Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 60


__ADS_3

"Jika ada yang menganggumu, segera telfon aku." ujar Argam, satu tangannya bergerak mengelus rambut wanita di depannya.


Menunduk, Hani mengembungkan mulutnya. Lalu memasang ekspresi tidak suka. Kehadiran Argam membuatnya tidak nyaman. Benar ya, ucapan dan tindakan itu sepenuhnya tidak sama.


Apa yang di ucapkannya kepada Ayan. Tidak sama seperti yang saat ini dia lakukan, setelah berpikir ulang, membuka perasaannya untuk pria lain selain Ayan. Teryata sangat susah, tidak semudah saat dia mengatakan akan melupakan Ayan. Kemudian belajar mencintai Argam. Yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya.


Mendongak, Hani mengerlingkan matanya. Mendadak ekspresi Hani berubah sesaat setelah melihat Ayan datang ke arahnya.


Mencekal tangan Argam, kemudian menggengamnya. Hani tersenyum lebar lalu dia pun berkata manis.


"Sayang, kamu tenang saja. Tidak akan ada orang yang berani menggangguku disini." kata Hani. Matanya bergerak melirik Ayan. Yang tampak bereaksi, pria itu cemburu. Dan ya ada kepuasannya tersendiri di hati Hani.


"Loli, Dengar. Setelah ini buat peraturan baru," tutur Ayan. Loli mengangguk pelan.


"DILARANG PACARAN SAAT JAM KERJA!" ucap Ayan sambil menekan di setiap katanya. Melintasi Hani dan Argam begitu saja.


Matanya menatap dengan sinis. Kedua mahluk di sampingnya.


Hawa di sekililing pria itu mendadak panas. Bagaimana tidak mendengar Hani memanggil Argam dengan panggilan sayang. Bahkan selama Ayan masih menjadi suami Hani, dia tidak pernah mendengar Hani memanggilnya dengan panggilan sayang.


Usai kepergian Ayan. Hani menghempas tangan Argam.


"Maaf sentuh kamu tanpa izin," kikuk Hani merasa kalau perbuatannya adalah salah. Dia sadar memanfaatkan Argam semata-mata agar Ayan cemburu. Itu perbuatan yang tidak benar.


"Iya, tidak apa-apa." balas Argam, sedetik setelahnya wajah pria itu merah padam. Melirik tangannya yang tadi habis di genggam oleh Hani.


"Ehm...kalau begitu aku masuk dulu ya?" izin Hani.


Tersentak. Dengan segerah Argam mengiyakannya.


Setelah mendapatkan izin. Hani segerah berlari masuk ke dalam kantor.


"Loli, kariyawan sekarang itu kalau gak di kasarin bisa ngelunjak. Liat bosnya udah masuk, eh dia malah asik pacaran. Apakah perbuatan seperti itu adalah suatu kebenaran?" sindir Ayan. Tubuhnya bersender di pintu. Dengan sepasang mata sibuk mengamati Hani yang baru sampai dan baru saja duduk di kursinya. Sedangkan Loli dia hanya menghela napas. Bingung, kenapa selalu namanya untuk memulai pembicaran dengan Hani.


Menghela napas kasar. Hani kembali berdiri.


Kemudian memberanikan diri untuk bertatap mata dengan Ayan. Setelah kejadian kemarin.


"Pak, jika ada masalah dengan saya. Tolong, bicarakan empat mata dengan saya. Jangan di depan semua kariyawan begini, lagian toh saya pacaran di luar kantor. Bukannya di dalam," kata Hani membela diri.


Bersedekap kemudian memasang ekspresi kesal. Rahang Ayan mengeras, perkataan Hani menyinggung harga dirinya.

__ADS_1


"Ikut saya masuk ke dalam!" ucap Ayan memerintah. Tiga detik setelahnya Ayan memalingkan wajah. Kemudian pergi masuk ke dalam ruang kerjanya.


Mendengus sebal. Hani hanya bisa pasrah, dia mengekori Ayan dari belakang.


Bergedik acuh. Loli melempar tatapan tajam ke arah kariyawan lain, yang malah sibuk menggosip di pagi hari seperti ini.


"Lakukan perkerjaan kalian. Jangan sibuk ngurusi masalah orang!" tegur Loli menegaskan.


...***...


Mengetuk-ngetukan bola kecil yang dia genggam ke atas meja. Ayan dengan tatapan marahnya dia mengamati gadis di depannya.


Tak!


Tersentak, Hani melebarkan mulutnya.


Manatap Ayan yang sudah berhenti mengetukan bola di atas meja.


