Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 48


__ADS_3

...Aku ingin seperti Hinata, yang berhasil mendapatkan Naruto walau hanya mencintainya dalam diam. Dan aku ingin seperti Sakura yang berhasil mendapatkan cintanya karena hasil perjuangan. Tapi aku tidak ingin menjadi diriku sendiri yang tak berhasil memilikinya walau sudah berjuang dalam mencintainya....


...Aku kalah, apa sebaiknya aku juga harus menyerah? Karena faktanya aku bukan Hinata maupun Sakura🍃...


...Falia Hani🌻...


Ayan pov


Derap langkah kaki kian menguat melangkah ke arah ruanganku sekarang. Tadinya aku yang sedang duduk di sofa dengan perasaan gelisah memikirkan istriku yang tak kunjung pulang. Dengan sebuah ponsel yang tanpa henti terus menghubunginya walau yang terbalas hanya ponselnya yang tidak aktif. Ah sial! Jika ku tau Hani pergi selama ini mungkin saat itu aku tidak mengizinkannya keluar.


Ting..tong


Suara bel apartementku berbunyi, dan seketika mataku membulat lalu ku lempar ponselku ke sofa. Kemudian aku mulai berlari menuju pintu utama.


"Falia apa itu ka-"


"Happy birtdhday Ayan!" teriak Putri serta papa dan bunda, yang berdiri tepat di samping Putri.


Detik setelahnya ku lirik seorang pria dan wanita yang berjalan ke arahku sambil membawa sebuah cake di tangannya.


"Boby? Bella?" tanyaku kebingungan.


"Yes bro! Selamat ulang tahun. Yang makin tua!" ejek Boby membuatku sedikit kesal.


"Ayan," panggil Putri.


Lalu ku lirik dia. Dengan tampangku yang terlihat kusam, bahkan baju yang ku kenakan saat ini sama miripnya seperti wajahku sekarang.


"Hei! Ada apa?" tanya Bundaku dengan wajah sedekit cemas. Wajar karena melihat tampilanku sekarang.


"Dimana Hani? Bukannya dia yang merencanakan semua ini?" tanya Bunda dengan kedua alis menyatuh.


Rencana? Apa maksud dari kata rencana? Sungguh aku tidak tau apapun.


"Rencana? Apa maksud bunda?" tanyaku tidak tau sontak membuat Putri di sampingku langsung menepuk punggungku dua kali.


"Rencana pesta ulang tahun kamu Ayan," jelasnya.


"Hah? Jangan bercanda? Hani bersama kalian kan?" kilahku tidak percaya.


Ku lihat bunda melirik Putri di sampingnya.


"Put bukannya Hani tadi bersama kamu?" tanyaku meyelidik.


"Iya tadi, satu jam yang lalu. Setelah itu katanya dia mau ngasih kejutan untuk kamu, sebelum kami datang," kata Putri menguatkan firasatku bahwa istriku sekarang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Mau kemana?" tanya Putri di susul tangannya menarik lenganku.


"Cari Falia," jawabku gelisah.


"Ayan, kita tunggu sebentar lagi. Mungkin saat ini Hani sedang menuju ke sini," ujarnya. Dengan kasar ku tepis tangannya, tidak ada yang lebih penting sekarang selain Faliaku.

__ADS_1


"Ayan!" panggil bunda tak menghentikan langkahku berjalan.


"Biar Boby yang ngejar tante, Bel gue titip mereka ya," ujar Boby. Detik setelahnya dia mengejarku.


"Hati-hati!" teriak Bella.


...***...


Hani pov


"Ah!" aku meraung kesakitan ketika tersadar tubuhku sudah berada di dalam ruangan yang bentuknya hampir sama dengan penjara. Hanya bedanya kali ini tempatnya lebih kecil, hingga bergerak saja tubuhku tidak bisa.


Samar-samar mataku mulai terbuka lebar, kemudian aku mulai mengamati sekelilingku dengan kedua mata membulat dan hampir seperti ingin keluar.


Saatku lirik ke bawah, sontak membuatku terkejut dan langsung menjerit.


"Ah!" jeritku. Saat melihat bara api menyambar tepat di bawahku sekarang.


"Sudah sadar?" tanya wanita itu. Menatapku dengan tatapan merendahkan.


"Karena gue baik, jadi apa permohonan terakhir lo? Sebelum lo bener-bener mati!"


Tubuhku menggeletar ketakutan, ku rasakan saat ini hawa panas mulai menjalar ke seluruh tubuhku. Sensasi nyeri yang belum hilang kini sudah di tambah dengan panasnya api yang seperti ingin melahap seluruh tubuhku sekarang.


