
Putri menerjapkan kedua matanya, tersenyum wanita itu berkata,"Selamat," ucap Putri sambil menahan tangisnya. Kedua matanya memerah menatap Ayan dengan hati terluka.
Meremas seragam tertaranya, gadis itu memutar tubuhnya ke arah pintu. Seketika air mata itu tumpah. Membasahi kedua pipinya, dengan cepat wanita itu langsung berlari meninggalkan Ayan.
"Maaf," ucap Ayan dengan suara lirih.
Bruk!
Berlari terlalu kencang membuat dirinya jatuh ke lantai. Tanpa sengaja tubuhnya terbarak oleh tubuh kekar pria di depannya.
"Putri lo kenapa?" tanya Bara. Pria itu mencoba membantu wanita yang tanpa sengaja tertabrak olehnya.
Nangis sejadinya dia memeluk ceruk leher Bara. Hatinya sangat terluka mengetahui fakta bahwa Ayan cintanya benar-benar sudah menikah.
Mendengar tangisan Putri, Bara semakin bingung. Perlahan pria itu mengusap punggung wanita di pelukannya. Kemudian bertanya,"Lo kenapa Put? Ada masalah apa? Tolong cerita ke gue," ujarnya dengan nada melemah. Berharap Putri mau bercerita.
"A-Ayan sudah menikah," ungkapnya kemudian menangis kembali.
"I-itu masalah itu lo baru tau sekarang?"
Putri mendorong tubuh Bara. Ternyata Bara sudah tau kabar pernikahan Ayan? tapi tidak memberitahu dirinya.
"Lo udah tau?"
Bara mengangguk.
"Tapi lo gak kasih tau gue?"
"B-bukan gitu masalahnya gue--"
"Cukup!" potong Putri marah,"Gue gak mau denger penjelasan dari lo!" teriaknya lalu melenggang pergi sambil berlari.
"Putri!" panggil Bara pria itu ikut berlari mengejar Putri.
"Gue mohon jangan ikuti gue!" mohon Putri sambil mengatupkan kedua tangannya lalu menatap Bara yang sedari tadi terus mengikutinya.
"Gak akan! Gue takut lo kenapa-kenapa!" balas Bara takut.
"Kalau lo tetap ngikuti gue!" jeda.
Putri menarik napasnya menatap Bara dengan bergelinang air mata,"Gue bakal berbuat apa yang ada di pikiran lo sekarang!" katanya mengancam Bara.
Bara terdiam. Pria itu bingung mesti harus berbuat apa? setelah mendengar ancaman Putri kini Bara menjadi takut.
Karena itu Bara memutuskan untuk tidak mengikuti Putri lagi.
__ADS_1
"Gue janji gak akan ngikuti lo asalkan lo tidak berbuat sesuatu yang nantinya akan membuat diri lo susah!" kilah Bara memperingati.
Tanpa membalas perkataan Bara barusan Putri langsung pergi, menuju jalan raya untuk mencari taksi di sana.
Brak!
Memukul meja kerja Ayan dengan kuat. Kini Bara menajamkan netranya menatap Ayan dengan penuh amarah.
"Kenapa lo buat Putri nangis?!" tanyanya marah.
Ayan mengedipkan matanya dua laki. Bukan kah saat meninggalkan dirinya saat itu Putri tersenyum.
Lalu mengapa sekarang ia di tuduh membuat Putri menangis?
"Lo tau kan sedihnya saat orang yang lo suka ternyata nikah sama orang lain. Apa lo gak sepeka itu buat ngertin perasaan orang yang udah bertahun-tahun nunggu cinta dari lo?! Bertahun-tahun berjuang buat lo jatuh cinta sama dia. Tapi sekarang? Lo buat dia kecewa!" ungkap Bara kekesalannya terhadap Ayan.
"Aku tau itu. Tapi Bar, selama ini aku menganggap Putri itu seperti saudara untukku. Tidak lebih, dan kamu tau kalau Hani lah wanita yang aku cintai,"
"Tapi, apa setidaknya sebelum lo ngomong gitu lo- ahk!" Bara mengacak rambutnya frustasi,"Intinya lo udah nyakiti perasaan Putri!"
