Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
S2 Part 7


__ADS_3

"Liyuna!" pekik Hani ketika putrinya itu masuk sambil mengucapkan salam.


Ayan yang sedang duduk disofa sambil bermain ponsel kini pandangannya teralihkan.


pria itu berdiri.


Liyuna dengan langkah pelan mendekati mama dan papanya.


"Kamu dari mana aja? Mama nungguin kamu pulang sejak tadi."


Liyuna menjadi merasa bersalah.


kepalanya menunduk, dengan suara lirih gadis itu berkata.


"Maaf ma,"


Hani menghela napas, kemudian memeluk putrinya itu erat.


"Berulang kali papa memberi nasehat, untuk menjaga tingkah laku kamu sebagai wanita. Pulang selarut ini dan membuat mama dan papa khawatir, menurut kamu apa itu wajar?"


Liyuna semakin merasa bersalah.


"Kamu pikir lari dari keadaan, akan membantu kamu lolos dari pertanyaan?" Ayan menatap putrinya yang sedang menundukan kepala.


"Ayan, jangan terlalu keras sama Liyuna. Biarkan dia istirahat dulu, setelah itu kita bisa bic-"


"Apa yang mau papa tanya kan?" potong Liyuna sambil menatap Ayan.


"Pasti tentang om Bara kan? Liyu datang kesana emang mau ketemu sama Om Bara. Apa sekarang papa mau ngelarang Liyuna buat ketemu om Bara?" lanjutnya dengan manik mulai berkaca-kaca.


"Kamu sudah besar sekarang, sampai melawan papa kamu sudah berani?"


Liyuna menggelengkan kepalanya.


"Liyu hanya ingin jujur ke papa," katanya berusaha untuk berani.


"Liyu suka om Bara, Liyu pengen nikah sama om Bara ... apa Liyu salah? Kenapa papa selama ini selalu gak setuju kalau Liyuna dan om Bara bersama?" tanya Liyu kepada Ayan.


"Sebagai orangtua, papa hanya ingin kamu bahagia ...."


"Liyu akan bahagia kalau papa restuin hubungan Liyu sama Om Bara," sela Liyuna mempertegas.


"Kamu tau defenisi bahagia itu bagaimana Liyu? Jangan seperti papa, yang rela menghancurkan masa depan mama kamu demi keegoisan. Masa depan kamu masih panjang, Dan Papa tau pria mana yang pantas untuk kamu." ujar Ayan memberi nasehat dengan menjadikan dirinya sebagai contoh.


"Apa dimata papa om Bara gak pantas buat jadi pasangan aku?" tanya Liyu.


"Apa yang bikin papa berpikir kalau om Bara itu gk pantes?" lanjutnya bertanya serius.


"Kamu hanya bertemu Bara saat kecil, dan itu pun kamu belum tau pria seperti apa Bara itu ... dan setelah dewasa kamu mulai mendengar sosoknya dari mulut ke mulut. Papa yang paling tau sosok Bara seperti apa. Jadi papa paling tau dia itu pantas atau tidak untuk kamu."

__ADS_1


"Kamu masih kecil Liyu, jangan siksa diri kamu demi cinta yang hanya hadir untuk waktu yang singkat. Papa hanya ingin melihat kamu sukses dengan cita-cita kamu selama ini," kata Ayan tak henti-hentinya menasehati agar putrinya itu mau mengerti.


"Tapi pa, cita-cita Liyuna jadi istri om Bara," sahut Liyuna yang akirnya mewek.


"Kenapa kamu egois dan memaksakan seseorang yang bukan jodoh kamu?"


mendengar kalimat itu keluar dari mulut papanya, hati Liyuna mejadi sakit. Rasanya sesak saat papanya tidak merestui hubungannya dengan Bara.


"Setiap waktu Liyuna berdoa, Liyu juga berusaha biar Om Bara jadi jodohnya Liyu, kalau masih gak jodoh Liyu gak masalah kalau jadi perawan tua selamanya!" kata Liyuna sambil terisak-isak. Menatap papanya lama beberapa detik setelahnya gadis itu berlari menuju kamarnya.


