Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Tamat S1


__ADS_3

Ayan Pov


Akan ku ceritakan, semuanya. Kenapa? Dan mengapa saya memilih pergi di saat Falia gadis yang sangat saya sayangi itu sedang terbaring sakit.


Menceritakan ini, saya merasa malu dan sangat-sangat malu.


Sebagai seorang pria dan juga suaminya, saya tidak bisa melindunginya. Malah karena saya lah dia menjadi terluka, nyawanya hampir saja tidak terselamatkan.


Saya ini orang yang lemah, sangat lemah!


Jika dihadapannya, saya tidak berdaya.


Dan ketika sahabat saya bernama Putri, diam-diam mengatur siasat untuk melenyapkan Falia. Saya sungguh tidak mengerti!


Saya kira, Putri sudah melupakan semuanya. Dan melanjutkan hidupnya tanpa mempunyai perasaan terhadap saya.


Tapi, teryata saya salah. Cintanya membuat Putri buta! Dan menghalalkan segalah cara untuk mendapatkan saya.


Dia gila! Dan saya baru menyadarinya setelah Falia terluka karenanya.


Dan ini seputar ingatan dua tahun yang lalu, saat saya menemukan Hani bersama dengan Keno. Keduanya dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.


Flash back on


...Keno Pov...


Dengan tubuh membeku, aku menatapnya. Dia menangis sambil menatapku dengan kecewa.


Di atas kobaran api, aku tidak mendengarnya berteriak atapun meminta tolong.


Dia sangat pasrah, ketika orang yang begitu di percayainya sekarang malah berkhianat.


Antara cinta dan benci.


Mana yang harus ku pilih?


Aku melukainya demi membalaskan dendamku.


Kenapa dia adalah istri kakakku? Kenapa harus dia yang di cintai oleh pria itu?!


Kenapa tuhan harus membuatku bimbang? Di saat aku hampir saja bisa membalaskan dendam.


Sambil mengacak rambutku, aku sangat ketakutan. Api di sekelilingnya bertambah besar.


Belum lagi luka di dadanya semakin banyak mengeluarkan darah. Dan itu semua terjadi karena ku.


Aku sangat kejam!


"Hani!" teriakku sambil berlari ke arahnya.


matanya sudah terpejam.


"Hani, bangunlah! Aku akan menyelamatkan kamu." pekikku, dengan manik membulat aku menatapnya.


"Maafkan aku!" gumamku, serya menaiki tangga, untuk mengeluarkan Hani dari kurungan besi yang terikat di atas kobaran api. Air mataku tak henti mengalir.


Aku sangat bersalah!


Kebencianku terhadap Ayan, tak seharusnya ku lampiaskan kepada Hani.


Aku telah melakukan dosa besar!


Satu harapanku semoga dia baik-baik saja.


Membuka gembok yang terpasang di kurungan besi. Ku lihat Api yang ada di bawah, semakin besar saja.


Udara yang kurasakan sekarang, sangat lah panas.


"Hani, ku mohon. Maafkan aku." kataku, lalu mengangkat tubuhnya.


Setelah mengeluarkannya dari dalam kurungan, ku rasakan tubuhnya sangat panas.


Darah di dadanya, mengalir hingga membuat jaketku ikut berdarah.


Nafasnya semakin melemah, ya Allah. Apa yang harus ku lakukan?


Tubuhku bergemetar hebat. Saat ku bayangkan Hani akan meninggal karena perbuatanku.


"Hani, Hani... ku mohon bangun lah, jangan takuti aku seperti ini. Aku akan membenci diriku sendiri, jika sampai terjadi apa-apa denganmu."  kataku memohon. Aku menatapnya, yang tidak sadarkan diri tepat dalam gendonganku.


Aku berlari keluar...


Semoga masih ada waktu untuk menyelamatkan Hani.


...Ayan Pov...


Sudah 6 jam, saat aku memutuskan pergi untuk mencari Falia.


Seperti orang gila! Aku berdiri di kerumunan banyak orang.


