Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 57


__ADS_3

"Argam?" tanya Hani ketika melihat pria tampan berjas putih itu duduk tepat di meja yang di pesan oleh papanya.


"Hani?" Argam berdiri, mengulas senyuman manis kemudian menghampiri wanita di depannya.


Menarik kursi ke belakang, Argam mempersilahkan Hani untuk duduk.


Dan dengan senang hati, Hani pun duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh Argam.


"Maaf jika aku lama. Pasti kamu menung-"


"Aku baru juga sampai. Tidak usah sungkan, karena untuk kedepannya kita akan sering bersama..." kata Argam.


"Ehmmm... tapi tetap aja gak enak. Karena mengganggu waktu kamu sebagai dokter yang pastinya sangat sibuk." kilah Hani merasa tidak enak.


Argam tertawa pelan.


"Seperti mama aku. Sifat kamu yang ini pantas untuk di puji,"


"Eh?" sentak Hani terkejut melihat sesosok pria yang tiba-tiba duduk di sampingnya.


"Ngapain ngikut sih?" tanya Hani geram tangannya sibuk medorong-dorong bahu milik pria di sampingnya yang dengan santai duduk dengan ekspresinya telihat santai. Kedua bola matanya sedari tadi terarah ke Pria yang duduk di depannya.


"Pergi sana!" usir Hani ketus.


Ber alih menatap wanita di sampingnya, pria itu menyeringai.


"Gak mau." kata pria itu.


"Dasar penganggu!" cetus Hani sinis.


Bergedik acuh, pria itu kembali menatap sesosok pria yang sedari tadi tampak kebingungan.


Sepasang bola matanya melirik dua orang di depannya sedang berdebat. Memperdebatkan sesuatu hal yang membuatnya bertambah bingung dan tidak mengerti dengan situasi ini.


Usai berdebat, Hani mencoba mengatur kembali napasnya yang tidak beraturan. Emosi sudah meledak sesaat Ayan tiba-tiba datang dan menganggu kencannya. Entah apa mau pria itu? yang jelas Hani sangat tidak suka.

__ADS_1


"Maaf ya," kata Hani seraya tersenyum tipis.


Mendadak senyum itu langsung hilang saat sepasang matanya beralih menatap Ayan di sampingnya.


"Anggap aja gak ada orang selain kita berdua." lanjut Hani seraya menekan kata kita.


Ayan berdecih, lantas menatap sinis pria berjas putih di depannya.


"Dia?" pria berjas putih itu melirik Ayan.


"Dia mantan suami aku. ya suka gitu orangnya, makanya aku ceraikan." kata Hani sinis.


"Mulut! Saya yang ceraikan kamu. Bukan kamu yang ceraikan saya!" cibir Ayan terlihat kesal.


"Tunggu," sela pria berjas putih itu. Namanya Argam Yudistira pria sopan, berstatus dokter bedah di salah satu rumah sakit termuka milik keluarga Yudistira.


"Saya belum paham apa maksud kalian berdua," Argam menautkan alisnya.


"Kamu tau? Wanita ini dulunya adalah istri saya, selain marah-marah. Dia tidak bisa melakukan apapun, jangankan meyenangkan saya, memasak aja dia gak bisa." Ayan tersenyum miring seraya memiringkan kepalanya saat Hani menatapnya dengan tatapan ingin membunuh.


Argam tersenyum tipis, melirik Hani lalu berkata.


Tak seharusnya Ayan berkata seperti itu hanya demi membuat Argam tidak menyukai Hani.


"Sudah puas kan kamu? Menjelek-jelekan aku di depan calon suamiku?" tanya Hani sambil menekan kata Suamiku.


"Saya mengatakan itu sesuai dengan fakta. dan saya tidak menjelek-jelekan kamu di depan dia!" balas Ayan jengkel.


"Berhenti ikut campur urusan aku. Ingat kita sudah berpisah, dunia kita sekarang tidak lagi sama." tegas Hani.


Ayan menarik napasnya panjang. Di dalam dadanya terasa sesak.


"Benar apa kata Hani. Saat ini saya diam, karena saya belum menjadi suaminya Hani. Tapi-"


"Saya tidak ikut campur. Jangan salah paham hanya karena saya duduk di sini..." Ayan melambaikan tangannya. Tersenyum lalu memanggil gadis yang saat ini sedang berdiri beberapa meter di bekalang Argam.

__ADS_1


"Kemari!" panggil Ayan seraya menggoyangkan sekali tangannya ke udara.


Ikut melirik, Hani mengerutkan keningnya. Sepasang matanya menyipit ketika melihat wanita yang di panggil oleh Ayan itu tidak lain adalah Loli sekertaris Ayan yang memilik wajah bak model papan atas. Apalagi bodynya yang seperti gitar sepanyol. Jujur membuat Hani merasa iri.


Ayan berdiri, ketika Loli menghampirinya.


Tersenyum manis Ayan merangkul pundak Loli dengan tangan kanannya.


Tersentak Loli membulatka matanya. Melirik Ayan dengan ekspresi gugup.


"Kedatangan saya ke sini. Layaknya seperti kalian yang ingin berkencan, saya pun juga begitu." kata Ayan menjelaskan sesekali melirik Hani yang terlihat biasa saja.


"K-kencan?" tanya Loli ragu.


"Ya kencan. Kamu sudah lupa? Tujuan kita datang kesini kan untuk berkencan..." kilah Ayan sekali lagi Ayan melirik Hani yang sekali lagi tidak bereaksi sama seperti yang Ayan bayangkan.


"Kalau pasangan situ udah dateng. Tolong pindah meja. Lagian situkan orang kaya, masa mesan meja saja tidak sanggup?" Hani berkata sinis.


"Bukan gak ada uang," Ayan menarik kursi di depannya lalu mepersilahkan agar Loli duduk di sana.


"Tapi ada baiknya juga. Jika 4 kursi, di isi khusus oleh 4 orang?" Ayan mengedipkan sekali matanya. Bokongnya ikut duduk di samping Loli.


"Lancang!" cetus Hani kesal.


Ayan membuang muka, menatap Loli yang sepertinya ingin mati karena gugup.


Ayan mendekat lalu berbisik pelan.


"Maaf ya, tiba-tiba panggil kamu datang ke sini..." bisik Ayan.


Loli menatap Ayan.


"T-tidak apa," jawab Loli pelan.


"Argam apa tidak masalah jika pria itu ikut kencan bareng kita?" tanya Hani seraya menunjuk wajah Ayan dengan jarinya.

__ADS_1


"Tidak apa, anggap saja hari ini adalah hari terakhir kamu bersama dengan mantan suami kamu." balas Argam seraya menatap Ayan dengan tajam.


TbC


__ADS_2