
Clek ....
"Bunda?" sentak Ayan saat melihat Rosita berdiri di depan apartementnya, sembari membawa satu rantang dan satu plastik berisi buah-buahan.
"Bunda datang kok gak bilang-bilang sama Ayan?" tanya Ayan sembari membantu Rosita membawa rantang dan plastik yang tadinya berada di tangan Rosita.
Rosita tersenyum, wanita itu melangkah masuk ke dalam rumah. Mengamati ruangan putranya, kemudian berkata,"Ya, kalau bilang-bilang namanya bukan kejutan lagi dong," ujarnya.
"Eh, menantu bunda mana?" sentak Rosita menyadari Hani tidak ada di rumah.
Rosita tersenyum penuh maksud, menunjuk ke arah kamar Ayan dengan dagunya,"Apa Hani berada di dalam kamar?" tanyanya.
Membuat Ayan langsung menggeleng,"Falia tidak ada di rumah bun," jelasnya.
"Loh kemana? Udah malam loh ini," tanya Rosita lagi.
"Katanya mau ke indomaret bun." ujar Ayan terpaksa berbohong. Sejujurnya pria itu tidak mengetahui kepergian Hani. Saat dia pulang rumah sudah kosong, tidak ada siapapun di dalam rumah. Termasuk Hani.
"Oh, kamu sudah makan?" tanya Rosita.
Ayan menggeleng pelan."Belum," balasnya.
Rosita menghela napas.
"Kebetulan bunda tadi masak terlalu banyak. Jadi maksud bunda kemari mau kasih kalian masakan bunda," jelas Rosita sembari menyusun makanan di atas meja.
"Makasih bun," cicit Ayan.
1 jam berlalu. Akhirnya Rosita memutuskan untuk pamit. Walau sebenarnya wanita itu ingin menunggu Hani, sebelum dirinya pulang ke rumah. Namun, apa daya menantunya itu belum juga pulang.
Setelah kepergian Rosita, Ayan langsung menjatuhkan dirinya ke sofa. Meringis sambil memijat pangkal hidungnya. Detik setelahnya pria itu kembali menegakkan tubuhnya, kemudian melirik jam yang melingkar pas di tangannya.
Sudah pukul 10 malam. Tapi Hani juga belum pulang. Pergi tanpa kabar dan sampai saat ini juga belum pulang.
Mendesah pelan, pria itu bangkit. Lantas pergi meninggalkan apartementnya.
Hampir 20 menit pria itu menunggu di depan halaman apartementnya, dengan menggunakan baju sebatas lengan tangan. Tanpa menggunakan jaket sebagai penghangat, pria itu kini menggosok-gosokan kedua telapak tangannya. Meniupnya sesekali dengan kedua netra pokus menatap gerbang di depannya.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya seorang satpam yang sedari tadi memperhatikan Ayan hanya mondar-mandir di tempat.
"Apa bapak sudah melihat istri saya pulang?" tanya Ayan.
"Nona Hani?" sentak satpam itu matanya menatap kanan dan kiri. Hingga netranya berhenti di satu titik, di mana dia menangkap suatu pemandangan dimana ada seorang gadis dan pemuda yang baru saja datang dengan menggunakan motor.
"Apakah itu nona Hani?" tunjuk satpam itu ke arah Hani dan Boby.
Ayan mengikuti kemana arah jari satpam itu menunjuk. Matanya menajam serta kedua tangannya mengepal kuat, menatap Hani dan Boby kini tengah tertawa bahagia. Membuat Ayan marah karena Hani tertawa dengan pria lain selain dirinya. Saat ini pria sedang menahan amarahnya.
"Assalamuallaikum," tegur Ayan.
__ADS_1
Yang di tegur langsung menghentikan tawa mereka. Kini keduanya menatap Ayan dengan kedua manik membulat.
"O-om Ayan?" gumam Hani.
"Sudah? ayo masuk." ajak Ayan. Pria itu menarik tangan Hani lembut.
Mengajaknya untuk masuk ke dalam apartementnya.
Hani tersentak lantas mengibas-ibaskan tangannya ke udara memberi kode agar Boby segera pergi.
Sesampainya mereka berdua di dalam apartement. Ayan langsung memberikan Hani makanan, Menyuruhnya untuk makan.
"Ayo makan," titah Ayan.
Hani yang tadinya menunduk dalam. Kini gadis itu langsung mendongakan kepalanya untuk menatap pria di depannya.
