Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 11


__ADS_3

"Sudah bangun?" tanya Ayan yang saat ini tengah menyusun makanan keatas meja makan. Kemudian dia melirik Hani yang sedang menguap sambil berjalan ke arahnya.


"Hem," jawab Hani sembari menggaruk perutnya.


Ayan tersenyum, lalu berjalan cepat menuju kursi yang akan di duduki Hani. Menarik kursi itu ke belakang dan mempersilahkan Hani untuk duduk.


"Makasih," kata Hani dengan suara lemah. Gadis itu menggaruk rambutnya yang tiba-tiba terasa gatal. Matanya enggan untuk terbuka.


Mengulas senyuman kecil telapak tangannya mendarat ke atas kepala Hani Kemudian mengusapnya lembut."Cuci muka dulu sana, Biar gak ngantuk lagi!" seru Ayan.


Hani bergeming. Gadis itu memilih untuk menidurkan kepalanya ke atas meja.


Melihat itu Ayan menghela napas jengah, detik berikutnya dia memilih untuk menggendong tubuh Hani dengan kedua lengannya.


"Om!" pekik Hani terkejut, Saat tubuhnya sudah berada di pelukan Ayan.


"Mandi dulu setelah itu makan," ujar Ayan sambil menggedong tubuh Hani menuju kamar mandi.


"Om saya gak mau mandi! Turuni!" teriak Hani sambil memberontak dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya, kedua tangannya juga ikut memberontak dengan memukul-mukulkannya ke dada kekar milik Ayan.


"Tolong buka-in pintu kamar mandinya," pinta Ayan meminta tolong kepada Hani.


Hani membuang muka, ia malah bersedekap gadis itu mengembungkan pipinya kesal.


"Buka aja sendiri!" sinis Hani menolak.


"Kamu lihat kedua tangan saya sekarang lagi gendong kamu, Bagaimana bisa buka?"


"Bukan urusan Saya. Kan salah siapa juga main gendong tubuh saya!"


"Niat saya baik loh,"


"Baik gimana?"


"Baik mau mandiin kamu," jawab Ayan.


"Saya gak mau di mandiin sama om!"


"Saya mau,"


"Om! Lihat body saya. Yang mini-mini imut gini. Apakah menurut om saya ini masih bayi? Gak kan?!"


"Masih. bagi saya,"


"Serah om. Sekarang turuni!"


Ayan terkekeh dalam hati. Pria itu tidak punya pilihan lain selain menurunkan Hani.


"Akan saya turunkan. Asal kamu mau mandi nanti," syarat Ayan. Yang di angguki Hani.


Dengan perlahan Ayan menurunkan tubuh Hani. Membiarkan Hani untuk mandi sendiri.


Hani mengerutkan dahinya, menatap Ayan dengan kesal.


"Mau saya mandiin?" tawar Ayan menggoda Hani yang saat ini tengah marah.


"Gak perluh!" balas Hani membentak. Detik setelahnya gadis itu langsung masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Brak!


Ayan terkekeh pelan, memandangi pintu kamar mandi yang kini sudah tertutup rapat.


"Masyallah," gumamnya sambil mendongakan kepalanya ke atas. Pria itu tertawa tanpa suara.


15 menit kemudian gadis itu turun dengan handuk putih melilit rambutnya yang masih basah.


tentunya dengan mengerucutkan bibirnya. Saat menatap Ayan yang saat ini tengah berjalan ke arahnya.


"Ayo sarapan. Untuk yang tadi saya minta maaf," ajak Ayan dan meminta maaf juga atas perbuatannya tadi.


"Makan aja sendiri!" tolak Hani,"Lagian saya gak mau sarapan sama om!" sarkas Hani sambil menepis tubuh pria di depannya.


"Falia," panggil Ayan sambil mengikuti Hani dari belakang.


"Stop panggil Falia!" tegas Hani. Ia merasa asing saat Ayan memanggilnya dengan sebutan Falia. Ya walau Falia itu juga namanya, namun, gadis itu lebih suka jika orang-orang memanggilnya dengan sebutan Hani.


"Saya lebih suka panggil kamu Falia," balas Ayan.


"Om! Saya gak nanyak suka gak. Nya, yang saya mau om stop panggil saya dengan sebutan Falia. Bisa gak?"


"Gak,"


Hani memutar bola matanya malas, detik setelahnya, ia memilih meninggalkan Ayan sambil berkata.


"Serah om!"


Ayan tersenyum, kemudian berjalan mengikuti Hani lagi.


...****...


"Istri!" tegas Ayan kedua bola matanya melotot menatap Bara di depannya.


