Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 29


__ADS_3

Hani berjalan santai menuju kamar mandi tak lupa handuk di tangannya ia putar-putarkan ke udara. Mulutnya mengerucut ke depan, kemudian mengeluarkan suara dari bibirnya.


gadis itu bersenandung senang. karena hari ini ia akan pulang ke rumahnya bersama dengan Ayan.


Karena libur sekolah dan juga kebetulan Ayan juga libur. Maka dari itu ini adalah kesempatannya untuk bersenang-senang.


Clek ...


Masuk ke dalam kamar mandi, tangannya bergerak untuk menyampirkan handuknya ke tempat biasa. Bibirnya masih mengerucut dengan kedua tangan sibuk membuka kancing bajunya. Saat ingin berbalik tubuh, ia di kagetkan dengan adanya Ayan yang kini menatapnya dengan busa di sekitar rahangnya.


"Hek ...." Hani cegukan dengan kedua matanya membulat. Saat melihat Ayan berdiri di depan cermin dengan handuk putih yang melilit pinggang pria itu.


sama terkejutnya seperti Hani pria berumur 31 tahun itu, langsung mencoba menghindar dengan cara berlari tapi sebelum itu terjadi, pria itu terpeleset, handuk yang semula di pinggangnya itu terlepas. Membuat Hani melebarkan mulutnya.


Berbalik gadis itu memejamkan matanya.


"M-Maaf," ucap Hani dengan suara lirih. Gadis itu gugup, hingga tidak sadar jika pintu di depannya itu masih tertutup.


Brak!


"Auw ...." ringis Hani. Kemudian memukul pintu di depannya kuat.


"Sejak kapan ada pintu disini?!" teriak Hani. iapun langung berlari kocar-kacir.


Sementara Ayan kini tengah menyembunyikan wajahnya dengan lengan kekarnya itu.


Memejamkan matanya, pria itu terus mengumpat lantaran malu. Jatuh sudah harga dirinya di depan istri kecilnya itu. Habis sudah rasa percaya dirinya. Bagaimana sekarang Ayan akan berani bertatap muka dengan Hani setelah kejadian ini.


Sementara di lantai bawah. seorang gadis dengan baju yang belum ia kancing itu terus saja berjalan sambil mondar-mandir di tempat, dengan kedua tangannya sibuk memukul-mukul kepalanya.


"Ah!!" teriak Hani. Kemudian mendongak ke atas menatap lampu besar nan indah tergantung di atasnya.


Tubuh Ayan tanpa sehelai pakaian membuat Hani hampir gila, gadis itu terus terbayang-bayang akan tubuh indah suaminya.


Menunduk, gadis itu mendesah pelan.


Kemudian melirik tangga menuju kamarnya.


Apa sekarang Ayan sudah selesai? Sedari tadi ia menunggu suaminya itu untuk turun. Agar ia juga bisa mandi.


Tapi hampir 1 jam setelah kejadian itu Ayan juga tak kujung menampakan diri.


Khawatir. Buru-buru Hani berjalan untuk menaiki tangga. Sesampainya di depan pintu kamarnya, yang tadinya tangan itu sudah ingin memutar handle pintu itu kembali ia urungkan.


Hani memilih untuk mengetuk pintu terlebih dahulu. Tidak ingin jika kejadian seperti tadi terulang kembali.


Tok ... tok ... tok ...


Hani mengetuk pintu kamarnya. Kemudian berteriak memanggil Ayan di dalam.


"Ayan!" panggil Hani. Sekarang gadis itu terbiasa memanggil Ayan dengan sebutan nama. Tidak seperti dulu Om.


"Kamu di dalam? Apa sudah selesai mandinya?" tanya Hani dari dalam pintu.


Di dalam kamar Ayan tersentak saat Hani memangggilnya. Pria itu langsung beranjak dari ranjang. Netranya pokus menatap lemari, berjalan ke arahnya pria itu langsung membukanya.

__ADS_1


Menghela napas kasar pria itu berkata,"Sudah! Masuk lah," ujar Ayan dari dalam.


Setelah mendengar suara Ayan. Hani buru-buru masuk ke dalam kamar. Matanya menangkap pemandangan Ayan sedang merapikan pakaian yang sebenarnya sudah rapi.


Apakah saat ini pria itu juga ikut malu? batin Hani.


Berlari Hani langsung masuk ke dalam kamar mandi. Kemudian barulah gadis itu bernapas lega.


Begitu juga Ayan. Pria itu langsung menjatuhkan dirinya ke ranjang. Detik setelahnya langsung berlari untuk turun ke bawah.


...****...


"Maaf saya lama," ujar Hani sambil masuk ke dalam mobil Ayan.


Ayan melirik Hani sekilas, tersenyum kikuk pria itu berdehem.


Kemudian menyalahkan mesin mobilnya.


"Saya-" ucap Ayan bersamaan dengan Hani.


Hani tersenyum samar kemudian berkata.


"Kamu duluan," ujar Hani mempersilahkan.


"Kamu saja," balas Ayan.


Hani mengangguk,"Baiklah ...." Hani menghembuskan napas berat, menatap Ayan ragu,"Soal tadi saya minta maaf," ujar Hani.