"Lo harus minta maaf sama dia!" tandas Bara menunjuk wajah Ayan dengan jarinya.
...****...
Ayan meremas rambutnya frustasi, sedari tadi dia menelpon Putri tapi tidak di angkat oleh wanita itu. Membuat Ayan benar-benar sangat khawatir, dan merasa bersalah karena mengatakan pernikahannya dengan Hani.
"Putri kamu dimana?" tanyanya kepada dirinya sendiri.
Pria itu kembali mencari keberadaan Putri di berbagai tempat. Dengan mobilnya.
2 jam sejak Ayan mencari keberadaan Putri, kini baru pria itu menghembuskan napas lega, saat melihat punggung seorang wanita tengah duduk di pinggiran pantai dengan menekuk lututnya.
Tersenyum Ayan berjalan menghampiri Putri, kemudian ikut duduk di sampingnya perlahan ia melirik Putri yang hanya diam tanpa menyambut kedatangannya.
"Maaf," tutur Ayan merasa bersalah.
"Selalu buat kamu kecewa," sambungnya.
"Selama ini yang aku lakukan hanya diam. Dan terus diam. Tanpa membalas semua perasaan kamu, tapi percaya lah Put, aku sayang sama kamu. Rasa sayang seorang kakak kepada adiknya," ungkap Ayan.
"Hari ini mungkin kamu menangis untukku. Tapi lihat lah nanti, kamu pasti akan menemukan pria yang nantinya akan membuatmu tersenyum bahagia,"
Putri meremas pasir di samping kanan dan kirinya. Pandangannya lurus menatap pantai di depannya. Hatinya semakin terluka saat Ayan mengatakan hal yang sangat menyayat jiwa dan raganya.
Benar-benar sakit!
__ADS_1
"Aku benar-benar minta maaf Put, jika perkataanku mem--"
"Cukup Ayan! Berhenti! Aku berjuang bukan untuk mendengar maaf darimu ...."
"Aku menunggu bukan untuk mendengar maaf darimu ...."
"Aku terluka bukan untuk mendengar kamu meminta maaf untukku ...."
"Tapi aku mau, mendengar kamu mengatakan kalau kamu mencintaiku!"
"Hanya itu," ujar Putri.
Membuat Ayan benar-benar tidak bisa berkata apapun kecuali maaf.
"Maaf,"
"Aku bilang aku tidak mau mendengar itu!" teriak Putri wanita itu bangkit. Menunduk untuk menatap Ayan.
"Jangan mencariku jika kamu hanya ingin mengatakan maaf, Ayan." sambungnya kemudian pergi meninggalkan Ayan seorang diri duduk di tepi pantai.
Mendesah pelan, pria itu menidurkan tubuhnya ke pasir. Menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Cobaan apa lagi ini ya Allah?"
...****...
"Gak di jemput lagi?" Keno menepuk tempat duduk di belakang motornya,"Sama gue aja ayok!" ajaknya.
"Ogah!" balas Hani malas.
"Jangan jual mahal. Uang gue gak cukup buat beli itu, kuy naik!" ajak Keno sekali lagi.
Hani menghela napas, menatap jalan raya di depannya. Melirik jam yang melingkar pas di tangannya, gadis itu akhirnya mengiyakan ajakan Keno.
"Jangan balap-balap!" tegas Hani memerintah.
"Gak balap cuma kenceng aja," ujarnya mendapatkan satu pukulan di pundaknya.
"Awas aja kalau balap gue-"
"Yang kemaren aja belum jadi nikahinya. Sekarang udah ngajak nikah gue lagi,"
"Gue turun ni!" ancam Hani merasa kesal.
"Jangan dong, kasihan motor gue di php-in sama calon majikan baru," tutur Keno.
__ADS_1
"Mau ngomong terus sampe lebaran monyet?!" sela Hani.
"Maaf ... maaf ... kita berangkat sekarang," kata Keno sambil memasang helmnya di kepala.