
Susuai janji, Ayan datang ke rumah orangtuanya. Dengan membawa Putri beserta Hani, ikut bersamanya.
Padangannya lurus menatap Gilang di depannya. Yang saat ini tengah memasang wajah datar.
"Sudah buat pilihan?" tanya Gilang yang di angguki Ayan.
"Papa harap kali ini sesuai dengan keinginan Papa," tekan Gilang seraya melirik Hani di samping Ayan.
"Jadi apa pilihanmu?" tanyanya lagi.
"Ayan ingin tetap menjadi tentara Pa," ujar Ayan menjelaskan. Kalau keinginannya tetap sama yaitu menjadi seorang tentara, tidak bisa di hentikan.
Pilihan Ayan membuat Gilang murkah, pria itu bangkit kemudian melayangkan tangannya ke pipi Ayan.
Plak!
"Anak gak tau diri!" teriak Gilang murkah.
"Papa!" teriak Rosita mencoba untuk menahan suaminya.
"Jika kamu tetap memilih menjadi tentara, lalu siapa nantinya yang akan menjaga perusahaan Papa?!"
"Putri om," sela Putri.
"Kamu?" kilah Gilang tak percaya.
Permainan macam apa yang sedang putranya itu mainkan?
"Iya om," sahut Putri.
"Benar Pa, Putri nantinya yang akan mengurus perusahaan. Bukan kah kalian sudah menganggap Putri seperti putri kalian sendiri." tutur Ayan.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaan dia menjadi tentara?!"
"Masalah itu. Putri sudah berhenti menjadi tentara om, bukan kah om yang bilang. Usia putri seharusnya tidak bermain dengan sinar matahari, tetapi saatnya untuk untuk bersenang-senang," jelas Putri.
"Putri masalahnya gak sesimpel itu, pekerjaan ini apa kamu yakin akan bisa melakukannya dengan baik?"
"Om sebelum ini, Putri sudah di ajarkan oleh Papi, tentang bagaimana caranya untuk berbisnis mengelola suatu perusahaan,"
"Jadi insyallah Putri pasti akan bisa. Beri Putri satu kesempatan untuk membuktikannya, jika Putri gagal maka Ayan yang akan menggantikan Putri." tutur Putri membuat Gilang percaya dengan ucapannya barusan.
Melirik Ayan sekilas, pria itu memejamkan matanya sejenak. Memijat kepalanya kemudian kembali membuka matanya.
"Baiklah ... hanya satu kesempatan," tandas Gilang.
Mendengar itu Putri reflek memeluk Ayan di sampingnya. Membuat Hani yang melihat itu langsung memasang wajah kesal.
"Terima kasih banyak om," ujar Putri. Gadis itu kikuk saat Hani menatapnya.
Gilang melirik Rosita di sampingnya memberi kode melalui matanya, untuk segera membawanya ke kamar untuk istirahat. Melihat itu Rosita dengan cepat menuntun suaminya.
__ADS_1
senyumnya memudar saat menatap gadis yang kini berstatus sebagai istri Ayan. Melepaskan tangannya yang tadinya memegang tangan Ayan.
"Maaf," ucapnya lirih. Wanita itu menjadi teringat dengan kejadian satu jam yang lalu, sebelum mereka sampai ke-kediaman Gilang.
Flash back on
"Om mau kemana?" tanya Hani penasaran.
Ayan menghentikan langkahnya menoleh pria itu tersenyum,"Membuat pilihan." ujarnya.
"Boleh saya ikut?" tanya Hani ragu.
Ayan mengedipkan 1kali matanya. Mengangguk pertanda mengiyakannya.
Setelah berbicara dengan Hani, Ayan mempunyai rencana yang nantinya akan menguntungkan untuknya dan juga untuk papanya. Karena itu Ayan memutuskan untuk pergi ke rumah Putri.
Setelah sesampainya mereka berdua di rumah Putri Ayan buru-buru langsung mengetuk pintu rumah Putri tak lupa untuk mengucapkan salam terlebih dahulu.
"Assalamuallaikum,"
"Waalaikumsallam," balas sang pemilik rumah dari dalam.
"Eh Ayan? Tumben dateng malam-malam gini?"
Tumben? tanya Hani dari dalam hati. Menatap Ayan dan Putri secara bergantian.
"Maaf mengganggu tapi maksud aku datang ke sini, ingin meminta bantuanmu Put,"
Memandangi Hani dari atas sampai bawah.
