
Keno termenung, pandangannya lurus ke depan memandangi pemandangan yang hanya berwarna hitam, dengan cahaya sinar rembulan yang menerangi sekelilingnya, tertawa pemuda itu meremas wajahnya dengan satu tangan. Detik setelahnya pemuda itu menunduk menatap ratusan kendaraan melintas di bawahnya.
"Ini semua karena lo Yan," jeda tiga detik, pemuda itu meraih batu krikil di sampingnya. Menghela napas pemuda itu melemparkan batu krikil itu ke bawah.
"Kak AYAN!" teriak Keno sambil menekan kata Ayan.
"Kak Ayan," panggil Keno yang masih kecil, dengan wajah ceria.
Sontak membuat Ayan yang saat itu usianya masih 15 tahun. langsung menghentikan langkahnya. Berbalik, kemudian berjalan mendekati Keno.
"Ada apa?" tanya Ayan lembut, pria itu berjongkok lantas menyentuh kedua pundak Keno kecil di depannya.
"Apa kakak akan datang ke sini lagi? Aku suka bermain dengan kakak." kata Keno kecil begitu antusias hingga kedua bola matanya bersinar, di susul kedua tangannya terangkat kemudian terkepal. Anak kecil itu berharap semoga Ayan menjawabnya.
Menghembuskan napas lelah, Ayan memejamkan matanya sejenak.
Membuka matanya kembali Ayan mengulas senyuman kecil, lalu menatap adik kecil di depannya dengan tatapan sayunya.
"Keno, dengarkan kakak. Setelah kejadian tadi mungkin kakak tidak bis-"
"Keno!" panggil Veno garang. Tangannya dengan kasar menarik tubuh mungil putranya.
"Jangan dekat-dekat dengan anak pembawa sial itu!" teriak Veno dengan kedua netra menajam ke arah Ayan.
Tatapan tidak sukanya, membuat Ayan mengepalkan kedua tangannya. Seharusnya yang marah adalah dirinya.
"Papa, kenapa-"
"Ayo masuk!" sela Veno, menyela pembicaraan Ayan.
Dengan gerakan kasar, pria itu menggendong tubuh mungil putranya yang saat ini menangis ingin di turunkan.
"Anak pembawa sial seperti dia, jangan sesekali kamu mendekatinya!" ancam Veno memperingati Keno.
"Ah seharusnya gue sadar kalau dia memang pembawa sial!" ucapnya setelah bayangannya akan peristiwa 13 tahun yang lalu terlintas di pikirannya.
Peristiwa yang mejadi alasan kenapa dirinya bisa sangat membenci Ayan.
Peristiwa yang membuatnya harus menderita seperti ini.
Menangis pemuda yang masih berseragam sekolah itu menjambak rambutnya sangat kuat, tiga detik kemudian pemuda itu berteriak.
"Kenapa? Kenapa? H-Hani? Kenapa?!" teriaknya.
... ****...
"Hahaa.." tawa Hani dan Putri menggelegar di seluruh ruangan kefe yang penghuninya hampir seluruh pria.
__ADS_1
"P-pria itu lucu sekali," ucap Hani di sela tawanya.
"Dia begitu bodoh," sambungnya. Yang di angguki oleh Putri. Wanita bergaun biru muda itu menggeleng sambil menutup setengah wajahnya.
Mengingat kejadian 1 menit yang lalu ketika seorang pria menghampirinya kemudian menyatakan cinta kepadanya. Namun dengan cara yang cukup menggelikan.
Kenapa menggelikan? Karena pria itu menyatakan cintanya, dengan cara memberikan botol minuman fanta. Bukan sejenis bunga atau coklat, bayangan itu masih saja berputar di pikirannya.
Baru kali ini ia mendapati seorang pria yang berani menyatakan cintanya dengan menggunakan sebotol fanta.
"Berhenti lah tertawa Hani, dan jangan menghinaku seperti itu!" tukasnya, menatap Hani dengan kedua pipi mengembung. Sontak membuat gadis itu berhenti tertawa.
"M-maaf, a-aku tidak ber-"
"Hahaa..." tawa Putri ketika melihat ekspresi Hani.
"A-ada apa?" tanya Hani dengan ekspresi kebingungan.
"Lupakan saja, ayo membahas masalah tentang tujuan kita datang kesini," ujar Putri sambil menyeruput jus jeruk di gelasnya. Meyeringai kedua matanya melirik Hani di depannya.
