Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 19


__ADS_3

Masih di tempat yang sama, pria berseragam tentara itu mengernyitkan dahinya. Saat mendengar Putri mengatakan kata Hati.


"Hati?" ralat Ayan. Putri menganggukan kepalanya dua kali, netranya mengerling saat melihat ekspresi pria di depannya.


"Iya hati kita," balas Putri sambil melebarkan senyumannya.


Ayan terdiam sejenak, lalu tiba-tiba pria itu tertohok saat Putri memeluk lengannya.


"Ayan, Kamu tahu kan?" kata Putri kembali membuka suara.


tidak bisa berkata apapun, Ayan memilih untuk tetap diam. Dia lepas tangan Putri dari lengannya. Kini pria itu menjaga jarak.


"Ayan!" cicit Putri seraya memajukan bibirnya, merajuk.


"Ada apa?" tanya Ayan polos.


"Kok kamu jadi cuek gini sih?!" tutur wanita itu dengan nada kesal.


"Kamu mau ngoceh disini apa pulang mau?" balas Ayan. Tidak ingin membahas lebih lanjut. Takut akan melukai hati Putri.


"Iya ... iya, ayo kita pulang!" ketus Putri.


Mereka berdua pun pergi menuju mobil Ayan, di parkiran. Karena Putri yang memintanya, sebenarnya Ayan bisa aja menolak tapi dia tak enak hati untuk menolaknya. Karena putri adalah sahabatnya dari kecil, dan pria itu sudah menganggap Putri sebagai saudarinya.


Dalam perjalanan pulang ke rumah untuk mengantarkan putri, tak ada satupun dari mereka yang mau membuka suara, baik Putri maupun Ayan. Hanya suasana musik dan deruh laju kendaraan yang menyelimuti keduanya, terutama Ayan yang hanya fokus menyetir.


Ayan tahu bahwa Putri menyukai dirinya sejak SMA dulu. Tidak ada alasan, hanya saja Ayan ingin serius untuk menggapai cita-citanya menjadi seorang tentara.


Lagian menurut Ayan pacaran itu hanya sekali untuk seumur hidup, yaitu setelah menikah dengan istri sahnya, ya siapa lagi kalo bukan Hani, wanitanya.


Walau terkadang sikap Hani yang kekanak-kanakan, membuat Ayan harus bersabar dan terus bersabar.


"Ayan," suara Putri menyadarkan lamunannya, membuat Ayan terkesiap lalu menoleh untuk menatap orang yang memanggilnya.


"Yah, Kenapa?" tanya Ayan.


"Kamu gak mau tau kabarku gimana?" ketus Putri sambil mencondongkan kepalanya, mencoba untuk lebih dekat untuk menatap wajah pria di sampingnya.


"Maaf put," katanya lembut."Lagian kamu terlihat baik-baik saja." ujar Ayan sambil memperhatikan wanita di sampingnya.


"Maksudnya," jeda.


Wanita itu melebarkan senyumannya, menatap Ayan dengan bola mata berbinar,"Kabar hati aku," sambungnya sedikit manja.


Untuk ke sekian kalinya, Ayan memilih untuk diam. Membiarkan Putri berbicara. Dirinya bingung harus berkata apa. Soalnya Putri belum mengetahui kalau dirinya ini sudah menikah.


"Ayan?" tegur Putri.

__ADS_1


Wanita itu bingung dengan tingkah Ayan yang hanya diam tanpa bereaksi dengan kata-katanya.


"Udah hampir sampai Put," ujar Ayan, memakirkan mobilnya di halaman rumah Putri.


"Eh kok kerumah aku sih?" sentak Putri. Berharap mengajaknya ke rumah Ayan.


Ayan mengerutkan dahinya, menatap bingung wanita di sampingnya.


"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Ayan.


"Ke rumah kamu lah," sahut Putri.


"Paman dan Bibi apa tidak ada di rumah?" tanya Ayan.


"Orang tua aku semuanya di Jerman Ayan. Kamu lupa? Aku pulang ke Indo kan kangen sama kamu. Jadi ayo pergi kerumah mu!" jelas Putri.


Ayan melongo. Yang benar saja? Dirinya sudah mempunyai istri, masa pulang bawa wanita lain. Walaupun sahabatnya, mana bisa Ayan tetap membawa Putri dan membuat Hani kecewa. Walaupun mungkin Hani tak akan peduli dengan hal itu.


"Ayo cepat!" rengek Putri.


Ayan hanya diam, lebih baik membawa putri ke rumah orangtuanya itu lebih baik. Pikirnya.


