Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 6


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh murid kelas 12. Pasalnya hari ini mereka akan mendapatkan surat kelulusan, dimana hasil kerja keras mereka akan di umumkan hari ini. Dan hari dimana mereka akan melepas masa putih abu-abunya.


"Hey, jangan ngelamun terus calon ibu tentara!" suara Boby tak membuat gadis disampingnya itu bergerak. Pikirannya masih bergelayut dengan ucapan Ayan kemarin malam.


Apa katanya? CINTA?


Apa benar jika Ayan begitu mencintai dirinya? Tapi sulit rasanya jika menjelaskan semuanya dalam bentuk logika. Sulit untuk di pahami oleh seorang Falia Hani.


"WOY! KEBAKARAN KEBAKARAN!" teriak Boby. Wajahnya sengaja di buat-buat seperti orang ketakutan.


Membuat Hani yang mendengar ucapan Boby itu langsung terjelongkat kaget. Ia berdiri dari duduknya kemudian berlari keluar kelas sambil berteriak-teriak.


"Woy ...."


"Ayoo lari cepetann!!"


"Ada kebakaran!"


Semua orang menatap kanan dan kiri. Berbisik saat melihat tingkah aneh Hani sekarang.


Hani merasa kesal ucapannya di abaikan begitu saja,"Woyy gusy, ada kebakaran ayo kita lari keluar sekolah!" kata Hani geram.


Gadis itu berlarian kesana-kemari memberitahu teman-temannya yang lain. Tapi dia tersadar saat mereka semua hanya tertawa menertawakan tingkah konyolnya.


Tempat pemberhentiannya sekarang adalah di ruang guru. Ini semua karena ulah anak Sial Boby itu dengan kurang ajarnya membuat dirinya malu didepan teman-temannya.


Gadis itu berjalan berbalik arah menuju kelasnya kembali, tangannya mengepal kuat. Dan hentakan kakinya mengatakan bahwa gadis itu sangat marah.


BRAK!


Sebuah pukulan di atas meja menghentikan aktivitas semua orang yang berada di kelas, semuanya menuju arah sumber suara.


Hani?!


"Santuy neng santuy ... Orang cantik mah jangan marah-marah entar tambah cantiknya," kata Boby menenangkan Hani, tapi tetap saja amarah Hani masih memuncak penuh di atas kepalanya.


"Sialan!" umpatnya, kemudian berjalan menuju mejanya.


Setelah sampai di mejanya, Hani dengan kasar mendudukan bokongnya ke kursi. Menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Detik setelahnya gadis itu mulai menidurkan kepalanya, kemudian menenggelamkan wajahnya di dalam tangan yang dilipat di depan meja. Pikirannya sangat kacau.


"Enjoy kali Han! Lo kenapa si? Kaya mau mati besok aja, terus dosa masih banyak. Eh tapi bener si lo itu banyak dosa apalagi sama gue yang tampan ini," cerocos Boby dengan tidak tahu malunya pemuda itu kembali membuat Hani marah.


Dengan gerakan kasar Hani mengangkat kepalanya, mendengus gadis itu menatap sinis ke arah Boby di sampingnya.


Yang di tatap dengan bangganya menunjukan jejeran giginya yang berwarna putih. Tersenyum lebar pemuda itu mengedipkan matanya.


"Najis!"


Tawa Boby pecah saat itu. Melihat ekspresi Hani yang sangat sulit di artikan dengan kata-kata.

__ADS_1


Cowok tidak peka sepertinya hanya bisa membuat gadis seperti Hani marah-marah tanpa ada gunanya.


"Sumpah, lo lucu banget kalo muka lo kaya gitu hahahahah ...." goda Boby di sertai tawanya yang sangat besar.


Plak! Satu geplakan tangan seorang wanita mampu menghentikan tawa pria itu. Saat mendapati si pemukul itu adalah wanita yang selama ini dia takuti.


"B-Bella?"


"Hay?" sapa Bella. Tak kalah tomboynya wanita itu memainkan permen karet di mulutnya, menghembuskannya hingga membuat sebuah balon dan akhirnya meletup.


"Bella?!" teriak Hani kegirangan. Berjalan cepat gadis itu menghampiri sahabat dekatnya Bella Ariana lalu memeluknya erat.


"Gue kangen banget sama lo," ucap Hani bersemangat.


"Puitis lo!" cibir Boby. Pemuda itu melipat kedua tangannya.


Mereka berdua melepaskan pelukannya. Menatap sinis ke arah Boby yang sedang memandangnya.


"Apa? Lo mau minta di peluk sama gue?" Boby merentangkan kedua tangannya."Sini-sini peluk sama bang Boby ganteng!" seru Boby narsis. Membuat Hani dan Bella sama-sama memutar bola mata mereka jengah.


"NAJIS!"


"Wih kompak amat lu berdua?"


Hani memutar matanya jengah, dan Bella menatap Boby dengan tatapan sinis.