"Om sudah makan?" tanya Hani yang hampir tak terdengar.
"Sudah," balas Ayan sambil melangkah pergi menuju ruangan kerjanya.
"Om mau kemana?" sentak Hani. Ayan menghentikan langkah kakinya.
"Kerja," sahut Ayan singkat kemudian pria itu kembali berjalan.
Hani menghela napas berat. Menjatuhkan dengan sengaja kepalanya ke atas meja, mendorong piring di sampingnya menjauh dari pandangan gadis itu.
"Tuh om pasti marah sama gue," grutu Hani.
Menghela napas lagi, gadis itu perlahan menidurkan kepalanya ke bantal. Menggulum bibir atas dan bibir bawahnya Hani kini memejamkan matanya.
Ayan kembali membuka matanya, pria itu bangkit sambil menatap wajah Istrinya yang tengah tertidur.
"Apa saya berhak marah terhadap kamu?" tanya Ayan dengan suara lirih.
Meringis, pria itu lalu berdiri menatap Hani sekilas. Detik setelahnya berjalan menuju ke arah kamar mandi.
...****...
"Om," panggil Hani.
Yang di panggil hanya diam sambil menikmati sarapannya.
"Suami om!" panggil Hani lagi.
Ayan mendongak, menatap Hani sekilas kemudian mendorong sayur bayam di depannya ke dekat Hani.
"Makan sayur itu baik," ujarnya membuat Hani langsung tersenyum lebar.
"Siap om!" sahutnya bersemangat lantas menyantap sayur yang di beri Ayan untuknya.
__ADS_1
"Pelan-pelan," ujar Ayan. Yang diangguki Hani.
Setelah selesai sarapan pagi Ayan langsung mengantar Hani ke sekolahnya. Sesampainya ke sekolah Hani menatap Ayan lama. Detik setelahnya gadis itu turun dari mobil Ayan.
"Om aku masuk dulu ya," kata Hani sambil membungkuk untuk menatap Ayan di dalam mobil.
"Belajar yang giat!" seru Ayan. Hani mengangguk mantap.
"Sana masuk," usir Ayan.
"Iya-iya ...." balas Hani. Gadis itu kembali menegakan tubuhnya.
Melambai-lambaikan tangannya, Hani kemudian berlari masuk ke dalam sekolah.
Melihat itu Ayan langsung tersenyum. Memandangi punggung istrinya yang semakin menjauh.
Sesampainya Hani di dalam kelas. Gadis itu langsung mendudukan bokongnya ke kursi. Menatap kanan dan kiri. Gadis itu menghela napas.
"Kenapa orang-orang disini sangat membosankan," ucapnya lirih.
...****...
"Pagi pak," sapa para stap melihat Ayan berjalan melintasi mereka.
"Pagi," balas Ayan lembut.
Pria itu kembali berjalan memasuki life di depannya. Menekan nomor tujuannya.
Sesampainya Ayan di tempat tujuan pria itu mencoba mengatur napasnya. Tangannya sudah berada di Handle pintu bersiap-siap untuk masuk ke dalam ruangan.
"Assalamuallaikum," ucap Ayan saat memasuki ruangan.
"Waalaikumsallam," balas seorang pria yang rambutnya hampir semuanya beruban itu dengan wajah datar.
"Kenapa Pa panggil Ayan?" tanya Ayan to the point.
Pria benama Gilang. Yang tidak lain papanya Ayan itu pun langsung bangkit. Berjalan mendekati Ayan yang sedang berdiri.
"Sudah waktunya kamu menggantikan posisi papa, berhenti lah menjadi tentara." ucap Gilang sambil menepuk pundak putranya sekali.
Ayan menghela napas, menepis tangan Gilang dari pundaknya.
"Maaf pa, Ayan belum siap untuk menggantikan papa. Lagian Ayan lebih menyukai posisi Ayan sebagai tentara sekarang,"
Gilang berdecih, pria itu tidak menyukai posisi putranya sekarang.
"Belum siap? Atau tidak siap?!"
"Lebih tepatnya Ayan tidak ingin," potong Ayan.
__ADS_1
"Cih, apa karena Hani? Gadis itu? Papa menyetujuhi pernikahan kalian karena papa menghargai kamu. Apa untuk sekali ini keinginan papa tidak bisa kamu turuti? Cukup Ayan! Berhenti lah menjadi seorang tentara, atau kamu mau papa memisahkan kamu dengan gadis itu?!"