Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 45


__ADS_3

Jalan dengan posisi mengendap-endap, gadis berpakaian tomboy itu berjalan menuju ranjangnya dengan penuh ke hati-hatian.


Melirik seorang pria yang sedang terbaring di ranjang, dengan posisi memeluk guling serta matanya yang terpejam membuat gadis itu lantas menghembuskan napas lega.


"Syukurlah," gumam gadis itu lirih, yang tidak lain adalah Hani.


Detik setelahnya perlahan Hani mulai mendudukan dirinya ke ranjang, disusul kakinya yang mulai naik ke atas. Menarik selimut yang semula berada di bawah lalu ia tarik hingga menutupi setengah tubuhnya. Gadis itu kini membaringkan tubuhnya ke ranjang. Tepat di samping pria kekar di sampingnya.


"Falia?" sentak Ayan, memutar tubuh untuk bertatap muka dengan istrinya. Teryata pria itu hanya berpura-pura tidur.


Mendengar suara berat Ayan membuat tubuh Hani menegang. Menelan salivanya susah payah gadis itu memejamkan matanya.


Dalam hati gadis itu berkata.


Bagaimana ini? Apa yang harus gue lakuin kalau Ayan marah. Karena gue bohong sama dia. Dan gue gak tau kalau bakal semalem ini selesainya...


"Falia, tidak mungkinkan jika kamu sudah tidur?" Ayan menghela napas penuh beban,"Ada pertanyaan yang ingin aku tanyakan," ujar Ayan melemah. Satu tangan pria itu menarik pinggang istrinya secara lembut agar tubuh mungil Hani mendekat dengan tubuhnya. Satu tangan bebasnya perlahan menyentuh kemudian mengelus pipi kanan Hani. Yang baru saja membuka matanya setelah ia sentuh.


"M-maaf a-ku berbohong," ujar Hani mengakui kesalahannya. Karena ia berpamitan dengan Ayan karena alasan ingin pergi berkungjung ke rumah orangtuanya. Dan tadi 3 menit sebelum ia sampai ke apartement Ayan, Sabrina menelponnya kemudian mengatakan bahwa Ayan selama 2 jam lebih menunggu di rumahnya.


"Falia, aku tidak suka jika kamu berbohong dengan alasan orangtua. Sangat tidak suka, kamu paham?" tegas Ayan dengan nada suara tetap lembut.


Mengangguk lemah, Hani menggulum bibir atas dan bawahnya. Tatapannya menunduk tidak berani menatap mata coklat tegas di depannya.


Menekan hidung bengir istrinya pelan. Pria itu tersenyum senang, karena Hani mau mendengarkan kata-katanya.


Merasakan sentuhan itu, membuat Hani tersentak. Sontak menatap Ayan dengan posisi matanya yang terbuka satu.


"Kamu dari mana? Kamu tau kan aku sangat merindukan istriku..." kata Ayan mendramatisir.


"A-aku?" Hani menjadi gugup ketika Ayan mulai menanyainya tentang kegiatannya selama 3 jam di luar rumah.


"Iya sayang..." kata Ayan lagi dengan nada bicara sengaja di manja-manjakan.


"Padahal tadi aku ingin merayakan kelulusan kamu," ucap Ayan yang hampir tidak terdengar.


"Merayakan apa?" tanya Hani yang samar-samar mendengar ucapan Ayan.


Menggeleng, pria itu mulai menidurkan kepalanya ke dekat dada Hani. Dengan kedua tangan melilit ke perut datar istrinya yang tiba-tiba berbunyi... sungguh, merusak moment yang baru saja ingin ia mulai.


Ah sial!


"Kamu belum makan?" tanya Ayan. Pria itu kembali mendongak untuk menatap wajah istrinya yang memerah karena malu.

__ADS_1


"Maafkan aku," ujar Hani. Karena harus membangunkan tidur Ayan.


Tertawa gemas, Ayan mengapit kedua pipi istrinya dengan kedua telapak tangan. lalu menekannya, lumayan kuat,"Kenapa minta maaf?" tanya Ayan gemas.


"Padahal tadi kamu udah ingetin aku untuk makan-"


"Tapi kamu lupa, ya kan?" pungkas Ayan yang di angguki Hani.


"Yasudah, ayo aku masakin masakan spesial buat istriku tercinta..." kata Ayan antusias. Tiga detik setelahnya ia duduk kemudian mulai mengakat tubuh istrinya dengan kedua lengannya.