Didalam mobil Putri terus mengoceh menceritakan perjalanannya di Jerman. Dari mama-papanya, kuliahnya, bahkan lelaki yang mengungkapkan cinta pada putri namun putri menolak.


"Kamu tau kenapa aku menolak banyak lelaki?" tanya Putri dan Ayan hanya menggeleng.


"Kamu tahu? Perasaan aku ke kamu itu akan tetap sama. Tidak akan berubah dan tidak ada yang bisa merubahnya,"


Ayan membisu entah harus mulai dari mana dia menceritakan semuanya. Menceritakan bahwa dirinya memang tidak pernah menyukai Putri. Sebagai seorang pria terhadap kekasih.


Putri hanya sahabat bagi Ayan, sekaligus Adik baginya.


"Ayan? Kenapa diam saja?"


Ayan memberhentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah orangtuanya.


"Kita sudah sampai. Ayo turun biar aku yang bawakan kopermu,"


Putri mengangguk lantas turun dari mobil Ayan, membiarkan Ayan mengangkat dan memasukan kopernya ke dalam rumah.


"Kok sepi?" tanya Putri.


"Mungkin mereka di dalam ayoo!" seru Ayan menjelaskan.


Ayan masuk mendahului Putri, sedangkan Putri tersenyum senang memperhatikan Ayan dari belakang.


Bagi wanita itu Ayan adalah cinta pertama dan terakhirnya. Bagaimana pun Putri, harus mendapatkan Ayan. Pria itu harus menjadi miliknya. Walaupun mungkin ketika Ayan sudah menjadi suami orang lain.

__ADS_1


"Assalamualaikum," salam Ayan saat memasuki rumahnya.


"Walaikumsalam," balas Rosita dari dalam rumah. Menghampiri Ayan dan Putri di depan pintu rumahnya.


"Ya allah Putri," sentak Rosita senang. Berjalan mendekat ke arah Putri kemudian memeluk serta menciumnya.


"Bunda cecans!" teriak Putri kegirangan.


"Bagaimana keadaan kamu? Sudah lama sekali tidak main. Tante jadi kangen," kata Rosita berlebihan.


Rosita melepaskan pelukannya, lalu mengajak Putri untuk duduk di ruang tamu. Sedangkan ayan menaruh tas putri di kamar tamu. Mungkin putri akan menginap dirumah ibunya selama beberapa hari ini.


"Alhamdulillah tante baik. Kabar tente bagaimana?" tanya Putri balik.


Rosita tersenyum,"Alhamdulillah baik," balas Rosita.


"Oh ya? Tante mau ke dapur dulu buatkan minum untuk kamu dan Ayan," ujar Rosita yang diangguki Putri.


Sepeninggalan Rosita, Putri kini bangkit sambil mengamati ruangan yang benuansa merah dan ungu. Netranya menatap kanan dan kiri. Senyum terbit dari bibirnya saat mendapati photo dirinya dan Ayan masih terpajang di dinding di depannya.


Memandanginya lama. Wanita itu menjadi mengenang hari dimana dirinya dan Ayan pergi ke pantai. Photo itu di ambil saat dirinya sedang melempar Ayan dengan pasir lalu Ayan menangis.


Mengingat itu Putri langsung tertawa. Membuat Ayan yang baru datang pun langsung bertanya.


"Kenapa?"


"Kamu masih menyimpan foto itu?" tunjuk Putri.


"Itu keinginan bunda, bukan aku." jelas Ayan.


"Tapi sama aja kan? kamu nggak nolak!"


Putri tersenyum, netranya pokus menatap gambar di depannya.


"Kamu tahu? Saat itu aku sangat merasa bersalah, karena buat kamu nangis," ujar Putri.


"Tapi setelah di pikir-pikir saat itu kamu nyebelin," Putri menatap Ayan,"Dingin, muka datar plus jarang ngomong. Ingin berteman dengan kamu aja rasanya susah banget."


"Jadi saat itu yang ada di pikiran aku cuma ingin mengajak kamu berbicara, dan menjadikan kamu sahabat."


"Tapi setelah menjadi sahabat sekarang aku sadar, kalau aku ingin lebih dari sahabat."


"Ada hal penting yang mau aku bicarakan sama kamu," ucap Ayan ragu.


Putri menaikan satu alisnya, lantas bertanya,"Hal penting apa?"


Ayan terdiam. Menatap Putri lama. Selang beberapa detik saat dirinya ingin membuka topik pembicaraan tentang Hani. Bundanya datang membuat dirinya tidak jadi untuk mengatakan tentang pernikahannya.

__ADS_1


__ADS_2