
...Ketidak berdayaanku....
...Membuatku harus kehilanganmu. Dan kebodohanku, membuatmu harus membenciku....
^^^Ayan Faizđź’•^^^
Ayan pov
Menyandarkan tubuhku ke sofa, aku meringis seraya memijat pangkal hidungku sesekali.
Satu tanganku yang lain bergerak untuk mengendorkan dasi berwarna merah maron itu dengan gerakan cepat entah kenapa Hawa di sekelilingku berubah panas. Dadaku sesak, hingga ku buka tiga kancing kemejaku yang paling atas.
Karena terlalu pusing aku lupa keberadaan Loli di sampingku. Dia sekertarisku, beberapa jam yang lalu. Dia cantik, dan entah kenapa sedari tadi wanita itu terus melirikku.
"Bapak butuh bantuan saya?" tanya Loli yang langsung ku angguki.
"Ambilkan saya air," titahku.
Dengan cepat wanita berpakaian seksi itu berjalan ke arah pintu. Aku menggeleng saat melihatnya.
Beberapa menit setelahnya, Loli datang dengan segelas air di tangannya. Kedua sudut bibir wanita itu terangkat.
"Ini minumnya pak," ujarnya sambil menyodorkan gelas yang berisikan air itu ke arahku.
"Terima kasih," ucapku dengan wajah datar. Dia tampak tersenyum.
Lalu setelahnya aku mulai meninun air putih itu hingga habis.
"Kamu boleh pulang," kataku memerintah. Lalu dengan penuh ke hati-hatian aku meletakan gelas kaca itu di atas meja.
"Dan satu hal lagi, besok-besok tolong kalau masih mau kerja sama saya. pakaian kamu itu di jaga," kataku sambil menggeleng.
"Saya tidak suka melihat aurat wanita selain istri saya,"
Loli menekuk wajahnya sedih.
"Baik pak," balasnya. Detik setelahnya wanita itu pergi dari ruangan kerjaku.
Menghembuskan napas penuh beban. Perlahan aku mulai bangkit dari kursiku.
Mengamati sekelilingku yang terasa sepi aku mulai merasa sedih. Aku rindu dia...
Aku rindu mendengar suaranya...
Aku rindu akan harum tubuhnya...
Menunduk aku melihat wanitaku baru saja pergi meninggalkan kantor.Wajahnya tampak murung dan matanya sembab. Wanitaku habis menangis.
Mencoba menggapainya dari jarak yang terlalu jauh teryata itu sulit. Lebih sulit ketika saat aku bertugas waktu dulu di Riau.
"Maaf Falia," kataku sambil terus menatapnya.
Satu menit, dua menit. Usai kepergiannya. Kedua mataku enggan pergi menatap jalan raya dari atas gendung.
bibirku melengkung ke bawah.
"Karena ketidak berdayaanku membuatmu terluka,"
__ADS_1
"Aku tidak ingin datang jika keberadaanku hanya membuatmu terluka. Akan tetapi takdir? Sekali lagi Takdir menyuruhku untuk tetap datang ke tempat ini,"
"Aku bahagia melihatmu terlihat baik, tanpa aku di samping kamu,"
"Tapi aku tidak suka melihat kamu yang sekarang," wajah Ayan menjadi murung.
"Sangat rapuh dan mudah menangis,"
"Kesalnya itu semua karena aku penyebabnya," ucap Ayan lalu mengusap wajahnya kasar.
"Ayan, kamu serius berkata akan menceraikan Hani?"
"Aku serius ma,"
"Kamu tidak waras? Hani lagi koma loh Yan, gimana perasaan Hani nantinya ketika sadar dia mengatahui jika kamu telah menceraikannya?!"
"Dia akan baik-baik saja bun."
"Ayan bunda kecewa sama kamu!"
"Mama juga kecewa sama kamu Yan,"
Aku meringis saat ingatan itu kembali muncul membuat air mataku mengalir tanpa di perintah.
"Aku memang anak sekaligus suami yang mengecewakan," kataku sambil memukul cendela besar yang terbuat dari kaca itu dengan keras.
"Kak Ayan!"
Aku menengok ke belakang. Mataku membulat tidak percaya, melihat adik kecilku itu kini sudah tumbuh sekaligus berubah menjadi pria yang mengagumkan tidak sepertiku.
"Kak, kok bisa?" tanyanya seolah tidak percaya.