"Liyuna kenapa kam-"


"Ayan, Liyuna masih kecil. Seiring bertambahnya waktu pasti Liyuna akan mengerti." ujar Hani agar suaminya itu mengerti.


"Sebagai seorang papa aku gak bisa membiarkan masa depan Liyu terancam, hanya karena keinginannya itu."


Hani menganggukan kepalanya, wanita itu tau kalau yang dilakukan Ayan sekarang semata-mata agar masa depan Liyu cerah.


"Iya aku ngerti, untuk sekarang kita biaran Liyu maunya gimana lagi pula Bara sudah mau menikah. Liyu pasti akan sadar nantinya," bujuk Hani.


"Istighfar Ayan, biar Allah yang menentukan takdir Liyuna," lanjut Hani.


mendengar itu Ayan pun segers beristighfar.


"Astaghfirullah, makasih Falia ...."


...****...


Yang ada dipikirannya saat ini semuanya tentang perkataan Dimas yang sangat mengganggu hati dan pikirannya.


Sampai apa yang Keno katakan sejak tadi, tidak ada satupun kata yang Keno lontarkan itu masuk ke dalam pikirannya.


Dirinya terlalu khawatir dengan Liyuna.


memang sejak awal seharusnya dia tau, setiap ucapan yang keluar dari mulut seseorang. Candaan atau bukan, itu adalah doa.


dan sekarang karena candaan bodohnya itu.


gadis tidak bersalah seperti Liyuna harus terjebak ditengah-tengah.


Wajar jika Ayan sekarang tidak suka dengannya.


Menghela napas, Bara menatap Keno yang masih berbicara.


"Keno gue boleh istirahat duluan gak?"


"Boleh kok kak Bar ...." Keno melirik istrinya yang sedang duduk disampingnya,"Aurel," panggilnya sambil memberikan kode melalui matanya. Agar istrinya itu mengantar Bara ke kamar tamu.


hari ini Bara akan menginap dirumahnya.

__ADS_1


Melihat itu Aurel segera bangkit dan seperti apa yang diperintahkan suaminya. Wanita itu mengajak Bara untuk pergi ke kamar tamu.


dan sesampainya disana.


"Terima kasih ya," kata Bara.


Aurel tersenyum kemudian menganggukan kepala.


setelah itu Bara pun masuk lalu mengunci pintu kamarnya.


kepalanya terus berdenyut nyeri.


perasaannya menjadi campur aduk gak jelas.


Bara menarik napasnya dalam-dalam. Kemudian menidurkan tubuhnya diatas kasur, sambil mengeluarkan ponselnya. Pria itu menatap gambar yang ada didalam layar ponselnya.


gambar gadis imut yang mengenakan kerudung pasmina. Sedang memeluk boneka dan menatap ke arahnya.


Melihat itu Bara tersenyum miris.


tak lama kemudian gambar itu bertukar menjadi panggilan telepon dengan ada nama Nana.


Bara dengan cepat menolak panggilan calon istrinya itu.


gak hanya sekali. Nana terus menelponya.


membuat Bara yang berulang kali terus menolak kini menjadi kesal.


Dan langsung mengangkatnya.


"Kenapa si lo harus jadi tunangan gue? Apa kurang jelas perlakuan gue ke lo selama ini?! kalau gue memang gak ada rasa apapun ke lo!"


"Maaf Bar, aku nelpon kamu karena penyakit papa kamu kambuh. Tapi sekarang sudah membaik. Aku cuma mau ngasih tau itu, maaf udah jadi pengganggu didalam kehidupan kamu."


Setelah itu panggilan diputuskan oleh Nana.


Bara yang mendengar itu seketika terkejut.


Karena terlalu kesal, Bara pasti sudah menyakiti perasaan Nana.


Melempar ponselnya ke sisi ranjang, Bara menekan begian kepalanya dengan lengan.


detik berikutnya pria itu menangis.


Antara perasaan dan tanggung jawabnya sebagai seorang anak.


lebih penting mana menurut Bara?


Bagi Bara keduanya itu sangat penting. Tapi Bara tidak diperkenankan untuk memiliki keduanya.

__ADS_1


ia harus memilih salah satu darinya.


ini sangat menyebalkan.


__ADS_2