Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 43


__ADS_3

Hani terkekeh geli, ketika mengingat pembicaraanya dengan Putri 15 menit yang lalu. Teryata selama ini Hani sudah salah paham mengenai hubungan Ayan dan Putri. Setelah ke sini ia semakin yakin jika Putri itu adalah orang yang baik. Ia melihat sesosok kakak perempuan yang selama ini tidak pernah ia lihat.


Tutur katanya yang lembut, serta bahasanya yang sopan. Membuat gadis itu semakin nyaman bila berada  di dekat Putri.


Melihat istrinya  yang senyum-senyum sendiri, membuat pria yang kini sedang menggosok-gosok rambutnya yang basah sehabis keramas. Dengan handuk, pria itu kini mengernyit bingung, berjalan mendekati Hani yang sedang sibuk membuka tali sepatu sekolah yang hanya tersisah satu.


Berjongkok pria itu melilitkan kedua tangannya ke perut istrinya di susul kepalanya yang bersadar di pundak Hani. Pria itu ikut terseyum.


"Ada apa? Sepertinya kamu terlihat sangat bahagia?" tanyanya dengan suara lirih. Matanya terpejam, dengan bibir yang masih tersenyum. Pria itu mencium aroma tubuh Hani dalam-dalam. Tersentak Hani mendorong Ayan menjauh darinya.


Jatuh terduduk di lantai, pria itu terkekeh geli. Reaksi macam apa ini? Sunggu Ayan tidak mengerti.


"K-kamu," Hani menutup wajahnya yang memerah,"K-kenapa gak pakai," jeda tiga detik, gadis itu mengintip pria di depannya yang hanya memakai celana santai. Namun, bagian atasnya pria itu tidak memakai apa-apa. Membuat Hani menggelengkan kepalanya untuk kembali menyadarkan kendali alam bawa sadarnya, yang saat ini melayang membayangkan apa saja.


Tertawa Ayan menjitak kepala istrinya pelan, pria itu membuka kedua tangan Hani kemudian tersenyum lebar.


"Mikir apa?" sentak Ayan, membuat Hani meringis karena malu. Gadis itu mencoba memalingkan wajahnya yang saat ini sudah memerah.


"Falia," panggil Ayan lembut.


Tidak ada respon dari orang yang di panggil. Membuat Ayan meyeringai geli. Tangannya bergerak ke atas untuk menarik lembut rahang istrinya.


"Falia, tatap aku," ujar Ayan.


Menggulum bibir bawahnya, perlahan Hani mulai memberanikan diri untuk menatap Ayan.


"Ak-"


Ucapannya terhenti ketika Ayan tiba-tiba membungkam mulutnya dengan tangan besar pria di depannya. Matanya membulat ketika perlahan bibir Ayan mendekat ke arahnya.


Cup..


Ayan mencium tangannya yang mejadi pembatas antara bibirnya dan bibir Hani. Tersenyum lembut pria itu berkata,"Aku mencintaimu..." ungkap Ayan. Mengedipkan matanya sekali pria itu membantu melepaskan sepatu yang masih terpasang di kaki kiri istrinya. Melepaskannya dengan penuh ke hati-hatian, membuat tubuh Hani terasa mati rasa. Jantungnya berdetak tidak karuan, kini tangannya menyentuh pundak pria di depannya.


"A-aku, A-Ayan aku bisa m-melakukan ini se-sendiri," ujar Hani dengan terbata-bata. Satu tangannya menolak bantuan dari Ayan.


Hani merasa tidak enak hati jika Ayan menyentuh kakinya, bukan kah itu sangat tidak pantas? Jika suami menyentuh kaki perempuan selain ibunya.

__ADS_1


"Syuttt..." Ayan mengedipkan sekali matanya, memberikan kode melalui matanya agar Hani tetap diam.


Setelah melepaskan sepatu di kaki Hani, pria itu mendongak menatap wajah Hani yang memucat. Sepertinya gadis itu sedari tadi tengah menahan napasnya. Tersenyum pria itu merogoh benda kecil di celana santainya yang berwarna hitam.


Meraih benda kecil berukuran panjang, pria itu berkata,"Tutup mata kamu," kata Ayan dengan nada lembut.


"T-tapi-"


"Tutup saja," potong Ayan,"Percaya padaku," lanjutnya. Membuat istrinya itu tidak bisa berkutik dan langsung menuruti perintah suaminya.


Merasakan sentuhan di bagian kakinya, gadis itu meringis merasakan sensasi geli ketika Ayan menyentuhnya.


"Sudah," ujar Ayan. Sontak membuat Hani buru-buru membuka matanya, senyum bahagia terbit dari bibirnya. Karena terlalu senang gadis itu langsung memeluk pria yang hanya bertelajang dada itu dengan bahagianya.