"Kirain Baby, lagian masih muda juga istri lo,"


Ayan menggeleng pelan. Tanpa memperdulikan ucapan Bara. Pria itu langsung masuk ke dalam ruangannya.


"Cih, Dasar!" guman Bara. Kemudian berlari untuk mengejar Ayan.


Ayan meletakan tas yang berisi pistol itu ke mejanya. Membukanya kemudian mengambil sebuah pistol yang tadinya masih kosong, tidak ada peluru di dalamnya. Kini ia masukan 3 butir peluru ke dalamnya.


"Mau nembak siapa lo?" tanya Bara. Pria berahang tegas itu mendudukan dirinya ke atas meja.


"Nembak kamu," canda Ayan.


"Kalau gue mati terus sapa yang nantinya bakal buat lo emosi?"


"Untung ke saya kalau gitu." kata Ayan sambil menyodorkan pistol yang ada di tangannya ke dahi Bara.


"Gak takut masuk neraka bunuh orang?" cetus Bara. Pria itu mulai takut saat Ayan menatapnya dengan tajam.


"Dan kamu gak takut masuk neraka setiap kali kamu buat saya emosi?"


"Gue khilaf Yan sumpah!"


"Demi allah. Jangan bawa-bawa sumpah. Gak baik!" tutur Ayan tidak suka, orang sekarang suka mamainkan kata sumpah.

__ADS_1


"Ok, pas ustad. Bisa gak turuni itu pistol. Takutnya ada setan lewat terus masuk ke tubuh lu kan bisa gawat ke gue," ujar Bara maniknya menyipit menatap pistol yang ada di depannya.


Ayan memejamkan matanya. Dalam hati pria itu beristigfar.


"Maaf," ucap Ayan.


"Sans aja sama gue. Lima menit lagi insyallah gue bakal buat lo emosi lagi. Itung-itung buat nambah dosa," bisik Bara menggoda Ayan.


Ayan melototkan kedua matanya, menatap sinis ke arah Bara yang saat ini bersiap-siap untuk pergi.


"Bara!" tegur Ayan.


Bara tertawa kemudian berlari meninggalkan Ayan.


"Astagfirullah," ucap Ayan sambil mengelus dadanya.


...****...


"Seminggu lagi lo sekolah. Gimana udah ada persiapan?" tanya Bella kepada Hani di depannya yang saat ini tengah menyeruput jus jeruk di gelasnya.


"Udah," balas Hani santai.


"Persiapan apa aja?" tanya Bella lagi.


"Mental sama tahan banting," jawab Hani.


Bella mendesis pelan. Menggeleng kemudian berkata,"Lagian lo si. Pas ujian main-main terus,"


"Gue terlalu sibuk saat itu," ujar Hani.


"Sibuk apaan?!" tanya Bella. Sambil mengunya roti di tangannya.


"Sibuk mempersiapkan diri." jelas Hani.


"Ujian juga butuh persiapan." tandas Bella.


Hani menghela napas berat,"Tapi yang ini lebih berat dari pada ujian sekolah,"


Bella menyatuhkan kedua alisnya tidak mengerti,"Berat?"


Hani mengangguk pelan,"Iya terlalu berat buat gue, berpikir dan mempersiapkan diri gue untuk nikah sama tuh om-om. Sampe gue lupa sama ujian sekolah," curhat Hani.


Bella mendadak memasang wajah sedih. Gadis itu ikut sedih dan merasa kasihan kepada Hani. Saat itu dirinya tidak ada di sampi Hani, andai saja waktu bisa di putar. Ia akan membantu Hani saat itu. Dengan cara berdoa.


"Sabar ya Han, mungkin tuh om Ayan jodoh yang terbaik yang tuhan kirim untuk lo," ujar Bella menyemangati Hani.


"Tapi ini gak adil buat gue," rengek Hani memelas.


"Gue pikir setelah tinggal kelas. Bokap gue bakal batali pernikahan gue sama tuh om. Teryata gak! Dan lebih parahnya lagi. Sekarang gue gak sebebas kayak dulu. Bosen gue di rumah."


"Mau dolan kuduh bilang dulu sama tuh om-om. Bahkan gue harus mandi 3 kali sehari, lo kan tau gue gak suka mandi!" cerita Hani.


"Hemm ... gue gak tau mau ngomong apa, gue juga belum ngerasain yang lo rasain jadi untuk sekarang gue belum bisa berkomentar," ucap Bella, membuat Hani semakin kesal saja.


"Dasar lu teman terlaknat!" cibir Hani.


"Gini-gini juga ngangeni kan?"

__ADS_1


Hani mendesah pelan. Menatap Bella sambil memutar bola matanya jengah.


__ADS_2