Hatiku terluka, bayangan Falia terluka membuatku sangat ketakutan. Apa yang harus ku lakukan? Saat aku sendiri sudah putus asa sekarang.


Langit mulai gelap, dan siang sudah berganti malam.


Keberadaan istriku masih tidak ku ketahui sampai sekarang.


"Ayan, gue belum nemu Hani. Gue udah lapor polisi, katanya sebelum 24 jam kita gak bisa lapor!"


Tersentak, aku menoleh menatap Boby di sampingku. Dia adalah sahabat Falia. Bersamanya juga aku terus mencari keberadaannya.


"Kita pulang saja," putusku.


"Aku akan menunggu Falia pulang. Aku yakin dia pasti baik-baik saja," ucapku dengan wajah khawatir.


Menatapku dengan kasihan, Boby meringis pelan.


"Lo baik-baik aja?" tanyannya.


Aku mengangguk lemah.


"Aku baik-baik saja," bohongku.


Menghela napas, Boby menganggukan sekali kepalanya.


Dan akhirnya juga memutuskan untuk pulang bersama.


30 menit dalam perjalan menuju Apartement, yang ku lakukan hanya berdoa kepada Allah. Agar sesampainya aku pulang, Falia ada untuk menyambutku datang.


Ini hari ulangtahunku, dan aku meminta hadiah agar Falia kembali pulang dalam keadaan baik-baik saja.


Itu bukan permintaan yang sulit, kan?


"Lo yang sabar ya, Yan. Gue yakin Hani cuma prank lo doang. Gue tau tuh anak memang suka ngeprank!" crocos Boby.


Membalasnya dengan senyuman kecil, aku segera pergi masuk ke dalam.


Meninggalnya di depan Apartement.


Setelahnya masuk. Hatiku merasa was-was.


Aku berharap Falia ada di sana. Berdiri di belakang pintu sambil menyambutku pulang.


"Om, udah pulang? Gimana capek gak tugas hari ini?"


"Om, selamat datang kembali ke rumah!"


"Om, kok keren sih pakai seragam loreng-loreng?"


"Om, kok lama pulangnya?"


Dan sesekali Hani juga memanggilku dengan sebutan.


"Oppa! Selamat datang,"


"Oppa...oppa!"


"Oppa!"


"Rindu, oppa!"


Membayangkan Falia memanggilku dengan sebutan seperti itu, tiba-tiba aku tertawa.


Lalu, tawaku perlahan di gantikan tangis. Aku menangis, saat ku sadari Falia tidak ada untuk menyambutku.


Hatiku terasa hampa, dadaku sangat sesak.


Hingga ku pukul berulang kali, agar aku bisa bernapas.


Semuanya sangat menyesakkan bagiku.


Bukan hadiah ini yang aku harapkan.


"Jangan buat aku tersiksa lebih lama lagi Falia, ku mohon. Pulanglah, dan panggil namaku lagi,"


Perlahan tubuhku mulai merosot ke bawah, di dalam kegelapan aku menangis. Sambil memeluk kakiku sendiri.


Aku sangat kesepian.


"Falia, ku mohon kembali lah..."


Dret...dret...


Mendongak, aku menepis air mataku dengan ujung tangan. Saat ku rasakan ponselku bergetar.


Mengeluarkan ponselku yang ada di saku celana bahan yang ku gunakan.


Aku melihat, nomor asing yang menelpon.


Mengangkatnya.


Kemudian bertanya.


"Ini sia-"


"Kak,"

__ADS_1


Mendengar suara ini, reflek bola mataku membesar.


"Kak, gue Keno."


Keno? Mendengar namanya. Aku merasa sangat terkejut.


"K-Keno?"


"Iya..Hani sama gue sekarang."


Deg. Rasanya jantungku berhenti berdetak.


Ekspresiku berubah menjadi senang.


Faliaku sudah kembali pulang.


"Dimana kamu sekarang?" tanyaku dengan cepat.


"Dirumah sakit."


Di rumah sakit...


