Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 28


__ADS_3

Bruk!


"Auw ...." meringis Hani terbangun dari tidurnya, mengelus-elus pinggangnya yang terasa sakit.


Semalaman Hani tertidur di atas sofa, untuk menunggu Ayan yang belum juga datang.


Melirik jam di dinding, Hani menghela napas jengah. Bangkit gadis itu melangkah ke arah pintu. Hani sudah memutuskan untuk menunggu suaminya itu di halaman apartementnya.


20 menit setelahnya tanda-tanda munculnya Ayan juga belum terlihat membuat Hani sedih.


Hani mencoba untuk menelpon Ayan kembali, dan lagi-lagi nomor Ayan tidak aktif.


Mendesah cukup panjang ia berjongkok sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


"Selamat pagi pak Ayan," sapa satpam itu dengan sopan.


Ayan tersenyum kemudian memberikan kunci mobilnya untuk satpam itu parkirkan.


Mendengar suara Ayan. Hani langsung berdiri lantas tersenyum lebar. Memanggil Ayan dengan wajah sumringah.


"Om Ayan!" panggil Hani berteriak.


Ayan menghentikan langkahnya. Memejamkan matanya sejenak, pria itu kembali melanjutkan langkahnya.


Di abaikan, membuat Hani menjadi sedih. Gadis itu berlari mengejar


Ayan.


"Tunggu!" teriak Hani saat pintu lift ingin tertutup.


Ayan membuang muka saat Hani masuk ke dalam lift yang sama dengannya.


"Om!" panggil Hani.


Yang di panggil tidak merespon. Pria itu sibuk dengan ponselnya. Membiarkan Hani berbicara seorang diri di sampingnya.


Ting ...


Melihat pintu lift terbuka buru-buru Ayan keluar dari lift tersebut. Meninggalkan Hani dengan berjalan cepat.


Hani menunduk sedih. Memandangi punggung Ayan yang menjauh dari pandangannya.


Awalnya Hani berpikir jika Ayan hanya merasa lelah. Jadi Ayan tidak mendengar panggilannya. Tapi diamnya Ayan sekarang kali ini berbeda.


Tanpa sadar Hani meneteskan air matanya. Berjalan perlahan menuju aprtementnya.


"Tidak kamu cukup tanda tangan di proposal hijau itu. Setelah itu berikan ke klien," jelas Ayan lewat telponnya.


"Terima kasih Yan,"


Ayan tersenyum, sambil melirik Hani berdiri di depannya.


"Nanti aku hubungi lagi. Semangat Put," ucap Ayan menyemangati Putri lewat telponya.


Setelah memutuskan telponnya dengan Putri, pria itu segera pergi menuju kamarnya untuk bersiap-siap. Melewati Hani tanpa menyapanya.


Hani menggulum bibir atas dan bawahnya, matanya mulai berair saat Ayan hanya mengabaikannya.


Rasanya sangat sakit. Di bandingkan saat Ayahnya memarahinya.

__ADS_1


Ayan langsung menjauh saat Hani mendekatinya. Pria itu buru-buru memakai seragamnya.


Napasnya sesak jika Hani mendekatinya.


"Om, jika saya telah berbuat salah setidaknya om bilang apa kesalahan saya," cicit Hani.


"Maaf, jika tanpa sengaja melukai perasaan om," sambungnya.


Ayan hanya diam. Pria itu menyisir rambutnya. Menatap Hani yang tengah menangis melalui pantulan cermin.


Percayalah hatinya juga sakit melihat wanitanya itu menangis.


Melalui Hani, pria itu mendongakan kepalanya. Menutup pintu kamar membiarkan Hani sendirian.


...****...


"Lo kenapa?" tanya Keno saat Hani menangis di depannya.


"Hati gue sakit Ken," ujar Hani sambil menunduk dalam.


Keno menaikan dagu Hani ke atas, tersenyum pemuda itu menghapus jejak air mata Hani dengan ujung tangannya.


"Lo dateng ke tempat yang tepat," ujar Keno.


"Lo sakit hati, gue sakit jantung." sambungnnya.


Hani menepis tangan Keno dari dagunya."Gak lucu Ken,"


"Kalau yang lucu itu lo!" kilah Keno.


Hani menerjapkan matanya, menatap pemuda di depannya kemudian gadis itu berkata.


"Apa semua laki-laki jika mereka marah, mereka akan diam?" tanya Hani.