"Baiklah..." balas Hani. Gadis itu meraih celengan ayamnya yang tadinya berada di lantai perlahan terangkat kemudian ia letakan di atas meja, hingga membuat suara gubrakan pada meja.
Brak!
"Apa itu?" tanya Putri dengan kedua alis menyatuh.
"Tadi pagi aku tidak sengaja melihat ktp Ayan, terus tanpa sengaja juga aku lihat tanggal lahir Ayan."
"Lalu?" sela Putri bertanya.
"Lalu, sebentar lagi ulang tahun Ayan. Dan-" jeda tiga detik.
Hani memejamkan matanya sejenak, kemudian menghela napas. Menunduk gadis itu merasakan pipinya memanas.
"Aku ingin memberikan kejutan ulang tahun untuk," Hani mendongak kedua jarinya bermain di jaket berwarna hitam yang ia pakai,"Suamiku." lanjutnya dengan nada malu.
Mata Putri terbelalak lebar, rahangnya mengeras ketika Hani mengakui Ayan sebagai suaminya.
"Apa kamu mau membantu aku? Lagian yang mengerti Ayan lebih baik adalah kamu," kata Hani cukup kecewa. Menyadari jika dirinya tak begitu mengenal Ayan.
Mendengar itu Putri meyeringai, sebagai seorang wanita dirinya cukup bangga karena nyatanya yang mengerti Ayan adalah dirinya. Sedangkan istrinya? Gadis itu seperti orang bodoh yang tak mengetahui apapun selain menyusahkan Ayan.
"Hemm.." mengelusi dagunya Putri mencoba berpikir. Lalu senyum iblis terbit dari bibirnya.
Kini kedua sudut matanya menyipit,"Aku punya saran," Hani tersenyum senang,"Apa kamu mau mendengar saran ini?" tanya Putri yang langsung di setujui oleh Hani sendiri.
"Maka kamu harus mati!" kata Putri sambil meyeringai.
__ADS_1
Kata mati membuat Hani membulatkan matanya. Mulutnya terbuka lebar. Tidak terima dengan saran yang di usulkan Putri barusan.
"Mati?!"
"M-maksud aku berpura-pura mati," koreksi Putri membenahi kata-katanya tadi.
Duduk kembali, Hani mencoba berpikir kemudian berkata.
"Apa ada orang gila yang akan memberikan kejutan seperti itu?" tanya Hani merasa heran.
"Tentu ada, contohnya teman aku namanya Hasta. Dia memberikan kejutan sama seperti ini di hari ulangtahun istrinya, kedengaran konyol sih... tapi nyatanya? Hubungan mereka yang dulunya seperti kisah cinta kamu dan Ayan-"
"Seperti kami?" tanya Hani memotong cerita Putri.
"Kenapa seperti kami?" lanjutnya.
Tertawa renya, wanita menggeleng.
"Kenapa? Karena kisahnya juga sama. Hanya saja mereka berakhir bahagia-"
"L-lalu kami? Bukankah kami akan sama. Juga berakhir bahagia,"
"Ntahlah, karena takdir kalian mungkin tidak sama bagusnya seperti takdir mereka."
"Karena kisah kalian tidak sama seperti itu. kisah kalian berbeda!"
Mendengar kata-kata itu membuat Hani tidak terima, kisah cintanya dengan Ayan akan berakhir seperti cerita yang baru saja ia dengar.
Bahagia...
Tidak ada akhir yang menyedihkan. Kalau adapun Hani akan menyingkirkannya.
"Kisah kami akan berakhir bahagia! Dan aku berjanji akan hal itu!" tandas Hani.
Membuat kedua tangan wanita di hadapannya itu terkepal sangat kuat di susul ekapresinya yang seperti menahan amarah yang segera ingin meledak.
Bangkit wanita itu mengulurkan kedua tangannya untuk mencekik leher gadis di depannya.
Namun tidak jadi, kedua tangannya itu beralih ke pundak Hani. Mengelusnya lembut. Kini Putri kembali tersenyum.
"Hey... tenang lah, aku mengatakan itu agar kamu bisa lebih waspada agar rumah tangga kalian akan baik-baik saja. Dan aku percaya jika akhir cerita cinta kalian akan berakhir bahagia,"
"Jika ada yang berani memisahkan kalian. Maka aku sendiri yang akan menghancurkan mereka!"
TbC
Ehek...
__ADS_1