Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 37


__ADS_3

"Aa ..." Keno melebarkan mulutnya, saat tangan Hani hendak memasukan kripik ke dalam mulutnya.


"Kurang lebar Ken ... mangap lagi," kata Hani. Yang berniat menjahili pemuda yang saat ini sedang masuk ke dalam perangkapnya.


"Oh ngiat ghak shi!" (lo niat gak sih?!)


Mulut Keno masih terbuka, menatap Hani sedikit kesal. Hampir 2 menit mulutnya masih tetap sama. Terbuka. Berharap kripik di jari Hani itu masuk ke dalam mulutnya.


Hani terkekeh pelan, ia mengulurkan tangannya mendekat ke mulut Keno, melihat itu Keno menangkap tangan Hani, agar kali ini gadis itu tidak bermain-main lagi. Menariknya perlahan, senyum penuh kepuasan terbit dari bibirnya, menggigit dengan kasar kripik di tangan Hani.


"Hemm enak," kata Keno sengaja.


"Keno lo itu kan ke-"


"Buk Rina datang woy!" teriak Alfa sambil berteriak, pemuda itu berlari kocar-kacir menuju kelas.


"Buk Rina woy!" teriaknya lagi. Saat melihat keadaan tetap masih seperti biasa. Menarik celana sekolahnya ke atas, pemuda dengan kain sorban melilit di atas kepalanya itu terlihat kesal, kenapa tidak ada yang mempercayainya.


"Raja mesir... lo boong lagi ya?!" ucap Meta dengan senyum sinis terlintas di bibirnya. Gadis dengan dandanan seperti orang korea itu menggelengkan kepalanya sekali.


"Gue gak boong.. tuh buk bahenol mau masuk ke sini," balas Alfa. Pemuda bersorban yang akrab di panggil raja mesir itu mengotot jika kali ini ia tidak berbohong. Keseringan bercanda dengan mamakai trik ini memang efeknya jadi serumit ini.


"Bener itu, dimana kamu melihat buk bahenol itu?" tanya seorang wanita dengan nada bicara di lembut-lembutkan. Walau kini wajahnya terlihat merah karena menahan amarahnya.


"Tadi di depan kantor," Alfa menoleh, matanya membulat penuh, sontak membuat tubuhnya terjatuh ke lantai, celananya kembali merosot ke bawah. Untung saja ia memakai kolor sehingga membuatnya tak terlalu malu.


"Hahahaa ..."


Tawa ipa 2 terdengar menggema di seluruh ruangan. Menertawai keadaan teman satu kelasnya yang saat ini seperti meminta pertolongan. Namun, bukannya menolong mereka semua kini malah menguatkan suara tawa mereka, kecuali Hani yang hanya geleng-geleng kepala. Berbeda dengan Keno, pemuda itu tertawa terjungkal-jungkal dengan kedua tangan memukul-mukul meja. Pemuda itu terlalu bersemangat menertawai Alfa yang tragis mengenaskan di tangan salah satu guru killer bernama Rina. Wali kelas Ipa 2.


"Kawan bangsat!" ucap Alfa yang hanya seperti orang membaca matra. Tidak ada suara melainKan mulutnya yang hanya bergerak-gerak.


"Aduh!" pekiknya saat telinganya naik ke atas, sengaja di tarik oleh Rina. Wanita itu mengeraskan rahangnya. Menarik telinga anak muridnya karena terlalu gemas.


"Ikut ibuk!" tekan Rina. Wanita itu melirik Hani yang tengah mengorek-ngorek hidungnya, alisnya terangkat satu, menatap Hani kemudian memanggilnya.


"Hani kamu juga ikut ibuk!" lanjut Rina dengan nada galak.


Hani menekuk wajahnya, bibirnya mengerucut ke dapan. Gadis itu menunjuk dirinya sendiri.


"Saya buk?" tanyanya yang di angguki cepat oleh Rina.


"Gue ikut!" sela Keno pemuda itu menahan tangan Hani yang tadinya hendak pergi.


"Gak usah entar ribet!" Hani menepis tangan Keno, gadis itu melemparkan tatapan malas ke arah Rina yang saat ini sedang menunggunya di depan pintu kelas.


Ruang guru.


"Buk jangan apa-apain saya buk. Umur saya belum cukup untuk melakukan itu," Alfa melirik Hani,"Yakan Han," Alfa menerjapkan sekali matanya.


Mengambaikan orang di sampingnya, Hani kini menganggaruk pelepis alisnya. Gadis itu enggan menjawab ocehan pemuda berkulit sawo matang di sampingnya.


