
...Biarlah hati ini sakit, ketika dia bercerita tentang cintanya. Kisahnya, saat bersama dengan dia, aku akan tetap bertahan hanya karena ingin mendengar lembut suaranya. Itu lebih baik dari pada tidak sama sekali....
^^^Mesya Putri mayangsari ❤^^^
"Entahlah mau coba?"
"Jangan bercanda Put," balas Ayan. Putri bergedik acuh kemudian berkata.
"Gak ada salahnya mencoba," Putri berjalan mendekati Ayan, tersenyum kecil wanita itu berbisik di telinga Ayan.
"Gak akan!" putus Ayan, menolak rencana dari Putri.
"Kalau berubah pikiran, call me ok?!" kata Putri sambil mengedipkan satu matanya. Gadis itu berjalan ke arah pintu keluar.
Ayan menggeleng.
Sebelum pergi Putri melirik Ayan kembali,"Ayan!" panggil Putri, yang di balas deheman oleh Ayan.
"Hemm ...."
"Jangan lupa call me!" kilah Putri sebelum akhirnya wanita itu pergi dari ruangan Ayan.
Usai kepergian Putri, pria itu meringis sambil memejamkan matanya. Ingatan tadi pagi saat istrinya berpelukan dengan pria lain membuatnya tampak marah dan terlihat kesal.
Bayangan itu setiap detiknya selalu muncul setiap kali pria itu memejamkan matanya.
"Ahk!" erang Ayan menjambak rambutnya dengan kedua tangannya. Matanya terpejam, karena masalah ini terus mengusik dirinya. Ayan memutuskan untuk beristirahat di rumah. Dan ia sudah meminta izin dari sang komandan.
Saat Ayan hendak membuka kemejanya, samar-samar ia mendengar suara istrinya. Berada di luar pintu.
Dan benar teryata suara itu adalah suara Hani. Mendengar suara tombol paswoard di tekan. Membuat Ayan buru-buru merapikan rambut serta kemejanya yang terlihat acak-acakan. Namun sebelum itu, Hani lebih dulu masuk ke dalam apartement. Membuat Ayan tersentak lantas terjatuh ke sofa.
Hani terdiam, saat melihat penampilan suaminya. Gadis itu tersenyum kecil kemudian berlari ke arah kamarnya.
Melihat itu Ayan menautkan kedua alisnya, pria itu tidak percaya dengan respon yang di berikan Hani untuknya.
Ayan menghela napas, pria itu berjalan ke arah kulkas. Kemudian mengambil sebotol sprit disana. Menenggaknya hingga habis, pria itu mendongak menatap tangga rumah menuju kamarnya.
Di dalam kamar, Hani menangis sambil memeluk lututnya. Gadis itu tidak menyangka akan menyaksikan kejadian seperti ini untuk seumur hidupnya. Apa karena kejadian tadi pagi, Ayan membalasnya sampai sejauh ini?
Menangis sejadinya gadis dengan seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya, gadis itu melirik pintu kamarnya. Tanda-tanda Ayan akan datang juga belum terlihat. Membuat Hani benar-benar marah.
"AYAN JAHAT!"
Flash back on.
"Jangan lupa Call me!" teriak Putri sambil mengedipkan satu matanya.
Melihat Ayan menggeleng, membuat Putri terkekeh kecil. Matanya membulat mendapati Hani sudah ada di belakangnya.
Melihat Hani memperhatikan penampilannya, membuat wanita itu buru-buru bergegas merapikan kancingnya yang tanpa sadar terbuka satu.
"Kamu ngapain disini?" tanya Hani.
__ADS_1
Putri tersenyum miris,"Kamu lihat?"
"Saya bertanya,"
"Dan hak saya untuk tidak menjawab,"
"Apa yang kamu lakukan dengan Ayan?"
Putri terkekeh pelan,"Ayan? Sekarang kamu sudah berani memanggil dengan namanya. Ayan,"
"Dia suamiku. Jadi terserah saya dong mau manggil apa!"
"Dan saya..." jeda.
"Maaf kan aku, untuk sekarang kita tidak bisa berbincang lama-lama,"
Putri menunjuk ke arah lift yang di dalamnya sudah ada klien wanita yang menunggunya sejak tadi.
Flash back of.
Clek...
Melihat pintu terbuka, membuat Hani buru-buru naik ke ranjang kemudian menutup dirinya dengan selimut.
Ayan kembali menautkan kedua alisnya, saat netranya menangkap satu pemandangan dimana ia melihat kertas tisu bertebaran di lantai kamarnya. Mengutipnya satu per satu kemudian membuangnya ke tempat sampah.
Menggulung lengan kemejanya, pria itu melirik Hani yang berpura-pura sedang tidur.
"Malam," bisiknya lirih. Detik setelahnnya Ayan mengecup kelopak mata Hani yang bengkak.
Merasakan sentuhan itu, Hani langsung membuka matanya. Menatap Ayan yang saat ini juga menatapnya sambil tersenyum.