"Emang lo lagi dekat sama siapa?" Keno membuka mulutnya, pemuda itu mengingat seorang pria yang selalu antar jemput Hani, ke sekolah.


"Jangan bilang pria tentara yang sering antar jemput lo itu?" teriak Keno histeris, dengan cepat Hani langsung membungkam mulut Keno dengan tangannya.


"Lo bisa pelani suara lo gak? Gimana nanti kalau ada yang denger?!" bisik Hani tepat di telinga Keno.


"Berarti bener?" jeda.


Keno menautkan alisnya tidak mengerti,"Lo punya hubungan apa sama tuh tentara?" tanya Keno.


Hani terdiam, gadis itu menunduk. Apa sebaiknya jika dirinya memberitahukan yang sebenarnya tentang pernikahannya dengan Ayan.


"T-tentara itu-"


"Pacar lo?" potong Keno. Hani menggeleng.


"Tunangan?" terka Keno lagi. Hani menggeleng lagi.


"Jangan bilang?"


Hani menganggukkan kepalanya.


"Lo bercandakan?" tanya Keno tidak percaya.


"Gue lagi gak bercanda," balas Hani.

__ADS_1


"Kok bisa?!"


"Anehkan? Pernikahan gue udah hampir setengah tahun. Pernikahan gue terjadi karena perjodohan," Hani tertawa saat mengingat hari pertama sewaktu pertama kali ia bertemu dengan Ayan,"Umurnya beda 13 tahun dari gue. Jadi gue sering manggil dia om,"


"Om?" sela Keno bertanya.


"Anehkan? Gue nyadar si gak seharusnya gue panggil suami gue sendiri dengan sebutan om, tapi karena kebiasaan panggil dia om, jadi gue susah buat gak manggil dia om, padahal gue ingin memanggil dia dengan namanya, Ayan," Hani menatap Keno yang serius mendengarkannnya,"Atau Yang?" Hani tertawa sambil menangis.


Keno ikut menangis saat mendengarkan curhatan Hani. Pria itu mengepalkan satu tangannya karena kecewa atas prilaku Ayan yang mengabaikan Hani.


Seandainya Keno bertemu dengan pria itu maka ia akan menghajarnya habis-habisan.


...****...


Hani melirik Ayan yang tengah menyusun semua pakaiannya ke koper. Hatinya menjadi gelisah, gadis itu berpikir apa Ayan akan pergi meninggalkannya.


Mengeluarkan baju Ayan dari koper, gadis itu menangis. Duduk di pinggiran rajang sambil menunduk.


"Jangan pergi om!"


"Saya janji akan menjadi istri yang baik, saya janji gak akan manggil om lagi saya--"


Hani berhenti menangis saat Ayan memeluknya.


"Maaf," ucap Ayan lirih. Mencium puncak kepala Hani berulang-ulang.


"Om, eh maksudnya--"


"Panggil aku seyaman kamu, tidak apa jika kamu terus memanggilku dengan sebutan om," tutur Ayan. Hani menggeleng.


"Tidak. Mulai dari sekarang saya akan memanggil nama kamu, Ayan?"


Ayan tersenyum bahagia, mengecup kening istrinya lembut.


"Maaf, gara-gara saya pakaian kamu jadi berantakan," kata Hani menyesesal.


"Tidak apa, yang penting kamu senangkan?"


Hani tersenyum malu. Membantu Ayan untuk melipat pakaiannya.


"Om-"


Hani menggigit lidahnya,"Maaf kebiasaan saya,"


Ayan tertawa kemudian mendaratkan tangannya ke puncak kepala Hani.


"Tidak apa," balas Ayan.


"Ayan, Kamu tadi mau pergi kemana?" tanya Hani ragu.


"Tidak pergi," ujar Ayan.


"Terus kenapa nyusun pakaian ke koper kalau gak pergi coba?"


"Ini pakaian mau saya sumbangkan ke orang yang membutuhkan," jelas Ayan.


"lalu kamu pakai apa jika pakaian ini kamu sumbangkan?" tanya Hani.


Ayan menyeringai berjalan ke arah lemari pria itu langsung membukanya,"Lihat? Pakaian ini lebih dari cukup, pria tidak memerluhkan banyak pakaian. Jadi beberapa saja itu lebih dari cukup," jelas Ayan. Membuat Hani malu sendiri.

__ADS_1


Selesai...


Oke sekian dulu♥️


__ADS_2