Meletakan bola kecil itu ke atas meja. Tiga detik setelahnya Ayan bangkit kemudian dia berjalan perlahan ke arah Hani.


Ekspresi dingin Ayan membuat bulu kuduk Hani langsung meremang.


Hening di antara mereka. Membuat suasana semakin mencekam.


Ayan kembali menatap Hani.


"Panggil aku sayang! Sama kayak kamu panggil dia sayang!" printah Ayan.


Mendengar printah itu, seketika tawa Hani pecah.


"Hello pak Ayan Faiz! Dengar, anda siapa harus saya panggil sayang?"


Menggeram kesal. Dengan cepat Ayan menarik pinggang Hani agar mendekat. Di susul tangan kanannya bergerak mengelus bibir gadis yang saat ini sedang menengang.


"Dari dulu sampai sekarang, posisi saya di di hati kamu. Tidak akan pernah berubah, dan sekarang kamu bertanya siapa aku? Dengar," Ayan menyeringai kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Hani.


"Saya ini penghuni hati kamu," bisik Ayan. Lalu reflek menggigit pelan daun telinga Hani.


Mendesah pelan, dengan cepat Hani mendorong tubuh Ayan agar menjauh darinya.


Kata-kata, dan tindakan Ayan membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Ekspresinya berubah menjadi gugup.

__ADS_1


"Ada apa Falia? Saya benarkan?" tanya Ayan menggoda.


"Jika sama-sama saling mencintai? Kenapa tidak bersama saja?"


"Bersama?" Hani berjalan mendekati Ayan. Sorot matanya berubah tajam.


"Aku ingin bertanya, dimana Dan apa alasan kamu menghilang selama 2 tahun lebih ini Ayan?"


Hanya diam. Ayan hanya bisa memalingkan wajah.


Tertawa pelan. Berulang kali Hani menggelengkan kepalanya.


Wanita itu sudah menebak. Ayan pasti akan tetap diam, selamanya pasti akan tetap seperti itu.


"Falia, jika aku mengatakan yang sebenarnya. Alasan dan dimana aku pergi, apakah kamu mau kembali denganku? Apakah kamu masih mau mencintaiku, apakah kamu mau meninggalkan pria itu kemudian menikah denganku?" Ayan menatap Hani dengan tatapan teduh.


"Apapun yang kulakukan semuanya karenamu, sebelumnya aku sudah siap jika harus di benci olehmu." Ayan menepuk dadanya sekali. Bibirnya menyungging senyum penuh kepedihan.


"Awalnya rasa sakit hatiku ini masih bisa ku tangani sebelum aku bertemu denganmu, namun setelah bertemu denganmu kembali. Entah kenapa, hati ini menolak untuk ku tangani, hatiku selalu meminta agar dia di pertemukan dengan hatimu." mengatakan itu manik Ayan berkaca-kaca.


Kemudian tangannya bergerak menarik tangan Hani lalu mengenggamnya.


"Sebuah rahasia yang sudah lama ku simpan ini. Dengan mengetahuinya, apakah kamu akan masih mau menerimaku?"


Terdiam. Hani tidak bisa berkata-kata, ucapan Ayan membuatnya takut melihat dan mendengar suatu kebenaran.


Ayan tersenyum miris. Melihat Hani gugup saat ini,"Falia, dari awal. Dan sampai akhir nanti, aku akan selalu melindungmu. Jika harus mengorbankan nyawa pun, pasti akan aku lakukan." kata Ayan kemudian menangis.


Ikut menangis. Bibir Hani tertutup dengan sangat rapat. Kata-kata Ayan membuatnya habis kehilangan kata-kata. Seolah orang bisu yang tidak bisa berbicara.


Tersenyum penuh luka. Ayan menyentuh wajah Hani.


Menatapnya hingga puas, kemudian helaan napas terdengar dari deruh napas Ayan.


"Pergilah," usir Ayan sambil memalingkan wajah. Pria itu berjalan mundur dua langkah.


"Setelah hari ini aku tidak akan mengusikmu lagi. Aku akan menceritakan semuanya, kalau kamu benar-benar siap untuk mendengarkannya." kata Ayan. Dengan berat hati dia mengusir Hani agar pergi.


Hani menarik napasnya lelah,"Kenapa kamu selalu saja membuat aku bimbang Yan, sedetik yang lalu kamu memintaku untuk tetap bersamamu, lalu sekarang kamu memintaku untuk pergi. Kamu pikir aku ini mainan kamu?" tanya Hani. Keduanya saling bertukar pandang.


TbC.

__ADS_1


Yeh ada yang baper😂


__ADS_2