
...Tersenyumlah walau hatimu saat itu tidak mampu untuk tersenyum, simpan lah semua luka di hatimu lalu gantikan lah dengan tawa. Kemudian tipu semua orang agar mereka tak lihat jika dirimu saat ini sedang terluka....
^^^KENO ALVERO❤^^^
"Inget belajar yang rajin," kata Ayan saat Hani turun dari mobilnya.
"Ok," balas Hani sambil tersenyum, mengangkat satu tangannya lalu ia goyang-goyangkan ke udara.
"Saya masuk dulu ya," pamit Hani yang di angguki Ayan.
Hani menggulum bibir bawahnya, gadis itu menatap suaminya cukup lama.
"Falia," tegur Ayan yang berhasil membangunkan Hani dari lamunannya.
Menutup wajahnya karena malu, gadis itu langsung berputar arah menuju gerbang sekolah, detik setelahnya gadis itu mulai berlari.
Sesampainya di lorong sekolah, Hani langsung berjongok untuk mengatur napasnya. Netranya menatap kanan dan kiri. Masih sepi hanya beberapa murid yang baru datang.
"Sudahku katakan jangan berulah! Apa yang kau dapat dengan lari dari rumah?!"
Hani menyipitkan kedua matanya, sayup-sayup gadis itu mendengar ada suara orang yang sedang marah. Kepo gadis itu mencoba mencari dimana asal suara tersebut.
"Kebebasan, Kenikmatan, Kepuasaan!" balas seorang pemuda dengan lantang.
Keno?
Hani menghentikan langkahnya, kini gadis itu bersembunyi di balik dinding sekolah. Dengan netra pokus menatap dua pria di depannya yang sedang berdebat.
"Kemudian mencemarkan nama baikku?!"
"Jika hanya itu yang bisa membuat mu marah, akanku lakukan setiap harinya ...."
Plak!
Suara tamparan membuat Hani tersentak, gadis itu berlari cepat menghampiri Keno dan papanya.
"Stop!" teriak Hani kemudian mendorong tubuh Keno kebelakang. Agar terhalang oleh tubuhnya.
Merentangkan kedua tangannya, Hani melirik Keno di belakangnya.
"Ken jangan takut, ada gue disini!" ujar Hani.
Mengudang gelagak tawa dari keduanya.
Meyeringai pria berjas abu-abu itu memperhatikan Hani dari atas sampai bawah,"Pacar kamu? Ini menarik," ucap Veno sambil mengedipkan matanya. Kini pria itu menemukan kelemahan putranya.
"Brengsek!" maki Keno menepis pelan Hani di depannya.
"Keno!" cegah Hani saat Keno ingin melayangkan tangannya.
"Jangan!" Hani menggelengkan kepalanya.
Keno menurunkan tangannya yang mengepal itu dengan perasaan berkecamuk.
"Ahk!" erang Keno detik setelahnya pemuda itu menarik tangan Hani menjauh dari Veno papanya.
...****...
"Pergilah ...." ucap Keno sambil melempar tangan gadis yang semula ia genggam.
"Ke-"
"Pergi!" pungkas Keno dengan suara meninggi.
__ADS_1
Mendengar itu Hani dengan perasaan sedih, ia berbalik untuk pergi. Meninggalkan Keno yang saat ini tengah menjambak rambutnya frustasi. Setelah beberapa langkah setelah kepergian Hani, pemuda itu berlari dengan wajah memerah karena menahan marah.
"Jangan pergi," Hani membulatkan matanya, saat merasakan pelukan dari belakang yang dilakukan Keno barusan.
"Gue mohon, jangan pergi." bisik Keno lirih.
Hani meremas roknya, pandangannya lurus menatap taman sekolah di depannya.
Mengerutkan keningnya, gadis itu tampak berpikir. Apa yang harus ia lakukan? Mendorong atau membalas pelukan Keno.
"Gue butuh lo disini," ujar Keno yang suaranya seperti ingin menangis.
Membalik tubuhnya, Hani tersenyum kemudian menaikan dagu Keno dengan jarinya.
Kini keduanya saling tatap.
"Gue disini," kata Hani membuat Keno tidak bisa menahan tangisnya. Pemuda itu menangis sambil memeluk tubuh Hani erat-erat.
Di tempat yang sama, suasana yang juga sama. Pria dengan kotak bekal di tangannya itu mengedipkan matanya sekali. Menyaksikan adegan romatis antara istrinya dan pria lain.
Tersenyum miris pria itu memanggil murid yang baru saja melintasi dirinya.