"Terima kasih, aku suka," ucap Hani kegirangan. Sangking girangnya gadis itu mencium pipi Ayan berulang-ulang.


Teryata benar. Tentang Ayan yang akan memberikannya hadiah itu memang nyata, walau sudah tau di awal, tidak membuat Hani terlihat biasa saja. Di lihat dari tingkahnya sekarang gadis itu lebih mirip seperti di kasih sesuatu yang mewah seperti berlian. Padahal Ayan hanya memberikannya  gelang kaki, dengan mainan lumba-lumba dan bintang di tengah-tengah rantai yang panjang berwarna putih yang saat ini melingkar dengan sangat indah di pergelangan kakinya.


"Ehem..." Ayan berdehem ketika netranya menangkap sesosok wanita yang sedang besembunyi di balik pintu apartemennya, dan ia tau siapa orang yang bisa dengan mudahnya membuka pintu apartemennya tanpa permisi. Mendengar Ayan berdehem sontak membuat gadis itu langsung melepaskan pelukannya. Menutup mulutnya gadis itu tertawa.


"Maaf..." ujar Hani merasa malu.


"Jujur aku suka kalau di peluk sama kamu terus, tapi. Boleh gak nanti malam di lanjuti lagi, soalnya di belakang kamu ada Putri,"


Tersentak saat Ayan menyebut namanya, seketika membuat Putri langsung keluar dari persembunyiannya.


Wanita itu mengangguruk pelepis alisnya, kemudian menatap Ayan dan Hani secara bergantian.


"Ayan kenapa kamu memberi taunya? lihat sekarang dia malu," Putri melirik Hani,"Maaf ya mengganggu kalian," Putri mengulurkan ponsel Hani yang saat ini ada di tangannya,"Seharunya aku tidak datang. Kalau bukan karena ponsel kamu ini," ujar Putri.


Hani menggigit bibir bawahnya, menepuk jidatnya sekali. Gadis itu berdiri lalu berjalan ke arah Putri yang hanya berdiri di ambang pintu yang terbuka.


"Maaf," ucap Putri lirih.


Hani menutup setengah wajahnya malu, tersenyum gadis itu menarik tangan Putri untuk mengajaknya mengobrol di luar.


"Wajah kamu, memerah tuh," ejek Putri sambil terkekeh.

__ADS_1


"Ya kan? Hua aku sangat malu. Tapi bahagia juga," Hani mengangkat kakinya kemudian menunjukan gelang kaki yang melingkar di pergelangan kakinya ke arah Putri.


"Sangat indah," kata Putri memuji.


"Akan aku jaga baik-baik."


"Aku akan menjaganya, sampai kapan pun," Hani melebarkan senyumannya.


"Suatu saat aku akan merebutnya,"  kata Putri dalam hati.


"Terima kasih mbak," ujar Hani. Membuat Putri mengangkat alisnya sebelah lantas bertanya.


"Mbak?" Wanita itu terkekeh. Menepuk pundak Hani sekali, Putri kembali berkata,"Panggil aku Putri, jangan mbak. Serasa aneh gitu dengernya," jelas Putri. Sontak mengundang tawa dari gadis di depannya.


Melihat itu dari dalam ruangan Ayan, tersenyum bahagia. Kedekatan Hani dan Putri membuatnya merasa tidak terbebani seperti dulu.


"Aku pamit dulu ya, selamat bersenang-senang..." ujar Putri. Kemudian melambaikan tangannya wanita itu bergegas pergi menaiki lift yang saat ini sedang terbuka.


Melirik gelang kakinya kembali, gadis itu kembali tertawa.


Di dalam lift, Putri memasang raut wajah kesal. Melirik pria bermasker di sampingnya dengan sorot mata tajam.


"lo lihat dia?!, gadis kecil itu tertawa bahagia!" Memukul kuat dinding lift di sampingnya wanita itu berteriak.


"Dan itu semua karena lo selalu menunda-nunda kematiannya!" timpalnya murkah.


"Cukup! Jika lo gak mau bunuh dia?"


Menyeringai jahat, wanita itu mendorong tubuh pria di sampingnya, menarik kera baju kemeja sekolah pria itu ke atas.


Meniup wajah serta mata pria bermasker itu secara lembut wanita itu tersenyum bagaikan iblis. Detik setelahnya Putri kembali berkata,"Gue yang akan bunuh gadis kecil itu dengan tangan gue sendiri,"


"Gimana? menurut lo KENO ALVERO?"


TbC.


Gak usah syok😌

__ADS_1


Kenal Keno kan? 😂


__ADS_2