
"Aw ... aw ...." rintih Hani saat betisnya di sentuh oleh tangan Ayan.
"Apakah sangat sakit?" tanya Ayan yang diangguki Hani.
"Perluh saya bawa kamu ke rumah sakit?" tanyanya lagi. Kali ini Hani menggeleng, menolak tawaran Ayan.
Ayan mengehela napas. Menyetuh dengan hati-hati betis istrinya. Dan lagi-lagi Hani meringis saat tangan Ayan menyentuh betisnya.
"Bertahan lah, awalnya memang sakit. Nanti lama-lama juga akan sembuh," ujar Ayan. Pria itu memutar-mutar ujung kaki Hani Kemudian menekuknya dengan cepat tanpa Hani menyadarinya. Membuat kakinya tiba-tiba berdenyut sakit.
"Sakit banget om! Kalau patah kaki saya gimana?" ucapnya sambil menahan sakit.
"Maaf, coba kamu goyang-goyangkan kaki kamu." tutur Ayan. Awalnya Hani ragu, namun karena menatap wajah Ayan yang serius dan mengatakan ini akan baik gadis itu pun dengan pelan-pelan memutar-mutar ujung kakinya.
"Gimana?" tanya Ayan.
Hani melebarkan senyumannya. Reflek Memeluk tubuh Ayan erat-erat.
"Makasih om. Kaki saya sudah sembuh!" ucapnya kegirangan.
Tubuh Ayan membeku. Mendadak desiran darah mengalir cepat dari dalam tubuhnya. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Suhu tubuhnya berubah panas saat pertama kali tubuhnya di sentuh oleh Hani wanita yang sangat dia cintai.
"A-alhamdulillah," ucapnya setelah Hani melepaskan pelukannya.
Mengangguk cepat gadis itu mulai beranjak jalan. Namun tiba-tiba kakinya keseleo sehingga tidak dapat menyeimbangkan dirinya.
"Ah!" pekik gadis itu.
Brak!
Tubuh Hani menimpa tubuh Ayannkedua matanya melotot saat tangannya menyetuh dada bidang suaminya. Merasakan detakan jantung Ayan yang terdengar sangat jelas, membuat Hani buru-buru beranjak dari tubuh Ayan.
Berjalan pincang menuju kamarnya.
"Astaghfirulllah," ringis Ayan sambil menutup wajahnya memerah untuk sesaat pria itu membayangkan dirinya menyentuh tubuh istrinya.
Ayan menyadari jika dirinya juga pria normal. Tinggal dan tidur bersama Hani merupakan tantangan yang sangat sulit untuk pria itu lakukan. Dan sejauh ini dia masih bisa menahannya karena status pelajar yang masih melakat pada diri istrinya itu. Jika tidak mungkin pria itu sudah lakukan dari dulu kewajibannya sebagai seorang suami.
Meremas rambutnya frustasi. Pria itu memejamkan netranya. Membayangkan Hani tersenyum sambil memeluknya, rasanya sangat nyaman hingga tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
...****...
plak!
__ADS_1
Kepala Keno terhuyung ke samping, saat tangan kekar milik papanya mendorong pipinya dengan keras.
Menjilat sudut bibirnya yang mengeluarkan darah, pemuda itu membalas tatapan Veno. Seolah menantang untuk memukulnya kembali.
Geram Veno ingin meyerang putranya itu, Lagi. Namun, aksinya itu di hentikan oleh Darman yang menyaksikan pertengkaran ayah dan anak.
"Cukup pak, kasihan Keno. Tidak baik jika bapak memukulinya," tutur Darman menyelah aksi anak dan Ayah.
"Biar saja anak tidak tahu di untung sepertinya tidak pantas mendapatkan nama keluarga terhormat seperti Alvero!" semprot Veno geram.
"Selalu berulah. Membuat masalah. Nama Alvero berulang kali tercemar," Veno menunjuk putranya," Dan dialah biang keroknya!" semburnya penuh amarah.
"Namanya juga masih remaja pak. Wajar jika mereka berulah, sebagai orangtua kita harus bersabar." ceramah Darman. Mendorong tubuh Keno untuk pergi dari ruangannya.