Di rumah sakit...


Di runah sakit...


Kata rumah sakit, membuat ekspresiku berubah.


"Hani sekarang sedang kritis..."


Mendengar itu tubuhku langsung lemas. Mataku kembali memanas, membayangkan Falia terbaring lemah tidak berdaya.


Aku tidak sanggup melihatnya dalam keadaan seperti itu.


"Maafkan gue."


Kembali tersadar setelah Keno meminta maaf. Anak itu langsung memutuskan panggilannya.


Membuatku merasa jika keadaan Falia sekarang ada sangkut pautnya dengan Keno.


...Autor pov...


Menatap Ayan yang sedang berjalan ke arahnya, ralat. Bukan berjalan melainkan berlari ke arahnya.


Keno, menahan tangisnya.


Cowok itu mendongak, lalu berputar arah.


Keno tidak menyangka, jika dia harus bertemu dengan pria brengsek itu lagi.


"Keno!" tangan Ayan bergerak menyentuh pundak Keno kemudian menariknya agar menghadap ke arahnya.


"Dimana Falia?!" tanya Ayan.


Terdiam. Keno menepis tangan Ayan yang ada di pundaknya.


"Gue benci lo!" cetus Keno.


Matanya memerah, tangis yang tadinya dia tahan. Seketika langsung pecah.


"Kenapa Hani yang harus jadi istri lo?!" teriak Keno.


Ayan mengerutkan keningnya tidak mengerti.


"Apa maksud kamu?" tanya Ayan tidak paham.


"Karena lo Hani harus menderita sekarang!" cetus Keno, kesal.


"Gue benci lo! Dan diri gue sendiri!" lanjutnya.


"Keno, saya paham. Kamu benci saya, tapi kenapa Falia bisa bersama kamu?"


"Gue gak tau, kalau gue benci sama lo sampai sedalam ini."


"Keno jangan berbelit-belit. Katakan apa yang terjadi?!" akhirnya Ayan terpancing dan jadi kesal sendiri.


"Gue benci diri gue sendiri!" kata Keno lagi.


"Keno! Apa maksud kamu?! Katakan dengan jelas!"


"Gue yang bunuh Hani! PUAS?!" pekik Keno.


"Karena gue Hani jadi kristis sekarang!" lanjutnya.


Tubuh Ayan langsung lemas, peryataan Keno membuat Ayan tidak bereaksi apapun.


Satu sisi dia ingin membunuh Keno saat ini juga. Dan satu sisi Ayan sadar perbuatan adiknya itu juga karena dia.


"Kenapa lo diem?! Bunuh gue! BUNUH!" teriak Keno.


Membuat seisi rumah sakit langsung menonton aksinya.


"Ayan bunuh gue!" printah Keno.


"Inget gue yang bunuh istri lo! Jangan karena gue adek lo. Lo jadi gak punya nyali, hah?!"


"Saya ingin. Tapi saya tidak bisa!" kata Ayan sembari menatap Keno dengan tatapan murkah.


"Saya tidak pernah menyangka kesalahpahaman akan merubah kamu menjadi orang seperti ini?"


Ayan menarik napas dalam-dalam. Sebelum akhirnya Ayan kembali bersuara.


"Kenapa kamu tidak bertanya? Alasan kenapa mama pergi bersama dengan saya. Dan meninggalkan kamu dengan om Veno?! Kenapa kamu berasumsi kalau mama pergi itu karena saya?"


Keno berdecak sebal. Bola matanya berputar dengan malas.


"Karena papa yang bilang!" ucapnya.


"Kamu percaya ucapan papa kamu itu? Padahal dia sendiri yang buat mama pergi meninggalkannya. Keno seharusnya kamu paham! Saya lah yang seharusnya membenci kamu. Karena Mama saya pergi dan menikah dengan papa kamu."


"Karena kamu. Sejak kecil saya hidup tanpa kasih sayang dari mama, sampai papa saya menikah lagi dengan bunda Rosita."


