
Kira-kira hampir sejam Liyu menerima hukuman dari pak Yadi.
Ngepel seluruh lantai koridor sampai bersih.
gimana mau bersih? Kalau tuh kaki-kaki sialan terus nepak ke lantai yang baru aja ia pel dengan susah payahnya.
butuh perjuangan keras untuk menjaga lantai itu tetap bersih.
lagian ya, kenapa sih itu kaki gak terbang aja? Kan Liyu jadi gak harus kerja berulang-ulang dan pasti ni ulangan harian dikelasnya udah selesai.
Liyu udah Chat Roby buat minta izin ke bu Citra wali kelasnya.
Eh gak ada jawaban ampe sekarang.
Liyu jadi jengkel sendiri, punya temen semua gak bisa diandali.
Khususnya Dimas yang selalu baik kalau butuh sesuatu aja.
Beda banget sama Om Keno yang baik kepadanya.
Liyu selalu merasa kalau dirinya dan Dimas itu anak yang tertukar.
kenapa Dimas tingkah lakunya persis seperti papanya.
Dingin dan jarang ngomong.
tapi papanya itu gak separah Dimas. Yang ngomong aja tuh ya males.
pokoknya susah lah kalau mau ngomong sama tuh anak.
Liyu gak habis pikir saat membayangkan siapa nanti pacar Dimas.
Duh pastinya tuh orang punya darah tinggi diusia muda.
Liyu dengan napasnya yang ngos-ngosan masuk ke dalam kelas. Begitu ia masuk, bel istirahat berbunyi membuat teman sekelasnya itu berlari untuk ke kantin lah pastinya. Tanpa melihatnya dan menabrak tanpa sengaja.
untung ada Roby yang menahan agar Liyu tidak jatuh.
"Lo gak papa?" tanya Roby.
Liyu menatap Roby dengan manik menyipit kemudian mendorong tubuh temannya itu pelan.
"Sialan lo gak balas pesan gue!" maki Liyu.
"Maaf, Yu. Batre hp gue udah Death gara-gara tadi malam main Ml. Eh gue lupa ngecas tuh batre. Tapi gue udah minta izin kok ke bu Citra, lo tenang aja."
Mendengar itu kali ini Liyu akan memaafkan Roby.
"Tapi lu udah salin semua jawabannya untuk gue kan?"
Roby mengangguk.
walau sikapnya terkadang kek bocah, tapi Roby juga termasuk murid yang bisa diandalkan.
Liyu tersenyum lebar, kemudian menepuk pundak temannya itu sekali.
"Nah ini baru temen gue, beda banget sama ya-" manik Liyu bergerak melirik Dimas yang sedang berjalan santai dengan beberapa murid cewek yang sedang mengerumuninya.
"Sok kegantengan emang!" gumam Liyu kesal.
kemudian berjalan cepat menuju kursinya.
Roby ikut membuntuti Liyu dari belakang.
tak lama kemudian Dimas datang sambil meletakan sebotol aqua ke meja Liyu.
Melihat itu Liyu tersenyum miring.
"Lo pikir gue bakal nerima?"
Dimas hanya diam dan duduk disamping Liyu.
__ADS_1
Di abaikan seperti ini, emosi Liyu kembali naik.
Merasa kenapanasan, Liyu meminum sebotol aqua pemberian Dimas.
Dimas melirik Liyu.
Roby cekikikan.
"Bakal mati muda gue punya adik kayak lo Dim. Gak ada baek-baeknya!" cetus Liyu selesai menghambiskan minuman pemberian Dimas.
"Gue gak pernah minta lo buat akui gue sebagai adik,"
mendengar itu Liyu mengeraskan rahangnya.
jilbabnya ia kesampingkan ke kanan dan ke kiri.
Kalau gak pakek rok panjang, pasti tuh bokong Dimas udah pindah ke muka!
"Jam 2 papa gue bakal ketemu sama dia," kata Dimas memberitahu.
mendengar itu seketika ekspresi Liyu berubah. Ia pun mendekatkan kursinya agar lebih dekat dengan Dimas.
Kedua tangannya kemudian menyentuh pundak Dimas dan memijatnya.
"Lo seriusan?"
Dimas memutar bola matanya malas.
walau sebenarnya ia malas, baiklah akan ia beritahu kepada Liyuna informasi yang ia tahu tentang Bara.
"Hem ...."
manik Liyu membulat spontan memeluk Dimas.
Membuat para ciwi-ciwi yang sejak tadi mengintip kini menjadi iri.
Untung Liyuna yang meluk Dimas. Bukan cewek lain.
"Suami Roby, bilang dia itu suami gue!" ralat Liyu.
"Lu mau buat gue ngakak? Lo belum nikah sama tuh om-om, ya kali gue bil-
"Pasti gue bakal nikah sama dia, jadi lo harus bilang dia itu suami gue!"
menghela napas lagi-lagi ucapannya dipotong oleh Liyuna, Roby hanya bisa ngalah aja. Dan benerin apa yang Liyu ucapkan.