Wajah Ayan berubah jadi merah seperti tomat. Kenapa Hani harus membahas soal itu? Kini dirinya menjadi canggung.


"Saya juga minta maaf, karena tidak mengunci pintu dari dalam. Anggap saja kamu tidak melihat apapun di dalam kamar mandi,"


"Falia, bisakah kamu jangan membahas itu?" ujar Ayan merasa malu.


Hani tersenyum sambil menahan tawa, gadis itu mengangguk mengerti.


"Baiklah ... akan saya anggap kalau kejadian di kamar mandi itu tidak ada." kata Hani sambil menatap Ayan dengan raut wajah menggoda.


Ayan meringis sejenak. Pria itu kembali menatap lurus jalan di depannya. Membiarkan Hani terus menggodanya.


Setelah sampai di kediaman papa mertuanya itu Ayan buru-buru membukakan pintu mobilnya agar Hani lebih mudah untuk turun.


Melihat prilakuan suaminya, gadis itu tersenyum lebar kemudian mengulurkan satu tangannya.


"Ayo ...." ujar Hani.


Ayan ikut tersenyum, kemudian pria itu meraih tangan Hani lalu menggenggamnya.


"Assalamuallaikum ...." ucap Hani dan Ayan bersamaan dari luar pintu.


Sabrina yang tadinya tengah memasak di dapur itu langsung keluar untuk mengechek siapa tamu yang datang.


Terkejut saat melihat putri dan menantunya itu datang, ia langsung berjalan cepat. Wajahnya terlihat bahagia menyambut kehadiran Hani dan Ayan.


"Waalaikumsallam, Hani!" teriak Sabrina seraya berjalan kemudian memeluk tubuh mungil putrinya itu.

__ADS_1


Detik setelahnya wanita itu memukul kepala sang anak dengan keras.


"Aw ...." ringis Hani.


"Ma! Kok pukul Hani si?!" teriak Hani tidak percaya.


Sabrina mencibirkan bibirnya,"Lihat setelah menikah? Bahkan sekali pun kamu tidak ingat untuk kembali ke rumah!" semprot Sabrina.


"Bukannya mama suka kalau Hani gak ada di rumah?!" balas Hani yang mendapatkan pukulan kembali kali ini Herman yang memukulnya.


"Papa!" teriak Hani,"Papa juga ikut-ikutan?" pekik Hani melemah.


Herman terkekeh,"Bagaimana bisa kamu bilang Mama kamu tidak suka jika kamu di rumah? Tanpa kamu rumah ini seperti kuburan,"


Hani mengembungkan pipinya, gadis itu menatap Sabrina dengan wajah sedih, detik setelahnya gadis itu memeluk tubuh Sabrina erat,"Maaf," ucapnya.


Sabrina tersenyum sambil melirik Ayan di depannya,"Sepertinya nak Ayan berhasil buat kamu berubah?" kekeh Sabrina. Dengan cepat Hani membantahnya.


"Eh Mama jangan asal ngomong deh!" sarkas Hani tidak terima.


"Iya ... iya ayo masuk ke dalam, emang mau di luar aja?" kata Sabrina.


Detik setelahnya Ayan dan Hani masuk ke dalam rumah.


"Untung saja Mama sudah masak banyak. Lihatkan Pa sekarang ada gunanya juga. Gak jadi sia-sia,"


"Memang ya filing seorang ibu itu selalu bener," kata Rusman sambil terkekeh.


Ayan melirik Hani begitu juga Hani. Lalu keduanya tersenyum.


Setelah acara makan-makan. Hani memutuskan untuk mengajak Ayan berjalan-jalan dengan motor kesayangannya yang sudah beberapa bulan ini terbengkalai tidak terurus.


Meniup debu di helmnya membuat pria di depannya itu langsung terbatuk-batuk.


"Falia," lirih Ayan.


"Maaf," ujar Hani sambil menahan tawanya.


Kemudian gadis itu melempar helm berwarna hitam itu ke arah Ayan.


Untung saja Ayan mengkapnya dengan cepat jika tidak helmnya akan terjatuh lalu rusak.


Menepuk tempat duduk di belakang motornya Hani tersenyum di balik helmnya, kemudian gadis itu berkata,"Ayo naik!" pintanya.


Ayan mengerutkan keningnya,"Naik motor? Kamu yang bonceng?" tanya Ayan ragu.


Hani mengangguk,"Iya ayo naik!" ujar Hani.


Ayan menelan salivanya susah payah. Memakai helm itu dengan perasaan takut entah kenapa firasatnya mengatakan ini tidak akan baik.


Setelah Ayan naik di tempat duduk di belakang motor istrinya itu. Hani langsung meyeringai serta mengegas-ngegas motornya membuat Ayan spontan terkejut kemudian memeluk pinggang Hani dari belakang.


"Pegangan yang kuat! Saya gak mau jadi janda di usia muda!" teriak Hani.


Lagi-lagi Ayan menelan salivanya. Matanya terpejam saat Hani mulai ngegas motornya.

__ADS_1


"Lindungi hambamu ini ya allah," doa Ayan dari dalam Hati.


Selesai...


__ADS_2