Seperti perintah, Keno pergi dari ruangan Darman. Berjalan santai tanpa memperdulikan semua orang yang saat ini menatapnya dengan aneh.
Tamparan yang sangat keras membuat pipinya membekas berwarna merah. Itu lah sebabnya kenapa semua siswa kini memperhatikan Keno yang berjalan santai melalui mereka.
Senyuman nakal terbit dari bibirnya saat netranya menangkap Hani yang kini tengah membaca buku. Bukan buku pelajaran melainkan sebuah novel bergenre romance.
Menarik novel Hani diam-diam. Pemuda itu langsung berlari sambil memasukan novel Hani ke dalam baju sekolahnya. Menggoda Hani dengan cara tidak membiarkan Hani mendapatkan novelnya kembali.
Menghentakan satu kakinya. Gadis itu menatap tajam ke arah Keno yang saat ini tengah menjulurkan lidahnya.
Tak-terpengaruh, pemuda itu semakin menjadi-jadi tersenyum selebar-lebarnya. Tanpa memperdulikan denyutan di pipi.
"Gak mau," balas Keno enteng.
Menyadari bekas tamparan di pipi Keno. Membuat Hani langsung merasa iba. Gadis itu mendudukan kembali bokongnya ke kursi.
"Yaudah buat lo aja tuh novel!" ujar Hani. Berpikir jika Keno menyukai novel yang baru saja dia baca.
"Yakin buat gue? Gak nyesel?" tanya Keno memanas-manasi agar Hani berubah pikiran.
"Yakin. Karena lo sepertinya lebih membutuhkan tuh novel dari pada gue," ujar Hani.
Keno tersenyum miring. Menarik kursinya mendekat ke kursi Hani.
"Kok jadi gak asik gini? Hei hibur gue dong. Gue butuh penghibur sekarang," kata Keno sambil menatap Hani.
"Pukul gue. Marahi gue atau lo maki-maki gue. Sebisa mungkin buat gue lebih di pandang,"
"Maaf. Tapi anda datang ke tempat yang salah, inget gue ini manusia bukan penghibur!" tegas Hani.
__ADS_1
"Manusia juga ada yang jadi penghibur. Please hibur gue. Cuma lo yang nganggap gue orang disini," ucap Keno. Jujur hatinya sangat hancur sekarang.
"Orang gila kan?" sembur Hani. Membuat Keno kembali tertawa.
"Orang gila juga kan orang?" ujar Keno sambil menyentil dahi Hani pelan.
Meletakan kembali novel Hani ke meja. Pria itu tersenyum kemudian berkata,"Makasih berkat lo gue ketawa. Ya walau gue terpaksa ketawanya," kekeh Keno.
...***...
Ayan mengulas senyuman hangat. Melihat Putri sang sahabat sudah kembali dari Padang.
Yang di tatap melambai tangannya. Turun dari halekopter dengan senangnya.
Berlari mendekati Ayan wanita itu hampir saja memeluk Ayan.
"Eist gak mahram!" ujar Ayan memperingati.
Putri mengerucutkan bibirnya ke depan. Wanita yang usianya sama dengan Ayan itu memasang wajah kesal.
Setelah 8 bulan bertugas dan akhirnya dirinya bisa kembali bertemu dengan Ayan. Bukannya di sambut dengan baik. Wanita itu malah mendapatkan penolakan.
"Iya pak ustad!" tandas Putri.
"Gimana kabar kamu?" tanya Ayan.
"Baik. Kamu gimana?" tanya Putri balik.
"Alhamdulillah, aku selalu baik." ujar Ayan.
"Oh ya?" sentak Putri. Wanita itu merogoh kantung celana tentaranya. Meraih kotak kecil kemudian ia berikan kepada Ayan.
"Oleh-oleh," ujarnya.
Ayan tersenyum menerima pemberian Putri dengan senang hati.
"Jangan buka di sini," kata Putri memperingati.
"Kenapa?" tanya Ayan merasa bingung.
"Takutnya yang lain nantinya pada iri," jelas Putri.
"Soalnya ini tentang Hati," sambungnya dengan suara membisik.
__ADS_1
"Hati?" sentak Ayan, merasa bingung.