Jujur, jika Bella sudah marah gadis itu akan membuat siapa saja yang berhadapan dengannya itu akan merasakan ketakutan termasuk Boby sendiri.


"Gu-gue? bukan gue!" ungkap boby sedikit ragu.


Bela melangkah maju mendekati Boby tatapannya intens menatap bola mata Boby dengan tatapan membunuh.


Saat Bellla hendak berbicara lagi Hani yang terlebih dahulu berucap.


"Gue dijodohin!"


"APA?!"


"Jangan berisik tau lo jadi sorotan semua anak-anak," ujar Hani.


"Heheheh. Sorry!" sahut Bella dengan nada suara pelan.


Hani menghela napas berat. Memejamkan netranya sebentar gadis itu kembali membuka matanya menatap Bella yang sedang serius mendengarkannya.


"Nanti gue ceritain tapi ga sekarang! Tuh ada bu Rina datang!" ujar Hani saat melihat kedatangan Buk Rina wali kelasnya.


...****...


Setalah kedatangan Bu Rina tadi, semua murid kelas 12 dikumpulkan di dalam satu ruangan yaitu. Aula.

__ADS_1


Hari ini hari sabtu, hanya kelas 12 yang dianjurkan masuk karena memang ada pembagian surat kelulusan dan kebetulan lagi sekolahnya adalah sekolah yang fullday. Jadi semua kelas 11 dan 10 liburkan. Terkecuali kelas 12.


Saat Bu Rina masuk kembali membawa beberapa amplop untuk dibagikan, Raut wajahnya terlihat sendu seperti menyimpan kesedihan yang mendalam. Padahal pas tadi masuk ke kelas ia lah yang terlihat biasa saja.


"Anak-anak ada yang mau ibu sampaikan ini sangat penting sekali. Bisa kalian diam dan dengarkan ibu baik-baik?" ujar buk Rina. Sontak membuat para murid langsung terdiam mendengarkan dengan seksama pembimbing di depan mereka.


Bu Rina menyimpan amplop itu diatas meja, berjalan mendekat ke arah kursi Amar, di aula memang sengaja di tata seperti kelas tapi tanpa meja. Artinya hanya ada tempat duduk.


Mereka semua yang ada di kelas menatap buk Rina dengan Intens, mungkin ini menyangkut kelulusan mereka.


Hening beberapa menit sampai akhirnya suara bu Rina kembali berbunyi.


"Tiga tahun sudah berlalu, Rasanya baru kemarin ibu melihat kalian mos. Melihat kalian dengan tampilan kucel dan dekil ..." katanya membuat kami terkekeh sedikit.


"Tapi hari ini semuanya telah terbukti. Bahwa waktu cepat sekali berlalu,"


Semua murid memsang wajah murung.


"Perasaan baru kemarin ibu melihat Ayub kayak anak ingusan, tapi sekarang dia sudah tampan. Bahkan pacarnya mungkin sudah banyak," kami tertawa bersama, tetapi bu Rina hanya tersenyum.


Yang dijadikan bahan lelucon itu menganggaruk tengkuk lehernya. Menunduk saat semua murid menatapnya.


"Kemarin masa dimana kalian melewati ujian telah selesai, semua usaha yang kalian lakukan semua hasilnya ada disini," Bu rina menunjuk amplop putih di atas meja.


"Ada satu hal yang membuat ibu sedih selain perpisahan,"


Hening. Bu Rina seperti menyimpan beban yang sangat besar, ia menuduk beberapa detik kemudian mengangkat kepalanya kembali. Dia seperti memandang satu persatu anak didiknya.


Mereka ikut terharu dengan ucapan bu Rina. Tapi apa yang dimaksud bu Rina?


"Maaf, Ibu sudah mengusahakan dengan segala cara, tapi salah satu diantara kalian ada yang tidak lulus tahun ini." terdengar sangat berat saat bu Rina mengucapkan itu.


Semuanya menunduk, tiba-tiba salah satu murid mengangkat tangannya dan mengajukan pertanyaan.


"Bu? Siapa orangnya?" tanyanya penasaran.


Bu Rina tidak bergeming kemudian mengambil amplop yang ada di atas meja itu.


"Ada tiga orang mereka bersahabat sejak lama. Salah satu diantara mereka lelaki dan dua orangnya perempuan," ujar bu Rina merasa sedih saat mengatakannya.


Atensinya mengarah ke arah Hani, Bella dan juga Boby.


Jujur pernyataan bu Rina membuat Hani, Bela dan boby merasa was-was pasalnya mereka adalah kategori yang sama persis seperti yang di ucapkan bu Rina.


Tak lama bu Rina berjalan dan membagikan amplop itu. Setelah itu kembali duduk dimeja, dan terdengar suara teriakan dan isakan dari,


Hani!


"IBUUUUUU ... ini gak mungkin kan?!" teriaknya lantas bangkit. Mengakat kertas hasil kelulusannya tinggi-tinggi.

__ADS_1


__ADS_2