"A-Ayan aku bisa jalan, kamu tidak perluh menggendongku..." kata Hani mencegah Ayan untuk menggendongnya.


Menggeleng, pria itu membalas Hani dengan senyuman. Tidak perduli jika istrinya itu marah karena ia gendong. Ayan tidak mendengarkan kata-kata Hani dan terus berjalan menuju ruang tamu.


...****...


"Dari mana kamu?!" tanya Veno garang. Pria tua itu berkacak pinggang menatap putranya dengan amarah yang mengebu-gebu.


Setelah beberapa bulan tinggal di luar, kini Keno kembali ke rumahnya. Bukan karena ancaman Veno melainkan karena dendamnya terhadap Ayan.


Mengabaikan pertanyaan papanya Keno berjalan menuju tangga di depannya. Tatapannya datar tanpa ekspresi, sekali pun pemuda itu tidak melirik papanya. Yang saat ini menatapnya dengan tatapan penuh amarah yang sedari tadi sudah meluap ketika melihat kedatangan Keno.


Geram, Veno meraih pas bunga yang kebetulan ada di sampingnya lalu ia lemparkan dengan kuat ke arah Keno.


Bhuk!


"Anak kurang ajar, gak tau di untung!" Mendesah kesal Keno mengepalkan kedua tangannya, membiarkan papanya itu terus memakinya, dengan darah yang mulai bercucuran dari punggung kepalanya,"Gak jauh beda sama ibumu. sifatnya, tingkah lakunya. Bahkan murahan seperti ibumu!"


Bhuk!


Keno meninju dinding di belakang papanya. Pemuda itu berteriak marah karena ibunya di bilang murahan oleh papanya sendiri.


"Hey!" teriak Keno lantang.


"Sekali lagi papa hina mama!" Keno menarik satu tangannya yang terkepal itu dari dinding, kemudian menunjukannya ke arah Veno."Hari ini masih dinding, besok-besok tangan ini pindah ke wajah papa!" ancamnya. Detik setelahnya pemuda itu pergi berlari menuju kamarnya.


...****...


"Gue butuh bantuan lo Kia," kata Putri sambil menatap seorang wanita yang sedang merorok di depannya.


"Gue baru bebas, lo mau bikin gue di penjara?" balas Kia sambil menghembuskan asap rokoknya ke arah Putri.


"Gue janji, gue gak akan bilang ke siapa pun kalau lo ikut terlibat," jelas Putri menyakinkan.

__ADS_1


"Dan," Putri mengambil tas ransel berisikan uang di sampingnya, lalu ia berikan kepada Kia.


"Ini sebagai imbalannya,"


"Lo harus inget, sebelum ini gue juga ada bantu lo nyingkiri orang," kata Putri. Membuat Kia tertawa.


"Lo itungan sama gue?! Hah!" teriak Kia.


"Gue hanya mengingat masa lalu," balas Putri.


"Yang hanya kita berdua yang tau," lanjutnya.


Berdecih Kia melempar rokoknya ke lantai,"Cih! Gue terima duitnya, lo jelasin apa tugas gue?!"


Meyeringai penuh kepuasan, Putri menopang dagunya. Menatap Kia, dengan satu jarinya memainkan atasan gelas di atas mejanya.


"Gue mau lo bunuh orang," jelas Putri.


"Gak akan!" tolak Kia.


"Kenapa? Lo trauma? Secara lo sekarang udah tobat? Gagal memisahkan Hasta dan Maura g-"


"Cukup!" sela Kia memotong perkataan Putri dengan cara mencekik leher Putri.


"Lo jangan bahas masalah yang buat gue gak segan-segan harus bunuh lo!" ancamnya.


Tiga detik setelahnya, Kia melepaskan tangannya dari leher Putri.


Terbatuk-batuk, Putri tertawa senang, karena inilah yang ingin ia lihat dari Kia. Sang pembunuh.


"Ini baru Kia," kata Putri.


"Tapi gue gak sama kayak lo Kia," Putri memeringkan kepalanya, menatap Kia dengan tatapan mengejek,"Gak sama kayak lo yang gagal memisahkan Hasta dan Maura. Dan berakhir dengan di penjara..."


Plak!


Kia menampar wajah Putri sangat keras, kedua tangannya bergerak untuk menjambak rambut Putri.


"Lo bener-bener mau gue bunuh hah?!"


TbC.


Ketika orangketiga bersatu.

__ADS_1


Gimana😂


__ADS_2