Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
S2 Part 10


__ADS_3

...***...


Sehabis mengantar Liyuna ke kelasnya, Dimas pun berniat pergi ke perpustakaan untuk mencari buku pelajaran yang tertinggal semalam.


berjalan dengan santai.


sampai dirinya sadar diikuti oleh seseorang dari belakang.


menghela napas, cowok itu berhenti dan tanpa membalik tubuhnya Dimas berkata dingin.


"Keluar,"


tak lama setelahnya.


seseorang yang mengikuti Dimas diam-diam keluar dari persembunyiannya.


orang itu adalah Quenta.


Ya masih dengan dandanan seperti laki-laki pada umumnya. Padahal Quenta adalah perempuan.


lebih tepatnya, ia sedang menyamar jadi laki-laki untuk menutupi identitasnya.


Berjalan dengan pelan.


Quenta mendekati Dimas.


ia masih ingat kejadian semalam.


"Lo kalau mau nyuruh gue jadi budak gue mau kok,"


terus Quenta meremas jari jemarinya.


"Jadi pacar bohongan juga gak papa," lanjutnya.


Mendengar itu Dimas menggelengkan kepalanya, tak lama cowok itu pergi begitu saja meninggalkan Quenta.


bahkan cewek itu masih tetap takut kalau dirinya akan membongkar indentitas Quenta.


padahal sudah ia katakan sebelumnya. Kalau dirinya sangat tidak peduli.


"Kenapa sih batu banget! Gue juga butuh keberanian buat ngomong kayak tadi!"


Mengabaikan itu Dimas terus berjalan.


Sampai Quenta menarik pergelangan tangan Dimas kemudian mendorongnya sampai punggung Dimas membentur dinding.


"Lo bisa gak sih bersikap layaknya manusia? Lo kayak gini karena lo gak pernah ngerasain takutnya ketika lo gak bisa liat langit lagi besok! Gue mau percaya kalau memang lo itu gak perduli sama gue! Tapi saat gue mau percaya itu, gue inget kalau manusia itu egois. Mungkin sekarang lo gak butuh apapun dari gue, tapi nanti?"


saat berbicara panjang lebar, tanpa sadar mata Quenta mulai berkaca-kaca.


"Dan lo sekarang egois," sela Dimas.


"G-gue?" tanya Quenta merasa kebingungan.


"Lo maksa gue, padahal gue udah pernah bilang kalau gue gak perduli sama lo!"


"Tapi gue gak percaya,"


"Terserah, lo bisa menjauh sekarang?"


"Gak, antara dua pilihan pacar atau budak?"


"Lo beberapa menit yang lalu bilang kalau gue ini batu, terus sikap lo sekarang?"


"Gue cuma cari tempat yang aman, itu bukan batu namanya."


"Cih, egois."


"Emang kalau lo jadi pacar gue, atau bundak gue. Lo bisa jamin kalau rahasia lo bakal tetap terjaga?"

__ADS_1


"Gue gak tau, tapi gue bakal mastiin itu!"


"Baiklah,"


"Lo mau jad-"


"Gue bakal bilang ke orang-orang, kalau ada salah satu siswa yang sedang nyamar jadi laki-laki, menurut lo gimana?"


Quenta syok mendengar itu.


bisa mampus kalau satu sekolah tau kalau dirinya ini perempuan.


Menatap Dimas dengan eskpresi sedih, perlahan kepalanya menunduk.


tak lama setelahnya air mata pun mulai jatuh.


"Padahal gue udah berusaha keras. Gue punya alasan kuat kenapa gue harus jadi laki-laki padahal gue ini perempuan. Walaupun gue selalu berhati-hati dalam bertindak, tetap saja pada akhirnya gue ketauan."


"Gue harus gimana?"


"Gue gak mau berpenampilan kayak gini, kalau bukan karena keadaan."


mendengar itu, Dimas yang tadinya tampak tenang kini cowok itu mulai kebingungan.


padahal dirinya cuma bercanda.


"Gue ...." Sambil menangis Quenta kembali menatap Dimas.


"Lo gak perlu ngelakuin apapun, karena gue memang gak peduli. Dan gue gak minta lo percaya sama gue, tapi lo mulai detik ini bisa anggap kalau kejadian itu tidak pernah terjadi. Lo gak pernah ketemu sama gue, dan gue juga gitu. Bisa kan?"


Quenta menganggukan kepalanya.


kemudian menjauh dari Dimas.