"Walau begitu, saya tidak membenci kamu. Saya sudah menganggap kamu seperti adik saya sendiri. Sampai papa kamu larang dan ancam saya untuk mendekati kamu!"


Ayan, memalingkan wajahnya. Enggan menatap Keno.


"Saya maafkan kamu kali ini, pergi lah. Biar Falia saya yang urus. Terima kasih, setidaknya kamu tidak jadi membunuh Falia. Jika sampai, saya tidak segan-segan akan membunuh kamu!" tegas Ayan. Lalu beranjak pergi.


Namun langkahnya terhenti, saat keno tiba-tiba memanggil.


"Tunggu!" panggil Keno.


Memutar tubuhnya, Ayan kembali menatap Keno.


"Gue, gak bisa percaya ucapan lo gitu aja. Sebelum gue denger dari mama kalau lo itu bukan alasan kenapa mama memilih untuk pergi." kata Keno sewot.


"Kamu bisa temuin mama di panti asuhan Nurul Hidaya." tutur Ayan. Kemudian bergegas pergi, Lagi langkahnya terhenti.


"Tunggu!"


"Kenapa lagi?" tanya Ayan geram.


"Gue gak sendirian. Asal lo tau, gue cuma kaki tangan, pelaku yang sebenarnya adalah sahabat lo sendiri." cetus Keno.


"Siapa?!" tanya Ayan marah.


"Namanya Putri!"


"Putri? Haha...tidak mungkin! Saya tidak percaya." ucap Ayan di barengi tawa.


"Gue gak bohong, abis ini gue mau lapor polisi. Gue bakal nyerahi diri gue sendiri, tolong jaga Hani baik-baik." ucap Keno, berujar.


"Soal Putri, lo yang urus. Gue bakal jadi saksi." sambung Keno.


Hari ini Ayan harus menghadapi dua fakta sekaligus. Jika hidupnya dan hidip Falia terancam, itupun dengan orang yang begitu dekat dengannya.


Perasaan Ayan campur aduk.


Hidup Hani, sedang terancam.


Itupun karena ulahnya...


Karenanya lah, Hani sekarang harus di rawat.


Dan disini lah Ayan, bersama dengan kedua keluarganya.


Setelah berpikir lama. Ayan memutuskan untuk berpisah dengan Hani.


Ayan akan mengurus masalah Putri dan itupun tanpa membahayakan nyawa Hani lagi.


Ayan tidak ingin masalah ini kembali terjadi.


Mungkin dengan kepergiannya. Keluarganya akan tenang.


Mereka tidak harus menghadapi masalah lagi karenanya.


"Bunda, mama. Papa." Ayan tersenyum miris.


Setelah mendengar hidup Hani terselamatkan. Membuat Ayan berpikir jika keputusannya itu sudah benar.


"Ayan akan menceraikan Falia,"


Mendengar perkataan Ayan, mereka semua sangat terkejut.


"Kamu gila Ayan? Hani lagi sakit dan kamu malah mau menceraikan Hani?!" tanya Rosita marah.


"Maafkan Ayan, Bun." sela Ayan dengan kepala menunduk.


"Ayan, kami tau kamu sedang terpukul saat ini. Tapi kamu tidak bisa membuat keputusan yang ceroboh seperti ini!" Sabrina ikut bersuara. Dia mencoba untuk mengerti Ayan sekarang.


"Ini salah Ayan. Karena itu Ayan akan pergi untuk selamanya." putus Ayan.


"Kamu gila?! Jika kamu pergi bunda anggap kamu bukan anak bunda lagi!" ancam Rosita.


"Ros," tegus Sabrina.

__ADS_1


"Biarkan Sab, aku tau Ayan akan berubah pikiran setelah aku ancam begitu!" pungkas Rosita seraya menatap Ayan yang terus menunduk.


"Maafkan Ayan ma,"


Plak!


"Anak tidak tau diri kamu!" teriak Gilang marah, hingga lepas kendali dan akhirnya menampar putranya sendiri.


"Papa!" sentak Rosita.