Liyu melepaskan pelukannya, kemudian kembali duduk dikursinya.
"Dim lo harus bantu gue buat ketemu sama suami gue, ya?"
Dimas merapikan seragamnya yang agak berantakan karena pelukan Liyuna.
"Lo sama gue aja Yu," sela Roby menawarkan diri.
"Tapi kan yang tau informasi itu Di-"
belum selesai ia berbicara, sebuah pesan masuk. Dan yang membuat ia terkejut adalah si pengirim pesan adalah Dimas.
yang mengirim dimana nanti lokasi tempat papa dan Bara itu bertemu.
"Lo sama Roby. Gue gak mood!"
"Gue sendiri aja!" putus Liyu sambil tersenyum mengingat dirinya akan bertemu Bara setelah bertahun-tahun lamanya.
"Lo gak mau pigi sama gue?"
Liyu melirik Roby.
"Maaf, gue bisa sendiri."
"Perasaan lo tadi barusan mohon-mohon ke Dimas buat di temenin," cibir Roby.
__ADS_1
"Masalalu itu, jangan dibahas lagi. Gue gak mau kalau lo nanti jadi pengganggu pertemuan gue sama om Bara,"
Dimas dan Roby saling tatap, detik berikutnya mereka pergi meninggalkan Liyu yang sedang senyum-senyum gak jelas.
"Lo berdua tunggu gue!" teriak Liyu saat sadar Roby dan Dimas udah menghilang dari balik pintu kelas.
melihat itu Liyu buru-buru mengejar mereka berdua.
...***...
"Ternyata bener kamu udah tunangan, saya lega." ucap Ayan saat melihat cincin terikat dijari manis temannya.
"Lega karena anak komandan Ayan gak jadi istri gue?" canda Bara sambil terkekeh pelan.
"Itu salah satunya, Liyu terus mencari kamu ... itu membuat saya gelisah."
"Tapi mendengar kamu sudah bertunangan, kini aku lega Bar."
"Tapi muka lo dari dulu gak berubah kak Bar?" sela Keno yang baru datang.
"Awet muda biasanya gak banyak pikiran."
Bara tertawa miris.
Padahal setiap detik ia terus berpikir. Tentang bagaimana cara menghapus pikirannya yang terus ingin memiliki putri dari sahabatnya.
"Kamu gak ada pikiran ingin menikahi anak saya kan Bar?"
Bara tercengang, dengan ekspresi gugup ia menjawab.
"Ya gak mungkin lah, gue cuma bercanda waktu itu komandan ..." bohong Bara.
Ayan menghela napas lega.
"Jangan sampai kamu ingin menikahi Liyuna, itu bukan berarti kamu itu pria jahat dan tidak pantas untuk Liyu, hanya saya tidak mau Liyu juga mengalami masa depan yang suram karena menikah diusia muda apalagi dengan pria yang usianya lebih tua darinya. Saya harap kamu mengerti maksud saya Bar,"
"Berjanji lah untuk tidak membuat masa depan Liyuna menjadi suram. Saya hanya ingin Liyu menikmati masa mudanya, dan menggapai cita-citanya tanpa ada tekanan," lanjut Bara meminta janji agar Bara tidak berpikiran untuk menikahi putrinya.
Bara berpikir sejanak. Ia ingin berjanji, untuk tidak memiliki harapan itu lagi. Tapi kenapa rasanya sulit untuk mengatakan itu.
"Gue, gu-"
"Maaf- maaf gue salah orang!"
tiba-tiba suara yang terdengar akrab ditelinga Ayan terdengar, membuat pria itu menoleh dan mendapati anaknya sedang meminta maaf.
"Liyu!" panggil Ayan.
yang di panggil membulatkan matanya saat melihat ada papanya berada di lokasi yang sama.
apa papanya itu juga akan menemui Bara?
"Maaf ya," setelah mengatakan itu dengan kencang Liyuna berlari.
Bagaimana bisa ia berhadapan dengan papanya?
bisa mampus dirinya kalau ketahuan sedang ingin menemui sosok yang ia anggap sudah seperti suaminya.
papanya selalu menentang dan marah jika ia berhubungan dengan sosok Bara.
"Sepertinya Liyu datang ke sini untuk menemui kamu Bar, apa kamu bilang kalau kamu akan kembali?"
Bara yang masih dikagetkan dengan sosok gadis yang selama ini hanya bisa ia lihat dari ponsel dan saat melihatnya langsung, Bara seperti kehilangan kesadarannya.
walau hanya sebentar ia melihat wajah Liyu yang sangat menggemaskam.
"Bara kamu masih berhubungan sama Liyu?" tanya Ayan lagi membuat Bara tersadar kemudian mencerna apa yang dikatakan Ayan baik-baik.
"Mana mungkin gue berhubungan sama Liyu, ini pertama kalinya gue liat dia." kata Bara menjelaskan.
Ayan menghela napas berat.
__ADS_1
lalu memijat pelepis alisnya.