"Terima kasih," ujar Quenta.


Dimas menganggukan kepalanya pelan. Kemudian pergi, tanpa Dimas sadari hari ini dirinya cukup bicara panjang lebar dengan orang asing.


...***...


kata Nana penyakit papanya kambuh. Sebagai anak yang baik, Bara akan menemui papanya.


Dan sesampainya Bara disana.


Nana, berserta keluarganya menyambut kedatangannya.


Wanita yang usianya sama dengan Bara itu langsung mendekati Bara kemudian mengajaknya masuk ke dalam.


kemudian menggandeng lengan Bara.


namun yang digandeng tampak tidak suka. Hingga mengatakan kalimat yang dimana membuat hati Nana hancur seketika.


Di depan keluarganya dirinya ditolak dengan halus.


"Aku bisa jalan sendiri,"


"Maaf," cicit Nana sambil menjauhkan tangannya.


walau sebenarnya Nana sedih. Ia tidak bisa menunjukannya ke siapapun. Apalagi keluarganya.


setelah Nana menjauhkan tangannya.


Bara berjalan mendahului Nana.


kemudian berjalan ke arah mama, adik dan neneknya.


"Kenapa baru datang sekarang? Papa kamu udah nunggu sejak kemarin malam," tutur Sarah bertanya.


"Semalam ada tugas Ma, jadi Bara nginap dirumah teman. Paginya Bar-"

__ADS_1


"Paginya?"


"Paginya sedikit ada masalah, baru bisa sampai dirumah siang hari."


"Udah lah Sarah, Bara capek. Biar dia istirahat dulu!" sela Tina, nenek Bara.


Bara tersenyum.


"Yaudah kamu istrahat dulu sana, setelah itu jangan lupa jenguk papa. Kebetulan ada yang harus kita bicarakan bersama dengan keluarga Nana juga."


entah mengapa? setelah ucapan mamanya. Perasaan Bara seperti campur aduk. Dan sangat sulit untuk dijelaskan.


sudah pasti, keluarganya akan membahas tentang pernikahan.


apa akan dipercepat?


Liyu aku harus bagaimana?


Sial, kenapa Bara memikirkan Liyuna.


perasaannya jadi tidak karuan.


"Kak Bar," cicit Seina melihat ekspresi kakaknya yang terlihat begitu tertekan.


Seina tau kalau kakaknya tidak suka dengan perjodohan yang dilakukan kedua orangtuanya.


Seina juga tau kalau kakaknya telah mencintai wanita lain.


"Kakak gak papa?"


dengan manik membulat, Bara menatap adiknya. Dirinya sempat terkejut saat adiknya menanyainya.


menghela napas, perlahan kedua sudut bibir Bara melengkung ke atas.


"Kakak gak papa kok Ina,"


"Kalau gitu Bara izin ke kamar dulu." lanjut Bara kemudian pergi menuju kamarnya yang ada dilantai atas.


...****...


Kantin sekolah.


"Please bantu gue dong biar om Bara gak jadi nikah sama orang lain ...." rengek Liyuna.


Dimas dan Roby sama-sama menghela napas.


"Kalau doa aja sih gue gak bisa jamin tuh om bakal jadi suami lu," kata Roby sambil menyomongot tahu isi yang ada dipiring Liyuna.


"Tapi Yu, sebagai playboy kelas kakap. Gue punya rencana biar tuh om batal nikah, dan mau sama lo."


"Gimana?"


"Sebelum itu lo harus manggil gue Roby ganteng,"


"Najis!"


"Palingan saran lo suruh Liyu jadi ortig kan?" kata Dimas menyela.


"hehehe ...."


"Lagian mustahil berharap cuma pakek doa,"


"Lo ngeremehin doanya seorang Liyuna. Gue rela tiap hari bergadang disepertiga malam demi Om Bara da-"


"Dan lo sekarang sama aja riya,  Percaya diri kali kalau doa lo selama ini sampai ke Allah. Lo lupa mungkin yang berdoa sama Allah biar tuh Om Bara jadi jodohnya banyak, gak lo aja." ujar Dimas agar Liyuna sadar diri.


"Lo bisa gak sih jangan nurunin semangat gue? Gue depresi sampe rasanya ...."


"Lo mau jadi ortig kan?" potong Roby menggoda Liyuna.

__ADS_1


"Mau mati lo!" kesal Liyuna dengan candaan Roby.


Ya kali dirinya jadi orangketiga?


__ADS_2