
Ayan tersenyum miring, saat kedua matanya melirik Hani yang sedang susah payah mengangkat kontak yang berisi barang-barang keperluan kantor.
Brak!
Sengaja, Hani menjatuhkan dengan kuat kotak terakhir di tangannya. Mendengus seraya menatap sinis orang di sampingnya.
"Lambat. Seharusnya kamu menyelesaikannya hanya dalam 10 menit. Tapi kamu-"
"Tangan saya cuma dua pak, jangan salahkan saya. Jika mau angkat saja sendiri!" sela Hani sinis.
Lalu melenggang pergi meninggalkan Ayan yang kaget dengan perkataan yang di lontarkan Hani untuknya.
Hani menghentak-hentakan kakinya, serta kedua tangannya yang mengepal itu ia pukul-pukulkan ke udara. Wanita itu membayangkan betapa senangnya saat ini ketika ia bisa menghajar pria sialan seperti Ayan.
"Lo kenapa?" Keno datang seraya merangkul pundak Hani. Tersenyum pria itu menarik turunkan alisnya.
Menepis kasar, hingga membanting tubuh Keno ke lantai. Dengan kuat wanita itu berteriak.
"Gue benci sama lo!" teriaknya. Dan membayangkan jika pria yang baru saja ia banting itu adalah Ayan.
"Anjir! Sakit banget!" ringis Keno seraya mengelus-elus punggungnya.
Tersadar setelah mendengar suara Keno. Dengan wajah terkejut Hani langsung membantu Keno berdiri.
"Maaf Ken gue kira tadi lo-" ucapan Hani terhenti saat setelah melihat pria yang akan ia sebutkan berdiri di depannya sambil bersedekap.
"Tadi apa?" tanya Keno penasaran ia belum menyadari jika ada Ayan di belakangnya.
"Gak!" cetus Hani yang langsung kesal hanya dengan melihat senyuman Ayan.
Pergi, Hani memasang raut wajah sangar.
"Ken," panggil Ayan.
Tersentak, Keno langsung memutar tubuhnya. Senyum ceria terbit dari sudut bibirnya. Berlari kecil Keno mendekati Ayan. Lalu berkata dengan suara membisik.
"Ulah lo ya kak?" bisik Keno bertanya.
Mengangguk kecil Ayan tersenyum. Menyiku perut Ayan dengan sikunya Keno kembali berkata.
"Kurang kerjaan!" kata Keno lalu pergi menyusul Hani yang sudah pergi.
Melihat kepergian Keno dan Hani, Ayan memijat tengkuk lehernya yang tiba-tiba terasa pegal.
"Pak," panggil Loli berlirih. Pandangannya menunduk.
"Ya?" tanya Ayan tersentak.
"Rapa-"
"Ah segera siapkan. 3 menit lagi saya menyusul," potong Ayan dengan pelan Loli mengangguk.
...***...
Hani melirik jam di tangannya yang menunjukan angka 08:00 malam. Memijat pelepis alisnya Hani baru ingat jika ia punya janji ketemuan dengan seorang pria yang katanya akan di jodohkan dengannya.
Menutup laptopnya Hani menoleh ke samping ruangan tepat dimana Ayan berada. Pria itu menggigit bolpen di tangannya dengan pandangan pokus menatap Hani. Bergedik ngeri Hani langsung membuang muka.
"Erna," panggil Hani pada wanita bernama Erna yang dulunya adalah bawahannya.
__ADS_1
"Ya bu- eh Hani?" ralat Erna.
"Ada apa?" tanya Erna jari-jarinya berhenti mengetik. Menatap Hani dengan bibirnya melengkung ke atas.
"Hemm... saya ada janji kencan. Jika pak Ayan bertanya dimana saya, tolong kamu bohong. Dan bilang jika saya sedang acara bersama keluarga," ujar Hani memohon.
Erna mengerutkan keningnya sialnya ia melihat pria yang baru di bicarakan Hani itu datang dengan memasang ekspresi tidak bisa di tebak. Marah, kesal. Entahlah...
"Erna!" panggil Hani sembari menguncang kedua pundak Erna.
kaget. Erna pun langsung menelan ludahnya dengan susah payah.
"Please sekali ini aja." kata Hani.
"A-anu," kilah Erna ragu.
Mendengar suara Erna Ayan dengan cepat meletakan jari telunjuknya ke dekat bibir. Menggeleng pelan seolah mengatakan jika Erna harus diam dan tidak memberi tahukan akan keberadaannya.
"Erna, kamu kenapa? Gak mau?" tanya Hani. Raut wajahnya berubah menjadi sedih.
"Bukan gak mau ta-"
Ayan menajamkan matanya. Dan Dengan cepat Erna merapatkan mulutnya.