"Mulai hari ini saya tidak punya anak lagi. Anggap saja, anak saya sudah mati!" ucap Gilang murkah.


"Maafkan Ayan..."


Setelah mengatakan itu, Ayan pun langsung pergi meninggalkan keluarganya. Termasuk Hani.


...   ****...


Berdiri di depan rumah Putri, Ayan memasang ekspresi marah.


Dengan gerakan cepat, Ayan mengetuk rumah Putri.


Mendengar itu, Putri, pun. Bergegas keluar. Dan melihat siapa yang datang.


"Ayan?"


Tanpa permisi Ayan menyeret Putri untuk masuk ke dalam.


Tangannya hampir saja melayang ke pipi Putri.


Membuat Putri yang melihat Ayan akan menamparnya langsung ketakutan.


"Ikut aku pergi ke Amerika!" cetus Ayan memerintah.


"A-Amerika?" sentak Putri.


"M-mau apa kesana?" tanya Putri bingung.


"Memenjarakan kamu!" kata Ayan.


Membuat Putri memasang wajah ketakutan.


"T-tidak! Aku tidak pernah melakukan suatu kejahatan. Kenapa aku harus di penjara?" kata Putri membela diri.


"Tidak pernah?" Ayan berjalan mendekati Putri.


"Karena kamu Faliaku hampir meninggal! Dan kamu bilang kamu tidak melakukan kejahatan?"


Putri terbebelalak kaget. Bagaimana Ayan mengetahui jika dia mengatur siasat untuk membunuh Hani?


"Jangan lakukan itu Ayan, ku mohon!"


"Jika aku sampai di penjara. Aku akan menyuruh anak buah papa membunuh Hani! Kamu mengerti?!" ancam Putri.


"Aku ingin mengerti. Tapi, kamu yang sepertinya tidak mengerti maksudku Put, karena kamu mengacamku seperti ini. Kamu tau? Rasanya aku ingin mencekikmu sekarang!"


"Kamu gila!" sarkas Putri. Saat melihat Ayan ingin mencekiknya.


"Kamu lebih gila Put! Bahkan kamu dulu untuk membunuh seokor semut aja kamu merasa kasihan. Lantas kenapa sekarang kamu bisa melakukan itu? Kamu ingin membunuh gadis tidak berdosa seperti Falia?! Dimana akal sehatmu itu, hah?" tanya Ayan.


"Hani telah berdosa! Dia lah yang merebut kamu dari aku! Bagaimana bisa aku membiarkan kamu pergi dengannya?! Sementara aku menderita. Kamu lah yang tidak pernah mengerti diriku selama ini." jawab Putri sambil menangis.


"Kamu salah, tidak. Aku lah yang salah! Atau aku saja yang pergi ke penjara?" pikir Ayan.


"Ayan jangan gila?!" bentak Putri.


"Kamu yang buat aku jadi seperti ini!"


Menarik napasnya dalam-dalam, Putri menatap Ayan lama.


"Baiklah aku akan ikut ke Amerika bersama denganmu," akhir Putri mengambil keputusan.


Esoknya, Ayan memutuskan untuk mengujungi Keno yang ada di penjara. Dia akan melepaskan adiknya itu, untuk menyelesaikan salah paham.


"Aku harus pergi, ini semua demi kebaikan." setelah 10 menit saling berdiam diri. Akhirnya Ayan bersuara.


"Tidak! Ini keliru. Pikirkan sekali lagi," balas Keno tidak setuju.


"Aku berharap ini memang keliru, tapi inilah keyataan. Jika aku selalu di dekatnya. Mungkin nyawanya akan terancam. Cukup, setelah ini aku tidak ingin melihat Faliaku terluka," kata Ayan, tersenyum kemudian menatap Keno.


"Kak Ayan pikirkan sekali lagi, apa dengan kakak pergi semuanya akan baik-baik saja?!" tanya Keno dengan nada membentak.


"Aku sudah memutuskannya, aku akan pergi dari kehidupan Falia. Langkah pertama aku harus menceraikannya," ujar Ayan.


