
Dimas Reyga Alvaro. Semua orang mengenalnya, anak semata wayang Keno Alvaro. Yang sekarang memiliki status menjadi istri Aurel dan juga ayah dari Dimas. Pekerjaannya sebagai tentara dan juga terkadang membantu Ayahnya yang sudah tua itu sebagai pimpinan diperusahaan papanya.
memang tidak ada yang mudah di dunia ini. Semuanya butuh kerja keras, begitu juga dengan Dimas yang dituntut untuk menjadi sempurna.
Dirinya sering diberi nasehat untuk tidak mencontoh papanya, yang dulu sewaktu muda mempunyai sifat yang miris, jauh dari kata pujian.
kakeknya berharap Dimas mampu membawa nama baik keluarganya.
jangan jadi seperti papanya. Yang suka melawan dan juga tidak patuh pada peraturan keluarganya.
karena itu Dimas dari kecil hingga Dewasa dituntut untuk menjadi sempurna. Dimata kakeknya dan juga dimata Dunia.
Tak hanya pintar soal ilmu pengetahuan, Dimas juga terkenal sebagai jagoan dibindang olahraga.
olahraga apapun dia bisa.
Menurut orang Dimas sangat sempurna miris kalau punya kelemahan.
Pintar, baik, walau sikapnya terkadang dingin dan terkesan cuek.
satu sekolah tau kalau Dimas memiliki sikap dingin. Tapi mereka juga tau kalau Dimas orangnya baik.
walau begitu mereka tetap memuji Dimas yang nyaris sempurna.
lalu suatu hari Dimas yang habis latihan bola Voli pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil.
disana ia menemukan satu rahasia.
tentang ....
"Ah!" jerit seorang gadis dengan menggunakan pakaian olahraga.
setelah melihat Dimas gadis itu segera mencari wig rambut palsunya kemudian memakainya. Walau sudah terlambat.
"Lo kok bisa masuk?" tanya gadis itu dengan suara yang berbeda saat ia berteriak 1 menit yang lalu.
Dimas gak mau ambil pusing dan segera masuk ke toilet untuk buang air kecil.
melihat dirinya diabaikan, bersamaan dengan rasa takut dan marah. Gadis itu berteriak sambil mengetuk pintu toilet yang tertutup.
Setelah buang air kecil Dimas pun keluar untuk bercermin. Melihat itu gadis yang menggunakan wig rambut laki-laki itu segera berlari mendekati Dimas. Sebut saja namanya, Quenta.
"Lo gak liat gue ...." gadis itu menggantung ucapannya.
bagaimana bisa ia bertanya tantang dirinya yang ketahuan sedang menyamar jadi seorang cowok.
"Kok lo bisa masuk? Bukannya pintunya dikunci dari luar?"
Dimas melirik pintu yang sedikit terbuka itu sekilas.
Detik setelahnya cowok itu kembali menatap cermin didepannya.
Quenta menjadi kesal.
"Lo punya mulut gak sih? Gue nanya padahal!"
Dimas menghidupkan keran air didepannya lalu mulai membasuh wajahnya.
Quenta benar-benar kesal dan langsung menarik tangan Dimas dengan sisa tenaganya.
"Lo gak liat gue pas lagi lepas wig kan?!" teriak Quenta sambil menutup matanya.
"Liat."
mendengar itu seketika manik Quenta membuat dengan sempurna.
"L-lo lihat?"
Dimas menyingkirkan tangan Quenta dari lengannya. Kemudian kembali membasuh wajahnya.
__ADS_1
"L-lo gak akan aduhin ke orang-orang kalau gue ini cewek?"
"Menurut lo?" tanya Dimas balik kemudian tangannya meraih handuk basah yang ada didekat cermin lalu ia pun mulai mengelap wajahnya yang basah.
Mendengar itu Quenta segera bertekuk lutut.
Dimas sempat terkejut.
"Gue gak bermaksud bohongi semua orang yang ada disini, tapi gue punya alasan kenapa gue harus ngelakuin itu. Gue mohon, jangan bilang ke siapapun kalau gue ini cewek, tolong!"
"..."
Sudah hampir 5 menit rasanya ia bersujud dilantai.
tapi kenapa tidak ada respon dari Dimas?
penasaran akhirnya Quenta memutuskan untuk mendongak dan melihat masih adakah Dimas dihadapannya?
"Tuh orang dimana?" gumam Quenta dengan nada kesal bercampur bingung.
lalu tiba-tiba teman Quenta yang kalau lagi nyamar namanya dikenal sebagai Noval itu datang. Sebut saja namanya Dava.
