
...Deskripsi tentang makna cinta yang sempurna itu seperti apa?...
...Berjuang?...
...Atau...
...Melepaskan?...
...|...
...Bisa jadi mengikhlaskan!...
^^^Author😍^^^
"Falia," panggil Ayan lirih, pria itu memeluk tubuh istrinya dari samping. Yang di peluk membuang muka ke arah lain, tidak ingin menatap Ayan.
"Sejam lagi saya berangkat, dari tadi kamu nyuekin saya muluh?" ucap Ayan melemah. Pria itu menumpuhkan dagunya di pundak Hani. Memejamkan matanya sejenak pria itu menghirup harum sampo beraroma lavender itu dalam-dalam, aroma ini akan ia ingat baik-baik.
Se-jam? Kenapa waktu secepat itu berlalu, kenapa waktu tidak berjalan lama untuk hari ini saja, kenapa waktu sangat tidak adil terhadapnya? Yang ia inginkan hanya bersama dengan Ayan. Hanya itu.
"Falia," menyentuh rahang istrinya lembut, perlahan pria itu menariknya untuk menghadap ke arahnya.
"Tolong jangan abaikan saya,"
"Jadikan waktu singkat ini, lebih berharga untuk kita. Jangan bersedih, saya janji secepatnya saya akan kembali,"
"Tatap mata saya Falia," pinta Ayan.
Hani meyeka air matanya, yang baru saja menetes itu dengan lengannya, gadis itu menepis pelan tangan Ayan di dagunya.
Tersenyum lebar gadis itu mendongak untuk menatap pria di depannya.
"Kamu benar, jadikan waktu se-jam ini. lebih berharga untuk kita berdua,"
Ayan membuang napas penuh beban, tangannya bergerak dengan sendirinya memeluk gadis di depannya.
"Maaf ...." lirihnya.
Hani kembali menyeka air matanya, mendorong tubuh Ayan pelan, Mendongak kemudian berkata.
"Kalau begitu selama satu jam ini," Hani menepuk tangannya sekali, gadis itu berjalan ke arah dapur kemudian mengikat rambutnya, tangannya bergerak untuk mengambil pisau dan sayuran di atas talenan.
"Aku ingin belajar memasak bersama dengan kamu, biar nantinya setelah kamu pulang saya bisa memasak berbagai macam masakan untuk kamu," ujar Hani gadis itu nyengir sambil menggoyang-goyangkan pisau dan sayur bayam di tangan kanan dan kirinya.
Melihat itu hatinya berdenyut sakit. Jujur meninggalkan istrinya di saat dirinya sudah dekat dengannya, membuat hati pria itu membrontak untuk tidak pergi.
__ADS_1
Namun apa daya, tugas ini juga sama pentingnya dengan Hani. Melindungi negara dengan nyawanya, Ayan sudah bersumpah saat sebelum dirinya menjadi seorang tentara.
Melihat semangat belajar yang terpancar di wajah Hani, membuat Ayan ikut bersemangat. Untuk satu jam ini ia akan melupakan jika dirinya sebentar lagi akan meninggalkan Hani selama beberapa bulan.
Memasangkan celemek di tubuh Hani, pria itu menyungging senyuman hangat, membantu Hani untuk membetulkan ikatan rambut Hani yang tidak rapi. Mengelusnya dua kali, pria itu menekan hidung bengir istrinya kemudian berkata,"Ayo kita mulai!" tutur Ayan yang di angguki Hani.
"Mulai dari mana?" tanya Hani, gadis itu bingung saat memandangi berbagai bumbu-bumbu dapur serta sayur dan ikan di depannya.
Ayan tersenyum geli, menunjuk berbagai sayur di meja dengan jarinya,"Cuci semua sayuran di atas meja, terus kamu potong-potong jangan terlalu besar dan juga jangan telalu kecil," jelas Ayan.
Hani mengangguk pertanda gadis itu mengerti.
Selesai memotong semua sayuran yang di maksud oleh Ayan, gadis itu melirik Ayan yang sedang pokus membalik daging Ayam di wajan.
Sedetik setelahnya, gadis itu tersenyum geli, melirik tepung yang sudah tercampur dengan air. Mengangguk-anggukan kepalanya gadis itu memasukan kelima jarinya ke dalam mangkok yang berisi tepung itu kemudian gadis itu mulai memanggil pria di sampingnya.
"Ayan!" panggil Hani, menoleh pria itu langsung membulatkan matanya. Merasakan cairan kental berwarna putih itu menempel di pipi kanan dan kirinya.
