Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 41


__ADS_3

Putri tersenyum manis ketika netranya melihat Ayan saat ini sedang berdiri kebingungan antara masuk dan tidak ke ruangannya. Tangan pria itu sudah menyentuh bagian handle  pintu. Peka wanita itu datang menghampiri Ayan kemudian menegurnya.


"Ayan ada apa?" tanyanya. Menyentuh pundak Ayan di ikuti dagunya naik ke atas. Matanya meyipit menatap wajah pria di depannya.


"Kamu ada masalah?" tanyanya lagi.


Ayan berdehem ia enggan untuk mengatakan niat tujuannya datang ke ruangan Putri. Namun, apa boleh buat ia harus mengatakannya, karena ini menyangkut tentang Hani istrinya,"Bagini Put, sebenarnya aku tidak enak harus meminta tolong ini kepada kamu. Tapi permasalahannya aku benar-benar sibuk-"


"Ayan gak usah bertele-tele kamu mau minta tolong apa? Sebisa mungkin aku akan menolongmu," kata Putri meyela perkataan pria di depannya. Ayan membuang napas lelah, begitu juga wajahnya yang sama sekali tidak ceria, murung dan seperti terlalu banyak pikiran.


"Tolong jemput Falia di sekolahnya," mohon Ayan sambil mengatupkan kedua tangannya ke depan dada.


Putri tersenyum miring,"Hanya itu?" Ayan mengangguk."Baiklah setelah ini, nanti aku akan menjemputnya,"


Ayan tersenyum lega, wajahnya kembali ceria, menatap Putri tangannya kembali turun ke bawah.


"terima kasih banget Put," kata Ayan senang. Putri mengangguk pelan, matanya berkedip sekali, menghirup udara dalam-dalam wanita itu berkata dalam hati.


"Menyebalkan!"


"Kalau gitu aku kembali ke ruangan aku dulu ya Put," ujar Ayan. Lagi Putri mengangguk.


Setelah mengatakan itu Ayan berbegas pergi menuju ruang kerjanya, untuk beberapa hari ini Ayan membantu Putri untuk mengurus perusahaan. Membuatnya benar-benar sibuk karena mengerjakan dua tugas sekaligus. Yang di syukuri dari pria itu adalah kehadiran Putri yang benar-benar sangat membantunya. Ia tidak pernah menyangkah jika Putri yang dulunya sangat cengeng dan suka makan permen. Sekarang wanita itu sudah tumbuh menjadi wanita yang sangat baik.


Mengamati punggung pria di depannya yang semakin lama, semakin hilang entah kemana. Wanita itu meyeringai, kemudian berkata lirih.


"Harus kah aku bersandiwara lagi?" ucapnya, tiga detik setelahnya wanita itu pergi menuju lift untuk turun ke bawah.


...****...


"Sama gue aja udah!" Keno menyodorkan helmnya ke arah Hani, yang saat ini sedang pokus menatap jalan raya, gadis itu menanti kedatangan suaminya.


"Bebeb," panggil Keno, merasakan helmnya di tepis. Pemuda itu beranjak dari motornya. Berjalan ke arah Hani lantas memakaikan helmnya ke-kepala Hani.


"Kenapa lo nyebelin sumpah!" teriak Hani dari dalam helm.


"Biarin entar lama-lama lo juga suka sama sikap nyebelin gue," tandas Keno tengannya bergerak menggenggam tangan gadis di depannya.


Menepis tangan Keno, Hani melepaskan helm di kepalanya. Sorot matanya menajam menatap pemuda di depannya dengan raut wajah murka.


Menyodorkan dengan kasar helm di tangannya gadis itu mendengus,"Gue gak mau pulang sama lo! Sana pergi!" usir Hani galak.

__ADS_1


"Yaudah kalau lo gamau, gue bantu lo nunggu di sini. Takutnya lo nanti kenapa-kenapa," kata Keno, pemuda itu duduk mengkring di atas motornya sambil memangku helmnya di paha. Raut wajahnya sedih saat mengamati wajah frustasi Hani. Yang seperti tengah menahan sedih, marah, kesel, dan antara mau nangis.


2 menit berlalu, keadaan hening. Hani yang lebih memilih diam. Lalu Keno yang sok sibuk dengan ponselnya padahal selama ia bermain ponsel pandangannya tetap selalu mengarah ke arah gadis di sampingnya.


Tin...


Mendengar suara mobil menelekson, membuat keduanya menoleh ke sumber suara. Menatap ke arah mobil sedan yang perlahan berjalan ke arah mereka.