"Hey kamu!" panggil Ayan. Membuat langkah murid cowok itu terhenti. Berbalik kemudian menghampiri Ayan.
"Kenapa kak?" tanya murid cowok itu dengan sopan. Takut karena yang memanggilnya adalah seorang tentara.
Ayan tersenyum, kemudian menunjuk Hani dan Keno yang masih dalam posisi berpelukan dengan jarinya, detik setelahnya pria itu memberikan kotak bekal yang berisi sandwich ke arah murid cowok di depannya.
"Tolong kasih ini ke murid cewek itu ya," ujar Ayan. Yang diangguki murid cowok di depannya.
Setelah memberikan kotak bekal itu Ayan segera bergegas pergi dari sekolah Hani. Menuju mobilnya.
Mendesah cukup panjang, pria itu menutup setengah wajahnya, dengan jari mengetuk-ngetuk strir mobilnya.
...****...
"Hani!" panggil cowok bernama Reza yang mendapatkan amanah untuk memberikan kotak bekal untuk Hani.
Hani mengeryitkan keningnya bingung, melihat kotak bekalnya ada di tangan Reza. Bukah kah tadi ia sudah memasukannya ke dalam tas sekolahnya, Mengechek kembali isi tasnya. Hani membulatkan matanya.
"Lo dapat ini dari mana?" tanya Hani dengan wajah panik.
"Orang pakek baju tentara," jelas Reza.
Lantas membuat Hani langsung menepis tubuh pemuda di depannya.
Gadis itu berlari menuju gerbang sekolah yang sudah terkunci dengan sangat rapat.
Melihat itu Hani menggigit bibir bawahnya, gadis itu meringis sambil memukul kepalanya. Bagaimana ini?
Memutar balik gadis itu berlari menuju ruangan Darman. Mengetuk pintu kepala sekolah dua kali.
Tok...tok...
"Paman!" teriak Hani.
Membuat Darman yang tadinya tengah menyantap sarapan paginya itu langsung terganggu.
Walau terlihat kesal pria bertubuh buntal itu berjalan untuk membukakan pintu. Membiarkan Hani masuk ke dalam ruangannya.
"Hani! Bukannya belajar malah kel-"
"Paman, Hani mau pulang," sela Hani dengan raut wajah sendih.
__ADS_1
"Alasan?"
Hani terdiam, detik setelahnya gadis itu menjatuhkan tubuhnya ke lantai kemudian berguling-guling.
"Aduh perutku sakit..." bohongnya.
Darman memasang wajah datar, detik setelah pria itu kembali duduk di tempatnya. Menyeruput kopinya dengan netra menikmati hiburan di depannya.
"Teruskan sampe pulang sekolah ya," ujar Darma.
mendengar itu Hani berhenti merengek, gadis itu mengembungkan pipinya. Menatap Darma dengan tatapan sangar.
"Paman! Hani mau pulang!" teriak Hani.
"Alasan?"
"Sakit!" balas Hani.
Darman mengangguk-anggukan kepalanya, kemudian kembali menyeruput kopinya.
Melihat itu Hani langsung merebut kopi milik Darman lalu menenggaknya sampai habis.
"Hani!" bentak Darman.
"Izinkan Hani pulang," kata Hani. Darman menghela napas kasar. Pria itu memijat pelepis alisnya.
"Pulang sana! Pulang!" usir Darman kesal.
Dengan cepat Hani berlari pergi meninggalkan ruangan Darman.
Setelah Hani keluar dari sekolah, gadis itu pergi menuju jalan raya untuk mencari taksi atau angkot apapun asalkan bisa membawanya ke tempat Ayan.
Meringis Hani baru sadar jika tasnya masih tertinggal di dalam tas.
Untung saja uang sakunya ia bawa jika tidak gadis itu tidak akan bisa pulang untuk menemui Ayan.
Senyum lega terbit dari bibir gadis itu saat melihat angkot melintas di depannya. Dengan cepat Hani memanggilnya.
...****...
"Kamu masih ragu?"
"Entahlah ...."
"Itu artinya kamu tidak mempercayai Hani,"
"Aku percaya!" bantah Ayan.
"Lalu kenapa kamu jawab entahlah?"
"Karena aku masih belum yakin!"
Putri tersenyum kecil, detik setelahnya wanita itu memberikan permen ke arah Ayan.
"Makanlah,"
Ayan melirik permen di tangan Putri, menepisnya pelan pria itu kembali berkata,"Jika yang di posisi ini bukan aku melainkan dia? Apakah dia akan memepercayai aku Put?"
"Entahlah mau coba?"
TbC.
Aku kembali😢
__ADS_1