"Eh, Noval! gue dari tadi nyariin lo, eh tau dimari."
mengabaikan kehadiran Dava, Quenta mengamati sekelilingnya kemudian gadis itu keluar dari toilet.
Dava mengejar.
"Lo nyari siapa?" tanya Dava bingung.
"Dimas! lo tau dia dimana?" tanya Quenta barang kali sebelum masuk ke dalam toilet temannya itu bertemu dengan Dimas.
"Tadi waktu gue mau kesini, gue liat tuh orang pergi ...."
"Kemana?" potong Quenta dengan cepat.
"Dia balik kayaknya," sahut Dava memberitahu.
"Tau," balas Dava seraya menganggukan kepalanya.
Quenta menepuk pundak Dava sambil berkata.
"Kirim lokasinya sekarang!"
walau masih bingung dengan tingkah temannya itu, Dava pun segera mengirim lokasi rumah Dimas.
...****...
"Pulang? Enggak? Pulang? Enggak? Pulang? Enggak? Pulang?"
Liyuna yang sedang memutuskan antara pulang dan enggak dengan menghidup matikan lampu kamar Dimas menjadi kesal.
selalu saja Pulang. Padahal ia tidak mau pulang.
Bagaimana jika Liyu pulang? Terus papanya marah-marah dan akhinya ia dihukum agar tetap dirumah. Atau dikirim ke pesantren biar gak ketemu Bara.
Cara untuk mengamankan dirinya adalah tetap berada dirumah Dimas.
tapi kenapa anak itu sejak tadi belum juga pulang?
seharusnya Liyu setuju saja saat tantenya mengusulkan untuk meminta Dimas segera pulang.
jadinya dia kan gak nunggu lama kayak sekarang!
Bosan, Liyuna berjalan jalan ke sekitar kamar Dimas. Mencari sesuatu yang nantinya bisa jadi bahan ancaman agar Dimas patuh padanya.
sejauh Liyu mengamati kamar Dimas. Disana gak ada apa-apa. Hanya saja kamar cowok itu terlihat rapi dan bersih. Banyak buku dan juga beberapa alat olahraga yang terpanjang dilemari.
perluh kalian tau kalau kamar Dimas sangat lah besar.
__ADS_1
Liyu langsung membandingkan antara kamarnya dan juga Dimas.
"Gue udah tau kalau endingnya bakal gagal,"
Liyu langsung berputar arah dan melihat ada Dimas yang sedang berdiri didepan pintu kamarnya.
"Habisnya lo sih gak mau temenin gue!"
Dimas menghela napas, kemudian masuk dan mengunci pintu kamarnya.
"Lo terlalu terburu-buru, dan lihat hasilnya sekarang?"
"Ya maaf, lagian lo gak bilang kalau ada bokap gue disana!"
"Lo gak tau kalau om Bara dulu temennya om Ayan?"
"Tau, tapi kan gue pikir papa gak akan kesana juga ...."
"Terus Roby mana?"
"Hah?
"Sebelum lo pergi gue udah suruh dia buat ngikuti lo."
"Tapi tuh anak gak ada kok waktu gue kenak masalah!"
"Gak biasanya Roby kayak gini, pasti dia ada masalah."
"Gue hubungi sekarang,"
Tut... tut ... tut ...
"Gak diangkat," kata Liyuna sambik menatap Dimas.
tak lama kemudian ia mendapatkan pesan dari Roby.
"Tunggu gue dapat pesan,"
Roby
Yu, gue lagi sibuk ni sama ibu negara. Maaf gak bisa susul lu soalnya keburu ketahuan ibu negara. Dan disuruh les gue. Ini diem-diem gue ngetik pesan, dibawa laci. Kalau ketahuan guru les bisa mati gue! soalnya ibu negara lagi ngawasi gue dari kejauhan.
membaca itu Liyuna dan Dimas saling tukar pandang.
"Kalau ini udah beda cerita,"
"Terus nasib gue gimana?"
"Lo pulang, gue yakin om Ayan gak akan bunuh anak kesayangannya."
"Tapi gimana kalau gara-gara kejadian tadi gue gak boleh ketemu sama om Bara?"
"Itu urusan nanti, pertama lo pulang. Kasihan tante Hani pasti lagi nunggu lo,"
"Tumben lo ...."
"Tumben apa?"
"Banyak ngomongnya,"
"Jujur aja lo khawatir sama kakak kan?"
Dimas menggelengkan kepalanya.
"Gue cuma gak mau lo dikamar gue lebih lama dari 1 jam."
"Iya, iya gue pulang. Gitu amat sih ... padahal kalau lo ngikut tadi kan pasti gue gak disini."
"Terserah,"
__ADS_1
Liyuna cekikikan kemudian keluar dari kamar Dimas.