Hani  mengernyitkan dahinya, matanya menyipit saat melihat kaca mobil yang perlahan turun kini di ganti dengan wajah cantik wanita yang saat ini tersenyum ke arahnya.


"Hani kan?" tanya wanita itu memastikan. Hani melirik Keno sekilas, detik setelahnya kembali menatap wanita di dalam mobil, tepat di depannya.


"Iya," balas Hani malas.


"Ayo masuk," ujar wanita itu lembut.


"Ngapain," balas Hani dengan suara lirih.


"Ayan suruh aku jemput kamu," jelas wanita itu.


Kening Hani berkerut, kedua bibirnya mengatup rapat. Sedangkan Keno asik menatapi wajah Putri dengan mulut terbuka. Pemuda itu kembali jatuh cinta.


"Hani, ayo masuk.." ujar Putri membuat Hani yang tadinya melamun kini gadis itu kembali tersadar.


Menoleh ke arah Keno, Hani mendorong pundak pemuda itu pelan.


"Gue pergi dulu ya!" pamit Hani.


Keno terdiam, matanya berkedip sekali. Netranya masih pokus menatap wanita di dalam mobil, yang menurutnya sangat cantik seperti bidadari.


Masuk ke dalam mobil, Hani melirik Putri sekilas. Senyum tipis terbit dari bibirnya.


Membalas senyuman Hani, wanita itu menyalahkan mesin mobilnya. Meyerong kepalanya ke arah Keno wanita melambaikan tangannya.


"Temannya Hani, kami duluan dulu ya," ujarnya lembut.


Membuat Keno gelagapan. Kini pemuda itu salah tingkah. Mengangkat tangannya lalu ia goyang-goyangkan ke udara.


"Temanmu itu sangat lucu siapa namanya?" tanya Putri basa-basi.


"Keno," jawab Hani cuek.

__ADS_1


"Namanya bagus," tutur Putri sambil tersenyum.


"Oh ya perkenalkan nama aku Putri, teman baik suamimu..." ujarnya memperkenalkan diri.


"Sudah tau," balas Hani. Lagi dengan cuek.


"Kamu masih marah ya sama aku soal kejadian beberapa bulan yang lalu?" tanya Putri mengingatkan Hani tentang kejadian beberapa bulan yang lalu saat ia datang ke rumahnya pada waktu malam.


"Tidak kok," sahut Hani seadanya. Gadis itu sibuk memainkan game di ponselnya.


"Mau jalan-jalan?" tawar Putri.


"Langsung pulang aja," balas Hani.


Putri bedecak pelan, dalam hati gadis itu mengumpat kesal. Ingin rasanya mencekik leher gadis di sampingnya.


Mencoba menahan emosinya, kali ini Putri ingin membahas masalah tentang Ayan. Mungkin dengan memakai trik ini ia bisa mendekati Hani kemudian berpura-pura menjadi temannya.


"Aku salut sama suami kamu Ayan," Hani menghentikan ketikan jarinya di ponsel. Gadis itu mendengarkan.


"Selain mencintai perkerjaannya, teryata dia juga mencintai istrinya," Putri meyeringai, tertawa puas ketika Hani tersenyum saat mendengarkan perkataanya.


"Ayan cerita sama aku, katanya dia ingin sekali membelikan kado yang sangat indah untuk istrinya..." Hani membulatkan matanya, kini senyum lebar terbit dari bibirnya. Mematikan layar ponselnya lalu memasukannya ke dalam tas.


Detik setelahnya Hani menatap Putri dan berharap mendengar lebih dari ini.


"Aku kira dia bukan tipe pria romantis teryata," Putri terkekeh,"Setelah menikah dengan kamu dia berubah ya," Putri menatap Hani.


"Benar kah?" tanya  Hani kepo.


Melihat Hani mulai merespon, dengan perasaan puas Putri tersenyum lebar. Wanita itu tertawa dalam hati. mengangguk mengiyakan pertanyaan Hani wanita itu berkata.


"Iya, kamu bisa melihatnya nanti. Tapi tolong rahasiakan ini dari Ayan, takutnya setelah dia tahu aku dalang di balik kejutannya, mungkin ke esokan harinya aku akan di pecat jadi temannya," gurau Putri membuat Hani tertawa saat mendengarnya.


"Hani mau kah kamu menjadi temanku Seperti Ayan berteman denganku juga?" tanya Putri di sela-sela tawa Hani.


Hani berhenti tetawa, gadis itu tersenyum senang, tiga detik setelahnya gadis itu mengangguk.


"Iya," balasnya.


TbC

__ADS_1


__ADS_2