Rina, menghembuskan napas penuh beban. Memijat pangkal hidungnya wanita itu menggeser ember yang di dalamnya berisi air dengan ujung kakinya.


Satu tangannya bergerak untuk meyerahkan kain pel yang semula di tangannya ke arah Alfa.

__ADS_1


"Jangan banyak ngomong Al, kerjakan sekarang!" titah Rina.


Cemberut, Alfa meraih gagang pel di tangan Rina. tiga detik setelahnya pemuda itu mengangkat ember hitam dengam satu tangannya.


Meninggalkan Rina dan Hani dengan raut wajah yang terlihat kesal.


Melihat kepergian Alfa. Rina lantas kembali duduk di tempat duduknya. Menatap penuh bangga ke arah  gadis di depannya.


"Hani kamu tau kenapa ibuk panggil kamu?" Rina bertanya. Hani menggeleng pelan.


"Jujur ibuk masih gak percaya, mengetahui kabar ini." lanjut Rina lagi, membuat Hani semakin tidak mengerti.


"Kabar apa bu?" tanya Hani.


"Selamat," Rina menopang dagunya menatap Hani sambil mengulas senyuman manis.


"Tahun ini kamu lulus, kabar ini baru pertama kali lo ibuk umumin sama kamu," ujar Rina.


"Jadi, kamu rahasiakan ini dulu. Ok!"


Hani tersenyum, kemudian tertawa lalu matanya mulai berkaca-kaca. Gadis itu bingung harus bereaksi seperti apa.


Sontak gadis itu mendekat, kemudian memeluk tubuh Rina dengan penuh kegembiraan.


Kali ini pasti, Ayan akan bangga kepadanya.


...****...


"Loh? Kamu kok udah pulang? Tumben lebih cepat dari tahun kemarin?" tanya Rosita kebingungan.


"Bunda," rengek Ayan. Pria itu meyandarkan kepalanya di bahu Rosita.


"Kamu kenapa Ayan, dimana Hani?"


"Aku capek bun mau istirahat," sela Ayan. Pria itu kembali menarik kepalanya, lalu mencium kening Rosita sekali.


"Ayan mau sholat, terus mau tidur," ujar Ayan. Pria itu meyeret kopernya masuk ke dalam rumah.


Melihat itu Rosita, mendadak hatinya merasakan nyeri memikirkan apa yang sedang terjadi. Kenapa Ayan seperti ini?


"Semoga semuanya baik-baik saja," doa Rosita.


selesai menunaikan ibadah sholat isya, pria yang hanya menggunakan pakaian santai itu merebahkan tubuhnya ke ranjang.


Menutup matanya dengan lengan, pria itu menghembuskan napas lelah.


"Falia," gumamnya, kemudian pria itu tersenyum lebar.


Menarik kembali lengannya yang berada di atas mata. Ayan kini duduk bersilah di atas rajang. Detik setelahnya menarik ponselnya yang berada di atas nakas.


"Gimana ya reaksi Falia, kalau dia tau kalau aku sekarang ada di sini?" tanya Ayan kepada dirinya sendiri.


Menekan tombol hidup di ponselnya, Ayan langsung melihat ada banyak notip pesan yang di kirim Hani untuknya.


Membukanya kemudian ia membaca satu persatu pesannya.

__ADS_1


Istriku❤


Ayan saya bosen.


Istriku❤


Kamu kapan pulang sih?


Istriku❤


Udah 3 bulan loh ini :(


Istriku❤


Tadi siang saya jalan sama Keno.


Istriku❤


Tadi  saya ke taman hiburan


Seketika ingat kamu :(


Jujur saya rindu. Huaa kapan waktu ini berlalu


Istriku❤


Gak di read. Gak di balas, kamu marah ya sama saya?


Istriku❤


Ayan!


Istriku❤


Yan😔😔


Istriku❤


Kamu sibuknya? Gini amat punya suami yang super sibuk.


Istriku❤


Kya.. hari ini saya seneng banget. Ya walau ada sedihnya juga.


Istriku❤


Ayan, selamat malam. Semoga kamu sehat selalu. Ada satu hal yang harus kamu tau. Gak papa kalau kamu mengabaikan chat dari saya. Asalkan kamu gak mengabaikan hatiku, itu saja.


Aku mencintaimu❤


Membaca pesan yang beberapa menit yang laku di kirim oleh Hani untuknya, pria itu mengulas senyum manis. Pipinya seketika memanas. Pria itu menutup wajahnya.


"Aku juga mencintaimu Falia, tunggu lah aku sebentar lagi. Akan kesana,"


TbC

__ADS_1


__ADS_2