Ayan aku mohon, jaga diri kamu baik-baik walau mungkin sebentar lagi aku sudah tidak ada di sini. Dan saat itu Aku menangis ketika memikirkan Ayanku, akan kah dia baik-baik saja setelah tidak ada aku disana?


"Hei gadis kecil?! Gue tanya sekali lagi apa permohonan lo, sebelum kematianmu... katakan!"


Permohan? Terakhir? Mendengar itu entah kenapa rasanya aku ingin menangis sejadinya. Rasanya sangat tidak adil harus pergi secepat ini disaat aku benar-benar sudah mencintainya, menerimanya sebagai suamiku.


Dor!


Bahkan untuk permohan terakhir pun aku tidak bisa memintanya...


Walau hanya sekali?


"Ah!" raungku sambil menutupi lobang kecil yang sedari tadi terus mengeluarkan darah. Dengan tatapan teduh ku lirik pria bertopeng dengan senapan di tangannya.


Apa dia yang sudah menembakku?


"Hei bocah sialan! Lo udah bunuh mangsa yang seharusnya gue yang bunuh!" teriak wanita itu sambil mendorong tubuh pria yang tanpa sengaja topeng itu terbuka dari wajahnya.


Dan aku melihatnya...


"K-Keno?" tanyaku tidak percaya.


"Lo nyiksa dia! Gue gak sanggup jadi penonton yang hanya diam seperti patung. Gue gak sanggup liat dia teriak kesakitan lebih lama lagi. Gue mau akhiri ini sekarang!"


Akhir?


Apa benar ini sudah akhir dari segalanya?

__ADS_1


"K-Keno k-kenapa?"


Aku bingung dengan keadaan saat ini. Keno cowok itu?


Kenapa dia melakukan ini? Kenapa dia ingin membunuhku? Apa selama ini dia mendekatiku kemudian menjadi temanku hanya untuk menunggu hari ini? Hari di mana dia sudah membunuhku?


Keno ada banyak hal yang ingin ku tanyakan tentang pertayaan ini. kenapa dan apa alasan kenapa kamu berbuat sampai sejauh ini?


Seandainya aku tau. Apa mungkin aku akan memaafkanmu untuk perbuatanmu ini?


Aku rasa tidak!


Ayan, jika ada yang namanya keajaiban aku ingin di pertemukan denganmu walau hanya sekali.


Tapi aku rasa keajaiban itu tidak mungkin ada. Untuk takdir kita.


Ayan, apa ini yang dimanakan penyesalan? Dan benar bahwa penyesalan itu datangnya akhir... cukup mengecewakan bukan? aku baru menyadarinya sekarang?


Bahwa aku tidak ingin mati sekarang...


Aku ingin hidup lebih lama bersama denganmu...


Kemudian menghabiskan hari-hariku dengan bahagia bersamamu.


Lalu kita akan bangun keluarga kecil kita bersama, membayangkan itu saja menbuatku tersenyum. Tak perduli saat peluru itu rasanya berjalan masuk ke dalam tubuhku.


Rasa panas membakar tubuhku, aku akan tetap tersenyum walau hanya membayangkan tentangmu Ayan.


Ayan jaga dirimu baik-baik... aku akan menunggu di atas sana.


Selamat tinggal!


Kretek...kretek..


Suara rantai besi yang seperti ingin terjatuh. Membuatku tersenyum senang. Saat ku lihat dua orang di bawahku saat ini sedang kepanikan.


Mendengar itu dua orang yang tadinya sedang berkelahi kini menatap ke arahku yang hampir jatuh ke dalam jurang api yang membara.


Cukup mengenaskan, aku mati dalam keadaan seperti ini. Tapi inilah takdirku.


"Lo udah langgar aturan! Setelah ini gue urus lo nanti!" kata Kia mengancam Keno. Kemudian wanita itu berlari keluar meninggalkan ku dan Keno di dalam pabrik yang hampir terbakar.


Di situ aku liat Keno dengan penampilannya yang sangat acak-acakan itu bimbang. Apakah dia akan menyelamatkanku? atau malah meninggalkanku.


"Ah sial!" teriaknya.


...Ending...


Gak adil kan? Tapi inilah yang dinamakan takdir😂


Gak ada yang bisa merubah takdir yang sudah di atur oleh tuhan.

__ADS_1


maaf kalau endingnya gantung :)


kalau penasaran komen season 2 biar nanti author bisa mulai ngetik season 2 nya.


__ADS_2