
"Roby kamu ngapain itu!"
sang pemilik nama seketika mematikan poselnya kemudian dengan senyum ceria ia menatap guru les yang tengah menatapnya tajam.
"Ni lagi liatin bidadari,"
Teman-teman yang berada dikelas yang sama tertawa.
"Bidadari kepala kamu! Sekali lagi gak fokus ibu aduin ke mama kamu!"
Roby menggaruk pelipis alisnya. Detik setelahnya ia melirik takut ke arah jendela, disana ada mamanya yang sedang melototinya.
seketika Roby langsung fokus pada penjelasan yang di jelaskan oleh Lisa. Guru Les untuk semua mata pelajaran.
dibalik, Roby yang mempunyai sifat humoris seperti papanya. Roby juga dituntut harus setidaknya juara satu dikelas. Gak harus juara umum seperti Dimas.
Walau begitu, gak sekali dua kali dirinya sering dibanding-bandingkan. Bukan sama anak tetangga tapi sama sahabat baik sendiri.
beda sama Liyuna yang dimana tuh anak gak harus dituntut jadi orang yang pintar.
asal rajin sekolah dan ngikuti mata pelajaran orangtuanya udah bangga.
lah Roby sama Dimas?
boro-boro.
gak Mamanya Roby. Kakeknya Dimas juga begitu.
bisa gak sih sekali kali mereka tukar posisi sama Liyuna?
Saat memikir kan itu tiba-tiba, Lisa berhenti menerangkan mata pelajaran yang kali ini mereka bahas saat wanita yang terlihat muda walau umurnya udah diatas 30 itu menerima telepon.
5 menit kemudian Lisa permisi.
dan kembali lagi dengan membawa seorang gadis seumuran Roby.
"Mohon perhatiannya bentar, ibu mau ngenalin Yuri yang baru bisa hadir pada hari ini."
Roby yang tadinya sedang bermain sama penghapus seketika mata cowok itu melebar melihat sosok gadis cantik yang memiliki lensa mata berwarna biru muda.
Rambut panjang dan lurus, serta memiliki hidung mancung dan juga kulitnya yang begitu putih.
Liyuna kalah jauh!
"Halo semua,"
Bahkan suaranya merduh sekali, lembut bikin adem saat orang-orang ngedenger.
beda udah sama Liyuna.
Yang ngomong kayak pakek Toa.
yang ini mah beda.
tipe idaman Roby pasti.
"Hallo," sahut semuanya.
Roby sibuk melambai-lambaikan tangannya.
sampai lupa sama mata tajam milik mamanya yang sedang menatapnya lewat jendela.
Yuri tersenyum mengembang.
"Kenalin nama aku Yuri Adriana, maaf baru bisa kembali belajar bersama kalian. Mulai hari ini aku akan giat belajar," ujar Yuri bersemangat.
Roby terus melambaikan tangannya.
Senyumnya ikut melebar.
Yuri melihat itu, seketika Roby menyentuh dadanya kemudian memberikan tanda hati ke Yuri.
__ADS_1
Yuri tersenyum.
"Karena ada masalah kesehatan Yuri sempat berhenti Les, dan hari ini Yuri akan mulai kembali. Mohon kerja samanya ya anak-anak!" kata Lisa meminta bantuan murid-muridnya agar baik kepada Yuri.
"Dut, geser!" bisik Roby kepada teman disampingnya.
Namanya Bagus, karena badannya berisi. Roby sering manggil Bagus gendut.
Bagus yang memang gak suka duduk sama Roby langsung pindah.
Roby tersenyum puas. Dan ia berdiri sambil menatap Yuri.
"Yuri kamu bisa duduk disini!" seru Roby sambil menunjuk kursi disampingnya.
"Jangan dia buaya!"
"Yuri kalau gak mau digombalin sama buaya mending jangan duduk disitu,"
"Roby mah buaya, banyak ceweknya!"
Mendengar komentar buruk tentang dirinya. Roby mengancam semua temannya itu lewat matanya.
Sekali lagi ia mengabaikan mata tajam mamanya yang sedang mengawasi sejak tadi dari jendela.
"Yuri duduk disini boleh kan?"
Saat yang lain sedang berkomentar buruk tentang Roby, gadis itu malah milih duduk disamping Roby.
tentu saja membuat Roby begitu senang menyambut kehadiran Roby.
"Yuri lo kok mau sih duduk disamping buaya?"
