
Flash back on
"Falia!" aku berteriak sambil mengedarkan pandanganku ke seluruh sudut-sudut hotel.
Mencari keberadaan Faliaku, yang sedari tadi belum ketemu juga.
"Cari siapa pak?" tanya pelayan hotel wanita itu dengan ramah.
Mendengar pertanyaan itu aku langsung menoleh, barang kali pelayan itu mengetahui keberadaan Faliaku sekarang.
"Apakah anda melihat seorang gadis. Dia imut, tingginya," aku berpikir sejenak mengingat tinggi badan Falia, dan ah aku mengingatnya tinggi Falia sebatas pundakku,"Tingginya sebatas pundak saya, kulitnya putih, rambutnya panjangnya seleher," tanyaku sambil menunjuk leherku.
"Namanya siapa tuan?" tanya pelayan itu.
"Falia Hani," jawabku cepat. Yang diangguki pelayan itu.
"Tunggu sebentar, kami akan mengchek data pengunjung mana tau ada laporan tentang nona Hani," jelas pelayan itu membuatku berharap semoga saja ada.
"Oh, tuan namanya nyonya tadi Falia Hani bukan? Apakah tuan suaminya?" tanya pelayan wanita itu lembut.
Aku mengangguk.
"Benar, dia istriku!" ujarku. Dan entah kenapa perasaanku sedari tadi tidak enak.
"Kamar nyonya Hani berada di kamar nomor 123-"
"Terima kasih," ucapku menyelah tanpa mendengar penjelasan pelayan itu selanjutnya.
"T-tuan nyonya Hani sudah tidak berada disana lagi!" teriak pelayan wanita itu yang sama sekali tidak ku dengar. Karena jarak kami sudah berjauhan.
Sesampainya aku berada di depan pintu kamar yang katanya adalah tempat Hani berada. Dengan napas yang tersengal-sengal serta peluhku yang sedari tadi terus bercucuran aku tersenyum.
"Falia!" Panggilku sambil berjalan ke arah pintu. Aku mendekat lalu mulai membuka hadle pintu dengan satu tanganku.
Clek...
Dahiku berkerut, mataku menyapu seluruh isi ruangan yang tidak ada siapun di dalamnya.
"Kamu dimana? Jangan bercanda, hemm aku tau kamu disana," kataku sambil tertawa untuk mengurangi rasa cemas yang sedari tadi terus menghantuiku.
"Ayan tunggu!" teriak seorang wanita memanggilku yang ku tebak dia adalah
Putri?
Membuat aku yang tadinya berniat ingin masuk ke dalam kamar jadi terhenti.
Lalu...
Aku menoleh menatapnya yang sedang mencoba mengatur napasnya. Melihat itu aku terkejut lantas bertanya.
"Kamu kenapa ikut kemari?" tanyaku. masih mengatur napasnya aku melihat Putri mencoba merangkul lenganku.
"Aku khawatir jadi aku memutuskan untuk ikut," kata Putri. Membuatku terdiam untuk sebentar.
Lalu beberapa detik setelahnya suara bariton khas milik Boby berteriak memanggilku.
"Woy Ayan! Lo mah ninggali gue muluh!" teriak Boby, orang itu juga ikut? Sejak kapan?
"Kamu?"
"Sejak kapan ngikuti saya?" tanyaku lalu detik setelahnya sebelum dia membalas pertanyaanku. Aku baru ingat tujuan awalku datang kemari untuk mencari istriku. Dan kehadiran mereka membuatku merasa tidak enak.
__ADS_1
Ini adalah tugasku sebagai seorang suami, sudah kewajibanku untuk melindunginya. Tidak harus membuat orang lain ikut terlibat dalam masalah ini.
"Ah sudah lah," putusku, lalu aku mulai berlari memasuki kamar yang katanya adalah kamar Falia.
Tapi saat aku masuk ke dalamnya, yang ku pikir aku akan menemukannya disana. Teryata dia tidak ada. Mataku membulat penuh bukan Falia yang ku temui aku melihat ponselnya yang sudah tergeletak di atas lantai. Dengan secarcik kertas dengan posisi terbalik.
"Falia, berhenti bermain petak umpet sekarang hem..." manikku mulai berkaca-kaca, lalu aku mulai berjalan dengan langkahku yang cukup berat," Tolong jangan ngeprank aku seperti ini... aku tau kamu lagi bersembunyikan? Tidak perluh membuat kejutan seperti ini. Aku senang, hanya dengan melihatmu tersenyum," kataku dengan nada melemah. Aku terus berjalan mencari Falia di setiap sudut kamar.
"Falia, BERHENTI LAH SEKARANG! KELUAR LAH JANGAN BUAT AKU KHAWATIR SEPERTI INI!" pekikku sambil menangis.
Perasaan ini?
membuatku ingin menangis.
"Ayan," lirih Putri sambil melengkah masuk mendekatiku. menepuk punggungku sekali.
Aku melihat dia tersenyum tipis.
"Tenanglah, Hani past-"
Meremas wajahku kuat aku melirik tajam ke arah Putri. Untuk sejenak aku menyalahkannya karena dia Falia...