"Tidak! Jangan lakukan itu, kakak akan menyesalinya." mohon Keno.


"Itu lebih baik, di bandingkan aku harus kehilangannya untuk selamanya. Ini langkah yang cukup bagus," pikir Ayan.


"Kak Ayan bagaimana keadaan Hani nantinya jika tau kakak akan pergi meninggalkannya?" tanya Keno.


"Dia akan baik-baik saja. Karena ada kamu di sisinya,"  jawab Ayan sambil tersenyum.


"Keno jagalah Falia," mohon Ayan.


"Berjanjilah jika kamu akan menjaganya. Dan satu hal lagi, jangan ceritakan tentang dimana dan kenapa kakak pergi meninggalkannya, cukup kamu jaga dia selama aku di luar sana." pintah Ayan.


"Tapi kak-"


"Berjanjilah," sela Ayan.


"Aku berjanji." janji Keno.


Setelah mendengar itu, Ayan tersenyum sambil memeluk Keno, adiknya.


"Semuanya akan baik-baik saja, karena ada kamu disana." bisik Ayan.


...Flash back of...


Hari ini Keno tidak lembur, jadi dia memutuskan untuk mampir ke rumah Hani dulu.


Sudah lama dia tidak mengbrol lama dengan Hani. Selama dia sibuk berkerja jadi abdi negara.


Dan disini lah Keno sekarang, duduk bersama dengan Ayan dan Hani.


Keno tidak tau, jika kedatangannya membuat Hani dan kakaknya itu menjadi canggung seperti ini?


"Hello!" ucapnya sambil mengangkat tangannya.


Manusia di samping dan depannya ini saling bertatapan tanpa menyadari jika masih ada dia di antara keduanya.


"Kenapa sih kalian  berdua? Gue bing-"


"Diem!" Ayan menatap Keno bengis.


Satu tangannya bergerak menutup mulut adiknya itu.


"Jadi gini Ken," sela Hani malu-malu.


5 menit yang lalu, sebelum Keno datang. Dia dan Ayan sedang berciuman.


Beberapa detik setelahnya Keno datang. Membuat suasana berubah seperti sekarang.


"Kenapa pipi lu kok merah?!" tanya Keno.


"Kakak dan Falia memutuskan untuk menikah kembali," cetus Ayan memberitahu.


"APA?!" teriak Keno histeris.


"Kok bisa?! Hah?! Woy!" tanya Keno sambil berdiri.


"Duduk dulu," tutur Ayan. Lalu Keno pun duduk kembali.


"Jelasin ke gue!" printah Keno.


"Ogah!" sela Hani.


"Lagian lo bukan siapa-siapa, kecuali benalu!" lanjut Hani menghina.


"Lo jahat banget si Hany?" tanya Keno sedih.


"Hemm..." berdehem. Ayan menatap Keno dengan bengis.


"Hani!" tegas Ayan. Meralat ucapan Keno barusan.


"Iya Hany!"


"Hani!"


"Hany!"


"Mulut kamu mau kakak pindahi ke kaki?!" kesal ayan.


"Iyadeh, Sayang." ucap Keno sambil tersenyum lebar.


Tiga detik setelah dia mengatakan sayang, Ayan bergerak ingin memukulnya.


Dan sebelum itu terjadi, Keno langsung pergi.


"Keno!" teriak Ayan.


"Maaf," balas Keno.


Melihat itu, Hani tertawa dengan begitu kuat.


Melihat ini, rasanya seperti mimpi saja.


Tak pernah terbayangkan jika hidupnya akan kembali lagi seperti dulu.


Itu pun ada Ayan bersama dengannya.


Hani berharap, kedepannya hidupnya. Tidak akan ada lagi orang jahat seperti Putri.


Yang Hani harap. Setelah hari ini Putri tidak kembali datang.


Dan dimana Putri sekarang?

__ADS_1


Semuanya masih menjadi rahasia.


...Tamat....


__ADS_2