"Aku baru tau kalau buaya setampan ini?" sahut Yuri sambil menatap Roby.
semua terkecuali roby yang mendengar itu menggelengkan kepalanya.
"Udah-udah mari kita mulai kembali pelajaran yang sempat tertunda!" sela Lisa menengahi.
"Kamu gak percaya aku buaya?" bisik Roby bertanya.
"Kan akunya belum liat, jadi aku percaya kamu bukan buaya. Tapi manusia."
Roby mengerutkan keningnya mendengar itu. Apa buaya dalam artian teman-temannya dengan versi Yuri berbeda?
Entah lah, yang terpenting saat ini. Tanpa paksaan mamanya mungkin Roby akan sering rajin untuk Les.
...****...
Dimas berhenti melangkah saat melihat sosok pria yang sedang bertamu dirumahnya.
untung saja Liyuna sudah pulang. Jika tidak mungkin ini adalah awal pertemuannya dengan pria bernama Bara itu.
walau sudah tua, Dimas akui ... seperti papanya yang awet muda. Pria itu juga sama.
gak keliatan kalau umurnya lebih tua dari papanya.
"Dimas ya?"
Dimas tersentak saat tamu itu mencoba berkomunikasi dengannya.
"Iya,"
"Wah kamu udah gede ya, pasti Liyuna juga sama kay-"
Bara menggantung ucapannya. Tanpa sadar ia kembali mengingat Liyuna.
padahal Ayan sudah memberi peringatan.
"Kenapa gak diterusin om?"
Bara menggaruk tengkuk lehernya, sambil tersenyum malu-malu ia berkata.
__ADS_1
"Om kenal Liyuna?"
Bara yang tersenyum malu-malu itu seketika mamasang wajah datar.
"Om kalau kenal kenapa gak coba temui dia?" tanya Dimas dingin.
"Om tau, kalau gadis itu jadi gak waras karena om?" lanjutnya.
Bara yang mendengar itu mengerutkan keningnya.
"Gak waras? Maksud kamu?"
Tangan yang tadinya ada dileher perlahan terlepas dan tangan itu berpindah dipundak Dimas.
Dimas melirik jari manis Bara, kemudian berkata.
"Seharusnya Liyuna sadar, Istri yang udah ditempa dari lahir? Calon suami? Dan calon suami itu ternyata udah ada istri."
Bara kembali menarik tangannya.
"Terima kasih atas kunjungannya om, semoga beta dirumah ini dan kembali bertamu. Permisi," kata Dimas detik setelahnya pergi.
Melihat itu Bara berusaha memanggil, tapi Dimas udah pergi keluar dari rumah.
"H-hei Tunggu!"
tidak digubris. Bara mendesis lumayan keras, tak seharusnya ia tetap memakai cincin ini saat diluar.
Tapi kalau tidak memakainya Ayan bakal curiga. Dan pastinya ngelarang Liyuna bertemu dengannya.
tapi kalau Liyuna sampai tau, gadis itu akan meninggalkannya.
kenapa ini sangat membingungkan?
Diluar rumah, diperkarangan rumah Dimas yang tadinya hendak pergi dengan motornya dicegat.
"Tunggu!"
Dimas langung mengerem motornya.
dibalik helm, kening Dimas berkerut.
"Lo ngapain disini?"
"Gue mau buat perjanjian!" kata orang itu yang ternyata adalah Quenta.
dandanannya masih sama seperti yang Dimas temui ditoilet sekolah.
"Gue udah nonton banyak drama, lo mau gue jadi apa? Budak? Pacar? Tunangan? atau apa?"
"Minggir," usir Dimas.
"Gue serius, lo mau gue jadi apa?"
"Gue mau lo minggir!"
"Tapi lo gak bakal aduhin ke yang lain kalau gue ini cewek kan?"
"Gue gak perduli!"
"Gue gak percaya, sebelum lo buat perjanjian sama gue!"
"Gue gak perduli lo cewek atau cowok, intinya lo minggir!"
Quenta mengembungkan pipinya, lalu pindah posisi disamping motor Dimas.
"Lo beneran gak pe-"
belum selesai ia berkata, Dimas lagi-lagi pergi meninggalkannya.
"Lagi-lagi gue ditinggalin!"
__ADS_1
"Gak tau apa gue capek-capek kesini demi dia! Dia gak ngehargain banget!" kesal Quenta sambil menghentakkan satu kakinya.