
***
Bara pov.
"Bukan lo istrinya tapi orang lain."
Deg.
setelah ucapan Dimas, Liyu dengan tatapan dinginnya itu menatap ke arahku.
seketika tubuhku menegang.
jantungku mulai berdetak tidak karuan.
apa yang harus aku katakan?
harus kah aku mejelaskannya?
harus kah aku membuatnya tenang dan mengerti agar dirinya tidak salah paham?
Ya tuhan, kenapa harus secepat ini aku dipertemukan oleh Liyuna?
aku belum siap.
"Om," panggilnya.
membuat kehingan diantara kami terpecahkan oleh suaranya.
"I-iya?" jawabku yang sudah gugup.
"Om mau kemana?" tanyanya.
membuat mataku membulat.
kenapa Liyu tidak bertanya? Setelah mendengar kebenaran dari Dimas?
"Om, Liyu barusan nanya loh ... gak mau dijawab?"
glek.
dengan susah payah aku menelan ludahku. Kemudian baru lah aku memberanikan diri untuk menatap Liyu.
"Om mau pulang," balasku sambil tersenyum tipis.
Liyu menganggukan kepalanya dua kali.
"Kalau Liyu minta tolong antarkan ke sekolah, kira-kira om Bara mau?"
Aku terdiam.
"Mau gak?" hingga suara Liyu kembali terdengar.
Sekarang bagaimana?
"Boleh," jawabku sambil tersenyum.
Liyu juga ikut tersenyum.
Kemudian berputar, dan mengamati mobil yang ada didepan halaman rumah Keno.
"Mobil om Bara yang mana?" tanya Liyu sambil menatap beberapa mobil yang berada dihalaman rumah Keno.
"Yang itu, itu, itu, atau yan-" lanjut Liyu sambil menunjuk satu persatu mobil didepannya.
aku mendekatinya kemudian menyentuh tangannya lalu mengarahkannya ke arah mobil yang berada dipaling belakang sambil berkata.
"Yang itu," kataku.
dan Liyu langsung menoleh dan kami pun saling bertatap mata hingga beberapa detik.
Sampai akhirnya aku kembali tersadar dan menjauh darinya.
"Maaf," kataku merasa bersalah.
Liyu tersenyum kemudian berjalan mendekati mobilku.
"Om!" panggilnya.
Aku yang tadinya mendunduk langsung mendongak menatapnya.
"Om gak ada niatan mau bukain pintu mobilnya gitu?"
Mendengar itu pun aku terkekeh.
dengan langkah perlahan aku mendekatinya kemudian mulai membukakan pintu mobil untuknya.
"Makasih Om," kata Liyu berterima kasih.
Lalu Liyu pun masuk ke dalam mobil.
Brak!
bunyi suara saat aku menutup pintu mobilnya.
Untuk sekarang sepertinya aku lolos dari semua pertanyaan yang sejak kemarin terus aku pikirkan.
Apa Liyu sengaja mengubah topik pembicaraan?
"Om kok malah bengong? Liyu bisa terlambat kesekolah nanti,"
__ADS_1
tersentak, aku pun tersadar dari lamunanku.
dengan pelan aku memukul dahiku.
Kemudian baru lah aku masuk ke dalam mobil.
Dan disana aku melihat Liyu sedang berphoto.
"Om," panggilnya.
Reflek aku menyahut.
"Ya?"
"Ayo senyum," ujarnya sambil mengarahkan kamera poselnya ke arahku.
aku kan jadi canggung.
"Senyum Om, jangan tegang gitu hem ...."
Menarik napas dalam-dalam aku pun tersenyum.
bersamaan dengan itu jari Liyuna menekan tombol untuk memvidio.
"Eh bukan photo ternyata ...."
"Sekali lagi Om," lanjutnya memintaku untuk kembali tersenyum.
dengan helaan aku tersenyum.
"Satu, dua, tiiga!"
Cekrek.
"Udah om, makasih ya ...." katanya sambil menampilkan senyum terbaiknya.
yang dimana seketika membuatku merasa gemas.
Kalau bukan anak komandan Ayan, pasti udah ku culik sekarang.
Menghempas pikiran jahat itu, aku pun segera menyalahkan mesin mobilku kemudian mejalankannya.
"Om tau dimana sekolahku kan?"
"Iya tau,"
Setelah pembicaraan itu baik aku maupun Liyu kami saling berdiaman.
Liyu yang sibuk bermain ponsel dan begitu juga aku yang sibuk menyetir walau sesekali aku curi-curi pandang untuk menatapnya.
sampai akhirnya kami pun sampai disekolah SMA Kartini. Tempat dimana Liyuna dan Dimas bersekolah.
yang dimana aku juga ikut menyetujuhi dalam hati.
padahal aku masih ingin berlama-lama dengan Liyu.
mungkin setelah ini, Liyu bakal menjauh dariku.
aku pun sadar akan hal itu.
