Hei cewek di depan!" panggil Keno.
Hani yang tadinya sedang melamun. Memikirkan Ayan pun langsung tersentak. Menoleh untuk melihat siapa yang memanggil.
"Lo manggil gue?" tanya Hani.
Keno melebarkan senyumannya. Pemuda itu menggelengkan kepalanya.
"Orang gila!" umpat Hani sambil kembali meluruskan pandangannya.
Bel berbunyi. Pertanda jam pelajaran ke empat di mulai semua murid kini menidurkan kepala mereka ke meja. Sementara gurunya saat ini tengah menerangkan pelajaran.
Hani yang sedang sibuk dengan ponselnya. Sementara Keno tengah sibuk dengan kegiatannya mengarang sebuah musik.
Sementara di ruang guru. Kini Fikri tengah menunduk dalam, saat kepala sekolah memarahi dirinya. Bagaimana tidak pria itu sudah membuat keputusan tanpa meminta izin dari kepala sekolah.
Bagaimana jika pemilik sekolah ini mengetahui putranya di perlakukan dengan tidak baik. Oleh guru yang mengajar disini, mungkin situasinya akan lebih buruk dari pada di marahi.
"Baik pak," sahut Fikri dengan nada lemah.
"Sana pergi!" usir Darman. Sambil memijat pakal hidungnya.
"Gimana?" tanya Luluk wali kelas Ipa 2 dengan wajah panik.
"Tamatlah riwayatku Luk!" pekik Fikri sambil mengusap wajahnya kasar.
"Apa kata pak kepala sekolah?" tanya Luluk.
"Katanya kalau saya tidak membawa Keno kembali ke kelas Ipa 3. Maka saya nantinya akan di pecat," jelas Fikri. Kepalanya berdenyut memikirkan cara membujuk Keno untuk kembali ke kelasnya.
"Jangan khawatir pak, sebisa mungkin nanti saya bantu bapak." ujar Luluk.
Fikri langsung tersenyum saat mendengar itu."Benar kah? Ibu mau membantu saya?" tanyanya yang di angguki Luluk.
"Terima kasih buk. Saya akan mengingat jasa bu luluk selamanya. Sampai saya mati nanti," ucap Fikri antusias. Menggengam tangan Luluk dengan kedua mata berbinar.
__ADS_1
...****...
"Om lain kali main-main ke panti lagi kuy!" ajak Hani bersemangat.
"Gak ah. Kan kata kamu disana membosankan," balas Ayan sambil membersihkan alat-alat dapur yang berantakan, akibat ulah Hani yang sedari tadi sibuk ingin belajar memasak.
"Awalnya memang bosan sih, tapi lama-lama saya jadi suka disana!" serunya.
"Bagaimana dengan saya?" sela Ayan."Apakah kamu mulai suka dengan saya?" tanya Ayan. Menatap Hani dengan kedua sudut bibir terangkat, membuntuk sebuah senyuman.
Membuat Hani langsung tertohok. Gadis itu berjalan ke arah kulkas, mengambil botol minuman dingin, kemudian menenggaknya hingga menyisakan setengah.
"Kenapa?" tanya Ayan khawatir. Membantu Hani untuk duduk ke kursi.
"Gak apa-apa," ujar Hani menjelaskan.
Menepis tubuh Ayan agar menjauh darinya, ia bangkit. Menatap Ayan sejenak, kemudian gadis itu langsung berlari menuju kamar mandi.
"Ini gila!" pekik Hani di dalam kamar mandi. Memandangi wajahnya yang memerah lewat pantulan cermin.
Menangkup kedua pipinya, gadis itu merapatkan bibirnya. Detik setelahnya Hani menggelengkan kepalanya. Membasuh wajahnya dengan air.
Hampir satu jam berada di dalam kamar mandi. Kini akhirnya Hani memberanikan diri untuk keluar. Menatap kanan dan kiri lalu mencari keberadaan Ayan yang sedari tadi ia cari tidak ada. Hingga tiba-tiba ponselnya berdering. Menandakan sebuah pesan masuk.
Om Ayan
[Asslamuallaikum Falia, maaf. Tiba-tiba saya punya urusan mendadak, jadi saya pergi dari rumah tanpa meminta izin dulu. Jangan menungguku, mungkin pekerjaan ini akan selesai besok pagi. Jadi tidur lah lebih dulu.
Jangan kangen loh sama saya😉]
Hani berdecih, mematikan layar ponselnya setelah membaca pesan yang baru saja masuk yang sengaja di kirim oleh Ayan untuknya.
"Siapa juga yang menunggu?" ucapnya sembari menggeleng. Meraih buah apel di depannya.
"Kalau mau pergi? Ya pergi aja sana! Sekalian gak usah pulang ...." sarkasnya sembari melahap buah apel di tangannya dengan kasar.
"Emang siapa juga yang urus!" sambungnya lagi.
Gadis itu berjalan ke arah sofa. Melempar ponselnya ke atas meja pelan. Lalu menjatuhkan dengan kasar tubuhnya ke sofa.
"Siapa juga yang bakal kangen?" Hani tertawa renyah menertawai kalimat terakhir pesan Ayan.
"Tuh om aja yang baperan!" ucapnya. Kemudian menyalahkan tv untuk menonton acara kesukaannya yaitu bola.
__ADS_1
1 jam setelah menonton bola. Mata Hani mulai menyipit rasa ngantuk sekarang mulai menyerangnya. Melirik jam dinding di sampingnya dengan malas.
Hani menguap, kemudian kedua matanya mulai terlelap. Hingga akhirnya gadis itu memejamkan matanya sambil memeluk bantal kecil di sofa.