"Ini semua karena kamu! Kenapa kamu tinggalkan Faliaku sendirian?!" Putri terdiam saat aku memarahinya.
"Jika kamu tidak meninggal- ahk!"
Aku mulai frustasi, kenapa aku harus menyalahkan Putri atas kesalahanku sendiri. Seandainya aku tidak mengizinkannya pergi mungkin saat ini Falia tidak akan mungkin pergi.
Melihat itu Boby yang sedari tadi berdiri di pinggiran pintu dengan pundaknya yang menyandar disana. Mendadak wajah pria itu memucat. Ia baru menyadari jika Ayan benar-benar mencintai sahabatnya Hani. Jujur kini Boby menjadi kagum melihat Ayan seperti ini sekaligus kasihan.
Seperti Ayan, Boby juga berharap kalau ini adalah prank.
Tidak mungkin kan? Gadis tomboi seperti Hani lemah dan gampang untuk di culik.
"Bro gue yang cari Hani! Gue yakin dia cuma ngeprank kita!" seru Boby sambil melangkah masuk.
Mendengar suara Boby aku melepaskan pandanganku dari Putri lalu berpindah menatap ke arahnya.
Krek!
"Eh?" sentak Boby saat menginjak kertas di lantai. Menunduk Boby mengerutkan keningnya. Mengulurkan tangan kanannya Boby meraih secarcik kertas di bawah sepatunya.
"Apa ini?" gumamnya lalu dia mulai membaca tulisan yang ada di dalam kertas. Dengan kedua bola matanya yang molotot Boby terdiam sejenak, tiga detik setelahnya Boby mulai tertawa.
"Hahaa... gue gak tau kalau lo punya bakat ngeprank kayak gini Han, skakmat lo udah ketahuan sekarang! Jadi gak ada lagi alasan lo buat sembunyi, Ayo keluar!" ucap Boby dengan nada tinggi.
Mendengar tawa Boby setelah membaca surat itu dengan cepat aku merampasnya. kemudian membacanya.
Mati! Mati Mati!
Sama seperti Boby, aku tidak bisa mempercayai tulisan itu. Hingga tiba-tiba, aku melihat ponsel Falia yang tadinya mati kini tiba-tiba bergetar.
Ponsel Hani? tanya Putri dalam hati. Ah bodoh kenapa gadis itu meninggalkan ponsel sialan itu disini?
Seharusnya tidak ada jejak, tapi kenapa?
Ah Dasar Kia!
"Ponsel Hani? Gue gak pernah liat dia ngeprank kita sampe seserius ini, bro! Lo jangan mudah ketipu dan jatuh ke dalam perangkapnya, gue-"
"Diam!" pungkasku. Memotong ucapan Boby.
__ADS_1
Lalu aku mulai meraih ponsel Falia yang tergelak di atas lantai,"Entah kenapa firasatku mengatakan Faliaku saat ini sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja," ucapku seraya menghidupkan tombol nyala ponsel di tangan kananku.
"Ah apa ini firasat dari seorang suami? Bro gue yakin Hani baik-baik aja se-"
Trank!
"Bro lo gak papa?"
"Bro? Bro?!"
"Gak mungkin kan? Falia pergi kesana?"
"Ha? Pergi kemana? Bro lo-"
"Aku harus kesana!"
Setelah membaca pesan yang ada di ponsel Falia, mendadak tubuhku menegang. Ancaman itu? Semuanya sudah di rencanakan oleh seseorang.
Tidak!
Ini tidak benar, jika sesuatu terjadi dengan Falia. Maka aku? Aku adalah orang yang paling bersalah.
Karena aku dia?
Istri kecilku, aku akan menyelamatkannya.
Flash back of.
Author pov.
"Ah kamu sudah datang? Selamat pagi," sapa Ayan.
Lalu mengamati setiap inci tubuh wanita di depannya. Yang menggunakan celana jins dan switer berwarna hitam.
Kemudian pandangannya terhenti di satu titik tepat saat matanya dan mata wanita yang ia tatap saling bertemu.
"Kenapa diam saja?" tanya Ayan. Melihat wanita di depannya hanya diam dan menatapnya dengan tajam.
"Turunkan pandangan kamu! Jangan berani menatap pria dengan tatapan seperti itu!"
"Oh, maaf..." ucap wanita itu yang tidak lain adalah Hani.
"Jangan menatap saya dengan tatapan seperti itu lagi!" ujar Ayan.
Hani hanya diam. Membuat kening Ayan berkerut.
"Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Hani. Membuat Ayan kembali tersadar dari lamunannya. Reflek dan menarik pergelangan tangan Hani.
"Lepaskan," kata Hani.
"Bukannya pak Ayan bilang hubungan kita hanya sebatas atasan dan kariyawan?"
Deg.
Ayan tersentak lantas langsung melepaskan tangannya.
"Terima kasih atas kerja samanya PAK AYAN," ucap Hani sambil menekan kata Pak Ayan.
Menatap Ayan lama, detik setelahnya Hani melenggang pergi meninggalkan Ayan.
TbC
__ADS_1
Nexs?