"Ada masalah apa?" tanya Ayan. Walau masih terlihat kesal pria itu tidak menyalahkan sepenuhnya kalau itu adalah kesalahan Hani.
Hani hanya diam, gadis itu mendorong tubuh Ayan yang menurutnya terlalu dekat.
Memutar tubuhnya gadis itu memejamkan matanya.
"Falia," panggil Ayan lirih. Namun tidak ada respon dari orang yang di panggil.
Ayan mengepalkan tangannya, seharusnya yang disini marah adalah dirinya, bukan malah sebaliknya. Dengan kasar pria itu menjatuhkan tubuhnya ke rajang. Ikut berbalik arah tidak ingin saling berhadapan.
...****...
Ke esokan paginya, Hani terbangun tanpa ada Ayan di sampingnya. Melirik jam membuat gadis itu membulatkan matanya.
Sudah siang, tapi kenapa Ayan tidak membangunkannya seperti biasa? Yang ia lihat hanya ada catatan kertas yang di tempelkan di kaca rias yang sengaja di tulis Ayan untuk Hani.
Bangun Falia, setelah itu jangan lupa untuk sarapan. Saya sudah menyiapkannya subuh-subuh tadi. Uang saku kamu ada di meja seperti biasa. Karena kamu yang tidak mau bicara dengan saya, jadi saya juga memutuskan untuk tidak berbicara juga.
Membaca itu Hani langsung merobek-robek kertas kecil itu kemudian gadis itu lempar, detik setelahnya Hani mulai berteriak kuat memaki suaminya dengan kata-kata kasar.
"Ok! Kalau gak mau ngomong sama gue, lihat aja nanti!"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Hani ngelesot duduk di atas lantai. Melirik jam yang sudah menunjukan angkah 7 pagi itu sambil memasang wajah murung.
Kalau sudah begini kejadiannya lebih baik jika ia memilih untuk tidak bersekolah, dan akan bolos untuk bersenang-senang.
Alih-alih menghindar dari Ayan untuk sementara waktu.
Berdadan alah tomboy, gadis itu mengamati penampilannya dari atas sampai bawah. Terlihat seram seperti preman.
Tersenyum samar, gadis itu meraih tas ransel di atas meja kemudian menentengnya.
"Lihat saja, siapa nantinya yang akan menyesal!" ucap Hani seperti bergumam.
Menarik napas dalam-dalam, Hani mulai beranjak pergi dari kamarnya. Menuju ruang tamu.
"Mampus!" umpat Hani, gadis itu berlari balik masuk ke dalam kamarnya. Melihat ibu mertuanya saat ini sedang berjalan dengan Ayan menuju kamarnya.
Menggigit jari kukunya yang baru saja ia beri cat kuku berwarna hitam itu dengan raut wajah panik. Hani menahan pintu kamarnya agar tidak bisa terbuka dari luar.
"Eh," Rosita melirik Ayan di belakangnya yang saat ini sedang memainkan ponselnya baru saja selesai mengirim pesan untuk Hani.
"Ayan kok gak bisa di buka?" tanya Rosita.
"Ah masak sih Bun?" tanya Ayan balik. Pria itu mencoba membuka pintu yang jelas-jelas di tahan dari dalam.
Hani menahan dengan tangannya, melihat pintu terbuka sedikit membuat Hani tidak ada pilihan lain selain meminta bantuan dari Ayan.
"Ayan aku masih di sini! Bisa bawa bunda mertua ke bawah dulu!" ucap Hani berbisik dari dalam kamar.
Falia?
Ayan mengerutkan keningnya, berbalik kemudian tersenyum lebar. Menyentuh kedua pundak bundanya kemudian mendoronya pelan.
"Bunda, kamar Ayan sangat kotor. Jadi Bunda lebih baik jangan masuk," ujar Ayan berbohong.
"Malahan kan Bunda bisa bantu beres-beres," kata Rosita, wanita itu kembali menyentuh handle pintu kamar putranya.
"Bunda, Ayan gak mau ngerepoti. Nanti biar Ayan sendiri yang beresin lebih baik Bunda masakan Ayan makanan," ujar Ayan.
Rosita menatap Ayan dengan tatapan curiga, wanita itu tampak berpikir keras apa yang di sembunyiin Ayan darinya.
"Baiklah," putus Rosita. Membuat Hani dan Ayan yang mendengarnya langsung menghela napas lega.
Setelah Rosita turun ke bawah wanita itu kini sibuk membuatkannya masakan, membuat Ayan yang melihatnya langsung buru-buru kembali ke dalam kamarnya. Dan saat ia sudah masuk ke dalam matanya langsung membulat dengan sempurna saat melihat dandanan istrinya sekarang.
Hingga rasanya pria itu tidak sanggup lagi berbicara untuk mendeskripsikan penampilan Hani sekarang.
"Falia apa ini?" tanya Ayan yang di balasan cengiran lebar dari gadis di depannya.
TbC
Lagi kan😂
Hani dan Ayan😘
__ADS_1