"Falia!" tegur Ayan, pria itu mematikan kompor gasnya. Tangannya bergerak untuk menarik pinggang gadis di sampingnya. Meyeringai pria itu menahan tubuh Hani yang sedari memberontak untuk di lepaskan dengan cara menjepitnya dengan kaki dan tangannya.
Hani menggeleng ketika wajah Ayan mulai mendekati wajahnya, gadis itu memberontak, namun jepitan pada tubuhnya terlalu kuat tak sebanding dengan tenaganya.
"Ayan," lirih Hani melemah,"Please jangan ...." Hani menggeleng.
Perlahan turun hingga ke hidung, menggesekkannya dua kali, pria itu tersenyum. Sedetik setelahnya mulai menempelkan pipinya yang terkena cairan tepung itu ke pipi Hani.
Merasakan itu Hani memejamkan matanya, entah kenapa jantungnya berdetak sangat cepat, gadis itu mengharapkan sentuhan lain bukan sekedar hidung Ayan yang menyentuh hidungnya.
Tertawa pria itu memegang perutnya, menertawai wajah Hani yang penuh dengan cairan tepung.
Medengar tawa Ayan yang menggema di seluruh ruangan, Hani langsung membuka matanya. Meyentuh pipinya lalu menariknya ke depan wajahnya.
Membuka mulutnya lebar-lebar gadis itu mulai berteriak,"Ayan!" teriaknya.
Menarik pipi kiri di dekat mata, Ayan menjulurkan lidahnya. Membuat gadis di depannya itu semakin marah lantas berjalan untuk bersiap-siap menghajarnya. Lari pria itu meninggalkan dapur menuju ruang tamu.
"Awas aja kamu!" ancam Hani, ikut berlari mengerjar Ayan.
1 menit sudah mereka saling kejar-kejaran membuat Ayan tidak sanggup untuk berlari lagi. Tubuh mungil itu tak di sangkah mampu menandingi larinya seorang tentara.
Terjatuh ke lantai, membuat Hani langsung menekan pundak suaminya itu dengan sikunya, menarik tangan Ayan ke atas. Mengaduh kesakitan Ayan memohon untuk di lepaskan.
"Falia, lepaskan ini sakit," adunya. Bukan mendengar rintihan suaminya Hani semakin menguatkan tarikan pada tangannya.
"Rasain!" tandas Hani.
__ADS_1
"Aya-"
Wanita itu menutup mulutnya, saat menyaksikan adegan seorang istri yang sedang menghajar suaminya.
"Ups ... maaf," ucap Putri wanita itu langsung berbalik badan.
Melihat itu Hani langsung melepaskan tangannya. Membiarkan Ayan untuk berdiri.
"Putri ada apa kemari?" tanya Ayan.
Putri kembali memutar tubuhnya, gadis itu tersenyum sambil menunjuk arloji berwarna merah muda itu di tangannya,"Aku datang kemari untuk menjemput kamu," ujarnya.
"Jemput?" sela Hani.
"Iya..." Putri melirik Ayan, mengedipkan sekali matanya gadis itu kembali berkata,"Kalian bicara dulu, Ayan aku tunggu di bawah," ujar Putri, detik setelahnya wanita itu pergi meninggalkan Ayan dan Hani yang kini saling berdiam diri.
"Fa-"
"Oh ya masakan tadi," potong Hani, gadis itu berpura-pura sibuk menyusun masakan yang ada di wajan itu kemudian ia letak ke dalam piring.
"Ayan sebelum pergi, lebih baik kamu makan dulu, hem!" Kata Hani, gadis itu meyeka air matanya.
"Ayo duduk," pinta Hani sambil tersenyum.
menarik satu kursi di sampingnya, gadis itu kembali berkata,"Ayan ayo," tegur Hani.
"Falia, saya-"
"Kamu gak dengar? Aku bilang duduk!" sela Hani, gadis itu menangis menatap pria yang berjarak satu meter darinya.
"Maaf seharusnya saya tidak membentak kamu," kata Hani, gadis itu mencoba membuat dirinya setegar mungkin. Namun, kenyataanya tidak segampang itu.
"Pergi lah ... nanti kamu bisa tertinggal pesawat,"
Mendengar itu Ayan langsung berlari, memeluk Hani dari belakang.
"Maaf," bisiknya.
"Pergilah ...."
Hani menghembuskan napas penuh sesak,"Sebelum saya berubah pikiran."
TbC
Gimana jika setelah ep ini saya hiatus bentar😌
__ADS_1