Ayan tersenyum, kemudian merangkul pundak Hani lembut. Menariknya supaya lebih dekat dengannya,"Perkenalkan namanya Falia Hani, istriku."
Putri membulatkan matanya, gadis itu tersedak oleh air ludahnya. Terkejut saat Ayan memperkenalkan Hani sebagai istrinya,"Huk..huk.." Putri menutup mulutnya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Ayan seraya menepuk-nepuk pundak Putri.
"Aku gak papa kok Yan," ujar Putri.
Wanita itu kembali mengamati gadis di depannya. Yang tidak memakai riasan sedikitpun. Gaya tomboy di tambah tingginya yang hanya sebatas pundaknya. Membuat Putri tidak menyangkah kalau gadis ini adalah tipe selerahnya Ayan selama ini?
Oh My God!
"Assalamuallaikum," sapa Hani. Sedikit berdercak. Tidak nyaman saat Putri terus menatapnya.
"W-waalaikumsallam," jawab Putri sedikit canggung.
"Silahkan masuk," ujar Putri mempersilahkan.
"Mau minum apa?" Putri menendang selimut dan tisu yang bertebaran di lantai, meringis saat melihat Ayan menatapnya,"Maaf jika rumahnya berantakan,"
Ayan mengulas senyuman hangat. Menatap Putri kemudian berkata,"Kamu bicara kayak sama siapa aja?" tutur Ayan.
__ADS_1
"Duduk saja dulu. Ada yang mau aku bicarain hal sangat penting denganmu," sambungnya.
"Baiklah," Putri mendudukan bokongnya ke sofa, melirik Hani yang tengah memutar bola matanya malas.
"Maaf jika aku egois, tapi bisakah aku meminta tolong denganmu tentang Papa?"
"Silahkan, bukankah kita sahabat?" balas Putri.
"Ini tentang perusahaan," jelas Ayan.
"Ada apa? Apa perusahaan om gilang mengalami kebangkrutan?" tanya Putri panik.
"Bukan," Putri menghembuskan napas lega. Wanita itu kembali mendengarkan Ayan,"Tapi masalahnya papa ingin aku meneruskan perusahaannya--"
"Lalu? Bukan kah itu bagus?" sela Putri.
"Masalahnya kan kamu tau sejak lama. Jika aku mencintai perkerjaanku sebagai tentara lalu bagaimana sekarang aku bisa mundur setelah aku berhasil mejadi seorang tentara," jelas Ayan melemah.
Putri tampak berpikir sejenak, mengelus dagunya Putri mulai memikirkan cara.
"Bagaimana jika aku saja yang menggantikan posisi kamu menjadi pemimpin perusahaan. Dengan begitu kamu tetap bisa menjadi seorang tentara," ide Putri.
Ayan menggeleng,"Tidak Put, jika kamu menggantikan aku lalu bagaimana dengan propesi kamu sekarang?"
Putri tersenyum miris, wanita itu menundukan kepalanya."Disana terlalu banyak kenangan jadi aku memutuskan untuk keluar."
Ayan mengerti dengan maksud wanita itu bermaksud untuk menyindirnya. Dan Kali ini Ayan melihat Putri mencoba untuk melupakannya. Dan ayan menghargai itu.
"Maaf," Ayan berliri sedih, matanya menunduk dalam tidak berani menatap mata Putri.
"Ini bukan salahmu ...." Putri menepuk tangannya sekali,"Baiklah kapan kita akan urus masalah ini?" ujar Putri bersemangat.
"Sekarang," kilah Ayan.
"Tunggu sebentar aku mau bersiap-siap dulu," ujar Putri seraya menunjuk pintu kamarnya. Yang di angguki Ayan.
Flash back of.
"Terima kasih Put," Ayan bersuara membuat Putri tersentak kemudian tersadar dari lamunannya.
Tersenyum wanita itu berkata,"Jangan lupa traktir aku setelah ini!" seru Putri.
"Siap bos!" balas Ayan membuat Putri tertawa.
Begitu pun dengan Ayan.
Suasana di penuhi canda maupun tawa Ayan dan Putri. Sementara Hani, gadis itu terdiam di tempatnya. Memperhatikan suaminya dengan wanita lain.
Tiba-tiba hatinya berdenyut sakit. Matanya memanas menahan tangis yang sedari tadi mau tumpah.
apa ia lagi cemburu sekarang?
__ADS_1
Selesai...