"Syut.. ini rahasia, jangan bicarakan itu disini," selaku dengan suara membisik.
"Maaf, soalnya aku gak nyangka kakak bisa balik lagi ke Indo," kata Keno lalu tubuhnya mulai menubruk tubuhku. Kedua tangannya memeluk tubuhku dengan sangat kuat.
"Masya Allah. Kamu punya otot sekarang? Padahal dua tahun yang lalu tubuh kamu masih kerempeng," kataku bercanda. Aku tertawa tanpa sadar air mata juga ikut mengalir bersamaan dengan tawaku.
"Ya kan, kakak juga sekarang makin buntal." katanya mengejek. Padahal yang di katakannya itu adalah kebalikannya.
Tubuhku kurus, perut kotak-kotak yang di perutku perlahan mulai menghilang. Sangking kurusnya.
"Jangan mengejekku seperti itu," kataku sambil membalas pelukannya.
"Oh ya," sela Keno.
"Hani? Jika kak Ayan berada di sini berarti?"
"Iya aku sudah bertemu dengannya," ucapku sambil menunduk.
Aku meringis lalu mengambil sebatang rokok di saku celanaku. Dan juga korek api di sana.
"Kak sejak kapan kakak merokok?" tanya keno dengan dahi berkerut.
"Sejak kapan ya? Kakak lupa kalau tidak salah, saat mengundurkan diri menjadi tentara," kataku sambil tertawa. Lalu aku mulai menyalahkan korek api itu ke arah bibirku yang mengapit sebatang rokok.
"Maaf, jika bukan karena aku dan wanita sialan itu mungkin hidup kakak dan Hani tidak akan seburuk ini." ucapnya merasa bersalah. Membuatku geram karena perkataannya mengingatkan ku akan periatiwa itu. Peristiwa yang membuatku harus berpisah dengan Falia.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan Ken, justru kakak senang saat itu ada kamu. Berkat kamu Fal-"
"Sudah lupakan saja,"
"Kak, Bagaimana dengan wanita itu?"
"Kamu jangan urus dia, masalah Putri biar kakak yang urus." kataku agar Keno tidak terlalu cemas.
Setelah ngobrol panjang lebar bersama Keno. Aku tidak menyadari jika sedari tadi ada gadis imut sedang mengintip dari sela pintu. Mengernyitkan dahi, aku menjadi penasaran.
Lalu aku mulai berjalan menghampirinya.
"Hei kamu cari siapa?" tanyaku membuat gadis itu kaget lalu terjatuh.
"Aduh..." ringisnya kesakitan.
Keno yang mendngar itu langsung keluar menyusulku untuk melihat.
"Dita? Lo ngikuti gue?" tanya Keno dengan ekspresi terkejut.
"Kamu kenal sama gadis itu?" tanyaku kepo.
"Kenal," kata Keno sambil membantu gadis itu berdiri.
"Terima kasih," lirih Dita yang hampir terdengar seperti gumaman.
"Pacar kamu ken?" tanyaku dengan alis menyatuh.
"Bukan. Dia temanku," elak Keno.
"Beneran kamu temannya Keno?" tanyaku sambil melirik gadis imut itu dengan tatapan menyelidik.
"Beneran kak, dia teman satu timku," sela Keno. Menjawab pertanyaan yang seharusnya Dita yang menjawab.
"Bilang iya aja apa susahnya?" gumamku lalu melirik gadis imut itu yang sedari tadi menunduk.
Dia seperti Faliaku...
Bedanya mungkin. Falia terlalu bar-bar tidak seperti gadis bernama Dita.
"kamu tentara juga?"
"Masih calon om," katanya.
Tunggu! Om katanya?
Astaga apa wajahku sudah terlalu tua hingga dia memanggilku dengan sebutan Om.
"Jangan panggil saya Om, kamu mengingatkan ku tentang dia,"
Aku membulatkan mataku tidak percaya, tanpa sadar aku kembali mengenangnya.
"Dia siapa om, istri om?" tanyanya.
"Ta," Keno menggeleng.
Bagus membuatku tidak harus menjawab pertanyaan gadis itu.
__ADS_1
"Ken, kamu pacaran aja dulu. Kakak mau lanjuti pekerjaan kakak yang menumpuk," kataku sambil menepuk punggung tegapnya dua kali.
"Dia bukan pacarku!" protes Keno yang ku balas dengan tawa.