"Bukan?" Hani semakin bingung kenapa tiba-tiba sikap Erna menjadi aneh atau jangan-jangan? Dengan gerakan cepat Hani memutar kepala dan juga tubuhnya. Dan benar tebakannya, pria nyebelin itu yang membuat Erna terdiam.
"Kamu ngapain disini?" tanya Hani sinis.
Ayan melipat kedua tangannya lalu meletakannya ke atas dada.
"Ini kantor saya. Emang kenapa kalau saya ada disini? Mau marah?" Ayan bertanya balik.
"Sekarang saya bertanya balik sama kamu." Ayan berjalan mendekati Hani.
"Ini masih jam kantor. Kenapa kamu berbicara saat berkerja. Dan kenapa?" Ayan melirik tas di tangan Hani.
"Sepertinya kamu mau pergi?" Ayan mendekatkan wajahnya lalu menangkup dagu Hani dan meremasnya pelan.
Ayan tidak menyadari jika saat ini semua kariyawan tengah menatapnya.
Menepis tangan Ayan. Hani berjalan mundur. Menatap sekelilingnya, dengan cepat Hani berlari meninggalkan kantor.
Melihat kepergian Hani. Rahang Ayan mengeras, kedua tangannya terkepal kuat.
Baru menyadarinya, ekspresi Ayan kini bertambah murkah. Menatap satu per satu kariyawannya dengan bengis.
"Apa yang sedang kalian tonton? bukannya kerja?! Mau saya pecat?!" bentak Ayan. Lalu beberapa detik setelahnya Ayan berlari menyusul Hani. Yang mungkin saat ini sedang berada di parkiran.
"Aneh banget si tuh om gilak!"
Entah berapa lama sudah. Hani merasa terkejut sendiri tanpa sadar ia memanggil kata om. Nama panggilannya dulu untuk Ayan. Dan sekarang berubah menjadi pak? Pak?
Hah?
Ayan lebih cocok di panggil om. Dari pada pak!
Catat! Jika bukan karena tanda tangan kontrak yang dulunya ia lakukan bersama Ayan sebelum investasi dengan perusahaannya, ralat maksudnya perusahaan papa mertuanya. Mungkin saja Hani sudah mengundurkan diri.
"Falia!" panggil Ayan, tangan kanannya sudah menarik lengan Hani yang tadinya sudah ingin naik ke dalam taksi.
__ADS_1
Membalik tubuhnya secara kasar. Kedua mata Hani membulat bersamaan dengan mulutnya yang sedikit terbuka.
"Neng, jadi naik gak ni?" tanya pak supir taksi.
Ayan menatap ke arah pak supir taksi yang sedari tadi menunggu.
"Maaf pak ta-"
"Jadi pak, saya-"
"Gak! Gak jadi!" potong Ayan dengan cepat.
Hani menekuk wajahnya kesal.
"Kam- bapak itu maunya apa?" bentak Hani.
"Neng gak bagus berkelahi sama suaminya," sela pak supir menasehati.
"Dia bukan suami saya! Amit-amit saya punya suami kayak di-"
"Kamu lupa, pria ini dulunya perna jadi suami tercinta kamu?" Ayan menyeringai penuh kepuasan.
"Gak!" sergah Hani membantah.
Supir taksi itu hanya menggeleng, tiga detik setelahnya melenggang pergi dengan mobil yang di tumpanginya.
Menyadari itu Hani pun sangat marah. Semua ini karena Ayan!
"Kamu tuh ya?! Kalau sampai kencan saya batal itu semua karena kamu!" murkah Hani seraya memukul-mukulkan tangannya ke dada Ayan.
"Bagus dong." Ayan tersenyum merekah. Kata batal membuat hatinya bersorak penuh kemenangan.
"Apanya yang bagus?" Hani menghentikan kegiatan memukulnya.
"Ya bagus aja gitu."
Ayan menggigit bibir bawahnya pelan. Melihat ekspresi bengis wanita di depannya.
Bhuk!
"Aw!" pekik Ayan kesakitan.
"Rasain! Itu hukuman karena mencampuri urusan orang lain!" sarkas Hani.
Ayan berhenti meringis. Pria itu mendadak langsung memasang ekspresi dingin.
"Kamu bukan orang lain Falia, kamu itu-" Ayan menghentikan perkataannya.
Membuat Hani penasaran lantas bertanya.
"Kamu itu apa?" tanya Hani meyelidik.
"Karena kamu itu, pernah menjadi istri saya."
Bhuk!
Sekali lagi Hani meninju perut suaminya, ralat maksudnya mantan suaminya dengan kuat. Tanpa merasa bersalah wanita itu pergi meninggalkan Ayan yang tengah mengaduh kesakitan.
TbC.
__ADS_1