"Om, maaf kalau Liyu lancang. Tapi Liyu mau tanya satu pertanyaan aja. Gak papa kan?" lirih Liyu bertanya.
"Pertanyaan apa itu?" balasku balik bertanya.
"Om, beneran udah nikah?" tanyanya serius.
aku menjadi gugup.
"Belum ...."
"Kan aku udah tau kalau Dimas pas-"
"Untuk sekarang belum, sepertinya bulan depan om akan menikah."
"Jadi apa yang Dimas katakan itu?"
"Benar," potongku cepat.
lalu ekspresi Liyu pun berubah menjadi sedih.
"Om sendiri yang bilang mau nikahi Liyu kalau udah gede, Bahkan Om Boby yang bilang katanya om Bara udah tempa Liyu sewaktu masih didalam dalam kandungan ... om yang suruh Liyu tunggu sampe om pulang tugas,"
"Om udah janji mau nikahi Liyu, tapi sekarang?"
Akhirnya Liyu menangis.
"Liyu, om waktu itu cuma bercanda."
"Lagi pula kamu masih kecil saat itu, da-"
"Om, kok malah bengong bukannya jawab pertanyaan Liyu?"
Dan ternyata aku dari tadi hanya berhalusinasi?
"Om beneran udah nikah?"
Bagaimana ini? Akan kah reaksi Liyu bakal sama seperti yang aku bayangi tadi?
"Belum ...."
__ADS_1
"Kan aku udah tau kalau Dim-"
"Tapi om udah tunangan, bulan depan om bakal menikah!"
Setelah ini apa?
akan kah Reaksinya sama?
setelah peryataan itu Liyu hanya diam. Sampai ....
"Hem ...."
"Kok hem?" tanyaku bingung.
reaksinya tidak sama seperti yang aku bayangkan.
"Sepertinya Liyu bakal berusaha lagi," ujarnya bersemangat.
"Berusaha untuk?" tanyaku dengan satu alis terangkat.
Liyu tersenyum lebar.
lalu ....
suara kaca jendela mobil yang diketuk terdengar.
tok ... tok ... tokĀ ...
Dan orang itu adalah ....
"Dimas?"
"Buruan turun!"
Mendengar itu aku menahan Liyu, yang hendak turun dari mobil.
"Kamu belum jawab pertanyaan om,"
"Baiklah," ujarnya.
"Liyu akan berusaha lagi buat dapatin om Bara,"
"Tapi Om sudah mau menikah," kataku mencoba mematahkan semangatnya.
"Kan mau, masih belum."
"Kalau pun sudah, Liyu akan tetap nungguin Om Bara sampai tuhan mempersatukan Liyu sama om,"
Sial lagi-lagi jantungku berdebar karena ucapannya.
"Liyu udah jawab ya om, lebih lama dari ini Dimas bakal ngamuk nanti!"
"Assalamuallaikum,"
"W-waalaikumsallam."
setelah itu Liyu pun keluar.
dan dari dalam mobil aku memperhatikannya yang sedang berbicara dengan Dimas.
****
Author Pov.
"Memang gak waras lo!" cetus Dimas sembari menonyor pipi Liyuna pelan.
mereka saat ini sedang berbincang sambil menuju kelas.
Bahkan setelah tahu kalau Bara hendak menikah, Liyuna tetap teguh sama pendiriannya.
"Gue percaya kalau om Bara itu jodoh yang udah Allah tulis di lauhul mahfudz, karena itu gue bakal berusaha keras buat dapatin om Bara ...."
"Walaupun lo jadi orang ketiga?"
"Lo jangan to the poit gitu napa, jujur gue langsung lemes pas lo bilang om Bara udah punya istri."
"Lo harus sadar Yu, kalau laki-laki di dunia ini bukan cuma om Bara!"
"Iya gue tau, tapi gue cintanya cuma ke om Bara."
"Terserah gue capek nasehati lo, percuma!"
"Intinya lo jangan jadi orangketiga diantara hubungan om Bara sama calon istrinya!"
"Gue masih inget dosa, mana berani gue jadi orangketiga."
"Terus lo mau dapatin tuh om Bara dengan apa?"
"Doa,"
langkah Dimas terhenti mendengar ucapan Liyu barusan.
"Gue akan terus berdoa agar Om Bara jadi jodoh gue, tanpa harus jadi orangketiga!" lanjut Liyu sambil tersenyum lebar.
Sambil menggelengkan kepala, Dimas kembali menonyor pipi Liyuna pelan.
"Bukannya sama aja?"
"BEDA TAU!" kesal Liyuna semabari mengembungkan pipinya.
__ADS_1
"Terserah!"